
Sementara itu di tempat lain. Leona bangun pagi dan dia sudah mandi ruang makan. Dimana ternyata Kaia sudah bangun lebih dulu dan sekarang sibuk membuat sarapan. Tempat yang Leona tinggal ini adalah milik dari mantan asisten pribadi Papa nya yang memang tidak dihuni dan saat ini ia bersama dengan Kaia dan juga Mamanya Kaia. Mereka tinggal bertiga di sini untuk sementara waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk pindah.
Leona ingin memulai Semuanya dari awal dan dia butuh waktu untuk berpikir ke mana dia akan pergi dan tinggal nanti serta Usaha apa yang ingin Ia bangun. Leona tidak mungkin terus bergantung atas bantuan dari mantan asisten pribadi Papanya Itu. Leona tentu saja merasa tidak enak Karena dia sudah dibantu begitu banyak.
"Selamat pagi Na. Hari ini aku membuat sarapan kesukaanmu." Kaia berbalik badan dan membawa piring berisikan makanan yang dibuat untuk Leona. "Kau beberapa hari ini kurang tidur dan aku melihatmu tadi tidur sangat nyenyak sekali sehingga aku tidak tega untuk membangunkanmu, duduklah dan kita sarapan bersama."
"Terima kasih Kai. Kau adalah orang yang sangat setia kepadaku. Terima kasih untuk semuanya selama ini."
"Berhentilah berterima kasih, justru kaulah yang segalanya untukku karena selama ini kau telah memberikan banyak sekali untuk ku dan mama jadi sudah seharusnya aku juga melakukan yang terbaik untukmu, duduklah."
Leona duduk dan Kaia meletakkan piring berisi makanan itu di depan Leona kemudian Kaia duduk. Mama Kaia sedang ada di kamar dan nanti akan menyusul mereka untuk sarapan bersama.
"Kai. Aku ingin segera menjual apartemenku dan kita ambil barang-barang yang ada di dalamnya. Kita pindah."
"Aku akan mengurusnya hari ini, kau tenang saja Na, tetapi kau sudah punya rencana akan pergi ke mana???"
"Belum ada Kai, tapi aku masih memikirkannya tempat mana yang cocok untuk kita tinggali, aku juga minta padamu untuk mencari informasi tentang Ethan, aku sangat mengkhawatirkannya, orang-orang sialan itu telah menusuknya dan memukilinya dengan sangat kejam sekali. Aku sangat takut Ethan terluka parah."
"Baiklah aku akan mencoba mengirim orang untuk ke Washington DC dan memeriksa keadaan Ethan. Semoga dia baik-baik saja tapi ini sudah berjalan berminggu-minggu bisa jadi Ethan juga berpindah untuk mencari keamanan." ucap Kaia. Dan sampai saat ini Kaia belum memberitahu Leona bahwa dia telah meminta Ethan untuk pergi dari dan keluar dari Washington DC. Kaia melakukan itu untuk membantu Ethan agar tidak lagi berurusan dengan Mama Leona dan juga Steven, sehingga Kaia sebenarnya juga meragu dan yakin bahwa Ethan pasti akan benar-benar meninggalkan washington DC tetapi saat ini kondisinya berbeda. Leona sudah tidak lagi terikat dengan Mamanya tentunya. Kaia akan berusaha membantu Leona untuk menemukan Ethan kembali dan menyatukan mereka, mengingat Leona masih sangat begitu mencintai Ethan dan Kaia juga Tidak bisa membiarkan Leona menderita karena jauh dari Ethan.
"Tolong Kai bawa Ethan ke sini, kami harus berbicara dan aku rasa mungkin dia juga punya ide akan lebih baik ke mana kami harus tinggal, apakah masih tetap berada di Amerika atau Kami pergi ke luar negeri dan mencari tempat lain untuk tinggal." Gumam Leona.
"Ya aku akan mencoba mencari tahu tentang kabar Ethan dan aku akan mempertemukan kalian lagi."
"Aku sangat berharap dia baik-baik saja dan Kyros serta yang lainnya berhasil menyelamatkan nyawanya. Aku juga berharap dia masih berada di Washington DC sehingga kita bisa kembali menemukannya dengan mudah."
