Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 47 : Ekspektasi



Bel berbunyi tanda jam istirahat telah tiba. Semua murid-murid tampak bahagia dan bergegas keluar kelas. Ada yang langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka, ada pula yang menggunakan waktu istirahat untuk berkumpul dengan kawan-kadang sekedar bergosip.


Aldrin dan Amaira memutuskan untuk pergi perpustakaan. Namun, suara speaker sekolah terdengar begitu nyaring. Rupanya, wali kelas memanggil Aldrin agar segera ke ruang guru. Aldrin menghela napasnya, ia meminta Amaira untuk menunggunya di perpustakaan.


Aldrin langsung datang ke ruang guru dan duduk berhadapan dengan wali kelasnya itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Aldrin dengan santai.


Guru itu meletakkan sebuah buku yang terbuka dan menggeser buku itu ke arahnya sambil berkata, "Ini PR kimiamu, 'kan?"


Aldrin menatap bukunya dan melihat hasil


nilai tugasnya, tampak sebuah angka nol besar terpampang jelas di sana.


"Iya, Pak."


Wali kelas menghela napas lalu berkata, "Apa kau anggap ini sebuah lelucon? Kenapa kau menjawab 'Hanya Tuhan yang Tahu' di setiap soal yang aku beri?"


"Karena aku tidak tahu jawabannya, tapi aku yakin Tuhan pasti tahu jawabannya," jawab Aldrin sambil bersedekap. Dia juga menyilangkan kakinya.


Wali Kelas geram mendengar penjelasan Aldrin. Ia memelototkan matanya dan wajahnya tampak memerah.


Guru yang duduk di samping wali kelasnya ikut berkomentar, "Dia juga tidak pernah masuk mata pelajaran Bahasa Inggris selama aku mengajar di kelasnya."


Guru yang baru saja bicara adalah guru Bahasa Inggris baru yang menggantikan Pak Angga. Sejak guru itu masuk, Aldrin memang selalu bolos di kelasnya.


Wali kelas menatap tajam ke arah Aldrin. Matanya seperti sebuah pedang yang siap menghunus ke arah lawan. "Kenapa kamu tidak pernah masuk pelajaran Bahasa Inggris? Kali ini apa lagi alasanmu?"


Wali kelas tampak tak sabar mendengar alasan Aldrin.


"Pak, aku ini pindahan dari Amerika. Aku bertahun-tahun tinggal di Los Angeles. Jadi, aku sudah sangat fasih berbahasa Inggris. Aku yakin jika aku diadu dengan Guru itu, aku masih lebih hebat darinya. Kenapa aku harus belajar bahasa Inggris lagi? Bukannya itu buang-buang waktu?" jawab Aldrin sambil membuang muka.


Sekali lagi, Wali Kelas tampak mengembuskan napas kasar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pembelaan Aldrin. "Kita ini orang Indonesia. Kita menggunakan Bahasa Indonesia sehari-hari, tapi kita tetap mempelajari bahasa indonesia di sekolah-sekolah. Bahkan itu salah satu mata pelajaran yang diujiankan negara. Apa kau pikir itu artinya kita juga tidak perlu mempelajari Bahasa Indonesia? "


Ucapan wali kelas membuat Aldrin tak berkutik, ia memilih bungkam. Sementara, wali kelas melanjutkan kembali ucapannya, "Jika tidak memandang ayahmu sebagai salah satu donatur sekolah ini, kau mungkin sudah diskorsing. Ingat, jangan mempermalukan Ayahmu! Kakakmu Zaki, dulu adalah murid yang sangat berprestasi dan saudaramu Naufal juga begitu. Kamu harus belajar dari mereka!"


"Aku terlahir dari gen yang berbeda dengan mereka. Jangan banding-bandingkan aku dengan mereka!" ketus Aldrin mulai kesal.


"Lihat, siswa-siswa kelas 1 mulai banyak yang meniru gaya rambutmu. Sebaiknya kau segera merapikan rambutmu!" perintah wali kelas sambil menunjuk rambut pirang Aldrin.



