
Aldrin telah sampai di sekolahnya. Ia memarkirkan motor sport-nya lalu menuju kelas barunya.
Tahun ajaran baru telah datang. Kelas satu telah diisi murid-murid baru. Semua murid baru menatap ke arah Aldrin. Tentu saja terpesona akan sosok tampan nan keren meskipun saat ini gayanya tak seperti dulu lagi dengan rambut emas dan anting di telinga kirinya. Aldrin masuk kelas dan langsung disambut oleh teman-temannya. Ia melihat sekeliling ruangan, tak ada Amaira di sana. Apakah ia belum datang? Pikir Aldrin.
Aldrin langsung meninggalkan kerumunan temannya hendak keluar kelas. Saat ia keluar di depan pintu, Amaira telah berada di depannya. Aldrin menjadi salah tingkah, bahkan memegang telinganya karena tak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Kenapa kamu enggak jemput aku?" tanya Amaira dengan nada cetus.
"A ...." Aldrin membuka mulutnya, matanya berputar dan tampak berpikir sejenak.
Bukankah terakhir kali bertemu, mereka saling diam dan Aldrin memberi waktu gadis itu untuk berpikir apakah akan lanjut dengannya atau tidak.
"Kok bengong? Ayo masuk kelas!" Amaira menarik tangan Aldrin memasuki kelas.
Senyum lebar merekah dari bibir indah Aldrin. Ini tak seburuk yang ia pikirkan. Tingkah Amaira saat ini menunjukkan bahwa ia ingin tetap melanjutkan hubungan mereka dan tak peduli dengan masa lalu laki-laki itu.
Di perusahaan Adam Grup, Zaki berjalan memasuki ruang rapat. Hari ini ia tak terlihat seperti biasanya. Wajah tampannya begitu pucat, dan bibirnya tampak kering. Masih berjalan, tibq-tiba pandangan terlihat buyar. Kepalanya terasa pusing. Ia berhenti melangkah dengan tangan kanan yang bertopang pada dinding.
"Pak manajer, Apa Anda sedang sakit?" tanya sekretarisnya.
Zaki menggelengkan kepala dan mencoba berdiri tegap.
"Anda tidak perlu terlalu memaksa jika sedang kurang sehat. Kita bisa menunda rapatnya," ucap sekretarisnya kembali.
"Tidak masalah, ayo!" jawab Zaki sambil berjalan kembali ke ruang rapat.
Sementara di sekolah, Naufal berjalan menelusuri area lokasi syuting sinetron yang diperankan oleh Maria. Dari jauh, ia melihat Maria tengah beristirahat. Seseorang dari kru sinetron lewat di hadapannya. Dengan segera, ia menahan orang itu.
"Maaf, apa kamu bisa menolongku memanggilkan kak Maria ke sini?" tanya Naufal dengan sopan.
Kru sinetron itu melihat penampilan Naufal dari atas ke bawah. "Maaf, ini jam istirahat artis kami. Kalau mau minta foto bersama lain kali saja, ya!" tolak pria itu yang mengira Naufal seorang fanboy Maria.
"Aku adiknya kak Zaki, mantan pacarnya kak Maria. Ada yang ingin kusampaikan padanya," desak Naufal.
Kru sinetron itu tampak mengerti. Ia segera berjalan menuju Maria. Tak lama kemudian Maria mendatangi Naufal. Mereka memutuskan untuk bicara di kursi taman sekolah.
"Aku kira syuting sinetron kak Maria udah berakhir," ucap Naufal mengawali pembicaraan
"Ratingnya bagus. Jadi produser meminta untuk memperpanjang episode. Sebenarnya aku udah lelah juga." Maria membawa dua buah minuman kaleng dan menyerahkan salah satunya pada Naufal.
Naufal mengambil minuman kaleng itu dari tangan Maria dan meneguknya. "Bagaimana hubungan kak Maria dengan kak Zaki?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Naufal.
"Ya, gitu. Kamu tahu sendiri, kan, kami sudah putus dan tidak punya hubungan sama sekali."
"Sangat disayangkan sekali. Kalau aku boleh tahu, kenapa kalian bisa putus?"
"Bukan salahnya. Ini semua salahku. Aku enggak bisa memupuk cintaku dengannya. Akhirnya cinta itu tak berkembang dan menjadi layu," ucap Maria sambil menunduk.
Naufal mengangguk perlahan. "Kalian cocok dan sangat serasi. Tapi tak disangka akan berakhir seperti ini," ucapnya menyayangkan keputusan mereka yang mengakhiri hubungan.
"Dia menarik semua dukungannya pada karirku. Dan dia berbicara di media seolah dia yang memutuskan hubungan kami," ujar Maria sambil tersenyum masam.
"Kak Maria, kakakku sayang banget ma kamu. Kurasa dia mengatakan itu karena enggak mau disalahkan orang-orang yang mengidolakan kalian berdua. Kak Zaki memang tipe orang yang enggak suka dipandang lemah. Dia selalu menunjukkan jika dirinya kuat. Itulah kenapa orang-orang menganggapnya sombong."
Tiba-tiba, suara dering ponsel mengganggu pembicaraan mereka. Naufal bergegas mengambil ponsel dari saku celananya. Ia menerima panggilan telepon yang berasal dari ayahnya.
Setelah menerima telepon, wajah Naufal berubah seketika. "Kak Maria, Kak Zaki dilarikan di Rumah Sakit. Dia pingsan di kantor."
