
Ardhilla memasuki studio makeup Artis milik Bubah Alfian, salah satu MUA ternama di Indonesia. Di sana, ia langsung disambut karyawan Bubah dengan ramah.
"Eh, Mba Ardhilla sudah datang ternyata. Kebetulan sekali, ya, calon menantu Mba ada di sini juga," kata Bubah sambil menuntunnya masuk ke ruang make up.
"Calon menantu?" tanya Ardhilla dengan sebelah mata memicing.
"Iya, tuh dia ada di dalam." Bubah menunjuk sosok wanita yang ia maksud.
Rupanya, yang dimaksud Bubah adalah Maria. Artis sinetron itu tengah duduk di depan meja rias sambil menunggu hairstyle selesai mengerjakan rambutnya.
Ardhilla memosisikan duduk di samping Maria, bersiap untuk menerima polesan di wajahnya. Maria menoleh ke arah Ardhilla seraya melempar senyum. Ia tampak canggung. Meskipun ia telah lama menjalin hubungan dengan Zaki, tapi ia tak begitu dekat dengan Ardhilla.
"Wah ... hari ini aku makeupin calon mertua dan calon menantu sekaligus," tutur Bubah mengawali pembicaraan.
"Hhmm ... Zaki itu masih muda. Usianya baru dua puluh dua tahun. Dan sekarang dia sudah masuk ke perusahaan Ayahnya. Dia belum berpikir untuk menikah. Pacarnya yang sekarang belum tentu akan menjadi istrinya kelak. Mereka mungkin bisa putus suatu saat nanti," ujar Ardhilla sambil menatap Maria melalui cermin.
Maria terdiam mendengar ucapan ibu tiri Zaki.
Seolah belum puas menyentil Maria, Ardhilla melanjutkan ucapannya kembali, "Lagian, Zaki itu pria yang lebih mementingkan karirnya. Sejak menjadi manajer, dia gila bekerja. Mau makan pun hampir lupa kalau bukan aku yang ingatkan. Pasti sekarang kamu tau sendiri kesibukan anakku, iya 'kan?"
"Iya. Aku sama Zaki memang belum pernah ketemu lagi sejak acara kelulusan. Tapi dia selalu hubungi aku," jawab Maria sambil memegang rambutnya.
"Oh, ternyata Mas Zaki orang yang perhatian juga. Masih sempat menghubungi pacarnya meskipun sibuk," celetuk Bubah sambil mengoleskan alas bedak di wajah Ardhilla.
"Ya ... namanya juga masih muda. Wajar kalau kasmaran. Tapi anak muda sekarang, kan, sering putus-nyambung," timpal Ardhilla tak mau kalah, "Oh iya, kami sedang melakukan pelebaran bisnis. Dan kami akan kerja sama dengan ALINDO Grup. Tahu enggak, anak dari ALINDO grup sangat tergila-gila sama Zaki. Kurasa mereka cocok. Lagi pula anak ALINDO grup sangat cantik dan berpendidikan tinggi. Sepadan lah dengan Zaki yang lulusan Harvard," lanjut Ardhilla yang sengaja memanas-manasi Maria.
Maria terdiam. Ia merasa kurang nyaman dengan posisinya saat ini. Jujur, ucapan Ardhilla membuatnya sakit hati. Seolah dirinya tak sepadan dengan Zaki.
"Semua wanita pasti akan tergila-gila sama Mas Zaki. Bisa dibilang dia pangeran William-nya orang Indonesia," sambung Bubah memuji.
"Iya. Aku merawatnya dari umur lima tahun. Meskipun dia tidak keluar dari rahimku, tapi aku sudah menganggapnya seperti darah dagingku sendiri. Masalah wanita, aku harus memilihkan dia yang terbaik," imbuh Ardhilla bersemangat, "sekarang ini, banyak Artis muda yang ingin terkenal dan hidup mewah dengan mendekati para pengusaha muda. Padahal mereka cuma mau kemewahan saja. Tapi, semoga kau tidak seperti itu, ya?" Ardhilla kembali melirik Maria sambil tersenyum.
Lagi-lagi, Maria memilih diam. Sebenarnya, dia tampak emosi dengan ucapan yang dilontarkan Ardhilla. Seakan menuduhnya menjadi kekasih Zaki hanya karena ingin hidup mewah.
Ardhilla memang tidak suka dengan gadis manapun yang mendekati Zaki. Putra sulung Adam itu sangat patuh padanya dan selalu menuruti keinginannya. Ia tak mau ada wanita lain yang masuk di kehidupan Zaki dan memengaruhinya suatu saat nanti. Baginya, siapapun yang dekat dengan anak tirinya itu akan mengancam kedudukannya.
Maria keluar dari studio makeup setelah selesai berdandan. Ia masuk ke mobil lalu mencari ponselnya. Ia menekan tombol panggilan ke nomor Zaki. Tak butuh waktu lama, telepon pun tersambung.
"Halo."
"Maaf, mengganggu. Kamu lagi ngapain? Bisa makan siang bareng, enggak?"
"Tunggu sebentar, masih ada rapat. Nanti kuhubungi lagi." Zaki memutuskan panggilan teleponnya.
Maria menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Ia merasa seperti ada jarak antara dirinya dan Zaki. Selang sepuluh menit kemudian, Zaki meneleponnya kembali. Ia tampak senang dan langsung menerima panggilan dari kekasihnya itu.
"Halo, maaf aku baru sempat hubungi kamu. Aku sangat sibuk akhir-akhir" keluh Zaki dari baliksambungan telepon.
"Tidak papa, lagian aku cuma rindu kok. Kamu punya waktu enggak malam ini, aku pingin makan malam bersama," tawar Maria.
"Enggak bisa kayaknya. Kamu, kan, tahu sendiri aku sangat sibuk. Aku sudah punya janji malam ini."
"Okey. Maaf, ya, mengganggumu. Jaga kesehatanmu."
Ketika Maria hendak menutup telepon, tiba-tiba terdengar suara manja wanita dari seberang sana.
"Zaki, kita jadi dinner, kan, malam ini?"
"Tentu dong!".
Maria tersentak. Ia menutup teleponnya. Hatinya terasa sakit. Bagaimana mungkin, Zaki menolak ajakan makan malam, tetapi di sisi lain akan makan malam bersama dengan seorang wanita?
Sontak, ia teringat kembali ucapan Ardhilla yang mengatakan anak dari ALINDO grup sangat tergila-gila pada Zaki. Mungkinkah wanita itu yang dimaksud? Apa Zaki juga memiliki perasaan yang sama?
Tanpa ia sadari, air matanya yang menggenang, mulai terjatuh membasahi pipinya. Maria menghapus jejak butiran kristal itu. Ia lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.