My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Sampai di hotel



Naufal dan Leona sampai di Semarang, dan sudah ada mobil yang tadi menjemput mereka dan akan membawa mereka ke hotel untuk beristirahat. Dan besok baru melanjutkan perjalanan ke tempat yang akan mereka berbulan madu. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel.


"Bagaimana perasaanmu???" Tanya Naufal.


"Sangat baik."


"Sebentar lagi akan sampai di hotel, kau bisa istirahat dengan nyaman."


Leona menyandarkan kepala nya di dada Naufal. Merasa bahagia sekali karena mereka sudah menikah dan akan melewati quality time berdua saja. Pergi liburan bersama setelah sekian lama. Dan sebelumnya Leona sudah di tunjukkan villa dimana mereka akan tinggal nanti. Air laut berwarna biru yang sangat jernih dengan pasir putih dan terumbu karang yang cantik dengan berbagai biota laut yang lucu.


Lalu sampailah mereka di sebuah hotel bintang 6, hotel terbaik yang ada di kota ini. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Leona dan Naufal turu, supir juga menurunkan koper mereka. Lalu Naufal mengajak Leona untuk masuk. Mama nya sudah membooking kamar untuk mereka berdua jadi mereka tinggal check in saja.


Setelah mendapat kunci, mereka masuk ke lift untuk naik ke kamar mereka yang berada di lantai paling atas hotel ini.


"Ini pertama kali nya kita berdua datang ke kota ini, hehe.." Gumam Naufal.


"Oh jadi kau juga baru datang ke kota ini???"


"Iya, aku baru ke beberapa kota saja, ketika di ajak Papa. Dan apa kau tahu, hotel ini adalah salah satu hotel milik Papa nya Gienka, ini hotel terbaik di kota ini. Dan satu-satunya hotel bintang 6."


"Oh ya???? Wow..."


"Mereka punya hotel terbaik di setiap kota besar yang ada di Indonesia, salah satu nya disini."


"Apa hanya hotel bintang 6 saja???" Tanya Leona.


Naufal menggelengkan kepala nya. "Tentu saja tidak, disini mereka ada dua hotel lagi sih, tapi bintang 4 dan 5. Tapi Mama sengaja memilih yang ini untuk kita."


Leona tersenyum dan memeluk Naufal lagi. Mereka kemudian keluar dari lift dan menuju kamar mereka.


Naufal membuka pintu kamarnya yang ternyata di hias dengan sangat cantik khas kamar pengantin. Membuat Naufal dan Leona saling melempar pandangan dan tersenyum. Tidak menyangka jika Arindah memesan kamar pengantin seperti ini. Naufal pikir hanya kamar biasa yang tidak di hias seperti. Naufal menutup pintu kamar, sedangkan Leona melangkah pelan dan memutar pandangannya jntukelihat sekeliling yang di hias sangat bagus sekali dengan taburan kelopak bunga mawar merah serta beberapa lilin beraroma wangi menambah suasa nya menjadi temaram dan romantis.


Naufal memeluk Leona dari belakang dan mencium leher suami nya itu. "Luar biasa sekali kan??? Aku tidak menyangka kamarnya akan di hias seperti ini."


"Aku juga." Leona berbalik badan dan mengecup bibir Naufal. Melingkarkan kedua lengannya di leher lelaki itu. "Apa kita hanya akan tidur disini saja??? Tidak kan???"


Naufal tersenyum. "Memangnya kau ingin yang lain???? Kita baru sampai dari perjalanan jauh, dan juga seharian ini kau berdiri dan duduk terlalu lama, kau pasti lelah sekali, aku tidak mau ada sesuatu terjadi padamu dan bayi kita."


"Aku baik-baik saja, bayi kita juga." Leona mengecup bibir Naufal lagi. "Apa kau tidak merindukan ku??? Sejak kita bertemu setelah berpisah, kita tidak pernah melakukannya lagi, kau bahkan tidak mau satu tempat tidur denganku, ya aku tahu dan mengerti alasannya, tapi sekarang kia sudah menikah. Dan Mama kemarin bilang, tidak masalah jika kita melakukannya meski aku sedang hamil, yang terpenting hati-hati, semuanya akan baik-baik saja. Apa kau tidak pernah membayangkan melakukan itu denganku lagi???"


Naufal terkekeh dan mengecup bibir Leona. "Alasanku menikahimu dengan cepat tentu saja karena aku ingin melakukan itu denganmu, aku sangat merindukanmu. Hanya saja apa kau akan baik-baik saja jika kita melakukannya sekarang??? Aku takut kau lelah dan semakin kelelahan."


