Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 156 : Namaku Aldrin



Lima tahun kemudian.


Tahun begitu cepat berganti, tak terasa lima tahun telah berlalu dengan cepat. Telah banyak yang berubah seiring bergulirnya waktu. Tak hanya teknologi yang makin canggih, tapi juga usia orang-orang yang makin menua.


Malam ini, Zaki akan mengadakan konser besar tunggal untuk merayakan sepuluh tahun karirnya di dunia pianis. Acara diselenggarakan di gedung theater Taman Mini Indonesia Indah. Sekitar 2000-an tiket yang disediakan panitia terjual habis.


Zaki telah menikah dengan Maria tahun lalu. Pernikahan mereka menjadi pernikahan termewah dan paling disoroti di Indonesia dengan menghabiskan total biaya pernikahan puluhan miliar.


Saat ini, Maria tengah mengandung anak dari buah cintanya bersama Zaki. Ia berjalan terburu-buru memasuki toilet wanita. Perutnya telah membesar, tetapi tak membuat tubuhnya terlihat melar. Ia bahkan menjadi lebih anggun dan bercahaya sejak hamil.


Maria mengambil tisu yang digunakan untuk membersihkan lipstiknya. Ia mengganti warna lipstiknya dengan warna yang lebih cerah.


"Nah, kalau begini, kan lebih cocok," gumamnya di depan cermin.


Ia lalu keluar hendak menuju ke gedung acara karena sepuluh menit lagi konser akan segera dimulai. Ketika menuju tempat konser, tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang bocah lelaki tampan yang memakai setelan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu.


"I'm sorry," ucap bocah lelaki itu.


Maria langsung bergegas pergi tanpa memedulikan bocah tersebut, tetapi suara bocah itu mengharuskannya untuk berhenti.


"Mrs, anting-antingmu jatuh," tegur bocah tersebut dengan logat bule yang kental.


Maria memegang telinganya dan menyadari salah satu antingnya terlepas. Ia berbalik dan berjalan mengambil anting-antingnya dari tangan anak tersebut.


"Terima kasih, ya!" ucapnya singkat.


Bocah tampan itu hanya tersenyum dan pergi. Saat Maria ingin pergi, dia menyadari wajah bocah itu tak asing baginya. Berpikir keras mencoba mengingat-ingat, ia pun tersadar lalu kembali memalingkan tubuhnya.


"Hei, apa namamu Aldrin?" tanya Maria.


Bocah Lelaki tampan itu berhenti. Ia memalingkan badannya untuk berhadapan dengan Maria seraya melempar senyum yang menawan.


"Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?" tanyanya dengan bahasa Indonesia yang kaku.


"Aku ... aku hanya menebaknya," jawab Maria ragu-ragu.


"Oh, tebakan yang benar!" ucap bocah tersebut sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Maria.



Maria tertawa. Ia menghampiri bocah yang bernama Aldrin tersebut lalu memeluknya dengan gemas.


"Tidak kusangka kau tumbuh menjadi anak tampan. Wajahmu benar-benar mirip ayahmu!" puji Maria sambil mengelus rambut bocah tersebut.


"Tentu saja mirip, karena aku anak ayahku!" Balas bocah itu.


"Aku Bibi Maria, istri paman Zaki. Oh iya, mana ibumu?" tanya Maria sambil menengok ke kiri dan samping.


"Mom sedang fitting baju pengantin dengan Daddy Naufal, tapi mereka akan segera ke sini. Aku ke sini bersama Grandpa Jefri," jawab anak itu polos.


"Oh, iya, aku hampir lupa, Naufal dan Amaira akan menikah tiga hari lagi," ucap Maria sambil menepuk pelan kepalanya sendiri.


Maria lalu pergi bersama dengan Aldrin kecil. Acara konser pianis telah dimulai. Zaki membawakan sejumlah musik klasik dengan begitu spektakuler dan mengundang decak kagum para penonton. Suara gemuruh lautan penonton menggema seisi gedung.


Saat lagu berikutnya, Zaki mengambil microphone seraya berseru, "Hari ini aku kedatangan tamu spesial di konserku ini, dan aku mengundangnya untuk kolaborasi bersamaku di atas panggung. Ia adalah seorang violinis cilik berbakat."


Para penonton tampak penasaran dengan sosok Violinis muda yang Zaki maksud.


"Kita panggil bersama, Aldrin!" teriak Zaki disambut ratusan tepukan tangan dari penonton.


