
Masih di sini. Masih dengan hati yang serasa disayat sembilu. Kedua bibir itu saling menempel di tengah deraian air yang turun dari atas langit. Aldrin mulai melepaskan ciumannya. Ia menatap wajah Amaira yang masih setengah terkejut. Sorot mata lelaki itu tak mampu membendung pedih yang ia rasakan, air matanya terus mengalir lebih deras dari hujan. Ia kembali memeluk Amaira. Tak ada kata yang keluar, hanya isakan yang meluncur di bibirnya. Isakan ini terdengar begitu memilukan. Bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar. Ia mengencangkan pelukannya.
"Kamu kenapa?" Amaira berbisik pelan di telinganya.
Meskipun hujan sangat deras dan suara tangisan itu tak terdengar, ia dapat mengetahui jika lelaki itu sedang dirundung pilu. Tak ada jawaban dari Aldrin. Suaranya telah habis karena banyaknya air mata yang keluar.
Amaira dapat memahami jika ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi. Perlahan, tangannya terangkat menyentuh punggung Aldrin, membalas memeluk tubuh yang menggigil. Tubuh dingin itu berganti menjadi hangat.
Hujan punya banyak cerita tentang mereka. Hujan mengerti tentang betapa hatinya sedang terluka. Hujan tahu seberapa besar rasa sakit yang ia alami. Dulu lelaki itu membenci hujan.
Sedih.
Sepi.
Rindu.
Itu yang ada di pikirannya saat hujan turun. Namun, sejak bertemu Amaira, hujan menjadi kebersamaan, ketenangan dan indah. Sekarang, hujan datang untuk menghilangkan memori kepedihan hari ini. Rasanya, langit sangat mengerti perasaannya malam ini.
Satu malam yang begitu pedih terlewati begitu saja, berganti pagi yang membawa harapan baru. Manajer dan asisten Ardhilla telah mengklarifikasi pernyataan Aldrin tentang ayahnya. Mereka mengatakan jika ucapan Aldrin hanyalah guyonan semata.
Di sekolah, Naufal menemui Amaira yang sedang duduk di bangkunya.
"Ke mana Aldrin?" tanya Naufal.
Amaira bingung dengan pertanyaan Naufal, "Bukannya kamu seharusnya lebih tahu?"
"Dia enggak tidur di rumah semalaman," balas Naufal khawatir.
"Semalam dia datang menemuiku saat hujan deras. Tapi dia enggak ngomong apa-apa, terus langsung pergi. Ada yang aneh sih sama dia." Amaira berpikir sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, "Naufal, apa kamu tahu masalah yang Aldrin hadapi sekarang?"
Naufal menghela napas panjang. "Aku enggak berani cerita, soalnya ini sensitif. Lebih baik kamu tanya langsung sama dia."
Amaira mengerti maksud Naufal. "Seberapa berat masalah yang dia hadapi? "
"Sangat berat. Aku pun tidak tahu kalau seandainya berada di posisinya."
Amaira berpikir sejenak, lalu sedikit panik. "Naufal, aku takut Aldrin .... " Amaira tak dapat melanjutkan ucapannya, tapi sepertinya Naufal paham maksudnya dan ia pun berpikiran yang sama dengan gadis itu.
"Aku tahu dia di mana. Ayo ikut denganku sekarang!"
Naufal mengemudikan mobilnya menuju pemukiman kumuh padat penduduk. Ya, ini adalah tempat tinggal Aldrin dan Jefri. Tentu saja Ardhilla juga pernah tinggal di sini! Mereka turun dari mobil lalu buru-buru menuju rumah tersebut.
"Apa Aldrin pernah membawamu ke sini sebelumnya?" tanya Naufal sambil berjalan.
"Iya," jawab Amaira singkat sambil mengingat kejadian terakhir ia bersama Aldrin di rumah itu.
Mereka telah sampai di depan rumah. Naufal mencoba mengetuk pintu rumah, tapi pintu itu terbuka saat tangan Naufal menyentuhnya. Ia langsung masuk ke rumah itu dan mendapati Aldrin terbaring di atas ranjang kecil di bawah selimut lesuh dengan tubuh menggigil. Rupanya, ia demam dan tak sadarkan diri.
Amaira meraba dahinya. "Badannya panas sekali! Dia enggak boleh sakit, hari senin sudah mau ujian kenaikan kelas. Gimana ini?"
"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" ucap Naufal panik.
Naufal menaikkan badan Aldrin ke punggungnya. Ia hendak menggendongnya, tapi bobot tubuh Aldrin yang lebih besar darinya membuat ia tak mampu menggendong.
Sekarang ia tahu, kenapa Aldrin selalu mengalah jika mereka melakukan lomba lari dengan hukuman menggendong lawan yang kalah. Alasannya cukup sederhana, ia tak mampu menggendong Aldrin.
"Amaira, kamu kompres dahinya! Aku akan minta tolong warga sekitar," pinta Naufal.
Amaira mengangguk dan segera menuruti perintah Naufal. Ia meletakkan kompres di dahi Aldrin. Jujur, ia bingung harus berbuat apa karena selama ini ia tidak pernah merawat orang sakit. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menggenggam tangan dingin kekasihnya.
"Aldrin, apapun masalahmu, aku akan tetap selalu bersamamu," ucap Amaira sambil memandang wajah pucat Aldrin.
