Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 79 : Pasangan Dansa Maria



Mereka tiba di tempat diselenggarakan pesta ulang tahun Maria. Pesta itu cukup ramai dan semua orang tampak saling berbaur. Acara itu banyak dihadiri rekan selebritis muda dan selebgram Ibukota. Beberapa penggemar Maria juga turut meramaikan acara. Setiap lelaki yang datang, akan diberi sebuah kupon undian.


"Untuk apa kupon ini?" tanya Aldrin saat panitia memberinya.


"Kupon ini akan diundi saat acara nanti. Bagi yang beruntung, akan mendapatkan kesempatan berdansa dengan Maria," jawab panitia.


"Hah ... memangnya dia artis internasional!" cibir Aldrin setelah mendengar penjelasan soal kupon yang dibagikan. Ia pun menyimpan kupon itu dalam saku jasnya.


Mereka bertiga masuk bersama lalu bertemu Maria dan juga Zaki. Malam ini, Zaki tampak tampan dengan tuxedo biru tua yang dikenakannya. Maria sungguh luar biasa cantik dengan gaun merah maroon yang kontras dengan kulit putihnya dan rambutnya yang panjang bergelombang dibiarkan terurai. Riasan malamnya begitu dramatis dan lipstik yang melekat di bibirnya berwarna senada dengan gaun malamnya.


Maria terlihat seperti wanita dewasa dengan buah dada yang menonjol indah dan pinggul yang berbentuk bak gitar spanyol. Sungguh penampilannya sangat memikat hati para tamu pria yang hadir. Mereka berharap bisa memenangkan undian agar dapat berdansa dengan artis yang sedang naik daun itu.


"Al, apa dia kakakmu?" tanya Amaira saat melihat Zaki yang berdiri di samping Maria.


"Bukan. Dia kakaknya Naufal," jawab Aldrin malas-malasan.


"Kakaknya Naufal bukannya kakakmu juga!" celetuk Amaira.


Aldrin hanya diam sambil memutar bola matanya dan mengangkat sedikit bibir ke atas. Kesal! Itulah perasaannya saat ini ketika Amaira mengatakan hal itu.


Mereka berjalan menuju Maria dan juga Zaki untuk memberi ucapan selamat.


"Selamat ulang tahun, Kak Maria." Naufal langsung mengulurkan tangannya seraya memberikan hadiah. Maria menyambutnya dengan senyum hangat sambil berucap terima kasih.


"Selamat ulang tahun, Kak Maria." Amaira mengucapkan hal yang sama.


"Aku kira kalian enggak bakal hadir, " ucap Maria memeluknya sambil melakukan cium pipi kiri dan kanan.


Aldrin dan Zaki saling membuang muka. Keduanya memang tidak pernah akur di manapun mereka berada. Bagi Zaki, kehadiran Aldrin menjadi perusak suasana hatinya. Sebaliknya, bagi Aldrin sendiri, adanya Zaki di tempat itu membuatnya seakan hendak pulang.


"Yuk, kita ke ruang dansa!" ajak Maria sambil memegang tangan Amaira membawanya masuk ke tempat dansa. Ketiga cowok keren mengekor mereka dari belakang.


Pesta ulang tahun Maria tampak elegan. Sebab, acara itu diselenggarakan oleh Zaki sebagai kado untuk Maria. Jadi, dia ingin pesta kekasihnya itu begitu terlihat sempurna. Banyak jamuan makan malam melimpah ruah. Orang-orang tampak berkumpul sambil bercanda tawa.


Seorang host mulai membuka acara. Ia memberi beberapa sambutan yang menghebohkan untuk para undangan. Tak terasa telah memasuki inti acara.


"Inilah acara yang kita tunggu-tunggu, yaitu mencabut nomor undian. Bagi nomor undian yang disebutkan namanya, harap segera memasuki lantai dansa dan bisa langsung berdansa dengan Maria diiringi dengan alunan musik piano dari kekasihnya, Zaki Ardhani," seru host dengan suara yang begitu heboh diikuti sorakan dari tamu yang tak sabar.


