Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 71 : Kembalinya Si Pengamen Jalanan



Minggu pagi yang cerah dimana langit dan awan begitu bersahabat. Mentari tak malu memancarkan sinarnya. Hari ini, Aldrin mengajak Amaira kencan. Ya, ini adalah kencan pertama mereka setelah sebelumnya tertunda dan keduanya putus.


Amaira meminta untuk kencan di kota tua Jakarta. Bisa tebak, sudah pasti si gadis kutu buku itu meminta Aldrin untuk mengunjungi museum-museum yang ada di kota tua tersebut. Membosankan dan sangat tidak menarik! Itulah yang ada di dalam isi otak Aldrin saat kekasihnya memilih spot kencan di sana. Alih-alih mau romantis seperti pasangan umum lainnya, dia malah harus melihat peninggalan-peninggalan jaman dahulu serta celotehan dari petugas Museum yang menjelaskan setiap detil peninggalan yang ada di museum tersebut.


Amaira tampak sangat antusias mendengarnya, ini karena si gadis pendiam itu sangat menyukai sejarah dan bercita-cita menjadi Sejarawan.


"Kita masih akan ke Museum Wayang dan Museum Bahari," ucap Amaira begitu melangkahkan kakinya keluar dari Museum Fatahillah.


Mendengar ucapan gadis itu, membuat mata Aldrin membulat seketika. Ia menahan napas, mengerucutkan bibir, serta hidungnya mengembang ketika mendengar ajakan Amaira yang masih ingin ke museum lagi. Dia telah bersabar menemani kekasihnya berkeliling museum selama satu jam dan dia sangat bahagia saat gadis itu memutuskan untuk keluar dari museum. Namun, ternyata Amaira masih ingin mengunjungi museum lainnya. Mungkin, jika Aldrin adalah tokoh kartun, maka saat ini telinganya akan terlihat mengeluarkan asap!


Amaira berjalan lurus tanpa memedulikan Aldrin yang tampak bersungut-sungut. Aldrin bergegas berlari saat menyadari gadis itu tak disisinya lagi.


"Terima kasih, ya!" ucap Amaira tiba-tiba.


"Untuk apa? " tanya Aldrin tak acuh.


"Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah ke sini," jawab Amaira mengembangkan bibirnya.


Seketika, Aldrin merasa seperti tertular rasa bahagia hanya melihat senyum indah di wajah kekasihnya itu.


"Aku tidak suka pelajaran sejarah. Tapi aku mengingat salah satu kutipan terkenal dari Soekarno, yaitu JASMERAH 'Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah'. Sekarang, aku jadi mengerti makna yang mendalam dari ucapannya. Dan aku akan mengukir sejarah indah untuk kita berdua," ucap Aldrin dengan mata yang berbinar dan senyum menawan sambil menggenggam tangan Amaira.


Selepas dari Museum, mereka memutuskan untuk Menyewa sepeda ontel. Amaira memakai topi bundar berwarna pink dengan aksen pita besar, seperti noni-noni belanda. Sementara Aldrin memakai topi kompeni tentara di zaman penjajahan dahulu. Mereka berboncengan bersama mengelilingi bangunan-bangunan kuno belanda hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Serasa napak tilas ke tahun-tahun kejayaan Batavia Kala itu.


Lama berkeliling di museum dan juga bersepeda di bawah terik matahari membuat keduanya merasa lapar. Mereka mulai menikmati kuliner yang ada di kota tua, seperti kerak telor, dan gado-gado. Amaira tertarik untuk membeli es goreng, yaitu jajanan jaman dulu yang di jual pedagang keliling. Aldrin membeli dua batang es goreng. Sepasang kekasih itu duduk di taman sambil menikmati es goreng.


Tiba-tiba Aldrin termenung dan tampak sedih.



"Kamu kenapa? " Nampaknya Amaira mengetahui perubahan suasana hati Aldrin saat ini.


"Tidak ... Hanya saja, makanan-makanan ini membawaku ke masa lalu. Masa saat aku bersama ayahku. Aku baru menyadari, selama sembilan tahun ini aku tidak pernah menyentuh jajanan kecil seperti ini."


Amaira menggenggam tangan dingin itu sembari berkata, "Di hari yang akan datang, kita akan sering makan makanan seperti ini."


Amaira menciptakan segaris senyum yang manis. Aldrin membalas senyumannya sambil menatap dalam bola mata indah gadis itu. Perhatian Aldrin tertuju pada seorang pengamen yang tak jauh dari tempat mereka berada. Pengamen itu membawa sebuah biola dan gitar kecil.