"Aku akan mengantarmu pulang. Untuk Aldrin kamu jangan khawatir, kita punya dokter keluarga kami sendiri," ucap Naufal sambil memasang sabuk pengaman bersiap untuk pergi.
Amaira mengangguk, ia menoleh ke belakang dan melihat Aldrin yang masih tak sadarkan diri.
Malam hari telah tiba, Amaira merasa cemas. Ia menelepon Naufal tapi nomor itu tak kunjung terhubung. Ia mengkhawatirkan keadaan Aldrin. Apakah ia sudah baikan? Apakah demamnya sudah turun? Apakah ia telah membuka matanya? Semua pertanyaan itu terbesit di kepalanya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, ia segera melihat layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan masuk. Ia terkejut setelah membaca pesan itu. Ia pun segera mengambil jaket dan berlari keluar dari rumahnya menuju taman di lokasi perumahan.
Matanya memandang jauh sesosok lelaki yang sedang duduk dengan kepala menunduk di kursi taman. Ia segera menghampiri lelaki itu.
"Aldrin, kamu sudah sembuh? Kenapa malah keluar malam-malam begini?" Amaira begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini.
Aldrin menoleh padanya, terlihat wajah tampan itu memucat dan bibirnya mengering. Matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.
"Aku tidak mau dilahirkan seperti ini ... jika aku bisa memilih, mungkin aku tidak ingin dilahirkan ke dunia ini," ucapnya lirih bercampur serak.
Amaira bergegas berjongkok di depannya memegang kedua tangannya, "Kamu enggak boleh berkata seperti itu. Setiap manusia mempunyai jalan kehidupan masing-masing."
"Tapi, aku terlahir kotor!" Saat mengatakan kalimat itu, Setetes air mata lolos dari kelopak matanya.
"Semua bayi terlahir bersih." Amaira meyakinkannya kembali.
"Apakah ... kamu masih terima aku?" tanya Aldrin perlahan.
"Tentu. Tidak ada satu pun orang yang bisa memilih terlahir seperti apa. Tidak ada satu pun orang di dunia yang bisa meminta lahir di dunia dengan tubuh yang sempurna tanpa cacat. Kita enggak bisa meminta ke Tuhan untuk dilahirkan menjadi anak orang kaya, anak artis atau anak presiden sekali pun. Kita enggak bisa memilih apakah akan terlahir sebagai wanita atau pun pria. Kita juga enggak bisa memilih ke Tuhan dari rahim siapa kita dilahirkan dan akan hidup di keluarga seperti apa," ucap Amaira dengan penuh keyakinan.
Aldrin menghayati ucapan yang keluar dari mulut gadis itu, sebuah kalimat menyejukkan yang menjadi penguatnya saat ini.
"Kamu benar. Ini semua kehendak Tuhan untukku. Aku hanya menjalani apa yang aku anggap benar." Aldrin menatap langit yang dipenuhi bintang.
"Iya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini karena semua sudah dalam rencana-Nya." Amaira tersenyum melihat seberkas cahaya dari kedua bola mata Aldrin.
Aldrin menatap lekat iris kecokelatan gadis itu. Kali ini tatapannya tampak serius.
"Benar katamu, kita memang enggak bisa memilih dilahirkan di keluarga seperti apa, tapi bukankah kita bisa memilih seperti apa keluarga yang akan kita bentuk?" ucap Aldrin perlahan.
Amaira mengedipkan mata berkali-kali, ia tidak cukup paham dengan maksud Aldrin saat ini.
Aldrin menggenggam erat kedua tangannya. "Amaira, Ayo kita menikah!"
Gadis itu tersentak seketika. Bola mata mereka saling bertukar. Tak ada keraguan di mata lelaki ini, dan wajahnya sangat serius.
Aldrin kembali berucap, "Amaira, menikahlah denganku dan mari kita bangun keluarga seperti yang kuimpikan."
"Ta–tapi ... kita masih sekolah," Amaira tampak ragu-ragu.
"Aku akan menikahimu setelah kita tamat sekolah. Kurang lebih satu tahun lagi, dan selama setahun ini aku berjanji akan berubah untukmu," ucap Aldrin penuh keyakinan.
Amaira mengangguk, ia tersenyum riang mendengar kekasihnya baru saja melamarnya.
"Besok, aku akan menemui Ayahmu memperkenalkan diri sebagai pacarmu dan meminta izin padanya untuk menikahimu di usia delapan belas tahun." Aldrin melanjutkan ucapannya dengan senyum lebar yang menghias di wajahnya yang pucat.
Ini pertama kalinya ia berniat untuk datang menemui keluarga Amaira, menandakan ia benar-benar serius dengan ucapannya. Dan juga, serius ingin menikahinya.
Bersambung....
Chapter kali ini di ketik dengan ditemani sebuah lagu jepang yang berjudul only human by K. Sebuah lagu lagend dari jepang yang mempunyai arti kehidupan. lagu ini cocok banget dengan kondisi aldrin yg mengalami keputusasaan hidup. Mungkin bagi yang sering nonton drma asia ind*siar pernah dengar lagu ini karena lagu ini soundtrack dorama jepang yg berjudul "one litre of tears" . Drama ini udah banyak kali diputar di tivi bahkan dibuat versi sinwtron dengan judul buku harian nayla. Silahkan cek lagunya di yutup yaa..