
Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Aldrin mengejutkan Naufal. Mengapa Aldrin tiba-tiba melontarkan pertanyaan tersebut? Pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu pasti jawabannya.
Naufal masih tertegun. Ia menatap Aldrin dengan penuh kebingungan. Hatinya masih bertanya-tanya apa maksud Aldrin saat ini. Apakah Aldrin menganggap selama koma, dia telah mengambil kesempatan untuk mendekati Amaira?
"Aldrin, aku sudah menganggap Amaira seperti keluargaku sendiri sama seperti kamu yang sampai saat ini tetap kuanggap sebagai saudaraku." Naufal memberi pengertian agar Aldrin tak salah paham. Ia tahu jika Aldrin punya sifat pencemburu.
"Bagus!"
Tangan Aldrin merambat meraih tangan Naufal. Dengan lemah, ia mencoba menggenggam tangan Naufal.
"Kamu pasti tahu kalau Amaira tuh gadis cerdas dan pendiam. Tapi ... ada beberapa hal juga yang belum kau ketahui," ucap Aldrin terbata-bata sambil menatap penuh arti kedua bola mata Naufal, "Amaira takut kegelapan. Dia juga takut binatang-binatang kecil seperti cacing, lipan dan sejenisnya," lanjut Aldrin dengan masih tak berkedip.
Naufal memicingkan matanya. Ia tak paham dengan maksud perkataan Aldrin.
"Amaira pecinta makanan manis. Dia suka es krim, cake cokelat, brownies dan apapun yang berhubungan dengan cokelat. Dia tidak mampu makan makanan pedas sama sepertimu." Aldrin masih melanjutkan ucapannya meskipun suaranya timbul tenggelam.
Naufal makin bingung dengan apa yang diungkapkan Aldrin padanya.
"Amaira juga suka menonton drama Korea dan Jepang. Dia akan menghabiskan waktunya di depan laptop selama berjam-jam hanya untuk menonton." Pada saat ini Aldrin mulai menarik napasnya, tapi masih berusaha mengeluarkan kalimat demi kalimat walaupun suaranya makin tak jelas.
"Amaira punya riwayat alergi debu. Tempat tidurnya harus selalu bersih dan kamu enggak boleh membawanya ke tempat-tempat yang berpotensi membuatnya alergi. Kalau alerginya kambuh, dia akan terus-menerus batuk dan bersin." Air mata mulai mengucur deras di sudut mata Aldrin hingga jatuh ke samping telinganya. Namun, ia tetap berusaha berkata kembali, "Amaira—"
"Cukup!" Naufal yang diam sedari tadi akhirnya bersuara.
"Amaira sangat mudah tersentuh. Aku yakin kamu dapat menyentuh hatinya. Seperti kamu yang mampu mencairkan hatiku saat itu." Seolah tak peduli dengan apa yang baru saja Naufal ucapkan, Aldrin terus berbicara sambil menggenggam erat tangan lelaki.
"Hentikan Aldrin! Aku tidak mengerti maksudmu." Kali ini suara Naufal begitu tegas. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Aldrin.
Aldrin berusaha menahan tangan Naufal. "Kalian berdua punya banyak persamaan, pasti kalian akan cocok bersama."
Ucapan Aldrin membuat Naufal terperanjat seketika.
"Berhenti bercanda! Tidak lucu, tahu! Aku mau panggil dokter dulu!" ucap Naufal melepaskan tangan Aldrin hendak melangkah keluar.
"To–tolong ja–janji ... sama aku untuk selalu menjaga Amaira!"
Kali ini ucapan Aldrin membuatnya tak hanya heran bercampur bingung. Tapi rasa takut dan cemas seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Alih-alih menanggapi ucapan Aldrin, Naufal malah menyentuh kulit tubuh Aldrin, bermaksud memeriksa suhu tubuhnya.
"Aku ... aku mau panggil dokter dulu," ucap Naufal dengan nada suara bergelombang dan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia melepaskan genggaman tangan Aldrin.
