
Angel mengangkat tangannya sambil meminta pada Guru Sejarah agar dia saja yang berkelompok dengan Aldrin. Mendengar permintaan Angel, Aldrin langsung melayangkan protes kepada guru.
"Aku mau satu tim sama Naufal saja!"
"Tidak bisa. Nama-nama kelompok yang sudah Ibu bagikan tidak boleh ditukar-tukar. Kalian ini sekelas, jangan ada yang pilih-pilih teman!" tegas sang guru.
Aldrin menarik napas panjang. Berkelompok dengan Amaira itu artinya dia belajar dan mengerjakan tugas bersama dengan gadis itu di luar sekolah. Bagaimana ini? Ia sengaja menghindari gadis itu agar bisa menekan perasaannya, tapi guru malah mempertemukan mereka dalam satu kelompok belajar.
Guru selesai membagikan nama-nama kelompok dan menjelaskan tugas apa yang harus mereka kerjakan. Kelas sejarah telah selesai. Bel istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar ruangan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Aldrin langsung berdiri hendak menuju kantin. Namun, ia mengurungkan niatnya saat Amaira menghampirinya. "Aku tidak bisa kerjakan tugas kelompok di luar jam sekolah. Kata Ihsan, Jam terakhir nanti guru tidak masuk, gimana kalau kita gunakan untuk buat tugas makalah?"
"Ah, itu ide bagus. Lagian belajar, 'kan cukup di sekolah. Di rumah waktunya kita untuk bersantai. Kenapa harus belajar lagi. Iya, 'kan?" ucap Aldrin santai.
Amaira tidak memedulikan ucapan Aldrin. Gadis itu malah kembali ke tempat duduknya dan sibuk mengemasi alat tulisnya. "Kita perlu mengumpulkan bahan referensi untuk menyusun makalah. Bagaimana kalau kita kerjakan tugas ini di perpustakaan? Sekalian cari sumber dari buku dan jurnal," tawar Amaira sambil membawa tasnya.
"Ya sudah, kamu pergi saja ke perpustakaan. Biar aku tunggu di kelas," balas Aldrin sambil bersandar di bangkunya.
Amaira bergeming, tapi matanya menatap Aldrin seakan memohon.
Aldrin meliriknya lalu bertanya, "Kenapa?"
"Aku takut ke perpustakaan sendirian."
"Apa yang kamu takutkan? Guru brengsek itu sudah keluar dari sekolah ini sejak dia memancing amarahku."
Amaira terdiam lagi. Kali ini dia menundukkan kepala dan tak mengeluarkan suara. Aldrin menghela napas. Ia mengerti, kalau gadis itu masih trauma datang sendiri ke perpustakaan.
"Oke ... oke. Aku temani," ucap Aldrin sambil berdiri.
Amaira langsung mengangkat kepalanya. Mata mereka saling menatap. Secara spontan, Aldrin melebarkan senyumnya. Ini pertama kali cowok playboy itu mengeluarkan senyum hangatnya pada seorang gadis.
Tiba di perpustakaan yang sunyi, Amaira langsung menuju tempat duduk yang berada di pojok lalu menghidupkan laptopnya. Aldrin memosisikan duduk berhadapan dengannya sambil melihat gerak gerik gadis itu. Ia malah pusing melihat Amaira yang tampak sibuk memilih buku-buku sejarah yang tersimpan dalam rak buku.
"Kenapa kamu ambil buku sebanyak itu?"
"Karena kita butuh ini semua."
"Apa kamu akan membaca semua buku itu?"
"Iya. Pelajaran sejarah adalah pelajaran kesukaanku. Aku suka membaca buku yang berhubungan dengan sejarah maupun biografi," ucap Amaira sambil membuka lembaran buku.
"Ya, aku tahu. Kamu sudah pernah bilang sama aku," kata Aldrin tanpa sadar.
Amaira tertegun. Tangannya berhenti bergerak. Pandangannya terarah pada Aldrin. Mata mereka saling bertemu.
"Maksudku, aku baru tahu jika kau tidak mengatakan itu." Aldrin segera meralat ucapannya."
Dengan cepat Aldrin mengubah pandangannya ke arah tembok. Bukan lagi ke mata Amaira. Rupanya ia baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia tetap tak mau menatap gadis itu. Namun, Diam-diam ekor matanya menangkap segala gerak-gerik Amaira. Gadis itu kembali sibuk mencari bahan referensi lewat buku-buku pelajaran sejarah.