"Tidak, lelahku justru akan hilang jika kita bisa melakukannya sekarang." Leona mendekatkan bibirnya di bibir Naufal, menciumnya dan lelaki itu membuka mulutnya lalu keduanya saling meIumat dan mencecap bibir satu sama lain, menikmati kemaanisan bibir dan lidah satu sama lain. Leona melingkarkan lengannya di leher Naufal dan mereka berciuman sambil berdiri. Semula terasa hangat lalu berubah menjadi panas yang membakar.


Leona kemudian berlutut di depan kaki Naufal, melepaskan ceIana dan mengeluarkan milik lelaki itu. Mengusapnya dengan pelan dan penuh kelembutan membuat semakin menegang dan mencium kepala pe'nis Naufal, setelah itu dia mulai menguIum nya, bermain dengan mulut dan Iidahnya .


"Oh gosh.....!!!! Ahhhh.... " Naufal mulai meracau dan menikmati kehangatan muIut Leona yang membungkus senjata nya. Sudah lama dia merindukan Leona dan keIiaran Leona seperti ini.


Mendapati Naufal mulai menikmati nya, Leona semakin agresif dan kegirangan menikmati permainannya sendiri dan suara Naufal yang penuh kenikmatan itu justru menjadikan suasana semakin luar biasa.


Tiba-tiba Naufal menekan kepala Leona, hingga Leona melahap habis pen'is itu. Naufal menahannya selama beberapa detik lalu melepaskannya. Detik itu juga Leona terbatuk-batuk tetapi Leona melempar senyum setelahnya. Dan Leona kembali melakukan itu selama beberapa kali. Sampai akhirnya Naufal meminta berhenti.


Leona kemudian melepaskan ceIana Naufal sepenuhnya, melemparnya ke lantai, dan dia juga meIepaskan baju nya sendiri di depan Naufal. Leona lalu mengajak Naufal duduk di tempat tidur, duduk bersandar dan kemudian Leona duduk di atas kedua paha lelaki itu. Kemudian mengecup bibir Naufal.


Naufal mencoba menikmatinya dan membalas ciuman Leona. Dia merasakan kelembutan bibir Leona, ciuman hangat Leona membuat Naufal merasakan sengatan luar biasa yang menggugah gejoIaknya. Dia membuka bibirnya dan merasakan ciuman itu lebih jauh dan lebih dalam lagi.


Dikecupnya bibir Leona lagi. Lidahnya mendesak masuk lagi dan lagi kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Leona, mencecapnya dan menggodanya, lidah itu lalu menemukan lidah Leona yang lembut dan berjalinan di sana. Mulut Naufal meIumat seluruh bagian bibir Leona, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Leona, bergerak naik turun dengan menggoda.


Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah. Naufal sudah terbawa suasana dan lupa diri, dia lalu kembali mengecup lembut bibir Leona, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Leona memekik kegeIian.


Leona tersenyum. "Kita mulai bercinta sekarang???" Tanya Leona dan Naufal mengangguk. Dia memang butuh di puaskan, karena miliknya sudah menengang sejak tadi.


Lelaki itu lagi-lagi mengecup lembut telinga Leona dan lidahnya dengan nakal mencicipi di sana. "Ya.." Bisik Naufal.


Leona kembali meIumat bibir Naufal lagi dan tubuhnya bergerak dengan lembut di atas Naufal. Jemari Naufal menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian depan br'a Leona, membuat perempuan itu terkesiap. Lalu dengan lembut tetapi cekatan, Naufal mengangkat untuk melepaskan br'a Leona, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri, seperti seorang lelaki yang membuka hadiahnya dengan penuh antisipasi dan kemudian mengintip dengan hati-hati.


Kulit Leona yang lembut terlihat sedikit demi sedikit, Naufal melepaskan semua penghalang di tubuh bagian atas Leona. Menatap Leona dengan penuh gaiirah. Leona ternyata semakin menggairahkan dengan perut yang membuncit dan pay•daa Leona jiga tampak montook dan lebih berisi, mungkin karena sedang hamil. perempuan itu kini duduk bersandar di tempat tidur dengan baju terbuka, menampakkan kulitnya dan begitu menggoda.


Naufal menciumi leher Leona dan menjiIatnya lembut, karena perempuan itu sudah teIanjang dada di depannya.


Napas Leona makin terengah ketika Naufal menyentuh pay•daranya sambil lalu, mengusap putiingnya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuat putiing itu mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Leona mengerang merasakan sensasi panas yang membakarnya di pay*daranya. Naufal masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, meIumat bibir Leona dan berbisik di sana.


