
"Hei, kamu kenapa?" Aldrin heran melihat ekspresi wajah Naufal saat ini.
Naufal tetap tak menjawab. Tatapannya masih kosong, ia terlihat seperti orang yang sedang melamun. Ia tetap berdiri seperti patung.
Aldrin mengerutkan dahinya sehingga membuat kedua alisnya hampir tersambung. Ia mendekati Naufal, lalu menepuk pundaknya. Naufal tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Aldrin yang telah berada di sampingnya.
"Bilang sama dia kalau aku suka sama dia. aku suka sama dia. Aku sangat menyukainya!"
Ucapan itu kembali terngiang di kepalanya. Seperti sebuah mantra, terus saja komat-kamik di pendengarannya.
"Kamu kenapa?" Aldrin mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Aku ... aku tadi muntah saat naik roller coaster, dan sekarang perasaanku jadi enggak nyaman," jawab Naufal dengan masih memasang wajah yang tak biasa.
Aldrin terkejut, ia melebarkan matanya, dan tawanya pecah seketika. "Kamu muntah karena naik roller coaster?"
Naufal tak menjawab pertanyaan Aldrin. Ia bahkan tidak memedulikan tawa ejekan dari cowok berambut blonde itu. Ia langsung berjalan terburu-buru memasuki rumahnya, meninggalkan Aldrin yang masih tertawa geli karena mendengar Naufal muntah hanya karena naik roller coaster. Namun, saat melihat Naufal terburu-buru masuk ke rumah dengan ekspresi dingin, tawa Aldrin berhenti sekejap.
"Dia sangat aneh! Apa dia kesurupan hantu roller coaster?" Aldrin bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil berkacak pinggang, kemudian memilih lanjut memandikan motor kesayangannya.
Naufal langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia melepas kaos yang digunakannya lalu melempar ke lantai. Kemudian melangkah pelan menuju kamar mandi yang terletak dalam kamarnya.
Kamar mandi ini cukup besar, dengan dinding yang berlapis marmer. Naufal berjalan ke arah bathtub. Ia menyalakan air hangat untuk mengisi bathtub lalu memutuskan untuk masuk berendam ke dalam air.
Naufal menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air hangat, lalu membasuh seluruh wajah dan kepalanya. Berharap, dapat menghilangkan penat yang menghampirinya saat ini. Dia kembali termenung sambil menatap langit-langit kamar mandi.
Dari sekian banyak cowok. Kenapa kamu harus suka sama Aldrin? Mungkin, jika saat itu kamu menyebut nama lain, hatiku tidak sesakit ini. Amaira, kenapa kamu harus menyukai saudaraku sendiri?
Naufal menepuk-nepuk air yang dipakai berendam, ia membasuh kembali wajah dan kepalanya dengan air. Di kepalanya saat ini mengandung segudang pertanyaan yang ingin ia muntahkan. Sejak kapan Amaira menyukai Aldrin? Apakah sejak mereka terlibat tugas kelompok bersama? Kenapa gadis seperti Amaira bisa menyukai Aldrin?
Ya, dia sangat paham dan juga sadar, Aldrin adalah sosok cowok idola di sekolahnya. Ketampanan dan pesonanya luar biasa. Kehadirannya sejak pertama kali di sekolah itu bak menyihir para siswi. Meskipun terkenal sebagai *play*boy, ia tetap menjadi cowok yang benar-benar digandrungi kaum hawa. Namun, Naufal sama sekali tak menyangka jika orang seperti Amaira bisa menyukai Aldrin. Pikirnya, gadis itu tak akan menilai sesuatu dari fisiknya. Ternyata dia pun sama seperti siswi-siswi lainnya yang terhipnotis dengan pesona Aldrin.
Naufal beranjak dari bathtup, dia mengambil piyamanya, memakaikan ke tubuhnya, kemudian mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil lalu menatap wajahnya di cermin. Sontak, kalimat yang di keluarkan Amaira terngiang lagi di telinganya.
Sejenak, ia berpikir masih ada harapan untuknya mengambil hati Amaira. Gadis itu memang menyukai Aldrin. Namun, bagaimana dengan Aldrin sendiri? Bukankah Amaira hanya bertepuk sebelah tangan. Aldrin tak pernah tertarik dengan gadis seperti Amaira! Apalagi Amaira hanyalah gadis biasa yang pendiam.
Naufal keluar dari kamarnya setelah memakai pakaiannya. Ia menuju kamar Zaki dan mengetuk pintu kamar kakaknya. Zaki membuka pintu kamarnya setengah terbuka dan hanya memunculkan kepalanya keluar.
"Ada apa?"
"Kakak, apa aku boleh bertanya?"
"Makan waktu, enggak? Soalnya aku lagi sibuk!"
"Aku hanya mau tanya," Naufal mencoba menjeda ucapannya, lalu melanjutkan, "bagaimana caramu mendapatkan hati kak Maria sebelum kalian pacaran?"
Zaki mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan aneh dari adiknya. "Kenapa kamu tanya gitu?
"Aku lagi suka sama seseorang dan aku ingin mengambil hatinya."
Zaki terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Aku berusaha mencari tahu apa yang ia sukai waktu itu. Saat itu usianya tujuh belas tahun dan dia sangat tergila-gila dengan grup band korea. Aku berusaha mengikuti style cowok-cowok Kpop cuma untuk bikin tertarik sama aku! Apa kamu ingat, aku pernah mengubah gaya rambut ala-ala Korea. Konyol, 'kan?" kenang Zaki sambil menertawakan kebodohannya saat itu.
Naufal mencoba mengingat. Ya, Zaki si cowok maskulin ini pernah berpenampilan cute ala-ala boyband.
"Begitu ya?"
Zaki memandang aneh ke arah adiknya. "Harusnya kamu tanya ini sama si parasit itu. Bukannya dia lebih ahli menaklukkan cewek!" lanjut Zaki.
Naufal tak menghiraukan ucapan kakanya, ia lalu beranjak pergi meninggalkan Zaki yang masih bersandar di tiang pintu kamarnya. Ia menuju garasi mobil, lalu mengendarai ferrari-nya itu.
Naufal tiba di Barbershop terkenal di daerah Jakarta Pusat. Ia masuk ke dalam tempat pangkas rambut khusus pria itu dan langsung di layani oleh barberman. Ia duduk di kursi yang telah disediakan dengan menghadap di sebuah cermin besar.
"Mau model seperti apa?" tanya Barbarman sambil memasangkan Appron di tubuh Naufal.
"Aku mau model rambutku dibuat seperti ini! Harus bisa buat gaya rambutku seperti ini. Pilihkan warna rambut yang sama kayak gini!" Naufal menyodorkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang memerlihatkan wajah Aldrin.
Aku telah memelihara perasaan ini sejak pertama kali mengenalmu.Tidak peduli mereka akan mengatakan aku diperbudak oleh cinta, tidak peduli lima tahun yang akan datang, aku akan menertawakan tingkah konyolku hari ini.
Biarlah ini menjadi bagian dari kisah yang mewarnai masa remajaku. Kelak, Akan kuceritakan pada anak-anakku nanti, jika ayahmu pernah sangat bodoh mencintai seorang gadis. Maaf, aku menolak menyerah!