
Naufal dan Aldrin masuk ke kelas sambil berangkulan. Seisi ruangan terkejut melihat penampilan terbaru Naufal. Di hadapan mereka sekarang, bukanlah cowok culun yang tampil sehari-hari dengan berkacamata. Namun, hari ini ia terlihat seperti model. Ihsan—si ketua kelas—berjalan mendekatinya, lalu memerhatikan dirinya secara saksama dari bawah ke atas.
"Astaga, ini benar-benar kamu? Kau seperti orang korea! Eh bukan, kau lebih mirip artis Jepang!" seru Ihsan masih menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Ya, ampun! Naufal keren sekali!" teriak teman-teman perempuannya di kelas.
Di puji teman-temannya, membuat wajah Naufal bersemu dan memerah menahan malu. Ia bahkan sampai memegang cuping telinganya karena salah tingkah.
Aldrin kembali merangkulnya sambil berkata kepada teman-teman, "Apa dia akan mengalahkan aku sebagai cowok terkeren di sekolah ini?"
"Hei, hei, aku baru sadar! Kalau diperhatikan sekilas, wajah kalian mirip loh!" Ihsan kembali berseru.
Dikatakan mirip Aldrin? Tentu saja membuat hati Naufal berbunga-bunga. Bahkan membuat bibirnya berkedut menahan senyum. Diam-diam, ia memandangi Amaira yang sedari tadi duduk di bangkunya sambil membaca buku. Gadis itu benar-benar tak acuh dengan keadaan sekitar, padahal seisi kelas begitu heboh melihat penampilan terbaru Naufal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam istirahat telah tiba. Naufal dan Amaira berjalan menuju kantin. Naufal heran, dari semua teman dekatnya, hanya Amaira yang tidak menggubris perubahan penampilannya. Padahal, ia sangat ingin tahu pendapat gadis itu. Bagaimana penampilannya di mata Amaira?
Penasaran, ia pun memberanikan diri bertanya langsung pada gadis bermata indah itu. "Eh, menurutmu, gayaku keren, enggak? Ini pertama kalinya aku ubah gaya rambutku," ucapnya malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Amaira menoleh padanya. Dengan sedikit canggung ia berkata, "Ini ... bukan seperti kamu. Aku malah merasa lagi jalan sama orang lain. Rasanya sedikit beda dengan hari-hari biasa."
Naufal terdiam sesaat, tetapi kembali bertanya, "Kamu suka, tidak?"
Amaira menunduk. "Bagaimanapun gayamu, kamu tetaplah kamu! Kamu tetap menjadi satu-satunya orang yang paling dekat sama aku."
Naufal mengembangkan senyumnya. Jujur, ia tak bisa menahan rasa bahagianya. Serasa berpindah ke padang bunga yang bermekaran. Hatinya seakan mengeluarkan puluhan kupu-kupu indah.
Tak terasa jam pulang sekolah telah tiba. Semua siswa keluar dari kelas masing-masing sambil bersiap untuk kembali ke rumah mereka. Aldrin berjalan santai menuju tempat parkiran motor. Ketika melewati ruang guru, tiba-tiba wali kelas memanggilnya. Ia menghela napas, sembari menerka-nerka celotehan apa lagi yang akan dilontarkan gurunya.
Aldrin pun masuk ke ruang guru menemui wali kelasnya.
"Ada apa, Pak?"
"Tolong bawa buku-buku ini ke perpustakaan! Kamu harus mengembalikan buku-buku ini di rak sebelumnya sesuai jenis kategori buku. Jangan lupa atur juga buku-buku yang berhamburan. Ingat, harus rapi, ya? Bapak akan cek lagi besok."
