Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 155 : Biola Tak Bertuan



Mata Bryan melirik ponsel tersebut. Ia melepas tangannya dari baju Naufal dan langsung mengambil ponsel tersebut. Ia langsung menekan tombol on untuk mendengar bunyi rekaman. Suara lemah tak berdaya yang berasal dari Aldrin langsung keluar dari rekaman tersebut.


"Hai Bryan, ini aku. Aldrin. Saat kamu mendengar rekaman ini, mungkin aku sudah menuju alam lain. Maaf, jika apa yang hendak kusampaikan sulit untuk kau terima." Suara Aldrin terdengar sangat lemah.


"Bryan, kita adalah sepasang saudara. Kita memang berasal dari keluarga yang berbeda. Kita dilahirkan dari kedua wanita hebat yang mau mempertaruhkan nyawanya demi kita. Tapi, kita berasal dari satu ayah. Di tubuh kita mengalir darah yang sama." Terdengar suara helaan napas dari Aldrin.


"Maaf jika aku baru mengabari hal ini padamu. Sekalipun aku berumur panjang, aku akan memilih untuk tidak mengatakan padamu tentang kenyataan pahit ini."


Suara Aldrin menghilang dan catatan rekaman telah selesai. Namun, wajah Bryan masih menampilkan keterkejutan mendalam. Bukan karena ia baru mengetahui Aldrin adalah saudaranya. Bukan! Bukan itu ....


Bryan memandang ke arah Naufal yang masih menatap tak bergeming. "Hati itu ... hati itu seharusnya adalah milik Aldrin, 'kan?"


Naufal mengangguk diam sambil menggigit bibir bawahnya.


Bryan menatap kosong ke depan. Matanya mulai berair dan ia tak dapat melakukan apa-apa.



Hari ini semua bersedih. Semua menangis. Namun, tak ada yang tahu jika Naufal telah menangis dari semalam. Pria itu adalah satu-satunya orang yang diberi tanda-tanda kepergiaan Aldrin. Melalui dia, Aldrin memberikan beberapa pesan untuk orang sekitarnya.


Akan tetapi, Aldrin menolak saat Naufal memintanya untuk memberi pesan pada Amaira. Alasannya cukup sederhana, ia hanya ingin perempuan itu cepat melupakannya dan melanjutkan hidup baru. Ia tak ingin kematiannya membawa luka mendalam bagi wanita yang begitu ia cintai. Oleh sebab itu, hanya satu yang ia minta pada Amaira di detik-detik kematiannya, meminta perempuan itu untuk tersenyum. Berharap agar Amaira selalu mengingat permintaan terakhirnya itu.


Tak ada yang tahu, malam itu Naufal terus memanjatkan doa pada Tuhan agar tak mengambil nyawa Aldrin. Setiap detik, menit dan jam yang ia lalui di malam itu penuh kekhawatiran. Takut jika Aldrin tak bernapas lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tujuh hari setelah kepergian Aldrin menuju Firdaus-Nya, suasana duka masih menyelimuti keluarga besar itu. Ardhilla terbaring di rumah sakit sejak hari itu, ia divonis mengalami gangguan psikis Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Penyakit itu bisa menyerang jiwa seseorang yang mengalami kejadian traumatis, seperti kematian tak terduga dari orang yang dicintai.


Naufal duduk bersandar di kolam renang rumahnya. Matanya menoleh ke kursi samping tempat duduknya. Ia masih mengingat jelas kursi malas itu adalah tempat favorit Aldrin beristirahat setelah berenang. Tak lama kemudian terdengar suara telepon.


Ia langsung menerima panggilan tersebut dan tampak panik setelah ibu Amaira memberitahu jika Amaira hendak meninggalkan Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di Eropa seperti cita-cita bulan madunya bersama Aldrin yang tak tercapai.


Naufal mengendarai mobilnya menuju kediaman orangtua Amaira karena gadis itu kembali tinggal di sana setelah kematian Aldrin. Sesampainya di rumah itu, Naufal diminta untuk membujuk Amaira agar tidak pergi meninggalkan mereka.


Naufal masuk ke dalam kamar Amaira. Ia melihat wanita itu sedang memeluk biola tua Aldrin yang dimilikinya dari kecil. Di atas tempat tidurnya ada sebuah koper lengkap dengan beberapa helai pakaian yang telah tersusun rapi.


Naufal mendekati Amaira. Ia duduk tepat berhadapan dengan wanita itu. Seakan tak menghiraukan kehadiran Naufal, ia tetap memeluk biola tak bertuan sambil menangis tanpa suara.


