
"Ada perlu apa?" tanyanya begitu dingin.
Maria tidak menjawab pertanyaan Zaki, ia malah menatap tajam pria itu. Zaki memerhatikan raut wajah Maria yang begitu serius.
"Oh, aku mengerti. Pasti kau ingin membahas soal kontrak, 'kan? Tenang saja, aku telah menyuruh bawahanku untuk men-transfer uang di rekeningmu. Satu miliar kurasa cukup untukmu," ucap Zaki sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Maria.
Zaki tertegun seketika, matanya kembali menatap Maria yang masih berdiri.
"Aku datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih atas semua yang pernah kau berikan padaku. Baik itu berupa bantuan, perlindungan, dan juga cinta. Tanpamu, aku tidak akan seperti saat ini," ucap Maria masih dengan memasang wajah serius.
"Lalu?"
Maria menarik napasnya, ia menelan saliva pahitnya sebelum kembali berkata, "Aku tidak akan meminta apa-apa darimu. Tidak juga kerugian berupa materi. Aku sadar ini semua salahku dan kau bertindak seperti ini karena diriku sendiri. Maafkan aku."
Pria itu hanya bergeming. Ia tak menyangka Maria datang ke tempatnya untuk mengatakan itu. Tadinya ia mengira bahwa dengan memutuskan kontrak kerja dan menarik semua sponsor, mantan kekasihnya itu akan memohon padanya atau paling tidak merasa menyesal karena telah memutuskan hubungan mereka. Namun, Maria hanya datang ke sini untuk meminta maaf. Apakah ini sebuah lelucon?
"Jaga dirimu, aku pergi dulu." Maria membalikkan badannya.
"Apa sudah tidak ada aku di hatimu sama sekali?"
Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Zaki menghentikan langkah kaki Maria. Zaki bangkit dari duduknya, dengan cepat melangkah ke arah Maria. Ia menarik lengan wanita ini agar berbalik ke hadapannya. Keduanya saling bertukar pandang.
"Apa secepat itu cintamu menghilang? Apa benar sudah tidak ada sedikit pun cinta untukku?" tanya Zaki dengan wajah memelas.
Pria itu masih tak habis pikir dengan perubahan Maria yang begitu mendadak. Sementara Maria hanya terdiam dan menolak untuk menatap Zaki. Tiba-tiba pintu terbuka, rupanya Aldrin datang membawa berkas. Ia melihat Zaki dan juga Maria yang tengah berhadapan saling menampakkan wajah serius.
"Maaf mengganggu kalian," ucap Aldrin yang langsung keluar.
"Zaki, kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku yang bisa mencintai dirimu sepenuhnya dan tidak akan membagi cintanya ke orang lain," ucap Maria sesaat setelah Aldrin pergi.
"Apa maksudmu? Apa mungkin kau mencintai orang lain?" tanya Zaki. Pria itu tidaklah bodoh. Ia selalu memahami kalimat yang keluar dari mulut seseorang.
Maria kembali tak bersuara. Ia memalingkan wajahnya lagi hingga membuat Zaki melepas pegangan tangannya. Ia Menarik napas dan mengusap dahinya hingga ke atas rambut. Mungkin telah frustrasi.
"Pergi!"
Satu kata keluar dari mulut Zaki. Sebuah perintah yang mengandung makna mengusir. Maria lalu melangkah berjalan ke arah pintu. Meninggalkan Zaki tak mengeluarkan sepatah kata. Zaki menatap pintu yang telah tertutup. Lalu ia kembali ke tempat duduknya. Raut wajahnya memerah menahan amarah. Kedua tangannya membentuk kepalan tinju.
Maria berjalan melewati ruang kerja staff. Dari jauh ia melihat Aldrin duduk bersantai sambil berbincang dengan para karyawan. Cowok tampan itu tampak tertawa sesekali mengusili beberapa karyawan yang sibuk bekerja di depan komputer.
Maria tersenyum melihat tingkah Aldrin yang begitu kekanak-kanakan. Ia memang mengagumi sang pemain biola itu. Namun, ia cukup sadar jika mereka berdua berada di zona yang berbeda. Perasaan yang ia miliki untuk Aldrin tak mungkin akan terbalas karena lelaki itu adalah adik dari mantan kekasihnya dan juga tentu saja karena Aldrin telah memiliki kekasih.