Naufal menunduk dan mengecup bagian atas pay*dara Leona, kemudian, bibir Naufal lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di atas pay°daranya, membuat putingnya mengencang dengan kerasnya.


"Aku ingin ini.. " Bisik Naufal di telinga Leona.


"Ya... Naufal..." suara Leona makin keras ketika Naufal mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian pay•daranya tetapi mengabaikan putiingnya yang mendamba. Yang dilakukan Naufal hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggoda Leona, menyiksa Leona.


Puuting pay°dara Leona begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Naufal,dia ingin lebih.. dia ingin bibir Naufal yang panas meIumat putiingnya, menghiisapnya dengan lembut.. dia ingin....


Dan Naufal melakukannya. Bibirnya dengan lembut mengatup di puuting pay*dara Leona\, lalu Iidahnya bergerak menggoda di dalam\, begitu panas dan basah\, memainkan puuting Leona dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya. Sensasi rasanya membuat tubuh Leona lemas\, kedua jemarinya mencengkeram rambut Naufal\, membuatnya acak-acakan. Naufal menenggelamkan kepalanya di keindahan pay* dara Leon yang rannum\, lelaki itu memuja pay* dara Leona\, mencuumbunya dengan Iidahnya\, dan menghisap puutiingnya perlahan\, membuat Leona mengeluarkan erangan-erangan geIi atas sensasi nya.


Setelah puas. Naufal mengangkat kepalanya, mendongak kemudian mengecup ujung hidung Leona yang terengah-engah, napas mereka berkabut oleh gaiirah yang pekat. Ketika Naufal menggeserkan tubuhnya, Leona merasakan kejantaanan Naufal sudah mengeras di sana, menyentuh kulitnya, begitu keras dan siap.


Naufal bergeser dan kembali duduk bersandar. Leona berpindah posisi menjadi duduk di depannya.


"Aku tidak bisa menunggu lagi..." Leona duduk dan menyatukan dirinya di atas Naufal.


"Aaahhhhhh.... " Teriak keduanya.


Leona bergerak naik turun dan bibir Naufal turun ke leher Leona, mengecup lehernya dengan penuh gaiirah, lalu memberi hadiah kecupan lembut disana dan jemari Naufal menangkup ke kedua pay*dara Leona. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi dada dan putting Leona, membuat Leona merasakan sensasi panas menjalar.


"Oh god..... So good..... Oh my God.... !!!" Teriak Leona mencengkeram sprei putih. Napas lelaki itu juga berat dan errangan nya membuat suasana menjadi semakin panas dan inttiim.


"Milikmu sangat nikmat sekali sayang..... Luar biasa aku sangat menyukai nya... Ahhhh uhhhh..... Maaf aku tidak bisa berhenti ini telalu nikmat... " Ucap Leona.


"Aku lelah, kita ganti posisi.. " Ucap Leona, lalu dia turun dari atas paha Naufal. Leona kemudian berbaring di tempat tidur. Dan meminta Naufal bermain dengan miliknya.


Kepala Naufal sudah pening oleh gaiirah, nikmat yang di rasakan nya sekarang sehingga dia sudah tidak peduli lagi. Naufal membungkuk di depan milik Leona, dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari lutut Leona, dan naik ke paahanya. Sampai kemudian menyentuh kewaniitaan Leona. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan tubuh Leona terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.


Naufal tersenyum. Leona sangat sensitif dan siap olehnya. Jemarinya menyentuh kewaniitaan Leona, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Leona setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di tubuhnya.


Leona terbaring di sana dengan mata berkabut, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada kewaniitaannya. Gerakan bibir dan lidah Naufal begitu ahlinya, membuat Leona berkali-kali mengerang ketika Naufal dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik sensiitifnya. Membuat Leona seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tidak diketahuinya. Leona memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melandanya dan menggetarkannya. Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak terbatas. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu. Naufal kemudian berhenti dan menatap Leona dengan senyum nya yang menggoda.


Lelaki itu kemudian menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengaangkang di atas tubuh teIanjang Leona dan Lelaki itu setengah berdiri dan melepaskan ceIananya. Dan sekarang Leona menatap seorang lelaki yang berlutut teIanjang di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan kejanttanan yang telah mengeras dan siap untuknya. Naufal begitu indah dan sangat tampan dalam keteIanjangannya.


