
Tuan Haidee melempar senyum. “Tidak Ethan, aku hanya ingin tahu saja apakah kau
masih memperhatikan orang tuamu meski mereka tidak ada bersamamu dan apakah memang
kau benar-benar tidak mengingat kenanganmu saat kecil, karena biasanya pasti
ingat meskipun hanya sedikit.”
Ethan kembali tersenyum. “Saya juga merasa heran sekali tetapi memang itulah
kenyataannya, saya sama sekali tidak pernah bisa mengingat masa kecil saya
sebelum saya di Panti Asuhan itu, tapi jika Anda bertanya bagaimana masa kecil
saya di Panti Asuhan, saya cukup mengingatnya dengan baik dan itu akan menjadi
pengalaman yang luar biasa yang tidak akan pernah saya lupakan.”
“Pasti kau sudah melewati banyak hal yang luar biasa dalam hidupmu dan tumbuh menjadi
pribadi yang kuat, hebat seperti saat ini, aku yakin orang tuamu pasti bangga
sekali.” Puji Tuan Haidee.
“Saya juga berharap seperti itu supaya mereka merasa tenang di atas sana melihat saya
tumbuh sampai saat ini dan dalam keadaan yang baik-baik saja.”
“Tetapi Ethan, Apakah kau tidak pernah berniat untuk mencari kerabatmu maksudku kerabat
dari kedua orang tuamu. Mungkin saja kau masih memiliki keluarga???”
“Masalahnya saya tidak memiliki informasi apapun mengenai orang tua saya. Apalagi kerabat
saya ataupun saudara dari kedua orang tua saya. Pernah sekali saya bertanya
kepada pengurus panti tapi mereka juga tidak memiliki informasi apapun, yang
mereka tahu hanyalah orang tua saya tidak memiliki sanak keluarga yang ada di
sini ataupun dari kota tempat asalnya.” Jawab Ethan.
“Kalau begitu kenapa kau tidak coba mendatangi rumah tempat tinggalmu dengan orang
tuamu dulu, mungkin kau menemukan sesuatu di sana??”
“Saya tidak memiliki informasi dan akses apapun, bahkan tempat asal saya juga bukan
berasal dari kota Seattle, ya Saya tahu saya berasal dari mana tetapi tentu
mencari tempat tinggal saya yang dulu tidaklah mudah sangat minim informasi
sekali, sangat disayangkan. Saya begitu banyak memiliki keterbatasan untuk
mengetahui segala masa lalu saya, tapi bagi saya itu sudah cukup karena saya
setidaknya saat ini bisa punya akses untuk menemui orang tua saya jika saya mau,
dengan mengunjungi makam mereka, meletakkan bunga dan sedikit merapalkan doa
untuk mereka di sana. Bagi saya itu sudah cukup, untuk apa juga saya mencari
keluarga dari orang tua saya, kalaupun dulu seandainya mereka saja tahu jika
orang tua saya kecelakaan dan meninggal dunia, tentu mereka akan mencari
informasi mengenai hal tersebut dan jika mau pasti mereka akan membawa saya
pulang. Tetapi kenyataannya menurut informasi yang saya dapatkan tidak ada satu
keluarga pun atau kerabat dari kedua orang tua saya yang datang ke pemakaman
bahkan pemakaman itu hanya diurus oleh pihak rumah sakit setelah jenazah kedua
orang tua saya di otopsi dari rumah sakit, itu menandakan bahwa sepertinya
orang tua saya tidak memiliki kerabat atau bahkan mungkin memiliki, tetapi
mereka tidak peduli kepada kami.” Ujar Ethan dengan sedih.
“Maaf Ethan, jika pertanyaanku jadi membuatmu sedih.” ucap Tuan Haidee.
Ethan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Tidak sama sekali Tuan Haidee, karena
itulah memang kenyataannya tapi bagaimanapun itu saya sudah merasa lebih baik
daripada ketika saya dulu remaja, banyak sekali pertanyaan yang mungkin sampai
saat ini saya tidak pernah mendapatkan jawabannya, tetapi setiap harinya saya
mencoba untuk menerima takdir dan jalan yang Tuhan berikan kepada saya, memang
sedikit sulit. Ah bukan sedikit lagi tapi sebenarnya sudah cukup sulit tetapi saya
harus tetap menjalani kehidupan saya dengan baik dan menatap masa depan yang
sudah menunggu saya. Paling tidak saya bisa membuat dan menciptakan kebahagiaan
sendiri untuk hidup itu saya sudah lebih dari cukup.”