Aldrin mencebikkan bibirnya. Hidungnya tampak mengembang. Kesal! Dalam hatinya berkata kalau tahu akan disuruh ke perpustakaan, pasti dia akan pura-pura tidak mendengar saat wali kelas memanggilnya. Pasalnya, sejak putus dengan Amaira, ia tidak pernah lagi ke perpustakaan. Sebab, ia tahu gadis itu selalu di sana. Untungnya, sekarang adalah jam pulang. Jadi, ia tak perlu khawatir akan bertemu gadis itu.
Aldrin berjalan pelan menuju perpustakaan. Kedua tangannya dipenuhi tumpukan buku hingga wajahnya pun tertutup. Dengan hati-hati, Ia membuka pintu perpustakaan agar buku-buku di tangannya tak terjatuh. Sialnya, baru saja kakinya melangkah masuk, matanya langsung menangkap sesosok gadis yang paling ia hindari.
Ya, Amaira ada di sana. Gadis berambut panjang itu duduk sambil menulis di tempat biasa mereka mengobrol.
Sempat saling bertatapan selama beberapa detik, Amaira bertindak tak acuh dengan kembali melanjutkan tulisannya di buku catatan. Gadis itu bersikap seolah tak ada siapa-siapa. Sepertinya ia mulai menerima perpisahannya dengan Aldrin. Sebab, Naufal mengatakan jika Aldrin telah memiliki pacar, sehingga membuatnya tak lagi mengharapkan hati lelaki bertindik itu.
Amaira mengemas semua alat tulisnya ke dalam tas. Tampaknya gadis itu akan segera pulang. Di sisi lain, Aldrin masih sibuk menyusun buku-buku.
Amaira berjalan menuju pintu perpustakaan. Aneh, saat ia memutar gagang pintu, pintu itu tak bisa terbuka. Meskipun telah melakukannya berkali-kali. Tampaknya, perpustakaan telah terkunci.
Dari kaca jendela, ia melihat petugas sekolah baru saja meninggalkan ruangan itu.
"Pak! Pak!" teriak Amaira sambil melongok dari jendela perpustakaan.
Percuma! Petugas itu telah jauh.
Tak tinggal diam, ia pun menggedor-gedor pintu berharap ada seseorang di luar sana.
Aldrin yang masih sibuk mengatur buku, merasa heran dengan tingkah gadis itu.
"Ada apa?" teriak Aldrin dari lorong-lorong.
"Perpustakaan terkunci, petugasnya sudah pergi!" jawab Amaira panik.
Mata Aldrin terbelalak. Ia menghampiri Amaira lalu mencoba memutar gagang pintu. Benar-benar sial! Lelaki itu tampak berusaha mendobrak pintu, tapi tindakannya hanya sia-sia. Bukannya membuat pintu itu terbuka, malah lengannya yang kesakitan karena benturan.
Memijat lengannya, Aldrin menoleh ke arah Amaira yang tampak cemas.
"Aku tidak membawa ponselku, telepon Naufal sekarang! Suruh dia panggil petugas untuk buka pintu perpustakaan. Kalau enggak, kita bisa berada di sini sampai besok.
Amaira mengangguk cepat. Tangannya segera merogoh ponsel di dalam tas.
Di tempat lain, Naufal baru saja keluar dari minimarket untuk membeli air mineral. Ia masuk ke mobilnya lalu membuka segel botol. Ketika hendak meneguk minuman, tiba-tiba sesosok gadis berpakaian seragam putih abu-abu masuk ke mobilnya dengan wajah panik.
"Hei, cepat jalankan mobilnya! Gue dikejar orang!" perintah gadis asing itu.
"Kamu siapa?" tanya Naufal bingung.
"Tidak ada waktu untuk bertanya. Ayo cepat jalankan mobil lo! Kalau enggak, gue bisa ditangkap!" jawabnya sambil menepuk pundak Naufal. Dari wajahnya yang panik, Naufal dapat melihat butiran peluh yang menetes di dahi gadis itu.
Masih bingung, Naufal pun mengikuti perintahnya. Ia menghidupkan mesin mobil, lalu melajukan kendaraannya di atas kecepatan rata-rata.
.
.
.