
Aldrin menyimpan sampel rambut Bryan di dalam laci mejanya. Ia mengambil ponselnya untuk menelepon Amaira. Tak menunggu berapa lama Amaira menjawab teleponnya.
"Kamu masih marah sama aku, ya?" tanya Aldrin penuh penyesalan.
Amaira tak menjawab, gadis itu memilih diam.
"Maafkan aku. Aku berjanji akan lebih mengerti perasaanmu dan tidak lagi dekat-dekat sama cewek lain selain kamu seorang," bujuk Aldrin.
Amaira tersenyum mendengarnya. "Kenapa kamu baru meneleponku?" tanya Amaira.
"Aku tadi nongkrong sama Bryan. Dia akan pergi ke Paris besok!"
"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat saja!"
"Eh, bye the way, besok malam, aku akan jemput kamu! Ayah tiriku ngajak kamu makan malam bersama di rumah!"
Amaira terkejut."Aku jadi tegang," ucapnya gugup, "seperti apa ayah tirimu? Dia galak enggak?"
"Kayaknya lebih galak ayah kamu, deh!" ucap Aldrin tertawa, melanjutkan kembali ucapannya, "Dia seperti Naufal. Baik dan penuh kasih sayang. Pokoknya kamu siap-siap, ya!"
"Syukurlah! Kalau kayak gitu aku enggak gugup."
Setelah mengakhiri teleponnya. Aldrin duduk bersandar di jendela kamarnya. Tak lama kemudian terdengar bunyi pesan masuk. Ia membuka isi pesan tersebut yang ternyata dari Bryan.
^^^Bryan^^^
^^^Besok gue belum jadi ke Paris, Nenek gue minta tunda berangkat sampai minggu depan.^^^
Aldrin tersenyum. Jika hasil DNA mereka keluar minggu depan, setidaknya ia masih bisa bertemu dengan Bryan lagi dan menanyakan lebih jauh tentang ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang gelap telah berganti dengan pagi yang cerah. Hari ini adalah hari pertama anak sekolah libur semester. Aldrin menggunakan libur semester pertamanya untuk mengajak Amaira jalan-jalan ke mall, sebelum ia akan sibuk magang di perusahaan ayahnya nanti.
Keduanya bergandengan mesra sepanjang jalan. Aldrin membawa Amaira ke toko aksesoris. Mereka melihat aneka cincin couple yang dijual di tempat itu.
"Kamu mau yang mana?" tanya Aldrin sambil melihat beberapa pasang cincin couple itu.
"Kayaknya ini bagus dan sederhana." Tunjuk Amaira ke salah satu cincin couple.
Amaira memasang cincin yang ditunjuknya, cincin itu pas di jari manisnya. Aldrin ikut memasang cincin yang sama seperti Amaira pakai. Aldrin dan Amaira mendekatkan kedua tangan mereka yang telah terpasang cincin couple. Keduanya saling menatap sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Setelah itu, Aldrin membayar cincin couple yang telah mereka pakai.
"Maafkan aku, untuk saat ini aku hanya mampu membeli cincin imitasi. Tapi, aku janji suatu saat nanti bakal ganti cincin ini dengan permata asli," ucap Aldrin menatap kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
Cowok itu terpaksa harus menghemat uang bulanannya selama liburan karena ia akan menggunakannya untuk membayar hasil tes DNA.
"Ini lebih dari cukup dan aku sudah sangat bahagia," balas Amaira.
Senyum cantik terpatri di wajah lembutnya. Gadis itu penuh pengertian. Ia tidak pernah menuntut apapun dari Aldrin. Bahkan ia tidak pernah memaksa Aldrin untuk berubah demi dia. Sebab, ia ingin Aldrin berubah karena kesadarannya sendiri. Bukan karena terpaksa. Itulah mengapa Aldrin selalu merasa nyaman bersamanya.
Di rumah, Naufal masuk ke dapur dan melihat pelayan tampak sibuk dengan beberapa bahan dapur yang akan mereka masak.
"Wow ... banyak banget bahan makanan. Kayak mau pesta saja!" ujar Naufal.
Naufal tertegun. Ia baru mengetahuinya. Itu artinya, Aldrin benar-benar serius akan menikahi Amaira. Ia masuk ke kamarnya, mengambil ponsel dan melakukan panggilan ke Er. Ia mengajak gadis tomboi itu nonton di bioskop malam nanti. Ini hanya sebuah pelarian semata.
