Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 134 : Calon Pengantin Pria



Waktu terus bergulir, hari demi hari terlewati, bulan demi bulan telah dijumpai hingga kalender pun telah terganti. Tak terasa, satu tahun telah terlewati.


Seorang pemuda tampan sedang mengadakan konser kecil untuk penampilan solonya sebagai pemain biola. Ia telah menerima pelatihan biola bersama salah satu violinis ternama di Eropa selama enam bulan.


Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, ia telah menjadi satu-satunya pemain biola yang terpilih mewakili Indonesia untuk bermain bersama Palestine Nasional Orchestra. Dia baru saja tampil bersama dengan Pianis terkenal Asia asal Korea Selatan yang merupakan idolanya, Yiruma. Selain itu, ia juga bermain dalam Orchestra pop bersama Erwin Gutawa, Dian Hp, dan Andi Rianto. Dia adalah violinis muda berbakat yang bernama panggung 'Aldrin Jefri'.


Aldrin mengakhiri pertunjukan biolanya yang disambut gemuruh tepuk tangan dari penonton. Ia menundukkan badannya sebagai tanda berakhirnya pertunjukan, lalu melangkah turun dari atas panggung. Ia berjalan menuju belakang panggung, menghampiri Amaira yang setia menunggunya. Perempuan itu selalu menemaninya di setiap konser dan pertunjukkan biolanya. Kehadiran Amaira menjadi penyemangat Aldrin dalam bermusik.


Tidak terasa hubungan mereka telah berjalan selama hampir dua tahun. Akhirnya, ayah Amaira dapat menerima dan merestui hubungan mereka untuk lanjut ke jenjang yang serius, yaitu pernikahan.


"Ayo, kita pulang!" Ucap Aldrin sambil tersenyum.


Amaira memberikan sebotol air mineral dan sapu tangan untuknya. Aldrin meneguk minuman seraya mengelap beberapa peluh yang menghiasi wajahnya. Beberapa panitia acara menyapa mereka dan memberi selamat karena kesuksesan konser tunggal yang baru saja ia adakan.


"Tadi wedding organizer hubungi aku. Mereka bilang akan mengirim foto-foto contoh konsep pernikahan outdoor," kata Amaira.


"Aku serahkan semuanya sama kamu, jangan lupa undang teman-teman alumni sekolah kita," balas Aldrin sambil tersenyum.


"Pastilah! Aku sudah sebarkan undangan ke mereka. Yang lainnya enggak bisa datang karena mereka sudah ke luar negeri untuk mendaftar kuliah."


"Naufal juga akan kuliah di Singapura."


"Oh, ya? Dia ambil jurusan kedokteran, ya?"


Aldrin mengangguk. "Ya, dia akan berangkat bareng aku setelah kita menikah."


Setelah berpamitan dengan para kru acara, Aldrin memutuskan pergi bersama Amaira menaiki motor sport-nya. Mereka menuju ke tempat lokasi kumuh yang sekarang telah berubah menjadi sebuah yayasan untuk mengumpul anak-anak jalanan.


Begitu sampai, keduanya langsung disambut hangat oleh anak-anak yayasan. Amaira memeluk salah satu bocah yang paling kecil di antara yang lainnya.


Jefry menghampiri mereka. "Bagaimana pertunjukan kamu hari ini?"


"Sukses!" ujar Aldrin dengan senyum lebar.


"Jangan lupa, kamu harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang bergengsi di Singapura Minggu ini. Ayah dengar, Zaki juga akan mengikuti kompetisi itu sebagai perwakilan pianis muda asal Indonesia," ucap Jefri.


Mendengar nama Zaki, Aldrin terdiam sejenak. Hampir setahun, Aldrin tak pernah bertemu dengan Zaki lagi sejak ia memutuskan keluar dari rumah itu. Artinya, pertemuan mereka di kantor saat itu adalah yang terakhir kalinya.


"Baguslah! Berarti aku bakal ketemu dia lagi."


"Apa kamu enggak ngundang kak Zaki di pernikahan kita?" tanya Amaira.


"Aku hanya mengundang Maria. Mungkin Maria bakal ngajakin dia," jawab Aldrin.


"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Jefri seketika.


"Ibu ... dia masih di New York. Katanya besok baru pulang. Tidak menghadiri acaraku juga tidak masalah," ujar Aldrin malas-malasan.


"Jangan begitu dia tetap ibumu," imbuh Jefri.


"Aku tidak mau dia membawa pacar barunya di pernikahanku!" ucapnya kesal dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Jefri terdiam. Ya, akhir-akhir ini Ardhilla kembali menjadi perbincangan publik karena kedekatannya dengan seorang pengusaha keturunan Tiongkok. Sejak malam terakhir perjumpaannya dengan Ardhilla. Hubungan mereka benar-benar hanya sebatas rekan kerja. Meskipun Ardhilla banyak kali berusaha mengambil hatinya, tapi sebisa mungkin ia menjauh agar bisa menepati janjinya pada Aldrin dan juga menjaga hatinya sendiri. Meskipun pada akhirnya Ardhilla kembali ke pelukan orang lain lagi, dan ia harus merelakan wanita itu pergi dari kehidupannya untuk kedua kalinya.