"Iya Na, aku akan mengirim orang ke sana dan mencarinya di tempat kerjanya."
****
Naufal sudah selesai makan malam bersama dengan keluarganya dan berkumpul dengan keluarganya. Mereka banyak berbincang mengenai berbagai hal termasuk keseharian Naufal ketika di Amerika dan juga perjuangannya dalam beberapa hal seperti mencari pekerjaan hingga perjuangannya untuk bisa berkuliah. Vino juga banyak bertanya tentang pendidikan yang dilakukan oleh putranya itu dan ternyata Naufal memilih untuk berkuliah dan mengambil jurusan bisnis. Akan tetapi karena saat berkuliah, Naufal sudah bekerja menjadi seorang barista dan dia juga bekerja di tempat itu sudah bertahun-tahun membuatnya merasa nyaman sekali sehingga Naufal tidak memilih untuk mencari pekerjaan lain dan menikmati pekerjaannya sebagai seorang barista. Hingga dia masuk sebagai barista senior di tempatnya bekerja tetapi kemudian dia berganti pekerjaan menjadi Bodyguard dari Leona yang saat itu juga digaji cukup tinggi di mana gajinya bisa dua sampai tiga kali lipat dari gajinya menjadi seorang barista, membuat Naufal tertarik dan menerimanya.
Mengetahui bahwa ternyata Naufal berkuliah di jurusan bisnis membuat Vino merasa senang itu artinya anaknya itu mengetahui tentang ilmu bisnis dan hanya perlu diasah sedikit lagi. Vino juga akan membekali Naufal dengan pengetahuannya juga akan mendiskusikan lagi dengan putranya itu mengenai melanjutkan magister nya di sini saja sebagai bekal tambahan sehingga nanti Naufal bisa menguasai ilmu bisnis dengan sangat baik dan membantunya di kantor. Vino sudah memiliki gambaran untuk bisa menjadikan Naufal sebagai penggantinya nanti di perusahaan miliknya.
"Naufal, bagaimana kalau kau kembali berkuliah lagi dan melanjutkan magister mu di sini." Tanya Vino.
"Melanjutkan magister Pa???"
"Iya, melanjutkan magister di sini, di sini juga banyak sekali kampus yang sangat bagus dan adikmu juga berkuliah di kampus yang sangat bagus, kau bisa berkuliah juga di sana. Kalau kau mau ada juga banyak kampus yang lainnya yang juga bagus."
"Membantu Papa di kantor???" Tanya Naufal yang terlihat bingung.
"Iya, membantu Papa di kantor. Papa kan juga punya perusahaan di sini dan Papa juga butuh penerus. Kau bisa lihat sendiri adikmu mengambil kuliah kedokteran sedangkan Sanne, dia mengambil sekolah memasak lalu jika aku dan Vitto sudah tua siapa yang akan meneruskan usaha keluarga kita ini, kalau bukan kau. Kau satu-satunya harapan Papa dan juga harapan Uncle Vitto."
"Tetapi aku sebelumnya kan belum pernah bekerja kantoran Pa??"
"Itu dia, Papa dan Uncle Vitto akan mengajarimu di kantor, sambil kau juga melanjutkan kuliah magister. Jadi kau bisa mengasah ilmu yang sudah kau dapatkan dulu, semua kan butuh proses terus belajar kan??? Dari awal hingga kami akan mengajarimu dengan baik sehingga kau nanti juga bisa menjadi seperti Papa. Sayang sekali perusahaan sebesar itu kalau harus diurus oleh orang lain, lebih baiknya kan diurus oleh anak Papa sendiri???"
"Tapi aku benar-benar tidak bisa Pa. Aku tidak pernah bekerja kantoran sebelumnya."
Vitto terkekeh. "Memangnya dulu kau pikir Uncle juga bisa berbisnis. Uncle bahkan tidak pernah menempuh pendidikan ilmu bisnis ataupun manajemen, semua Uncle lakukan secara otodidak dan dibantu oleh Papamu." Sahut Vitto.
"Iya kak, dulu Uncle Vitto adalah aktor, kakak tidak tahu ya kalau Uncle Vitto banyak bermain film, series, bintang iklan bahkan model tapi buktinya Sekarang Uncle Vitto membantu Papa di kantor, semua kan pasti bisa kalau mau berlatih dan belajar." Sela Vineet.