Saat ini, Naufal hanya ingin menjaga hatinya agar tak tergores luka lagi. Setidaknya tunggu sampai hatinya tertata kembali dan ia siap melihat mereka berdua bahagia. Bukankah akan ada saatnya nanti, kita akan bersikap biasa saja ketika mendengar nama orang yang pernah kita cintai? Ya, Naufal sedang menunggu waktu di mana ia akan terlihat biasa saja saat mendengar nama Amaira, saat melihatnya, bahkan menyaksikan mereka bersama.
Sementara, Aldrin dan Amaira masih berada di Mall. Mereka melangkah menuju Timezone. Keduanya menjajaki berbagai permainan yang ada di tempat tersebut. Sepasang kekasih itu berdiri di depan mesin capit boneka.
"Sayang, kamu mau boneka beruang yang ada di dalam sana, enggak?" tanya Aldrin menunjuk boneka tersebut.
Amaira mengangguk cepat sambil tersenyum riang.
"Okey! Aku akan tunjukkan sama kamu kalau aku jago main ini!"
Aldrin menggesek kartu kemudian mulai mengendalikan tuas pada mesin tersebut. Ia menjalankan tuas dengan penuh konsentrasi, mendekatkan mesin pencapit pada bagian kepala boneka lalu menekan tombol di mesin itu.
Yeah!
Aldrin berhasil meraih boneka beruang diiringi tepuk tangan semangat dari Amaira. Boneka itu bergerak menuju tempat keluar. Ia memberikan boneka Teddy Bear itu kepada kekasihnya yang langsung disambut dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
Amaira memeluk boneka yang diberikan Aldrin. Tak lama kemudian seorang anak kecil mendekati mereka dan meminta boneka itu pada Amaira.
"Minta bonekanya kakak!" ujar anak itu dengan wajah memelas.
"Heh, enak saja! Enggak boleh, suruh ibumu ambil sendiri!" ucap Aldrin galak.
Anak itu malah menunjukkan wajah sedih dan hampir menangis. Amaira langsung memberikan boneka itu padanya.
"Ini untukmu, jangan menangis, Sayang. Nanti kamu kelihatan jelek," bujuk Amaira dengan penuh kelembutan.
Anak itu tersenyum dan segera mengambil boneka beruang dari tangan Amaira. Ia langsung berlari setelah mengambil boneka. Aldrin terkejut melihat Amaira yang menyerahkan boneka itu begitu saja. Ia berkacak pinggang seraya membuka mulutnya, menunjukkan sikap tidak terima.
"Kamu ini gimana, sih? Aku susah payah ngambil boneka itu untuk kamu, malah kamu kasih ke anak kecil yang enggak dikenal," keluhnya kesal.
"Kamu bisa ngambil lagi untuk aku, 'kan?" bujuk Amaira sambil mengalung manja lengan Aldrin.
Aldrin menatap wajah Amaira yang setengah memohon. Sontak, rasa marahnya hilang seketika. Ia kembali berkonsentrasi mengambil boneka yang ada dalam mesin capit. Mendekatkan mesin itu di kepala boneka, tapi boneka itu gagal terangkat. Ia tampak kecewa, lalu mencobanya sekali lagi. Gagal kembali. Kali ini ia tampak kesal bercampur rasa penasaran. Cowok itu menarik napas panjang, berkonsentrasi tinggi dan mulai mencobanya kembali. Tetap gagal!
"Aaarrrggghhhh!" Ardrin memekik kesal sambil menggoyangkan mesin capit itu.
Amaira tertawa ringan melihat raut kesal cowok tampan itu. "Sudah ... sudah ... kamu enggak usah ambil bonekanya lagi. Lagian, di kamarku juga punya boneka Teddy Bear yang pernah dikasih Naufal. Boneka itu selalu temani aku tidur. "
Mendengar Naufal memberikan boneka teddy bear pada Amira, membuat Aldrin tampak berang. "Naufal kasih kamu boneka?" tanyanya kembali dengan wajah cemburu.
Amaira mengangguk. "Sudah lama, kok. Waktu kita sempat putus."
Aldrin mendengus kesal. Wajahnya memerah karena cemburu, "Ayo kita ke tempat boneka sekarang! Aku akan beli boneka Teddy Bear yang super besar untuk kamu!"
.
episode selanjutnya Amaira akan bertatap muka dengan Ardhilla. apa yang akan terjadi??