“Kau memang luar biasa semoga kau selalu dilimpahin oleh kebahagiaan, tapi bagaimana
jika ternyata kau masih memiliki keluarga yang sebenarnya juga mencarimu dan
mereka mungkin masih berpikir orang tuamu masih hidup dan mereka juga tidak
memiliki akses untuk mengetahui Keberadaanmu ataupun informasi tentang orang
tuamu. Bagaimana menurutmu???”
Ethan tersenyum. “Jika seandainya hal itu terjadi tentu saya akan sangat bahagia
sekali. Walaupun mungkin saya sedikit kecewa karena sudah sekian lamanya dan
mereka baru mencariku, tetapi saya pasti sangat bersyukur sekali. Jika memang saya
masih memiliki keluarga dan saya tidak akan menuntut apapun, karena saya juga
sudah memiliki kehidupan sendiri, ya
menjalin komunikasi tentu harus mengingat mereka masih keluarga saya.”
Entah kenapa Ethan meragukan bahwa mungkin dia masih memiliki keluarga. Ia berpikir
seperti itu, karena sejauh ini ia tidak pernah mendapatkan informasi apapun
mengenai keluarganya dan juga sanak saudaranya. Rasanya hal itu terlalu lama
untuk bisa mengharapkan bahwa sebenarnya mereka masih ada dan sedang mencarinya
atau mencari orang tuanya. Ethan benar-benar sama sekali tidak yakin dengan hal
itu. Itulah Kenapa ia selalu mengabaikan bayangannya ataupun pengharapannya
tentang keluarganya, karena terkadang kenyataan tidak selalu bisa sama dengan
apa yang diharapkan, dan ia selalu yakin bahwa Ia memang sendirian saja sejak
kepergian orang tuanya. Tidak memiliki keluarga kecuali mereka yang ada di
Panti Asuhan, yang bersamanya dan merawatnya. Dan daripada dia berharap terlalu
tinggi mengenai keberadaan keluarganya, lebih baik dia mengabaikan dan tidak
mengharapkannya. Ethan tidak mau sakit hati karena pengharapannya tidaklah
berjalan sesuai dengan keinginannya. Karena terkadang begitu sakit memikirkan
bahwa dia selama ini ditinggal sendirian tetapi Ethan tidak bisa menyalahkan
siapapun atas apa yang menimpa kedua orang tuanya, karena baginya itu adalah
sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan kepadanya supaya ia bisa menjalani
hari dengan menjadi orang yang kuat di tengah ke bagian yang dia rasakan sejak
kecil bahkan mungkin sampai saat ini.
Tuan Haidee terdiam memandang Ethan yang duduk di sebelahnya, ia bisa merasakan
kesedihan dan kepedihan Ethan saat ini. Ada sedikit penyesalan juga kenapa dia
harus membahas masalah itu dengan Ethan tetapi Tuan Haidee tidak bisa menahan
diri dan ingin mengetahui bagaimana perasaan Ethan selama ini harus hidup dan
berjuang sendirian.
Tuan Haidee merasa bersalah sekali terhadap Ethan, selama ini memang harus ada orang
yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu dan itu adalah istrinya yaitu Nyonya
Haidee. Seandainya saat itu bisa berhati-hati tentu tidak akan menghilangkan
nyawa kedua orang tua Ethan dan mungkin Ethan bisa menjalani harinya jauh lebih
baik daripada saat ini. Mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya meskipun itu
bukan orang tua kandung Ethan sendiri tetapi mereka pasti sangatlah menyayangi
Ethan.
Leona naik ke atas kolam renang yang merasa sudah cukup berenang dan memakai handuk
kimononya lalu menghampiri Tuan Haidee dan Ethan yang ada di Gazebo.”Seru
sekali mengobrolnya.” ucap Leona yang membuyarkan Lamunan Ethan.
Ethan tersenyum kepada Leona. “Kau sendiri asik berenang, bagaimana bisa tahu obrolan
kami yang seru ini.” sahut Ethan.
“Kau curang aku mengajakmu liburan agar aku bisa menikmati waktu denganmu Sepertinya
kalau lebih tertarik menikmati waktu bersama Papa.” Ejek Leona sambil bercanda.
“Aku jadi bingung, kau liburan ke sini mengajak Tuan Haidee dan baru mengajakku,
tetapi kenapa malah protes jika aku mengobrol dengannya??? Jadi sebenarnya
kalau ingin liburan dengan siapa dengan kau atau dengan tuan Haidee???” tanya Ethan.