Saat mereka sering telepon-teleponan, telah banyak yang Aldrin ketahui tentang gadis itu. Makanan kesukaannya, warna favoritnya, hobi dan kebiasaannya. Termasuk mata pelajaran yang Amaira sukai, yaitu sejarah. Mereka telah saling mengenal satu sama lain lewat telepon.
"Kita beda, ya. Aku tidak suka apa pun yang berkaitan dengan sejarah. Mempelajari sejarah berarti mengungkit tentang masa lalu." Aldrin kembali berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia menghentak-hentakkan kakinya hingga menimbulkan suara bunyi sepatu yang berisik.
Tak direspon Amaira, Aldrin pun merebahkan kepalanya di atas meja. Ia memilih untuk tidur. Sementara Amaira tengah sibuk mengetik makalahnya.
Beberapa saat kemudian, Aldrin terbangun dari tidurnya. Ia merasa seseorang menyentuh dahinya. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati tangan Amaira sedang menyentuh lukanya.
Dengan refleks ia menangkap tangan Amaira yang sedang menyentuh dahinya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Maaf, perbanmu jatuh. Jadi, aku mengganti kembali perbanmu dengan perban yang kubawa di tasku," ucap Amaira dengan suara pelan.
Aldrin melepas tangan Amaira dengan perlahan. Ia membiarkan gadis itu kembali membersihkan lukanya.
"Sudah tiga hari tapi lukanya belum kering juga. Malah masih mengeluarkan darah sedikit," ucap Aldrin disela-sela kesibukan Amaira yang membersihkan lukanya. Gadis itu memilih diam dan hanya fokus menempelkan perban di luka Aldrin.
"Hei, menurutmu, dengan wajah kayak gini aku masih keren, enggak?" tanyanya dengan percaya diri sambil menaikkan kedua alisnya.
Amaira menatap mata Aldrin dengan ekspresi kosong. Mata mereka kembali bertukar pandang. Namun, lagi-lagi gadis itu bergeming. Selesai membalut luka Aldrin, ia kembali ke kursinya untuk melanjutkan ketikan makalah mereka.
Aldrin menopang dagunya. Matanya berkeliling menengok seisi ruang perpustakaan yang begitu sepi. Ia kembali menatap wajah serius Amaira. Gadis itu selalu terlihat manis dengan segala ekspresi yang ia miliki.
"Huh ... membosankan sekali! Tahu begini aku bakal bawa earphone-ku!" gerutu Aldrin menggaruk-garuk kepalanya.
Di tengah rasa kesalnya karena diabaikan oleh Amaira, tiba-tiba muncul sebuah ide dari dalam otaknya. Aldrin mengambil laptop gadis itu dan menaruhnya di meja samping mereka duduk hingga membuat Amaira tersentak.
"Aku bosan!" protes Aldrin, "Bagaimana kalau kita main dulu. Aku akan putar pulpen ini, kalau penutup pulpennya menghadap salah satu antara kita, maka yang kena hidungnya akan ditarik."
Aldrin menjelaskan permainannya dengan semangat. Ia langsung mempraktekkannya dengan memutar pulpen di tengah meja. Pulpen itu berhenti berputar dan penutupnya menghadap ke arah Amaira.
"Nah, kamu kena!" Aldrin langsung menarik hidung Amaira.
Amaira terkejut dengan apa yang dilakukan Aldrin. Dengan santainya Aldrin memutar kembali pulpen tersebut, dan penutup pulpen itu masih mengarah ke Amaira. Aldrin bersemangat menarik hidung Amaira untuk yang kedua kalinya. Gadis itu mulai bereaksi, ia tersenyum seketika.
"Ini tidak adil kenapa aku terus yang kalah. Kamu pasti curang. Sini biar aku saja yang putar," protes Amaira sambil merebut pulpen itu dari tangan Aldrin.
"Lihat, hidungmu jadi merah gitu. Kalau yang ketiga kali ini kamu masih kalah, akan kupastikan hidungmu kayak pinokio," cela Aldrin sambil tergelak.
Amaira mengerutkan bibirnya, memasang wajah cemberut. Pulpen kembali berputar dan penutupnya masih mengarah pada gadis itu. Amaira membuka lebar matanya, kembali mengerucutkan bibir. Aldrin justru tertawa terbahak-bahak.
"Kamu bilang aku curang, 'kan?Nyatanya pulpen itu tetap mengarah sama kamu biarpun kamu yang putar. Ayo berikan hidungmu!"
