Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 153 : Fly away Love



"Apa pun itu ... asalkan anak yang dilahirkan Amaira, aku pasti akan sangat bahagia," ucap Aldrin sambil menyentuh punggung tangan Amaira dengan lembut.


Amaira tersipu malu. "Kalau dia laki-laki, pasti setampan kamu."


"Kalau dia perempuan, dia bakal cengeng kayak Amaira," balas Aldrin sambil menahan tawa.


Amaira memasang wajah cemberut. Namun, detik berikutnya, pandangannya beralih ke tempat lain.


Melihat wajah imut Amaira yang menahan kesal, Aldrin buru-buru berkata, "Aku hanya bercanda, Sayang!"


Amaira tersenyum sambil melirik ke arah Aldrin.


"Yang pasti, aku bakal buat anak kita menjadi pemain biola yang hebat. Bahkan lebih hebat dari ayahnya!" Aldrin kembali berucap pelan.


Harapan besar Aldrin membuat senyum Amaira melebar. Aldrin menoleh ke jendela besar di ruangan itu. Tiba-tiba wajahnya terlihat sendu. "Amaira, aku sangat mencintaimu. Tidak sedikit pun kubiarkan kamu jatuh ke pelukan pria lain. Tapi, kalau harus terpaksa melepaskan kamu untuk bersama lelaki lain ... lelaki itu harusnya adalah Naufal."


Mendengar ucapan Aldrin, senyum yang mengembang indah di bibir Amaira menghilang. Perempuan itu menatap wajah Aldrin dengan lekat. Kalimat yang baru saja ia ucapkan, harusnya hanya candaan semata, bukan? Namun, mata lelaki itu terlihat begitu serius. Aldrin jarang menampakkan wajah seserius itu.


Saat ini, mata mereka saling bertukar tanpa ada suara. keheningan yang melanda mereka selama beberapa detik.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu?"


Belum sempat Aldrin menjawab, suara dering panggilan terdengar dari ponsel Amaira. Ia segera mengambil ponsel dalam tas dan menerima panggilan itu. Amaira terlihat begitu senang merespon ucapan pembicara yang meneleponnya. Setelah selesai berbicara, Amaira menyimpan kembali ponselnya.


"Sayang, aku mau ambil paket dulu. Ibu dan ayah mengirim foto pernikahan kita yang baru selesai dicetak," ucap Amaira dengan ekspresi wajah senang.


Aldrin mengangguk lemah. Ia mulai merasakan sakit di kepalanya. Pandangannya menjadi nanar. Namun, ia masih bisa menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan perempuan yang telah menjadi istrinya itu.


"Aku pergi dulu, ya? Biar kita bisa lihat bareng foto-fotonya!" seru Amaira penuh keceriaan. Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke arah Aldrin untuk mendaratkan bibirnya tepat di kening suaminya. Satu kecupan lembut mendarat di kening yang masih terlilit perban itu. Mata mereka kembali beradu pandang. Aneh, penglihatan Aldrin mulai kabur.


Amaira berbalik, dan berjalan ke arah pintu.


"Amaira," panggil Aldrin dengan suara yang kian melemah.


Tubuh Amaira reflek berbalik menghadap Aldrin. Pandangan Aldrin mulai memutih, dan ia tak bisa melihat jelas wajah istrinya.


"Ter-tersenyumlah!"


Sebuah permintaan keluar dari bibir Aldrin yang memucat. Amaira pun melebarkan senyumnya menunjukkan deretan gigi depannya yang berbaris rapi. Itu adalah senyum indah yang tercipta dari sebuah ketulusan. Sayangnya, Aldrin tak dapat melihat jelas senyum dari perempuan yang sangat dicintainya.


Andaikan Aldrin masih memiliki kekuatan, ingin rasanya ia bergegas memeluk perempuan itu dengan erat dan mengatakan padanya, "Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Amaira!"


Sayangnya, ia sudah tak mampu untuk melakukannya lagi. Benar-benar tak mampu


"Tunggu aku! Aku enggak lama kok," ucap Amaira sambil tetap tersenyum.


Aldrin mengangguk pelan lalu berkata, "Aku boleh tidur?"


"Tentu saja! kamu harus banyak istirahat karena besok bakal menjalani operasi," jawab Amaira sebelum pergi.


