
Pelajaran terakhir hari ini telah dimulai. Beberapa siswa terlihat mulai mengantuk. Naufal duduk di bangkunya sambil menatap jendela kelas. Ia termenung. Ingatannya melayang pada murid baru yang baru saja ia temui jam istirahat. Wajah gadis itu masih membekas kuat di ingatannya.
"Ke mana Aldrin dan Amaira?" tanya guru pada siswa sekelas.
Suara guru membangunkan lamunan Naufal. Ia menengok ke belakang dan melihat dua bangku yang saling berdampingan itu kosong tak berpenghuni.
'Kemana Amaira? Apa dia masih di perpustakaan?' tanyanya dalam hati.
Siang itu, Naufal tak bisa konsentrasi belajar. Pikirannya melayang tak menentu. Bayangan wajah Amaira seolah-olah berseliweran di pikirannya. Pertemuan mereka di taman tadi terus terlintas di memorinya.
Sore pun datang. Burung-burung terbang pulang ke kandangnya. Naufal telah tiba di rumahnya. Ia langsung masuk ke kamarnya dan melempar tas ke atas tempat tidurnya.
Naufal mengambil handuk dan segera ke kamar mandi. Dinginnya air mengguyur seluruh tubuhnya. Seolah melunturkan seluruh rasa lelahnya setelah seharian beraktivitas di sekolahnya. Selesai mandi, tubuhnya kembali segar dan nyaman.
Naufal beranjak ke kolam renang yang berada di halaman rumahnya. Ia meneguk segelas jus lemon yang dihidangkan pelayan rumah. Ia membuka kembali buku pelajarannya. Namun, lagi-lagi ia tak bisa konsentrasi.
Kenapa setiap lembaran buku ini ada wajahnya?
Naufal mulai menyadari gadis itu telah mencuri perhatiannya sejak awal kemunculannya. Namun, ia tak menyangka akan semakin larut dalam bayang wajah gadis itu. Apa mungkin gadis itu telah membuatnya jatuh hati?
Naufal hanya terus membuka buku itu. Lembaran demi lembaran dibukanya tapi tak ada kalimat sedikit pun yang terbaca olehnya. Lelaki berkacamata itu malah melamunkan murid baru di kelasnya hingga tak terasa malam pun telah datang.
Suasana yang terasa sunyi sedari tadi, membuat Naufal merasa bosan. Samar-samar ia mendengar suara keributan di ruang keluarga. Ia pun beranjak menuju sumber suara. Ia melihat Aldrin sedang bergandeng mesra dengan seorang gadis cantik nan seksi. Ia juga melihat ada Zaki di sana. Mereka saling beradu mulut.
"Gila, ya, kamu! Datang-datang bawa perempuan masuk ke rumah terus menginap di kamarmu?!" geram Zaki dengan nada tinggi. Ia tak habis pikir dengan kelakuan adik tirinya yang membawa masuk wanita asing ke rumah mereka.
"Itu urusanku! Aku hanya menghemat uang ayahmu biar enggak menyewa hotel," balas Aldrin santai. Gadis seksi di sampingnya hanya tertawa santai sambil memeluk pinggang Aldrin.
"Dasar tidak tahu malu! Datang ke rumah ini hanya sebagai parasit!" hina Zaki dengan suara menggebu-gebu.
Ucapan Zaki seolah menusuk jantung Aldrin dan tentunya memancing amarahnya. Namun, ia tetap berusaha mengendalikan emosinya.
Dengan santai dia berjalan mendekat ke arah seraya berbisik, "Jangankan gadis ini, pacarmu pun bisa kuajak masuk naik ke tempat tidurku kalau aku mau." Aldrin menyipitkan matanya. Salah satu ujung bibirnya dinaikkan ke atas, memberikan senyuman yang mengejek.
Zaki mengepalkan kedua tangannya. Mendengar ucapan Aldrin yang membawa-bawa pacarnya seakan menerima sebuah benda berat jatuh ke dadanya. Rasanya ingin meninju adik tirinya itu, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. Walaupun rahangnya telah mengeras karena emosi yang tertahan.
Naufal masih berdiri diam di kejauhan sambil melihat dua saudaranya saling beradu mulut. Jujur, ia tak bisa membela salah satunya. Akan tetapi, tak bisa ia pungkiri, Aldrin sudah sangat kelewatan. Tadinya ia berpikir Aldrin yang sekarang masih seperti sembilan tahun yang lalu. Nyatanya, telah banyak perubahan yang ada dalam dirinya.
Saat Aldrin masih di Amerika, ia sering mendengar kabar bahwa ayahnya mendapat laporan dari sekolah asrama tempat Aldrin tinggal di sana. Anak itu suka mabuk-mabukan, bermain wanita, tawuran dengan teman sekolahnya dan bahkan pernah mencicipi narkoba. Awalnya dia berpikir itu semua tidak benar. Namun sekarang, ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Aldrin gemar pulang subuh. Aroma kamarnya penuh asap rokok, dia juga pernah berkelahi dengan Bryan yang merupakan siswa paling ditakuti, dan sekarang ia membawa gadis seksi masuk ke rumah mereka, bahkan tidur di kamarnya.