Dengan penuh gaiirah lelaki itu mngangkat kedua kaki Leona meletakkannya di atas kedua pundaknya. Dan posisi mereka sungguh pas. Sang lelaki berpadu dengan perempuannya.


Leona membiarkan kejaantanan Naufal mendesak di antara paha nya, mendesak kewaniitaannya. Lelaki itu menggesekkan tubuhnya lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat tubuh Lekna membara.


"Kau sudah basah dan siap untukku." Naufal menyentuh Leona dengan kejantaanannya, merasakan betapa Leona sudah begitu panas dan basah di bawahnya.


Ethan mendorongkan pinggulnya. Menekan tubuh Leona dengan begitu ahli.


Naufal bergerak dengan ritme teratur, tubuhnya menyatu di dalam tubuh Leona, semula lembut dan hati-hati. Naufal bergerak dengan penuh gaiirah, membawa mereka menuju puncak gaairah masing-masing.


Ketika puncak itu hampir tiba, Naufal membawa Leona lebih dulu mencapai orrgasme yang luar biasa itu. Dan ketika erangan Leona dalam pencapaiannya menandai orgaasmenya, Naufal merasakan tubuh Leona mencengkeram kejaantanannya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian menarik miliknya dan menyemburkan di perut Leona.


Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Naufal berbaring meniindih tubuh Leona, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh perempuan itu. Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa, Orrgasmenya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Naufal melepaskan diri dari Leona dan berbaring di sebelah istri nya yang terengah, kemduain dia meminta Leona untuk mengangkat kepala dan berbantalkan lengannya. Leona menurut lalu Naufal memeluknya dan mengecupnya. Ini begitu luar biasa, yang sudah kedua nya rindukan dan akhirnya mereka bisa melepaskan rindu sati sama lain. Percintaan yang begitu luar biasa.


★★★★


Keesokan harinya.


Naufal dan Leona sampai juga di Villa mereka yanv letaknya tepat di tepi pantai. Villa yaang cantik begitu juga pemandangannya Sangat bagus. Leona tidak melepaskan senyumnya sejak sampai di tempat ini. Dia sangat menyukai pantai dan suasana disini begitu menakjubkan, lautnya yang tenang dengan warna biru, dan langit juga cerah. Tetapi matahari perlahan mulai terasa panas.


Mereka berdua di antar oleh petugas sampai ke villa mereka. Kedua nya masuk dan langsung memutar pandangan ke sekeliling. Villa ang cantik dan kamar mereka juga langsung menghadap ke pantai yang luas itu. Naufal meletakkan kopernya dan mengikuti Leona yang sedang berjalan ke arah belakang dimana ada laut di bawah Villa mereka. Dan pemandangan laut juga tidak kalah menakjubkan. Tampak dermaga kayu ada di tengah deretan Villa-Villa disini. Ada perahu kano dan juga kapal kecil biasa. Yang bisa di gunakan pengunjung untuk di naiki melihat laut, dengan berdayung dengan perahu kano atau sekedar berkeliling dengan kapal kecil.


Kamar mereka bahkan di hiasi dengan bunga mawar merah membentuk kata I LOVE YOU. Semakin menambah cantik suasana kamarnya.


"Kau suka.????" Tanya Naufal memeluk Leona dari belakang.


"Sangat.....!!!" Jawab Leona.


"Nanti kita cari tempat yang lain lagi tetapi setelah kau melahirkan, atau setelah nanti bayi kita sudah bisa di ajak bepergian. Ada banyak tempat cantik disini."


"Ya, aku tidak sabar untuk melakukannya. Sekarang akan terbatas sekali tetapi tidak masalah nanti kita bisa pergi." Gumam Leona.


"Kau ingin istirahat dulu???"


"Tidak, nanti saja, aku ingin duduk disini dan menikmati udara yang sejuk sekali."


"Baiklah....."


"Eh tapi aku ingin melihat-lihat dulu."


Naufal tersenyum. "Oke, kita keliling di Villa yang akan kita tempati selama satu minggu ini."


Mereka berkeliling ke Villa ini. Melihat kamar mandi dengan dua bathtub dan beberapa furniture. Villa yang memiliki pemandangan yang bagus. Ada ruang keluarga dengan tv. Balkon yang langsung menghadap laut. Serta kolam renang di lantai bawah yang juga langsung menghadap laut. Sangat sempurna sekali.


Setelah puas berkeliling. Mereka berdua kemudian duduk di kursi kayu yang ada di balkon Villa mereka. Leona ingin menikmati suasana asri yang menyenangkan ini. Lelahnya seolah hilang begitu saja ketika sampai disini. Laut selalu jadi tempat faforitnya untuk melepaskan semua penat yang dia rasakan. Leona akan merasa betah sekali disini, sama hal nya ketika dia berada di Fine line.