Leona tertawa. “Ya. Seharusnya aku yang mengobrol dengan Papa. Maaf ya Pa??. Leona memeluk
Tuan Haidee kemudian dia duduk dan bergabung bersama dengan Papa nya itu dan
juga Ethan. Leona mengambil gelas berisi jus yang ada di atas meja dan
****
Sore harinya Leona akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai yang ada di
belakang Villa mereka, untuk menikmati sambil menikmati Sunset di sore hari.
Tuan Haidee turun dari kursi rodanya dan Ia berjalan di dampingi oleh Leona dan Ethan.
Mereka berjalan menyusuri pantai dengan Pasir Putih juga air yang jernih warna
biru dan air laut perlahan berubah menjadi oranye karena matahari perlahan
mulai turun untuk bersembunyi.
Kebahagiaan sangat terlihat di wajah ketiganya, mereka berjalan menyusuri pantai sembari
mengobrol dan bercanda ria. Tuan Haidee juga tertawa lepas membuat Leona merasa
sangat bahagia sekali. Setelah sekian lama akhirnya ia melihat wajah bahagia
dari Papanya, hal yang sudah lama tidak Leona lihat dan juga Leona
rasakan. Inilah kebahagiaan yang selama ini Leona rindukan, walaupun sebenarnya
ini belumlah lengkap karena tidak ada mamanya Leona. Merindukan bisa bahagia
seperti dulu lagi bersama Papa dan Mamanya, hanya saja memang saat ini
keadaannya sangat jauh berbeda dengan dulu. Mamanya menjadi sangat egois dan
tidak lagi pernah memperhatikan dirinya ataupun Papanya, menyakitkan tetapi
Leona harus menerimanya setidaknya saat ini ia bisa memberikan kebahagiaan
Kecil Untuk Tuan Haidee bersama dengan Ethan yang sangat dia cintai.
Leona akan menikmati dengan baik waktunya bersama Tuan Haidee, jika Tuan Haidiee bahagia
jiwa dan raganya, maka dia akan lebih cepat pulih seperti sedia kala. Leona
ingin Papanya bisa selalu bersamanya dan menemaninya sampai dia menikah nanti
dan memiliki anak. Leona sudah memiliki gambaran betapa bahagianya dia nanti
jika memiliki anak lalu melihat Tuan Haidee bermain dengan cucu-cucunya. Itu
pasti menjadi hal yang sangat luar biasa dan membahagiakan, apalagi jika nanti
iya bisa menikah dengan Ethan. Melihat ke akraban Ethan dan Tuan Haidee. Leona
sangat yakin jika Papanya Itu benar-benar sudah merestui hubungannya dengan Ethan.
Perlahan Matahari mulai turun dan warna langit juga mulai berubah ke warna jingga. Leona,
Ethan dan juga tuan Haidee duduk di atas pasir pantai menikmati pemandangan
yang luar biasa mereka memilih diam dan menikmatinya saja. Leona melirik ke
sebelahnya ke arah Papanya dan juga ke arah Ethan, dua laki-laki yang sangat
dia cintai saat ini ada bersamanya. Leona sangat mensyukuri dengan apa yang
dimilikinya saat ini, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain bersama
dengan orang-orang yang dicintainya. kebahagiaan materi tidak mampu
menggantikan kebahagiaan bersama dengan orang yang dicintai.
***
Setelah melihat keindahan Sunset. Mereka pun kembali lagi ke Villa. Leona mengantar
Tuan Haidee lebih dulu ke kamarnya setelah itu dia menghampiri Etan yang sudah
masuk ke kamar lebih dulu. Leona melihat Ethan sedang bersiap untuk mandi. Ia
pun ikut bersama dengan lelaki itu masuk ke kamar mandi.
Ethan berdiri di depan meja wastafel dengan cermin besar. Lelaki itu malam milih
untuk bercukur sebelum mandi, sedangkan Leona duduk di atas meja di sebelah
wastafel. Leona tersenyum, mengayunkan kedua kakinya sambil menatap Ethan yang
sibuk bercukur. Leona senyum-senyum sendiri menatap lelaki yang dicintainya itu.
Ethan melirik. “Kau kenapa senyum-senyum???” tanyanya.
“Memang kenapa kalau aku senyum-senyum tidak boleh???”
“Ya bukannya tidak boleh tapi kenapa senyum-senyum memangnya ada yang salah
denganku???"
“Tidak ada yang salah, Aku hanya ingin senyum saja, menurutku kau itu lebih tampan
kalau ada jenggotnya, tapi jangan tebal-tebal yang tipis-tipis s,aja kalau kau
menghabisi seperti itu bukannya tampan tapi kau justru imut sekali hehehe.”
