Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 74 : Menyimpan Rasa



Pagi hari, di IL Academic International high school, Naufal dan Amaira di panggil ke ruangan wakil kepala sekolah . Hari ini, Wakasek memerintahkan mereka berdua untuk menghadiri undangan dari OSIS SMA Negri Bina Mulia, yaitu SMA yang akhir-akhir ini masuk dalam pemberitaan karena siswa-siswanya kerap mengadakan tawuran.


Naufal dan Amaira diutus ke sana, karena mereka keduanya merupakan murid pintar kebanggaan sekolah yang bertaraf internasional itu. Di sana mereka akan mengadakan penyuluhan dan sharing tentang bagaimana menjadi pelajar yang bisa melakukan hal-hal positif di masyarakat.


Setelah Wakasek selesai memberi arahan, keduanya langsung keluar dari ruangan dan bersiap pergi ke sekolah yang di tuju dengan menggunakan transportasi dari sekolah mereka. Naufal tampak menghela napas panjang. Sungguh, jika bukan karena perintah dari sekolah, ia tidak akan mau. Sebab, ia tak ingin terlalu dekat dengan Amaira saat ini. Kenapa? Tentu saja rasa serta luka itu masih ada!


Di dalam bis sekolah, Naufal dan Amaira duduk bersebelahan. Hanya ada mereka di dalam bis yang besar itu. Mereka saling diam. Ini menjadi berbeda, karena sebelumnya Naufal selalu aktif bicara pada Amaira. Namun, sekarang ia terlihat lebih banyak diam. Di hadapan Aldrin ia seolah mengalah dan melepaskan hatinya, tetapi di depan Amaira ia tak bisa melakukannya. Rasa itu terlalu kuat untuk bersembunyi.


Sesekali Amaira melirik ke arah Naufal yang terus diam tanpa bersuara. Gadis itu tahu sekarang Naufal sedang menjaga jarak darinya. Ia tak bisa memaksa Naufal untuk seperti dulu, sering bercerita dengannya dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Mungkin seperti ini akan lebih baik untuk Naufal sendiri.


Mereka telah sampai di sekolah itu dan mereka langsung di tuntun ke sebuah Aula. Keduanya duduk di depan bersama para pemateri di hadapan siswa-siswi sekolah itu. Acara berlangsung selama dua jam dan Naufal tampil sebagai motivator siswa pada bagian akhir pengisi acara.


Erlin, si gadis tomboi yang dua kali bertemu Naufal ternyata merupakan salah satu siswa di sekolah ini. Ia melihat Naufal yang berdiri di atas panggung, memberi motivasi kepada mereka. Ia tampak berpikir keras karena seperti mengenal sosok cowok yang berkacamata itu.


Acara telah bubar dan mereka keluar dari ruangan itu. Amaira dan Naufal keluar bersama dari ruang Aula. Seseorang menepuk pundak Naufal dari belakang hingga membuat bahunya refleks terangkat. Ia memalingkan badannya ke belakang dan melihat Er tersenyum padanya.


"Tebakanku memang benar. Ternyata itu lo! Tapi gue enggak ngerti dengan penampilan lo sekarang! Lo masih terlihat cakep sih, tapi ... tidak sekeren waktu itu!" Er melihat Naufal dari atas ke bawah.


"Ini penampilanku yang asli," jawab Naufal singkat.


Melihat Naufal tengah berbicara dengan seseorang, Amaira pun berjalan sendiri melewati beberapa ruangan. Beberapa siswa bandel mulai mendekat dan menggodanya. Mata Naufal tertuju pada siswa-siswa nakal itu. Dengan cepat, ia berjalan menemui mereka yang rupanya berusaha merayu bahkan ingin menyentuh Amaira.


"Hei, kalian jangan ganggu dia!" tegur Naufal sok jago.


Salah satu di antara mereka berceletuk, "Kita kan cuma mau kenalan. Lagian lo siapanya dia? Pacarnya?"


Amaira berusaha menarik lengan Naufal agar tak berurusan dengan mereka. Namun, Naufal rupanya lebih memilih untuk meladeni mereka.


"Dia pacar saudaraku!"


Mereka tergelak seketika. "Haha-haha ... cuma karena dia pacar saudara lo terus lo larang kita dekat-dekat, gitu?"


Salah satu dari mereka maju dan mendorong Naufal hingga punggungnya terbentur tembok.