Siapa sangka, tangan Aldrin kembali memegang baju Naufal, berusaha mencegatnya keluar. "Aku tidak butuh dokter. Aku hanya ... ingin kamu dengar apa yang akan kukatakan," ucapnya dengan napas tak beraturan. "Amaira pernah bilang sama aku, dia menyukai tipe laki-laki yang baik, cerdas dan perhatian. Juga laki-laki yang bisa menyenangkan hati orang-orang sekitar." Aldrin kembali menarik napasnya, kemudian berusaha mengolah kalimat, "Anggap saja Amaira sedang mabuk karena memilihku sebagai pasangan hidupnya, dan ... kamu harus menyadarkannya," ucap Aldrin dengan butiran air mata yang mengucur deras bak tanggul jebol.
Air mata Naufal turut menetes. Ia memalingkan wajahnya dengan menatap langit-langit kamar, lalu tertawa tanpa suara sambil berkata, "Kurasa kamu yang sedang mabuk obat saat ini."
Aldrin terus mengucapkan kata demi kata yang mengandung kalimat permohonan tanpa mendengarkan perintah Naufal yang menyuruhnya berhenti. Namun, bagi Naufal ucapan Aldrin malam ini mirip orang yang sedang mabuk. Tak peduli apa yang dikatakan Naufal, Aldrin terus memohon memintanya untuk melakukan apa yang ia mau.
Malam itu, Naufal menyepi di sudut koridor rumah sakit. Ia bersandar dalam kebisuan dan kembali meresapi setiap kata demi kata yang Aldrin lontarkan padanya. Wajah tampan itu terlihat begitu kusut. Pikirannya berkecamuk dan batinnya begitu tersiksa. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menutup kedua matanya rapat-rapat seolah takut untuk melihat sesuatu yang ada di hadapannya saat ini.
Malam itu, ia melewati waktu dengan penuh was-was dan rasa takut yang mendominasi pikirannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kegelapan malam telah terenggut oleh sinar matahari pagi yang mulai muncul dengan malu-malu. Ardhilla melangkah pelan menuju ruangan tempat Aldrin dirawat. Ia memegang gagang pintu sambil memejamkan matanya, mencoba untuk menarik napas agar dapat menenangkan rasa groginya. Setelah perasaannya mulai stabil, ia memberanikan diri membuka pintu.
Dari jauh, terlihat Aldrin masih terbaring dengan selang oksigen yang menancap di hidungnya. Ardhilla mendekati anaknya. Tangannya bergerak menuju wajah Aldrin, mulai membelai wajah putra semata wayangnya. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Ini pertama kalinya ia menyentuh wajah putranya yang telah menikah itu.
Meskipun anak itu terlahir karena keteledorannya dan bukan atas kemauannya, tapi bukankah ia pernah benar-benar menjadi seorang ibu selama tujuh bulan sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Jefri untuk menikahi Tuan Adam?
Ardhilla menarik tangannya dari wajah Aldrin. Ia memalingkan wajahnya sambil mengusap air mata di pipinya.
"Ibu ...."
Suara lemah tak berdaya memasuki pendengaran Ardhilla hingga membuat matanya terbuka lebar. Wanita itu terlonjak saat mengetahui panggilan tersebut keluar dari mulut Aldrin. Ia segera menoleh, menatap wajah Aldrin dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya.
"Ibu ...." panggil Aldrin sekali lagi.
Ya, benar! Ucapan itu benar-benar keluar dari mulut Aldrin. Seketika, ia memeluk putranya dengan penuh rasa bersalah.
"Ibu ...," panggil Aldrin sekali lagi dalam pelukan Ardhilla.