Suasana kamar itu menjadi begitu hening selepas kepergian Amaira. Angin yang bertiup mesra menerobos masuk melalui celah jendela. Membelai tubuh Aldrin yang kaku,


Aldrin menatap langit-langit kamar. Otaknya merekam kembali perjalanan hidupnya seolah mengilas balik setiap adegan masa lalu. Dimulai dari sosok kecilnya yang menjadi pengamen jalanan yang berpindah-pindah tempat, lalu kesedihan itu dimulai saat ayahnya mengantarkan dirinya pada ibu kandungnya. Kemudian, ia mulai terjerumus di kehidupan yang gelap saat bersekolah di Amerika. Di sana ia terjerat dengan pergaulan bebas yang tak terkendali.


Ketika ia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, membuang rasa benci pada ibunya, dan tak lagi menanamkan sifat iri pada Zaki, hatinya benar-benar menjadi tenang. Jika dulunya ia menganggap bahagia itu ada kita bisa melakukan semaunya tanpa batas. Namun, kini ia mengubah pandangan berpikirnya. Bahagia itu adalah saat kita membuka mata di pagi hari dan melihat orang-orang terdekat menyambut kita dengan senyum hangat.


Aldrin menutup matanya dengan perlahan. Kedua sudut matanya mengeluarkan air mata. Ia sudah sangat lelah. Pada akhirnya, memilih untuk tidur.


Semua pengalaman hidup pahit yang ia jalani tak menyisakan penyesalan untuknya. Namun, jika harus menjawab sebuah pertanyaan tentang hal yang paling membuatnya menyesal, maka ia akan menjawab menikahi Amaira yang paling ia sesali.


Mengapa? Andaikan ia mengetahui takdirnya hanya sampai di sini. Ia hanya akan menjaga cintanya dan melindungi perempuan itu sebisa yang ia miliki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu telah menunjukkan pukul empat sore, Ardhilla datang ke Rumah Sakit sambil membawa kotak makanan. Ia masuk ke kamar rawat Aldrin dengan terburu-buru. Dari jauh, ia melihat wajah Aldrin yang tampak tertidur pulas dengan damai.


Ardhilla mengulas tersenyum di tengah kelopak mata yang membengkak. Masih ada jejak air mata yang mengering di pipinya.


Ardhilla membuka isi kotak makanan itu. "Aldrin, ibu sudah buatkan mie untuk kamu. Maaf harus menunggu lama. Mie pertama terlalu banyak airnya jadi rasanya sudah hambar. Ibu harus menunggu pelayan untuk membeli mie baru dan memasaknya kembali. Makan yuk selagi hangat, jangan sampai mienya mengembang," ujar Ardhilla yang tampak semangat.


Ardhilla menoleh ke arah Aldrin. Menatap wajah anaknya yang terpejam dengan senyum samar yang tercetak di bibirnya.


"Aldrin, bangunlah! Ayo cicipi dulu mienya!" pinta Ardhilla kembali.


Aldrin masih menutup mata. Ardhilla kembali menatap anaknya sambil tersenyum. Sebenarnya, ia tidak tega membangunkan anaknya. Hanya saja, dia takut mie itu membengkak dan tidak bisa dimakan. Ia hanya ingin mengabulkan permintaan anaknya yang ingin mencicipi masakannya.


Masih tersenyum, tangan Ardhilla mencoba membelai wajah putranya.


"Aldrin ba—"


Mata Ardhilla terbuka lebar saat tangannya menyentuh kulit Aldrin. Seketika, jantungnya terpukul. Napasnya sesak dan lehernya tercekak. Air matanya langsung mengucur deras dengan sendirinya.


"Aldrin, ba-bangun, Nak!" ucap Ardhilla sambil menggoyang-goyangkan tubuh putranya. "Aldrin, ibu sudah membuatkan mie untukmu," lanjutnya diiringi isak tangis yang memilukan. Ia menepuk-nepuk pipi Aldrin, berusaha membuatnya terbangun. Paling tidak, ia harus memastikan Aldrin masih bisa membuka matanya.


Suara Ardhilla memelan. "Aldrin ...." perempuan itu menunduk sambil mencium kening putranya yang tak lagi bernapas. Ia menangis sesegukkan sambil berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Aldrin, jangan tinggalkan ibu!"


.


.


.


.


.


bersambung.


adegan ini ditulis dengan iringan lagu Ballad yang berjudul Don't say goodbye, dan Fly away love by TVXQ/DBSK.


belum tamat yaa....masih ada kelanjutannya 1-2 episode lagi...harap sabar karena agak lambat up-nya mengandung foto. mohon tidak spoiler di Grup chat maupun komentar sebelumnya ya. tenang... masih ada kejutan menanti. happy ending kok. menurutku 🤔


like Komeng dan bully