Maria melebarkan matanya mendengar kabar yang baru disampaikan oleh Naufal. Namun, ia memilih diam.
"Aku akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Kalau Kak Maria mau, kita bisa pergi bareng ke Rumah Sakit," tawar Naufal.
Maria tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. Naufal akhirnya meninggalkannya untuk masuk ke kelas. Sementara, ia memilih kembali ke lokasi syuting. Saat berbalik, ia melihat Aldrin dan Amaira berjalan sambil berpegangan tangan.
"Mereka pasangan yang manis," gumam Maria sambil tersenyum.
Di Rumah Sakit, Maria berjalan menuju ruang VIP tempat Zaki di rawat. Ia menarik napasnya perlahan sebelum membuka pintu kamar. Matanya langsung menangkap sosok tampan yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Sepertinya, Zaki menyadari kehadiran seseorang di ruangan itu. Ia membuka kelopak matanya secara perlahan. Sepasang lensa matanya menangkap bayangan Maria, tapi sosok itu buram di penglihatannya sehingga ia menganggap itu hanya halusinasinya saja.
"Maaf, aku ganggu kamu," ucap Maria sambil berjalan mendekati tempat tidur Zaki.
Zaki tersadar, ini bukan halusinasinya. Maria benar-benar datang. Ia mengusap kedua matanya agar pandangannya lebih jelas. Sosok yang ia cintai itu kini bisa terlihat jelas oleh matanya.
"Apa yang kamu lakuin di sini," ketus Zaki sambil membuang muka seolah tak ingin melihat Maria.
Maria menelan salivanya sesaat. "Aku cuma pingin jenguk kamu."
Zaki menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Pulang sana! Aku enggak mau lihat kamu!" ucapnya kasar dengan suara serak.
Maria menghampirinya, tapi dengan cepat Zaki berkata kembali, "Sudah kubilang aku enggak mau lihat kamu!"
PRAAANG!
Gelagar suara gelas pecah menghantam lantai kamar ruangan itu akibat tersenggol tangan Zaki. Seketika suara yang memekakkan telinga itu membuat Maria terkejut. Tanpa ia sadari kedua tangannya memegang mulut, menatap ke lantai dan melihat gelas yang pecah itu kini menjadi serpihan kaca.
Maria segera berjongkok mengambil serpihan kaca gelas yang berhamburan di lantai. Sementara Zaki tetap bersikap dingin dan tak mau melihat gadis itu.
"Aaahh!" Maria memekik kesakitan saat serpihan kaca itu menggores ujung jarinya.
Zaki menoleh ke arahnya dan melihat jari Maria berdarah. Dengan segera, ia turun dari ranjang menghampiri Maria. Ia mengambil jari tangan gadis itu langsung menghisapnya.
"Zaki, kamu lagi sakit. Jarum infusmu terlepas," ujar Maria sambil menarik tangannya.
Zaki malah memegang kedua tangannya sambil menatap wajah Maria dengan sendu. Gadis itu tampak salah tingkah sehingga segera mengalihkan pandangan ke bawah. Namun, mata Maria terbelalak seketika saat melihat kaki Zaki penuh darah akibat menginjak serpihan gelas yang hancur.
"Zaki, kakimu penuh darah. Aku panggil suster dulu," teriak Maria panik.
Maria segera berdiri hendak memanggil suster, tetapi tangannya kembali ditahan oleh pria itu. Sesaat, mata mereka bersirobok selama beberapa detik.
"Kembali sama aku, please!" lirih Zaki penuh harap.
"Zaki, luka di kakimu harus cepat diobati," ucap Maria yang tak peduli dengan ucapan Zaki.
Pria itu makin menggenggam erat kedua tangan Maria. Sebisa mungkin matanya yang terlihat tak berdaya itu menatap dalam wajah gadis yang amat ia cintai.
"Kembalilah padaku! Kumohon ... enggak peduli masih ada aku atau tidak di hatimu saat ini, aku bersedia mengulangnya dari awal. Entah kamu sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan sabar menunggu kamu kembali mencintaiku. Belajarlah mencintaiku lagi, Maria."
Raut mata Zaki menatap sendu gadis yang berada di hadapannya saat ini. Jarum infus yang telah keluar dari pembuluh darahnya, tak ia hiraukan. Luka akibat serpihan beling yang meninggalkan banyak jejak darah di kakinya tak ia rasakan.
Pernyataan Zaki yang penuh permohonan spontan membuat Maria terenyuh. Tanpa terasa air mata Maria menggenang. Mata mereka kembali saling bertatapan dalam seolah dapat menembus batas pandang.
"Zaki ...."
"Aku hanya butuh jawaban ya atau tidak dari kamu," tegas Zaki mencoba kuat meski sedang lemah.
Maria menunduk sambil menganggukkan kepalanya perlahan. Zaki langsung menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. Wajahnya yang memucat begitu terlihat bahagia.
"Aku sayang banget ma kamu ...."
Sebuah ungkapan cinta tak henti-hentinya pria itu ucapkan di telinga Maria sembari memperat pelukan. Perlahan, kedua tangan Maria ikut melingkar ke tubuh Zaki.
.
.
.
Bersambung...
menurut kalian, diantara semua tokoh cowok yang ada dinovel ini, siapakah paling bucin? Kutunggu jawabannya dikolom komentar.