Ardhilla menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar Isak tangisnya tak terdengar keluar. Aliran bening tak henti keluar di bawah matanya tatkala Aldrin terus-menerus memanggilnya dengan sebutan ibu. Setiap kali kata itu keluar dari mulut Aldrin, hatinya seperti tersayat oleh pisau tajam. Tulangnya seakan remuk dan lidahnya menjadi kelu. Semua reaksi dari dalam tubuhnya itu terjadi hanya karena sebuah panggilan terhormat bagi seluruh wanita di muka bumi ini. Butuh delapan belas tahun untuk memanggil dan mengakuinya sebagai seorang ibu. Tidakkah ini benar-benar mengharukan.
"Maafkan ibumu ... maafkan," bisik Ardhilla dengan nada suara bergetar karena bercampur tangisan.
Aldrin menitikkan air matanya dalam pelukan ibunya tanpa mampu membalasnya.
"Aku adalah ibu yang gagal," ucap Ardhilla dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia menutup matanya dalam-dalam.
Aldrin menundukkan kepala. Membasahi bibirnya yang kering. Kini, titikan air kesedihan itu bukan hanya mengalir dari matanya, tapi juga melewati hidungnya.
"Tidak apa-apa. Aku bahagia karena Ibu memilih melahirkan aku."
Aldrin berpikir, jika ia tak dilahirkan saat itu, mungkin ia tak akan menerima segala kepedihan, kesedihan, dan juga kesepian yang dirasakannya. Namun, ia juga tak akan merasakan segala kebahagiaan, kehangatan, ketulusan dan kesetiaan dari orang-orang yang mencintainya. Untuk itu, ia perlu berterima kasih pada ibunya karena memilih untuk melahirkannya ke dunia.
Ardhilla melepas pelukannya, ia menangkupkan wajah Aldrin dengan kedua tangannya. "Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semua ini?"
Bola mata yang penuh kesedihan itu saling bertemu. Sambil tetap menatap dalam wajah ibunya, Aldrin berkata pelan, "Aku hanya ingin ... makan masakan buatanmu."
Ardhilla menelan ludahnya. Matanya mengerjap-ngerjap karena kebingungan mendengar permintaan Aldrin yang aneh.
"Masak?" tanya Ardhilla kembali sambil memiringkan kepalanya.
Aldrin mengangguk, laku berkata dengan suara lemah. "Aku hanya mau mie instan buatanmu, jika memasak cukup memberatkan Ibu."
Ardhilla memalingkan wajahnya ke jendela, karena tak sanggup melihat wajah anaknya saat ini. "Bukannya kamu belum bisa sembarang makan?"
Aldrin tersenyum. "Biarkan aku mencicipinya sedikit."
Ardhilla terpaksa harus mengiyakan kemauan Aldrin. Siang itu, ia kembali pulang ke rumah Naufal terburu-buru. Ia membuka lemari dapur dan melihat persediaan makanan di sana. Untungnya, ada satu mie instan yang tersimpan.
Ardhilla mengambil mie instan itu, lalu membuka pembungkusnya. Namun, ia bingung bagaimana cara memasaknya. Bahkan, untuk sekedar menghidupkan kompor gas pun dia kebingungan. Sejak menikah dengan Adam, ia pernah menyentuh peralatan masak dan sekarang anaknya mempunyai satu permintaan, yaitu ingin mencicipi masakannya.
Hanya semangkok mie instan.
Ini terlalu simpel, bukan?
Bukankah Aldrin sangat mengerti jika ibunya tak pandai memasak? Maka dari itu, ia hanya meminta dibuatkan semangkok mie instan.
Di dalam kamar tempat Aldrin dirawat, Amaira masih setia menemani suaminya sambil merajut kain yang dibentuk seperti kaus tangan bayi.
"Kapan kamu berhenti bermain jarum dan benang itu? Aku merasa diabaikan!" keluh Aldrin.
Mendengar komplain Aldrin, Amaira langsung menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan peralatan menjahitnya di atas meja samping ranjang tidur Aldrin.
"Sayang, kamu mau punya anak berjenis kelamin apa?" tanya Amaira sesaat setelah ia menghentikan aktivitas merajutnya.
.
.
.
.
.