Setelah mendapat nasihat selama hampir tiga puluh menit, Aldrin pun keluar dari ruang guru dengan telinga yang panas karena harus mendengar seluruh kritikan dan nasehat guru-guru di ruangan tersebut. Saat tepat berada di depan pintu ruang guru, mata Aldrin langsung tertuju pada Amaira yang berdiri di samping pintu itu. Rupanya gadis itu setia menunggunya sedari tadi.


"Apa yang dikatakan Wali Kelas sama kamu? " tanya Amaira dengan cemas sambil mendekatinya.


"Bukan masalah. Ayo pergi!" ucap Aldrin.


Aldrin berjalan lurus diikuti Amaira yang berjalan di belakangnya. Mereka memang belum berani menunjukkan kedekatan satu satu lain di depan umum. Itu karena Aldrin masih menyembunyikan hubungan mereka agar tak ketahuan Naufal.


Saat sedang berjalan menuju ruang perpustakaan, suara wanita tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Aldrin!"


Aldrin memutar badannya menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya. Pemilik suara itu adalah Maria yang kebetulan baru saja selesai syuting.


"Hei, kamu sudah selesai syuting?" sapa Aldrin kembali.


"Lagi break sebentar. Oh iya, apa aku bisa bicara denganmu sebentar?" ucap Maria sambil melirik Amaira yang berdiri di samping Aldrin.


Rupanya Amaira mengerti, dia langsung melangkah mundur menjauh dari keduanya. Aldrin menatap kepergian Amaira dengan tatapan tak berdaya. Tanpa ia sadari Maria memerhatikan arah pandangnya.


"Apa dia pacar barumu?"


Suara Maria membuyarkan Aldrin. Ia langsung memalingkan wajahnya, menatap Maria tapi tidak menjawab pertanyaannya.


Aldrin malah melontarkan pertanyaaan. "Apa yang mau kamu katakan?"


"Yang benar?" Aldrin membulatkan matanya seolah tak percaya dengan informasi yang Maria berikan.


"Iya, aku dengar sendiri. Mungkin perwakilannya sudah menghubungi Ibumu sekarang." Maria berusaha meyakinkan Aldrin.


Aldrin menarik garis senyum di bibirnya, tentu saja ia merasa senang mendengar kabar yang disampaikan Maria. Ia menatap langit cerah seolah merasa sedang diberkati. Cita-citanya menjadi pemain biola profesional sepertinya telah terbuka.


"Terima kasih atas infonya." Aldrin memegang kedua pundak Maria dengan setengah membungkuk dan tersenyum lebar.


Kepala Maria mundur secara otomatis karena cowok itu terlalu merapatkan wajahnya hingga gadis itu menjadi salah tingkah. Sambil menahan napasnya, Maria mengangguk dan berkata, "Aku ikut senang."


Aldrin melepaskan kedua tangannya dari pundak Maria. Ia hendak pergi, tetapi kakinya berhenti melangkah lalu berbalik kembali menghadap gadis itu sambil bertanya, "Apa aku boleh menanyakan satu hal padamu?"


"Silakan!" jawab Maria.


"Kalau kamu dihadapkan dengan situasi yang harus memilih. Mana yang akan kamu pilih, persahabatan atau cinta?" tanya Aldrin ragu-ragu.


"Tentu saja persahabatan. Cinta itu bersifat semu, sementara persahabatan itu abadi. Cinta itu penuh keegoisan sementara persahabatan itu terlahir dari rasa pengertian satu sama lain," ucap Maria dengan tegas.


Aldrin membisu sesaat, bola matanya berputar. Ia tampak meneguk ludahnya sendiri kemudian berkata lemah, "Oh seperti itu."


"Ya. Tentu saja. Oh iya, aku pergi dulu, ya! Sampai nanti."