Hal itu tak pernah dilakukan Zaki. Meskipun telah pacaran selama hampir dua tahun, ia belum pernah membawa Maria ke rumah ini. Bahkan, belum pernah memperkenalkan langsung ke Ayah dan Ibu mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam sudah semakin larut, suara desahan wanita dari kamar Aldrin membuat Naufal sulit tidur. Ia mengambil headseat-nya lalu memasang ke telinganya, dan menyambungkannya ke ponsel miliknya. Memutar suara musik dengan volume keras agar suara-suara menjijikkan itu tidak terdengar olehnya. Berharap matahari akan segera menyongsong, agar ia bisa bertemu dengan gadis itu. Gadis yang terus terbayang-bayang di otaknya.
Akhirnya, Pagi pun menyambut. Naufal masuk di kelas dengan semangat. Ia melihat ke arah tempat duduk Amaira. Bangku itu masih kosong. Sepertinya gadis itu belum datang. Naufal berjalan menuju tempat duduknya. Ia meletakkan tas di atas meja dan langsung memosisikan duduk di bangkunya. Sesekali matanya menatap ke pintu kelas, berharap orang yang masuk di kelas adalah Amaira. Namun, hingga bel pelajaran pertama dimulai, gadis itu tak kunjung hadir.
"Tadi aku dengar orangtua si murid aneh itu menelepon. Katanya sih dia tidak masuk sekolah hari ini karena sakit," ucap ketua kelas pada teman-temannya saat mereka mempertanyakan kehadiran murid bermasker.
Naufal tersentak mendengar ucapan ketua kelas itu.
Dia sakit? Apa mungkin alerginya kambuh karena kemarin dia membuka maskernya?
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu, dan langsung berlari ke perpustakaan.
Naufal membuka pintu perpustakaan dengan kasar lalu bergegas mencari buku tamu yang terletak di meja utama. Ia melihat laporan pengunjung kemarin dan mendapati nama Amaira di sana. Ada nomor ponselnya tertulis di situ. Dengan segera, ia mengambil bolpoin dan secarik kertas, menyalin nomor ponsel yang ada di buku tamu itu.
Malam telah menyongsong, hanya ada beberapa bintang di atas langit. Naufal mengambil secarik kertas dari tasnya. Ia menyalin nomor yang ada di kertas itu ke kontak ponselnya. Ketika hendak melakukan sebuah panggilan, ia terlihat ragu-ragu.
"Apa yang akan aku bilang? Bagaimana kalau dia bertanya dari mana aku mendapatkan nomor hpnya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ah, tidak perlu sebut namaku! Hanya menanyakan kabarnya, begitu dia menjawab aku akan langsung menutup teleponnya," ucapnya lagi sambil tertawa kecil.
Tiba-tiba ia berpikir kembali, "Tapi ... bagaimana kalau dia mencari tahu nomorku? Aku akan ketahuan menghubunginya. Aduh ... bagaimana ini?"
Naufal menggaruk-garuk kepalanya. Ini pertama kalinya ia menghubungi lawan jenis. Teman-teman cewek selalu menghubunginya duluan, sekedar untuk menanyakan tugas dan meminta bantuan. Namun saat ini, ia menghubungi seorang perempuan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Tentu harus berpikir apa yang akan dia katakan nanti.
Tiba-tiba otaknya bekerja. Ia tersenyum lebar sembari mengacungkan telunjuknya di depan wajah. Dengan segera berlari keluar dari kamarnya menuju kamar Aldrin. Ia membuka pintu dan mendapati kamar itu kosong.
"Aldrin ke mana, ya? Padahal aku mau pinjam hp-nya."
Naufal menengok ke kiri dan kanan ruangan. Matanya menangkap benda yang ia cari. Ponsel Aldrin tergeletak di nakas samping tempat tidurnya. Ia pun bergegas mengambil ponsel itu.
"Aku pinjam pulsamu dulu, ya? Aku mau menelepon seseorang tapi aku takut ketahuan kalau pakai nomorku sendiri," ucap Naufal berbicara di depan ponsel Aldrin yang diraihnya.
Naufal mulai menekan angka-angka yang disalinnya dari secarik kertas. Setelah menyalin nomor telepon tersebut, dengan ragu-ragu ia membuat sebuah panggilan yang berasal dari ponsel Aldrin. Panggilan tersebut mulai terhubung. Lelaki itu pun mulai gugup. Ia menarik napasnya dalam-dalam.
"Halo."
Suara lembut nan indah datang dari balik saluran telepon. Mata Naufal terbuka lebar. Napasnya tertahan. Jantungnya kembali berdegup kencang lagi.
DEG
DEG
DEG
Naufal seakan dapat mendengar bunyi jantungnya sendiri.
"Halo."
Suara indah itu kembali menyapa. Naufal hendak mengeluarkan suara, tapi bibirnya seakan terkunci rapat. Tubuhnya tiba-tiba menggigil dan dia berlari kembali ke kamarnya, meninggalkan panggilan telepon itu begitu saja.
Naufal membantingkan tubuhnya di atas ranjang empuk dan menyelimuti seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajahnya memerah karena malu. Perasaannya tampak senang. Hanya mendengar suara itu tubuhnya terasa melayang. Ia menutup matanya dan tersenyum lebar, tangannya memegang kembali jantungnya yang masih berdebar tak menentu.
Aldrin kembali ke kamarnya sambil membawa sekalenh soda dingin yang diambilnya dari dapur. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan hanya bisa mengernyitkan mata ketika sebuah nomor yang tak dikenalinya sedang melakukan panggilan.
Tanpa ragu, Aldrin menerima telepon masuk.
"Halo."
Terdengar suara lembut seorang gadis yang tak pernah ia dengar sebelumnya.