Sementara hubungan Aldrin dan Ibunya masih tetap seperti dulu. Jarang berjumpa, apalagi komunikasi. Banyak kali Ardhilla memintanya untuk syuting bersama di acara talk show karena Aldrin saat ini sedang digandrungi netizen Indonesia. Namun, sayangnya Aldrin menolak mentah ajakan ibunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldrin dan Amaira menuju pekarangan yayasan ini. Mereka duduk bersama di ayunan besi sambil menikmati udara malam dengan langit pekat yang bertabur bintang.


Aldrin menoleh ke arah Amaira sambil berkata, "Enggak terasa tiga hari lagi kita akan menikah."


Amaira melempar senyumnya. "Bukannya pernikahan dipercepat karena kamu mau kita menikah sebelum kamu mengikuti kompetisi musik Asia?"


Aldrin mengambil tangan Amaira lalu menggenggam tangan putih mulus itu dengan lembut.


"Kemenanganku akan menjadi hadiah pernikahan kita."


Aldrin menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman hangat. "Percaya saja padaku! Aku akan memenangkan kategori sebagai pemusik muda terbaik di Asia tenggara."


Amaira mengangguk tipis sambil tersenyum. Aldrin meraih kepala gadis itu lalu mencium keningnya dengan lembut.


Keesokan harinya, Naufal mengendarai mobilnya. Ia baru saja dari sekolahnya untuk mengurus ijazahnya. Lelaki berkacamata itu lulus dengan nilai tertinggi se-Indonesia. Ia langsung mendapatkan beasiswa di Oxford University tapi terpaksa harus menolaknya karena tak ingin terlalu jauh dari ayah dan kakaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran di University of Singapure.


Tanda lampu merah pada rambu-rambu membuat Naufal harus menghentikan sejenak kendaraannya. Di tengah kebosanannya menunggu rambu berjalan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan menatap nama Aldrin di panggilan teleponnya saat ini.


"Halo."


"Kamu enggak ke sini?"


"Aku masih di jalan menuju ke sana. Tunggu aja!"


"Ya sudah kalau begitu. Aku tunggu, ya!"


Naufal kembali mengendarai mobilnya saat lampu telah berwarna hijau. Sementara Aldrin dan Amaira tengah berada di tempat Desainer baju pengantin.


"Calon pengantin perempuan, silakan ke sini! Kita coba bajunya dulu," ucap seorang wanita menuntun Amaira untuk masuk ke fitting room.


Amaira masuk untuk mencoba baju pengantinnya. Sementara Aldrin menunggu di luar tepat di depan ruang fitting room. Tak lama kemudian Naufal datang menghampiri Aldrin.


"Mana Amaira?" tanya Naufal yang melihat Aldrin hanya berdiri sendiri.


"Tuh ... ada di dalam! Lagi sementara coba gaunnya," tunjuk Aldrin.


"Setelah ini kalian akan ketemu ayah, 'kan?" tanya Naufal kembali.


"Iya. Makanya aku minta kamu buat temani aku sama Amaira. Aku sudah lama enggak ketemu Ayah. Jadi gugup, deh!" Aldrin menggaruk-garuk kepalanya.


"Ayah kaget loh pas tahu kamu majuin pesta pernikahan."


"Oh, ya? Terus, ayah bilang apa?"


"Hhmmm ... sebenarnya ayah juga menyayangkan kamu pilih menikah saat karirmu lagi naik daun. Lagian kenapa kamu kaya buru-buru gitu mengadakan pesta pernikahan? Kenapa enggak setelah selesai mengikuti kompetisi di Singapura?"


Aldrin mengerutkan bibirnya, matanya berputar ke atas. Dengan semnyim malu-malu, ia berbisik pada Naufal, "Karena aku sudah enggak sabar!"


Naufal menatap wajah Aldrin yang terpancar rona kebahagiaan. Ponsel Aldrin berdering seketika. Ia mengambil ponselnya dari saku celana.


"Kamu tunggu sini, ya. Aku mau angkat telepon dulu!" pinta Aldrin.


Aldrin meninggalkan Naufal untuk menerima panggilan telepon. Naufal masih berdiri di depan ruang ganti. Matanya tampak berkeliaran ke sana kemari sambil melihat baju-baju pengantin yang terpanjang di setiap ruangan.


Pintu di ruang ganti telah terbuka. Naufal yang sedang melirik sana-sini tiba-tiba melebarkan mata saat pandangannya tertuju pada ruangan yang baru saja terbuka. Cowok berkacamata itu terpana seketika saat melihat Amaira begitu cantik nan anggun memakai gaun pengantin, lengkap dengan hiasan kepala dan juga buket bunga pengantin yang dipegangnya.


Matanya masih tak berkedip melihat sosok gadis yang pernah ia cintai itu tengah berada di hadapannya dalam balutan gaun putih nan indah. Seketika, jantungnya kembali berdetak kencang tanpa sebab.


Amaira pun tak kalah terkejut saat laki-laki yang ada di hadapannya bukanlah Aldrin, melainkan Naufal. Ia sedikit malu melihat Naufal yang berdiri terpaku dengan mata tak berkedip, wajah kaku dan tubuh tak bergerak.


Seketika Naufal tersadar dari rasa terpanah akan pesonanya Amaira. Tidak! Ia tidak boleh memiliki perasaan itu lagi.


Seorang asisten dari desainer itu mendekati Naufal dan berkata, "Calon pengantin pria, ayo ikut aku! Giliran Anda untuk mencoba jas pengantin."


Naufal menoleh ke arah asisten itu dengan wajah terkejut.


.


.


.


.