Maria langsung meninggalkan Aldrin yang masih dalam keadaan bimbang dengan apa yang ia hadapi saat ini. Yang mana ia dihadapkan pilihan antara cinta dan persahabatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardhilla sedang istirahat setelah syuting Film terbarunya. Ia mengambil sekotak bekal makanan sehatnya dan minuman nutrisi. Wanita itu memnag sangat menjaga pola makannya agar ia terus terlihat awet muda.


Manajer menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Hei, ada kabar baik. Tadi aku bertemu dengan asisten Erwin Gutawa, katanya beliau sangat menyukai permainan biola anakmu. Dia mau merekrut Aldrin masuk ke manajementnya. Sebenarnya dia mau mengontak langsung anakmu tapi dia masih menghormatimu. Makanya dia memintamu untuk menghubunginya lebih dulu, ini kartu namanya," terang manajer sembari menyerahkan kartu nama.


Ardhilla menatap kartu nama itu dengan dingin lalu berkata, "Katakan padanya, anakku tidak tertarik. Bermain biola hanya hobinya, tapi dia tidak punya cita-cita ke sana. Kalau aku mau, aku sendiri yang akan mengorbitkan anakku. Tapi, dia tidak akan menjalani kehidupan yang aku jalani. Karena dia adalah calon penerus Adam Grup."


"Kamu 'kan belum tanya anakmu. Aku lihat sendiri anakmu sangat berbakat. Rohnya seperti sudah menyatu dalam musik ," ucap sang Manajer berusaha memengaruhi jalan pikiran wanita itu.


"Sudah aku katakan, Aldrin tidak akan menjadi musisi, artis atau apalah! Dia hanya akan menjadi penerus Adam Grup!"


Ardhilla tampak kesal, ia mengambil kartu nama tersebut lalu merobeknya dan melemparnya ke tempat sampah.


Senja sebentar lagi menyingsing. Aldrin kembali ke rumah dengan tergesa-gesa. Ia bertanya pada asisten rumah apakah ibunya telah pulang atau belum. Asisten menjawab iya dan mengatakan bahwa nyonya mereka sedang santai di balkon lantai atas.


Aldrin segera menuju balkon yang dimaksud. Ia melihat Ibunya sedang bersantai membaca buku sambil menikmati pijatan kaki dari Home Terapis yang dipanggilnya. Wanita itu rupanya sadar akan kehadiran puteranya. Ia tampak terkejut melihat Aldrin menghampirinya. Meskipun mereka serumah, anak dan Ibu itu jarang bertemu untuk sekedar bertegur sapa apalagi berkomunikasi.


"Aldrin, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Ardhilla melihat wajah Aldrin yang tampak ragu-ragu.


Aldrin menelan ludahnya lalu membasahi bibirnya. Sejujurnya ia merasa gengsi menanyakan hal ini pada ibunya. Namun, rasa penasarannya lebih tinggi saat ini. Ia harus memastikan apa yang dikatakan Maria itu benar.


"Apakah ... ada perwakilan dari Erwin Gutawa yang menghubungimu?" tanya Aldrin.


Ardhilla terdiam sejenak. Ia telah menduga Aldrin akan menanyakan ini padanya. Dengan wajah yang begitu tenang ia menjawab,


"Tidak ada, memangnya ada apa dengan Erwin Gutawa?"


Seketika wajah Aldrin tercetak ekspresi kekecewaan. Ia menundukkan kepalanya sambil menjawab, "Bukan apa-apa."


Setelah mendengar jawaban dari ibunya, ia langsung pergi menuju kamarnya dengan hati yang lara.


"Mungkin aku yang terlalu berekspektasi tinggi," gumam Aldrin dalam hati.



**Hai readers, jika kamu suka dengan cerita ini. bantu Author, menaikkan perfoma novel ini dengan like di setiap chapter, beri rating 5 bintang dan share novel ini di media sosial yang kamu punya.


btw, foto di atas aslinya Mackenyu Arata bareng member Exo.**


Aotian Yu -