***
Sore itu, matahari telah menyingsing ke ufuk barat. Sangat mendukung untuk dijadikan waktu bersantai atau jalan-jalan sekedar menghilangkan penat. Naufal dan Amaira berjalan masuk ke toko buku secara berdampingan. Naufal bertanya pada Amaira apa yang akan ia beli. Amaira menjawab ia ingin membaca novel untuk mengisi hari liburannya. Mereka pun menyelusuri tumpukan novel-novel best seller. Naufal dan Amaira mulai membaca satu per satu sinopsis yang ada di belakang sampul novel.
"Sepertinya ini cocok untukmu," ucap Naufal seraya menyodorkan sebuah novel yang berjudul 'Don't Say Goodbye'.
Amaira mengambil buku itu dari tangan Naufal. Ia memperhatikan sampul novel yang bergambar seorang pria memegang biola.
"Dari sinopsisnya, bercerita tentang kisah cinta pemain biola dan seorang gadis lugu. Sama seperti kau dan Aldrin," papar Naufal.
Amaira tersenyum sambil membaca sinopsis buku itu. "Iya, aku mau yang ini."
Amaira membawa novel itu sambil melihat buku-buku lainnya. Naufal mengambil sebuah buku tentang ilmu kedokteran dasar. Cowok berkacamata itu memang sangat tergila-gila dengan dunia medis. Bacaannya penuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Tentu saja karena ia bercita-cita ingin menjadi dokter.
Mereka sampai di depan kasir. Ketika Amaira mengambil dompetnya bersiap untuk membayar buku, Naufal langsung menahan tangannya.
"Biar aku yang bayar," kata Naufal yang langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
"Mba, hitung semua total buku ini tapi tolong di pisahkan buku ini dan ini ya," ucapnya seraya menjelaskan pada kasir yang memakai topi.
Namun, tiba-tiba Naufal terkejut seketika saat ia melihat wajah kasir itu.
"Er ...." tegur Naufal.
Er dan Naufal sama-sama saling berpandangan. Naufal tak menyangka jika kasir toko buku itu adalah Er. Sedang Er juga tak kalah terkejut saat mengetahui pembeli buku yang harus ia layani adalah cowok berkacamata yang sangat ia sukai. Ia lebih terkejut saat melihat gadis yang berada di samping Naufal. Ya, ia tahu jika gadis itu yang dicintai Naufal.
Melihat Naufal di hadapannya bersama gadis cantik, membuat Er tersenyum, atau lebih tepatnya memaksakan bibirnya tersenyum.
"Aku hitung dulu ya?" ucap Er sambil mulai menghitung total buku belanjaan Naufal dan juga Amaira.
"Kau bekerja di sini?" tanya Naufal ragu-ragu.
"Iya hanya untuk mengisi liburan," jawab Er sambil menekan tombol-tombol angka di mesin penghitung.
"Oh." Naufal memerhatikan gerakan tangan Er.
"Totalnya 557.000 rupiah."
Naufal mengeluarkan uang bergambar soekarno hatta sebanyak enam lembar dari dompetnya lalu menyerahkan pada Er.
"Kembaliannya Rp. 43.000 lagi ya," ucap Er sambil menyerahkan uang kembalian.
Naufal mengambil uang kembalian dari tangan Er. Lalu mengucapkan terima kasih sebelum ia dan Amaira pergi meninggalkan toko itu. Er melihat keduanya berjalan menuju mobil lewat jendela toko. Melihat Naufal membukakan pintu untuk Amaira, membuat hati Er sedih seketika.
Di perjalanan pulang setelah mengantar Amaira ke rumahnya. Naufal menerima sebuah pesan text di ponselnya. Ia membuka pesan. Ternyata pengirim pesan itu adalah Er.
[Selamat ya, kau dan dia akhirnya bersama.] Isi pesan Er pada Naufal.
Naufal tertegun sesaat, lalu menekan tombol balas dan mulai mengetik huruf demi huruf untuk membalas pesan Er.
Sementara Er yang masih di dalam toko, harap-harap cemas menunggu balasan Naufal. Sejujurnya, ia hanya basa-basi mengirim pesan itu pada Naufal. Ia hanya ingin tahu apakah cowok itu telah resmi menjalin hubungan dengan gadis pujaannya.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Pesan masuk terlihat di layar ponselnya. Dengan segera ia membuka isi balasan pesan dari Naufal.
[Terima kasih atas ucapannya. Kuharap kau juga segera menemukan pacar baru.]
Balasan pesan Naufal membuat Er sedih seketika. Di pikirannya saat ini menyangka Naufal benar-benar telah berpacaran dengan gadis itu. Ia menggigit bibirnya berusaha menenangkan dirinya. Hatinya serasa runtuh begitu membaca pesan Naufal.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like dan komennya