"Kamu tunggu di sini, ya? Aku mau ke sana dulu," ucap Aldrin sambil berdiri.


"Habiskan saja esmu! "


Aldrin langsung berlari meninggalkan Amaira yang masih bingung. Amaira memutuskan untuk tetap duduk dan menghabiskan esnya. Beberapa menit berlalu dia masih duduk, tapi es telah habis. Namun, Aldrin belum juga datang.


Mata Amaira mengawasi sekeliling taman, dari jauh ia melihat gerombolan orang berkumpul. Sejenak, rasa penasaran menerpanya, ia pun melangkah menuju kerumunan orang. Sayup-sayup terdengar suara alunan biola yang indah ketika langkah kakinya mulai mendekat gerombolan orang yang berkumpul.


Amaira semakin dihantui rasa penasaran, ia mempercepat langkahnya menerobos sekumpulan orang-orang yang tengah membentuk lingkaran. Ia terpana saat bola matanya menangkap apa yang dilihatnya.


Sesosok lelaki berambut emas, dengan mata yang indah, alis tegas terbentuk rapi, hidung mancung serta bibir yang terbentuk indah terpadu sempurna. Lelaki itu berpenampilan kasual dengan jaket hoodie dan sepatu converse.


Ya, saat ini Aldrin sedang memainkan biola dengan lihai.Ia membawakan lagu Dance Monkey by Tones and I. Nada-nada indah dari dawai biola yang dimainkan oleh Aldrin begitu sangat nyaman menyapa gendang telinga. Irama pop dari lagu yang dibawanya, membuat lelaki muda itu memainkannya sambil menari indah bak sedang berdansa dengan biola sebagai pasangan dansanya. Jemarinya bermain indah memetik senar biola di pundak. Senyuman yang memesona dari bibirnya yang sensual serta gerakan kepala yang mengikuti irama lagu membuat orang-orang yang menontonnya seakan terhipnotis.


Ingatannya kembali melayang ke masa-masa ia menjadi pengamen jalanan. Sembilan tahun yang lalu, ia dan ayahnya memainkan dawai biola secara bersama. Dan saat ini, ia berdiri sendiri memainkan alat musik itu di tempat yang sama. Permainan biola ini sungguh membangkitkan kenangannya bersama ayah angkatnya.


"Ganteng banget!"


"Apa dia artis? Atau youtuber?"


"Kayaknya dia bukan orang biasa, pakaiannya terlihat mahal. Jam dan sepatunya saja bermerek!"


Suara-suara penonton masuk ke pendengaran Amaira. Wajar para penonton begitu takjub, bukan hanya karena permainan biolanya yang piawai, tapi juga didukung oleh wajahnya yang tampan rupawan serta usianya yang masih remaja.


Beberapa penonton dengan sukarela memberi uang di kotak yang telah tersedia. Sementara beberapa orang lainnya sibuk merekam dengan kamera ponsel mereka. Salah satu pria merekamnya dengan jarak dekat menggunakan kamera Nikon dengan kualitas terbaik. Sepertinya pria itu merupakan youtuber ternama Indonesia.


Aldrin memiringkan kepalanya. Seketika, tatapannya dan Amaira saling bertemu. Aldrin langsung melempar senyum pada kekasihnya itu sambil mengedipkan salah satu matanya dengan tetap memetik senar biola.


Pertunjukkan biola berakhir dengan suara tepuk tangan gemuruh dari orang-orang yang menonton langsung. Beberapa gadis remaja langsung mengerumuninya bak semut yang melihat gula hanya untuk meminta foto bersama. Aldrin menghampiri Amaira yang masih terpaku di tengah bubarnya orang-orang di sekeliling.


"Kamu ... sangat hebat!" ucap Amaira penuh decak kagum.


Aldrin menunduk sambil tersipu malu. Dia bukanlah cowok pemalu, tapi entah kenapa ia menjadi salah tingkah mendengar pujian dari kekasihnya.


"Ini adalah pekerjaanku saat masih kecil."


Seorang pria berpakaian lusuh menghampirinya, "Terima kasih, berkat kamu hari ini aku banyak pemasukan," ucap si pria itu sambil menjabat tangannya. Rupanya pria tadi adalah pengamen asli dan pemilik biola yang di mainkan Aldrin.


Senja telah menyapa. Mereka mengabadikan foto berdua di depan museum Fatahillah yang berdiri kokoh. Mungkin, inilah yang membuat Amaira mencintai sejarah, karena sejarah akan selalu membawamu ke dalam kenangan. Seperti kisah mereka saat ini, beberapa tahun akan datang menjadi sejarah untuk dikenang.