Naufal memandangnya iba. Ia menoleh ke sebuah bingkai foto yang memasang potret kebersamaan Amaira dan Aldrin saat masih memakai seragam SMA.


Naufal menghela napas sesaat, ia kembali mengenang saat malam sebelum kematian Aldrin. "Malam itu, aku tak berhenti berdoa untuk keselamatan Aldrin. Aku meminta pada Tuhan agar memberi kesempatan Aldrin untuk hidup bersama kita. Aku berdoa sepanjang malam. Hingga pagi datang, aku masuk ke kamar dan memeriksa detak jantung Aldrin masih normal. Aku lega. Aku menganggap Tuhan mengabulkan doaku. Aku begitu bahagia dan memutuskan untuk beristirahat."


Amaira mendengar cerita Naufal dengan saksama. Di matanya masih tergenang sisa-sisa butiran kesedihan.


"Tapi ... sore hari aku kembali ke rumah sakit. Saat aku menuju kamarnya, samar-samar aku mendengar suara ibu menangis. Firasatku tak karuan. Dan aku masuk melihat Aldrin, meraba denyut nadinya ...." Naufal tertunduk, ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


Tapi sesaat kemudian ia kembali mendongak untuk menatap wajah Amaira, "Bukankah semua ini mengajarkan kita ..." Naufal meneguk ludahnya sesaat, lalu kembali melanjutkan, "kematian itu pasti. Kita tak bisa memperlambat kematian. Dia akan datang diwaktu yang tepat. Dan tak bisa ditawar menawar."


Amaira mengatup rapat-rapat mulutnya. Ia masih tak ingin bersuara.


"Amaira, ini hanya soal waktu. Aldrin duluan ke Surga, dan suatu saat kita akan menyusulnya ke sana. Hanya tinggal menunggu waktu saja." Naufal mengarahkan jari jempolnya untuk mengusap air mata Amaira. "Apa kau ingat apa yang dikatakan Aldrin terakhir kali?" tanya Naufal.


"Lalu, kenapa sekarang kau malah menangis?"


Amaira bergeming. Memikirkan kembali ucapan Naufal.


"Bukankah pesan terakhirnya menyuruhmu tersenyum? Dia akan kecewa melihatmu menangis," lanjut Naufal.


Amaira langsung menghapus jejak air mata di pipinya. Kemudian, ia mengambil beberapa pakaiannya dan mengisi ke dalam koper.


"Tapi, aku tetap akan memutuskan tinggal di Eropa. Aku ingin tinggal di kota kecil yang aku dan Aldrin impikan bersama," lanjut Amaira sambil mengemas barang-barangnya.


"Aku setuju. Tapi ... izinkan aku ikut bersamamu."


Amaira terperanjat mendengar permintaan Naufal yang menurutnya tak masuk akal. Mata mereka saling beradu pandang. Lewat mata Naufal, Amaira dapat melihat pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.


Amaira langsung mengalihkan pandangannya sambil berkata, "Jangan membicarakan hal yang tidak masuk di akal!"


"Apa kamu lupa aku pernah mengatakan padamu, aku akan selalu menjadi bayanganmu. Ke manapun kamu melangkah, aku akan mengikutimu dan tidak akan meninggalkanmu." Naufal berusaha meyakinkan Amaira.


Amaira bergeming. Matanya menatap dalam dua bola mata Naufal. Ia kembali tersentuh mendengar ucapan Naufal. "Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Jangan khawatir ... aku akan mendaftar kuliah di Eropa. Kita akan kuliah bersama dengan jurusan yang berbeda dan kita akan meraih cita-cita bersama." Naufal melengkungkan senyumnya selebar mungkin hingga matanya menyipit.


Amaira hanya dapat menatap dalam bola mata Naufal. Air matanya menjadi kering seketika. Duka di hatinya pergi seketika. Ia masih butuh waktu untuk menyetujui permintaan Naufal.


"Naufal ...."


"Izinkan aku terus menjadi bayanganmu, izinkan aku menjagamu, izinkan aku memenuhi amanat Aldrin." potong Naufal dengan wajah serius penuh permohonan.


"Ta-tapi ...."


"Aku hanya butuh jawabanmu, ya atau tidak? Jika ya, aku akan ikut bersamamu dan jika tidak, kamu hanya bisa di sini bersamaku." Naufal menegaskan ucapannya agar Amaira segera memberi jawaban.


Amaira tertunduk. Ia terdiam beberapa detik sebelum menganggukkan kepalanya untuk menyetujui poin pertama tawaran Naufal.


Naufal tersenyum lembut lalu menggenggam lembut tangan Amaira yang begitu dingin.


.


.


.


.


bersambung


like dan komeng 😎