Aldrin kecil naik ke atas panggung dengan berani. Kedua tangannya terlihat memegang biola. Ia menghampiri Zaki yang berdiri menunggunya. Keduanya saling berhadapan.


Zaki berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan bocah lucu tersebut seraya berkata, "Kamu harus ikuti permainanku. Kalau kamu enggak tahu lagu yang kumainkan, kamu cukup diam. Oke?"


"Mana mungkin aku tidak tahu setiap lagu yang akan Uncle mainkan?" tangkas Aldrin kecil sambil menyunggingkan salah satu ujung bibirnya ke atas.


"Aku benci dengan sifat percaya dirimu!" cemooh Zaki sambil mencubit gemas pipi Aldrin kecil.


Zaki duduk memosisikan diri duduk di depan piano, sementara Aldrin kecil duduk di samping Zaki sambil meletakkan biola di pundaknya. Posisi Zaki membelakangi Aldrin. Keduanya telah bersiap-siap memulai pertunjukan.


Musik dibuka dengan Lagu Vittoria Monty karya Csardas. Jari jemari Zaki menari lincah di atas tuts piano, diikuti gerak tubuh dan kepala nan gemulai mengiringi rentak musik, membuat permainan Zaki begitu memanjakan mata penonton. Sementara Aldrin kecil memainkan lagu ini dengan sangat apik dan memesona. Gesekan biolanya menunjukkan kualitas musikalitasnya yang berkelas.


Cara Aldrin kecil memainkan biolanya sangat mirip dengan mendiang ayahnya. Ia bahkan melakukan tarian ala Michael Jackson seperti yang sering diperagakan Aldrin setiap pertunjukan biolanya. Jika Aldrin masih hidup, tentu saja mereka akan terlihat seperti pinang dibelah dua.


Sementara bagi Zaki, ini seperti Dejavu yang mengingatkannya saat tampil bersama dengan Aldrin di acara mengenang karya sutradara Steve Arnold. Ya, hari ini ia dan anak dari Aldrin tampil bersama membawakan lagu-lagu yang pernah ia bawakan bersama Aldrin di acara tersebut. Jika saat itu keduanya saling perang dingin di atas panggung untuk menunjukkan kehebatan mereka masing-masing, tidak dengan saat ini. Ia dan Aldrin kecil sangat kompak memainkan alat musik mereka masing-masing tanpa beradu siapa yang terbaik.


Zaki dan Aldrin kecil kompak mengakhiri pertunjukkan musik mereka. Para tamu memberi tepuk tangan yang meriah sebagai apresiasi mereka karena telah disuguhkan tontonan yang indah.


Setelah duel bersama, Zaki mempersilakan Aldrin kecil untuk tampil solo di atas panggung. Kini, hanya ada anak kecil itu yang berdiri dengan percaya diri di depan ribuan penonton.


"Namaku Aldrin. Aku seorang violinis. Lagu yang akan kubawakan ini, kupersembahkan khusus untuk papa," ucap bocah tampan itu.


Aldrin mulai memainkan kembali biola di pundaknya. Kali ini dia membawakan lagu My memory dari Yiruma, yang mana lagu ini pernah dimainkan juga oleh ayahnya setelah berkolaborasi dengan Zaki. Irama musik yang sendu dan menyayat hati membuat siapapun yang mendengar seakan larut akan kesedihan yang disampaikan oleh sang violinis. Aldrin membawakan lagu itu dengan mata terpejam dan tetap berdiri di tempat.


Dari kursi penonton, tampak Jefri, Amaira, dan juga Naufal duduk berjajar dan menyaksikan Aldrin dengan lihai memainkan biola. Mereka tersenyum penuh bangga melihat anak itu mewarisi bakat ayahnya.


Lima tahun lalu, ketika Aldrin pergi meninggalkan mereka semua, tak ada yang tahu jika Amaira sedang mengandung benih buah cintanya bersama Aldrin. Wanita itu menyadarinya saat ia telah pindah di sebuah kota kecil negara Spanyol. Ia melewati masa-masa sulitnya mengandung dan membesarkan anak di kota penuh sejarah yang sebenarnya akan dijadikan destinasi bulan madunya bersama Aldrin.


Aldrin meninggalkan warisan berharga untuknya, yaitu seorang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya. Bukan hanya memiliki wajah yang serupa, tetapi juga sifat dan talenta yang sama. Meskipun kecerdasan intelektual anak itu mewarisi ibunya.