Etan melirik ke arah Leona. “Imut??? Haha memangnya aku boneka beruang sampai kau
mengatakan Aku imut??”
“Ya kau beruang Besarku. Aku lebih suka melihatmu tampan daripada kau imut,
harusnya jangan dihabisi seperti itu dan dirapikan saja.” Protes Leona.
“Kenapa baru bilang??? Kenapa tidak tadi saja, aku kan tidak akan mencukur semuanya
kalau itu yang kau inginkan.”
“Jadi kau sudah mau mulai menurut lagi padaku???” Tanya Leona.
“Jika menurutmu itu bisa membuatmu senang, aku akan melakukannya.”
Leona mencubit pipi Ethan dengan gemas. “Ih kau manis sekali!??” Goda nya pada lelaki
itu.
“Tadi katanya aku aku lucu, sekarang berubah lagi aku jadi manis. lalu sebenarnya aku
ini bagaimana dan siapa aku???” Ethan tertawa dan membalas cubitan di pipi
Leona.
“Kau adalah kekasihku yang manis, tampan, dan lucu sekali.”
Ethan meletakkan alat cukurnya dan memandang Leona kemudian terkekeh mendengar betapa
manjanya perempuan di depannya itu. “Kau sangat lucu!” Ethan mengecup
bibir Leona, ia mulai menyukai sikap dan tingkah menggemaskan Leona. Perempuan
itu tidak terlalu buruk untuknya dan Leona memiliki hati yang sangat Tulus dan
sangat baik sekali.
“Boleh aku mengatakan sesuatu??” ucap Leona.
“Mengatakan apa??” tanya Ethan. Dia bergeser sedikit dan kini berdiri tepat di depan Leona,
kemudian lengan Leona melingkar di lehernya. Ethan memegang pinggang Leona
dengan kedua lengannya.
“Aku selalu cemburu kepadamu.” Gumam Leona.
Ethan mengernyit. “Cemburu??? Cemburu kepadaku??? Memangnya kau melihat aku dengan
perempuan lain??? Perasaan aku tidak pernah jalan dengan perempuan lain kecuali
dengan Nona Kaia, itupun juga denganmu.”
“Bukan cemburu karena perempuan lain.”
“Lalu???” Tanya Ethan heran.
Leona tersenyum dan memegang rahang Ethan, kemudian mendekatkan ke wajahnya lalu
mengecup bibir lelaki itu. “Aku cemburu melihatmu akrab sekali dengan Papa dan
aku sangat penasaran sebenarnya apa sih yang sedang kalian berdua obrolkan??? Obrolan
kalian begitu serius sekali sedangkan saat bersamaku kau tidak pernah mengobrol
seru itu jadinya aku Ya cemburu pada Papa. Aku juga ingin akrab denganmu
seperti kau akrab dengan Papa. Apa kau masih meragukan cinta dan ketulusanku
kepadamu??” tanya Leona.
Ethan menggelengkan kepalanya dan ia tersenyum. “Aku tidak pernah meragukan cintamu
atau ketulusanmu, aku sudah melihatnya sejauh ini dan aku sangat menikmatinya.
Aku berharap kau memberiku waktu sedikit lagi untuk untuk aku bisa lebih
menumbuhkan cintaku kepadamu dan aku tidak pernah berniat mempermainkan
ketulusan dan cintamu, beri aku sedikit lagi waktu mengenai Tuan Haidee,
obrolan kami hanya obrolan biasa saja dan aku merasa Tuan Haidee sedang ingin
mengenalku lebih dekat lagi sehingga dia banyak bertanya mengenai kehidupanku
dulu hingga saat ini, hanya itu saja. Jadi aku harap kau tidak perlu merasa cemburu
.Memangnya kau tidak suka jika aku mengakrabkan diri dengan Tuan Haidee??”
“Aku sangat senang Papa sepertinya begitu menyayangi dan menyukaimu, aku merasa
hubungan kita akan berjalan dengan sangat baik dan jika waktunya, kita pasti
akan menunjukkan hubungan kita kepada orang lain serta tidak sembunyi-sembunyi
seperti ini. Aku sedang menunggu waktu yang tepat saja karena aku rasa saat ini
masih belum tepat. Yang pastinya karena Mama aku harap kau mengerti.”
“Tenang saja aku mengerti dengan semua keadaan ini.” Ucap Ethan kemudian mengecup bibir
Leona.