"Uncle Vitto aktor???"
"Iya, Uncle Vitto adalah aktor, aku nanti akan tunjukkan kepada kakak beberapa film dan juga series serta iklan yang pernah dibintangi oleh Uncle Vitto." Ucap Vineet.
Vitto tersenyum. "Kau bisa belajar Semuanya dari awal dan kami akan membimbingmu dengan sangat baik. Jadi kami harap kau mau menerima tawaran ini. Sejak dulu Vino sudah berniat menyiapkanmu untuk belajar mengenai bisnis sepertinya, supaya kau bisa menjadi penerusnya dan bisnis ini adalah bisnis dari Opamu yang diwariskan kepada kami dan Vino mengelolanya dengan sangat baik hingga besar seperti saat ini. Tentunya kau juga harus bisa mengelolanya sama halnya seperti yang Vino lakukan. Anak kecil tidak bisa langsung berjalan ataupun berlari, dia harus berlatih melangkah perlahan terlebih dulu baru bisa berjalan kemudian berlari, sama halnya sepertimu jika kau belum bisa dan belum menguasai kemampuan bisnis. Tentu kau harus belajar lebih dulu dan akan banyak yang membantumu nanti." Ujar Vitto.
Vino memandang Naufal dan tesenyum penuh harap. "Papa sangat berharap sekali padamu. Tetapi jika kau tidak tertarik dengan bisnis yang Papa jalankan sebenatrnya juga tidak masalah, kau bisa katakan apa yang kau inginkan, Papa akan membantumu dengan baik, apa kau ingin cafe atau restoran supaya kau bisa melanjukan kesenanganmu dengan dunia barista???" Tanya Vino. "Kalau iya kau bisa mengatakannya sekarang, Papa akan siapkan semua nya. Papa juga tidak mau memaksa, Papa ingin anak-anak Papa melakukan apa yang mereka sukai."
Naufal menatap Vino, dia memang sejak dulu juga ingin bekerja di kantor, tetapi dia memang belum ada kesempatan melakukannya. Dan ya, setelah sekian lama dia berpisah dengan keluarga nya lalu sekarang bisa berkumpul lagi tentu dia ingin melihat keluarga nya lebih bahagia lagi. Dan Papa nya sudah meminta kepadanya untuk pertama kali, tentu dia harus mewujudkannya supaya Papa nya dan keluarga nya semakin bahagia sekali. "Baiklah, kalau Papa ingin aku berkuliah lagi, dan ingin aku membantu Papa, aku mau." Gumam Naufal.
Vino terperanjat. "Kau serius mau???"
"Iya Pa, aku sangat suka belajar hal yang baru dan aku ingin menuruti keinginan Papa."
"Kalau kau hanya ingin menyenangkan Papa lebih baik tidak perlu, kau harus melakukan semuanya karena hati nurani mu dan keinginanmu, Papa sama sekali tidak akan memaksamu."
"Tidak Pa, aku memang ingin melakukannya, Papa harus mengajariku dengan baik."
Vino melihat keseriusan di wajah putranya, dan dia tersenyum kemudian memeluknya dengan perasaan bangga. "Terima kasih, kau memang adalah putraku yang selalu luar biasa. Papa akan mengajarimu dengan baik" Ucap Vino.
"Dan Papa akan membuatmu menjadi orang yang sukses sehingga tidak akan ada lagi orang yang akan merendahkanmu, bahkan Papa akan membungkam mulut mereka yang pernah memperlakukanmu dengan buruk. Papa tidak akan memaafkan mereka semua atas apa yang sudah kau alami selama ini, dendam mu akan Papa balaskan kepada mereka semua. Papa tidak akan pernah bisa menerima apa yang sudah mereka lakukan dan hinakan kepadamu, Papa janji Naufal. Kau sekarang akan jadi laki-laki penuh dengan kehormatan dan memiliki harga diri, hingga semua orang akan menunduk ketika bertemu denganmu dan mereka tidak akan menghina dan merendahkanmu lagi, ini adalah janji Papa." Gumam Vino dalam hati sambil memeluk Naufal.