Aldrin makin bersemangat. Ia mengarahkan dua jarinya ke hidung Amaira bersiap-siap untuk menjepitnya. Gadis itu memasang wajahnya seolah pasrah dengan apa yang dilakukan Aldrin. Kini hidungnya makin memerah. Namun, itu malah membuatnya semakin terlihat imut.
Pulpen kembali diputar dan akhirnya penutup pulpen itu mengarah pada Aldrin.
"Aarggghh, sial!" umpat Aldrin sambil menepuk meja.
Kini, giliran Amaira yang tersenyum lebar. "Aku akan balas apa yang kamu lakukan. Bersiaplah untuk terima hukuman!"
Amaira mendekatkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah hidung Aldrin. Namun, cowok itu malah menutup hidungnya dengan telapak tangannya, sehingga membuat Amaira tak bisa melakukannya.
"Kenapa hidung malah ditutup. Ini tidak adil. Jangan curang, Ayo cepat buka!" seru Amaira cemberut.
"Oh, itu tidak bisa kamu lakukan. Aku tidak akan biarkan kamu jepit hidungku," ujar Aldrin sambil terus menutup hidungnya.
Amaira menghampirinya dan berusaha menepis telapak tangan Aldrin yang ditempelkan di hidungnya. Aldrin tetap menutup hidungnya sambil terus menghindar dari tangan Amaira. Tampaknya, gadis itu masih tak menyerah. Ia terus berusaha membuka tangan Aldrin yang menutupi hidung.
Tiba-tiba kursi yang diduduki Aldrin jatuh ke belakang hingga membuat Aldrin dan Amaira terjatuh ke lantai. Posisi Aldrin sekarang terbaring di lantai, eementara Amaira berada di atas tubuhnya. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tatapan mereka saling bertemu. Mereka dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Untuk sesaat, keduanya saling terdiam dengan mata yang saling menatap.
Tiba-tiba, Aldrin mengangkat wajahnya hingga keduanya semakin dekat seperti tak ada jarak lagi. Siapa sangka, dia menempelkan bibirnya ke bibir Amaira yang lembut.
CUP!
Kedua bibir itu berhasil menempel sempurna. Sangat lembut!
Untuk beberapa detik bibir mereka masih menempel. Amaira pun tersadar, kedua tangannya mendorong Aldrin. Gadis itu berdiri dan langsung merapikan alat tulisnya yang berserakan lalu memasukkannya ke dalam tas dengan terburu-buru. Aldrin segera berdiri ketika Amaira yang hendak keluar dari perpustakaan.
Dengan cepat, tangan Aldrin menahan lengan gadis itu. "Kamu marah sama aku?"
Gadis itu membisu sesaat. Wajahnya tertunduk berusaha menghindari tatapan Aldrin.
"Maaf, ini di luar kendaliku. Semuanya ... terjadi begitu saja," ucap Aldrin dengan nada yang kaku.
"Aku mau pulang, sepertinya orang-orang semuanya sudah pulang," ucap Amaira dengan wajah yang masih tertunduk.
Aldrin melepaskan tangannya dari lengan Amaira. "Baiklah, apa aku boleh mengantarmu pulang?"
"Tidak perlu," jawab Amaira singkat.
Aldrin mengangguk paham. Ia membiarkan gadis itu meninggalkannya.
Amaira berjalan menuju gerbang. Sekolah sudah sepi. Mereka terlalu asyik bermain hingga tak mendengar bel pulang.
Amaira memegang bibirnya. Ingatannya kembali melayang pada peristiwa beberapa menit yang lalu. Ya, sebuah ciuman yang pertama kali ia rasakan. Aldrin membuatnya terbuai hingga tak berani menolak. Namun, ini adalah ciuman pertamanya. Dan sialnya, ciuman itu harus ia serahkan pada orang yang terkenal berandalan dan playboy di sekolahnya.
Tak terasa Amaira telah sampai ke pintu gerbang sekolah. Di tengah suasana yang sepi, terdengar suara motor dari arah belakang. Amaira bisa menebak jika itu adalah motor Aldrin. Benar saja, cowok berhidung mancung itu berhenti tepat di hadapannya.
"Apa kamu yakin enggak mau diantar pulang?" tanya Aldrin sekali lagi.
Amaira kembali menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku duluan." Aldrin membawa motor sport-nya melaju kencang meninggalkan gadis itu.
Mata Amaira tak berkedip menatap kepergian Aldrin yang sudah semakin jauh dari pandangannya. Saat ia ingin melangkah, tiba-tiba seseorang membiusnya dari belakang hingga membuatnya terjatuh dan pingsan.