Dari balita, ia telah menunjukkan ketertarikannya dengan alat musik gesek tersebut. Oleh karena itu, Amaira memasukkannya di sebuah kelas privat musik khusus anak balita sejak umur tiga tahun. Ia telah banyak mengisi sejumlah acara musik di kota tersebut sebelum ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia.


Setelah acara selesai, Naufal menghampirinya seraya berkata, "Kau sangat hebat dan membuat kita semua bangga!"


"Iya dong! Aku akan selalu membuatmu bangga! Dan aku akan memainkan musik penggiring di hari pernikahanmu dengan Mom," ucap Aldrin kecil dengan polos.


Naufal tersenyum simpul. Ia mengusap kepala anak itu dengan penuh kelembutan.


"Dad, bolehkah aku meminta syarat menikahi Mommy?" tanya anak itu seketika dengan wajah serius.


"Apa itu?" Naufal bertanya balik dengan wajah penasaran.


"Kamu tidak boleh suntik aku kalau aku jatuh sakit," ucap Aldrin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Naufal tertawa renyah. "Baiklah, kalau kamu sakit tidak akan aku suntik, tapi aku akan mengoperasi tubuhmu," ledek Naufal diikuti tawanya sendiri.


"Grandpa?"


Ia langsung berlari ke arah Jefri dan memeluk pria yang telah berumur 49 tahun itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Jefri berjalan di sebuah koridor Rumah Sakit Jiwa. Ia menuju suatu ruangan. Tampak Ardhilla tersenyum riang menyambut kedatangannya.


Jefri mendekat ke arahnya, lalu menggenggam tangannya sambil berkata, "Hari ini cucu kita telah pulang. Aku akan membawamu menemuinya."


"Cucu?" tanya Ardhilla sambil memicingkan matanya.


"Iya, dia Aldrin. Aldrin!" Jefri berusaha memancing daya ingatnya.


"Aldrin?" Ia kembali berpikir sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela. lalu bertanya kembali, "Aldrinku?"


Jefri mengangguk. "Iya. Aldrin kita kembali."


Wanita itu terlihat begitu senang. Ia melebarkan senyumnya sambil meremas kuat tangan Jefri.


Seorang dokter menghampiri Jefri dan menjelaskan jika Ardhilla sudah boleh pulang. Ia telah menunjukkan kesehatan jiwa yang membaik dan mulai mengingat beberapa kejadian dan mengenal beberapa orang. Saat dokter menyodorkan foto Aldrin, ia akan menangis penuh penyesalan. Hal itu menandakan jika ia dapat menggunakan emosinya. Dulunya wanita itu bak mayat hidup tanpa ekspresi. Dia hanya diam Sepanjang waktu, tanpa tersenyum, tanpa tertawa maupun menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amaira berjalan menuju sebuah pusara sambil memegang sebuah buket bunga. Ia berdiri tepat di depan pusara yang terdapat nama dan juga foto Aldrin. Kemudian meletakkan bunga yang dibawanya di atas makam mantan suaminya. Ini pertama kalinya ia datang setelah memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.


"Sayang, aku kembali." Amaira memosisikan duduk di samping pusara sambil memegang nisan Aldrin.


"Lima tahun ini aku tinggal di kota kecil Spanyol yang pernah kamu ceritakan padaku. Di sana aku banyak mempelajari sejarah dunia." Amaira menghela napas sesaat. "Sayang, aku melewati hari-hariku tanpa kamu di sisiku. Aku merasa frustrasi bahkan ingin mengakhiri hidupku. Tapi, Tuhan baik padaku. Dia mengambil kamu dariku dan menghadirkan penggantimu. Aku memiliki anak kita. Wajah dan tingkahnya sangat mirip denganmu," lanjut Amaira sambil tersenyum.


Amaira membelai foto Aldrin seraya kembali bercerita, "Selama aku di kota kecil itu, hanya ada seorang pria yang selalu di sisiku. Seorang pria yang memberi perlindungan untukku yang selalu bersedia meminjamkan bahunya untuk kupakai bersandar, yang selalu menjadi penghapus air mataku. Pria yang mencintaiku tanpa pamrih. Kamu pasti bisa menebaknya, 'kan, Sayang? Aku telah memberi setengah hatiku untuknya. Membagi setengah cintaku untuknya. Boleh, 'kan?"


Amaira berdiri. Ia memandang langit cerah. Ia memeluk dirinya sendiri seraya menciptakan senyum di bibirnya dan mendongakkan kepalanya ke atas untuk berhadapan dengan langit seolah sedang memeluk Aldrin.