"Kau lapar tidak???" Tanya Naufal.


"Iya, dan aku juga haus. Sejak hamil aku selalu saja sering merasa lapar."


Naufal terkekeh. "Itu karena kau tidak sendirian, ada bayi di perutmu, makanannya terbagi menjadi dua. Ya tidak apa-apa, kau sehat bayi kita juga ikut sehat. Iya kan???"


"Iya. Hehehehe... Tapi kalau aku gendut, kau tidak akan meninggalkanku kan????"


"Mana ada, kau inj ada-ada saja. Kau gendut kan sedang hamil, lagipula kau semakin cantik tahu seperti ini. Jadi jangan merasa rendah diri. Aku selalu mencintaimu dan juga bayi kita."


"Apa kau sudah memikirkan sebuah nama untuk bayi kita???" Tanya Leona.


"Belum terpikirkan. Tapi kita bisa mencarinya nanti, mana nama yang cocok." Ucap Naufal.


**


Malam harinya, Naufal dan Leona baru saja selesai makan malam di restoran yang ada di sekitar villa. Mereka berjalan kembali menuju villa. Naufal menggenggam erat jemari Naufal, menyandarkan kepala nya di dada suami nya itu. Merasa bahagia sekali karena hari ini mereka bisa menikmati waktu bersantai hanya dengan duduk dan mengobrol saja di temani pemandangan yang cantik. Itupu. Leona merasa tidak bosan. Besok mereka baru akan pergi untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Hari ini Naufal ingin Leona beristirahat saja.


"Bagaimana perkembangan mengenai rencana take over itu??? Apa Papa serius atau memang sengaja ingin mempermainkan Mama saja???" Tanya Leona tiba-tiba dia teringat dengan rencana take over dari perusahaan.milik Papa Naufal.


"Aku tidak tahu apa itu serius atau Papa hanya menggertak saja. Kelanjutannya aku tidak tahu sama sekali, sejak kembali alu kan belum ke kantor lagi. Aku fokus dengan persiapan pernikahan kita."


"Iya, benar juga." Gumam Leona.


"Kau sendiri apa kau punya keinginan untuk kembali lagi mengurus perusahaan itu????"


"Tidak.... Aku sudah tidak menginginkannya, apalagi aku sekarang sudah ada disini bersamamu, tidak ada lagi yang aku inginkan. Hanya kau saja."


"Tapi apakah kau tidak punya keinginan untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak mu???? Jika ada kesempatan."


"Entahlah..... Sangat sedih sekali ketika aku harus mengambil keputusan berat untuk melepaskannya, tetapi jika itu yang akhirnya membuatku terikat dan aku harus kehilangan semua impian dan masa depanku, akan lebih baik jika aku melepaskan semua nya. Memang bukan perkara mudah untuk melepaskannya apalagi jika mengingat bagaimana dulu Papa membangun kerjaan bisnis nya itu, tetapi apa daya, orang-orang toxic itu menghancurkan semua kerja keras Papa. Sedih sekali rasanya."


"Tetapi pasti kau memiliki harapan untuk Mama mu."


"Tentu saja, aku selalu berharap dia bisa merubah semua nya, menjadi orang yang lebih baik dan tidak melulu tentang uang dan materi saja. Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu srlama ini, karena Mama memang tidak pernah memberikan itu padaku. Tetapi aku sekranag sudah mendapatkannya dan itu berasal dari Mama Arindah. Kasih sayang yang dia berikan padaku adalah hal yang selama ini aku impikan dan inginkan. Aku benar-benar merasa seperti seorang anak. Kasih sayang, cinta dan perhatiannya telah membuat duniaku menjadi lebih berwarna lagi. Keluargamu sangat luar biasa, hingga aku tidak lagi menginginkan apapun saat ini, sudah sangat lengkap. Terima kasih kau hadir dalam kehidupanku."


Naufal tersenyum. "Kau tidak akan bersedih lagi, dan merasa kesepian, aku dan semuanya serta bayi kita akan selalu bersamamu, disisi mu dan menjaga mu."


"Aku senang dan bersyukur, Tuhan menyatukan kita berdua."


"Itu artinya cinta kita memang kuat sekali, meski sempat terpisah, kita bisa kembali bersama atas ijin Tuhan


" Gumam Naufal.


"Itu benar sekali." Leona mendongak dan tersenyum.