Amaira terkejut dan panik. Tak sampai di situ, salah satu dari mereka lalu menarik kembali kerah baju Naufal. Untungnya, Er datang tiba-tiba dan langsung membuat mereka menghentikan semuanya.


"Berani benar kalian ganggu teman gue!" seru Er ke sekelompok cowok yang menyerang Naufal.


Er lalu memberi isyarat agar mereka segera menyingkir. Tanpa diingatkan dua kali, mereka pun langsung pergi. Er menatap Naufal yang masih tersandar di tembok sambil memegang lengannya.


"Kamu baik-baik saja, Nau? tanya Amaira cemas.


Pertanyaan Amaira hanya dibalas dengan anggukan Naufal.


Amaira menoleh ke arah Er. "Makasih banyak, ya!"


"Biasa aja kali!" balas Er tersenyum sambil berkacak pinggang.


Naufal mengangguk pelan. ia memandangi kepergian Amaira dengan tubuh yang mematung. Cukup lama. Bahkan, hingga Amaira masuk ke dalam bus.


Rupanya Er memerhatikan arah pandang Naufal. "Lo suka sama dia? tanyanya tiba-tiba.


Naufal mengalihkan pandangannya ke arah Er, tetapi tak merespon pertanyaannya.


"Astaga, lo tuh jadi cowok kenapa lemah banget? Lo tahu, cewek itu enggak suka sama cowok yang lemah. Kalau lo mau rebut hatinya, lo harus jadi cowok yang cool."


"Kamu benar, aku memang lemah. Aku bukan cowok keren. Itulah kenapa aku kalah telak dari saudaraku sendiri!" dengusnya dengan amarah yang terselip di nada bicaranya.


Er mengerutkan dahinya lalu berkata, "Lo lagi curhat? "


Naufal kembali menatap Er dengan tatapan datar, lalu pergi begitu saja. Gadis itu berusaha mengejarnya.


"Hei, ceritakan sama gue! Kalo ada masalah harus berbagi sama kawan, jangan disimpan agar hati lo bisa lebih kuat!" ujar Er mengekornya dari belakang.


Naufal menghentikan langkahnya, kembali menatap Er. "Apa maumu? "


"Berikan hp lo!" pinta Er menengadahkan sebelah tangannya.


"Hah?" Naufal tak paham dengan permintaan Er.


"Sudah ... kasih saja hp lo!"


Naufal mengambil ponselnya dari saku celana, lalu memberikannya pada Er. Gadis tomboi itu langsung menekan menu kontak dan menulis sebuah nomor telepon di sana.


"Gue udah save nomor telepon gue di hp lo. Kalo butuh bantuan atau mau curhat, lo bisa hubungi gue." Er menyerahkan kembali ponsel Naufal dan langsung pergi.


Naufal menatap kontak nama cewek itu. Ia pun masuk ke bus sekolah yang telah menunggunya dan duduk di samping Amaira. Bus sekolah mulai jalan.


Naufal menoleh ke kaca jendela. Ia melihat Er berboncengan dengan pria yang lebih dewasa, mungkin usianya seperti Zaki. Er memeluk erat pinggang pria itu. Dalam hatinya bertanya, Apakah dia pacarnya? Ataukah kakaknya? Ah, Itu bukan urusannya dan dia tak peduli itu.


"Cewek tadi, apa kamu kenal?" Pertanyaan Amaira membangunkan lamunan Naufal.


Ia tertegun sebentar, seraya berpikir. "E ... aku tidak sengaja ketemu dia. Tuh cewek tomboi banget, aku lihatnya kayak Aldrin versi cewek gitu."


Amaira melebarkan matanya seraya tertawa, menunjukkan sikap antusias. "Kayak Aldrin?"


Naufal mengangguk cepat, ia memerhatikan tawa kecil yang begitu manis di wajah Amaira. Wajah riang itu sungguh membuat hatinya sedikit sakit. Hanya mendengar nama Aldrin, sudah membuat Amaira bahagia. Terlihat jelas jika Amaira memang sangat mencintai Aldrin.


Naufal terus memandangi wajah cantik Amaira. Cowok itu hanya dapat tersenyum samar dengan tatapan sendu.


Amaira, aku masih memiliki rasa itu untuk kamu. Lagi-lagi aku melakukan kebodohan berkelanjutan. Aku menikmati patah hatiku dan masih menyimpan rasa.