Aku tidak pernah menyesal mencintaimu, Aldrin. Tidak pernah!


Aku masih mencintaimu bahkan ketika bunyi dengusan napasmu tak terdengar ....


"Mom!"


Suara anak kecil datang dari arah belakang. Amaira membalikkan tubuhnya dan melihat putra semata wayangnya ke arahnya. Ia membentangkan tangannya seolah siap untuk menangkap puteranya dalam pelukan. Sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan dengan mata terpejam tepat di depan pusara Aldrin.


Saat Amaira membuka mata, retinanya menangkap sosok pria telah berdiri di depannya sambil tersenyum. Ya, dia adalah Naufal.


Amaira melepaskan pelukannya. Lalu berjalan menemui Naufal. Keduanya saling tersenyum penuh cinta.


"Apa yang bisa kulakukan untuk membuat bahagia?" tanya Naufal.


"Sangat mudah, cukup tidak mengucapkan selamat tinggal," jawab Amaira dengan senyum hangat.


Keduanya menoleh ke arah Aldrin kecil yang memperkenalkan diri di depan pusara Aldrin.


"Papa, perkenalkan ... namaku Aldrin!" ucapnya sambil menatap foto tampan Aldrin di usia delapan belas tahun.


Aldrin kecil lalu meletakkan kedua telapak tangannya tepat di hati sambil kembali berkata dalam bahasa Spanyol.


"Te amo, Papa ...."



..."Selamat tinggal Amaira, Kubiarkan cintaku pergi bersama perahu kertas. Jika kau memang takdirku, aku yakin cinta akan kembali berlabuh pada dermaga yang memang miliknya."...


...~ Naufal...


...(Chapter 131 : Perahu Kertas dan Sebuah Mawar)...


..."Amaira, aku sangat mencintaimu. Tak sedikit pun kubiarkan kamu jatuh ke pelukan lelaki lain. Namun, jika harus terpaksa melepaskan kamu untuk bersama lelaki lain ... lelaki itu harusnya adalah Naufal."...


...~ Aldrin...


...(Chapter 153 : Fly Away love)...


.


.


.


.


.


.


.


.


...T A M A T...


Mohon untuk tidak spoiler akhir cerita ini di grup maupun di kolom2 komentar sebelumnya. rekomendasikan cerita ini kepada orang-orang terdekat anda agar kita bisa lebih menghargai waktu dan mencintai keluarga kita.


Maaf jika endingnya tidak memuaskan kalian. karena ending pada dasarnya dibuat untuk mengakhiri cerita bukan untuk memuaskan para pembaca. ini adalah ending terbaik pilihan saya yang telah saya buat jauh sebelum saya menulis kisah ini di mangatoon.


(update) Jika ada yang mengatakan Aldrin tak bahagia sepanjang hidupnya, Aldrin bahagia kok. dia bertemu kembali dengan ayahnya dan tinggal bersama ayah jef selama setahun setelah berpisah, lalu memenuhi impiannya menjadi seorang violinis, kemudian menikahi wanita yang ia cintai dan juga bermaafan dengan Zaki dan juga ibu kandungnya. pelajaran hidup yang ia dapatkan, menjadikan ia pribadi yang kuat dan tangguh.


bagaimana dengan Naufal? tokoh Naufal sebagai pemeran kedua di novel ini adalah tokoh protagonis yang tak pernah mengalami pergeseran karakter. mengingat selama ini Naufal adalah karakter yang baik dan begitu setia dengan perasaannya pada Amaira, sudah selayaknya kan dia paling bahagia di akhir cerita.


Ardhilla? bukankah banyak pembaca yang meminta karma untuknya? karma apa yang lebih pantas ia dapatkan? ya, kehilangan harta. tentu saja harta yang paling berharga adalah keluarga alias anaknya sendiri. dia telah menyia-nyiakan harta (anak) yang dititip Tuhan padanya. intinya, "Hukum Tabur-Tuai". Setiap orang yang menabur, suatu waktu kelak akan menuai apa yang pernah ditaburkannya.


jangan lupa untuk tulis kesan dan pesanmu selama membaca novel receh ini. untuk pembaca ghoib, bolehlah tinggalkan jejak sepatah atau dua kata sebagai bentuk apresiasi ke author 🙄🤗


Saya, Aotian Yu. saya mencintai kalian 🥰