"Apa-apaan nih?" Zaki terkejut saat mendengar apa yang baru saja host katakan. Jujur, ia tidak tahu-menahu tentang acara cabut undian untuk bisa berdansa dengan Maria.


"Sayang, mereka menyarankan aku bikin fans service sebagai acara hiburan, dan aku rasa enggak masalah kalau cuma berdansa dengan fans-ku," ucap Maria memberi penjelasan seraya merangkul tangan Zaki dengan manja.


"Dan mereka suruh aku buat iringi lagu pas kamu dansa sama orang lain?"


Maria mengangguk seraya tersenyum. Zaki hanya bisa menghela napas sambil meletakkan memijat dahinya. Ia tak setuju dengan ide itu, tapi tak ingin mengacaukan acara yang telah disusun hanya karena ketidaksukaannya.


Host mulai memasukkan tangannya di sebuah kotak kaca yang berisi ratusan kupon. Ia mengambil satu kupon secara acak lalu membacanya.


Semua pria yang hadir tampak bergegas mencocokkan nomor itu dengan nomor yang mereka pegang. Namun, harus menelan ludah karena nomor mereka tidak cocok.


"Yah... sayang sekali nomorku melesat, 26 sementara yang disebutkan 27!" sesal Naufal memegang kupon undiannya.


Aldrin justru tak acuh. Ia terus meneguk minuman dengan sebelah tangan yang tetap memegang erat tangan kekasihnya. Sesekali tampak mengobrol ringan dengan Amaira.


"Halo ... siapakah pemilik nomor 27! Ayo segera ke sini." Host memanggil kembali saat si pemilik kupon tak kunjung datang.


Seorang panitia mendekati host, lalu berkata, "Eh, tuh cowok yang lagi megang gelas itu, dia pemilik nomor 27. Aku ingat karena tadi kita sempat ngobrol pas dia ambil kupon."


Host melihat ke arah Aldrin sesuai yang ditunjuk panitia tersebut. Ia pun bergerak menuju Aldrin yang tampak santai.


"Hai, Anak Muda yang tampan! Ada panitia yang berbisik, kalau kamu sang pemilik nomor undian 27. Apa kamu enggak dengar nomor undianmu disebuy?" tanya Host mengonfirmasi sambil tetap memegang mikrofon sehingga terdengar oleh semua orang.


"Aku?" tanya Aldrin kembali sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, mana kuponmu?"


Aldrin tertawa kecil sambil mengambil kuponnya di saku jasnya, "Dia pasti salah orang, nomor kuponku ...." Aldrin membelalakkan matanya saat melihat nomor yang tertulis dalam kuponnya adalah 27 seperti yang dikatakan host.


Host melihat nomor kupon yang dipegang Aldrin. "Wow! Benar! Dia adalah fans beruntung yang mempunyai nomor kupon 27!" seru host seraya mengangkat tangan Aldrin yang memegang kupon.


Host langsung menariknya ke lantai dansa sehingga membuat tangannya terlepas dari tangan Amaira.


"Ternyata cowok ganteng ini yang beruntung berdansa dengan artis kita!" ucap host sekali lagi dengan suara gemuruh.


Semua terkejut. Baik Maria, Naufal dan juga Amaira. Namun, masih ada seseorang yang paling terkejut di antara semua yang hadir. siapa lagi kalau bukan Zaki!


Zaki dan Aldrin saling mengunci pandangan. Tatapan keduanya yang begitu tajam dan dingin seolah sedang saling melempar peluru.


"Zaki sebaiknya segera naik ke panggung piano. Dansa akan segera dimulai," ucap host mengingatkan.


Masih dengan mata yang saling melempar tatapan tajam, Aldrin tersenyum miring ke arah Zaki yang tampak berang sambil mengulurkan tangannya ke arah Maria. Tersenyum, Maria dengan senang hati menyambut uluran tangan Aldrin. Mereka pun berjalan di tengah lantai dansa bak seorang putri dan pangeran masa kini.


.


.


.


bersambung


jejak kaki :


fans service adalah aksi spesial atau pelayanan yang diberikan selebritis/idol ke penggemarnya