Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 93 : Tulisan Tentang Ayah




Di sekolah, Aldrin berjalan menuju ruang perpustakaan. Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang, rupanya Maria tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Hei, gimana kabarmu?" tanya Aldrin.


"Aku baik-baik saja, tapi belakangan ini aku sibuk banget. Oh iya, aku ada info bagus untuk kamu. Ini kartu nama Adi MS, kamu bisa menghubunginya. Siapa tahu dia akan merekrutmu!" Maria menyerahkan sebuah kartu.


Aldrin mengambil kartu nama tersebut dan membaca sebuah nama yang tertulis.


"Maria, aku enggak bercita-cita menjadi violinis lagi," ujar Aldrin pelan.


Senyum Maria berubah seketika. "Kenapa? Bukannya ini kesempatan bagus? Kamu masih menjadi perbincangan kalangan netizen saat ini."


Aldrin menghela napas dan mendongakkan wajahnya ke atas. "Dulu aku memang bercita-cita menjadi Violinis, tapi sekarang itu hanya sekedar hobiku. Aku akan masuk ke perusahaan ayahku dan mengikuti jejak Zaki."


"Tapi, Zaki juga tetap menjalani profesinya sebagai pianis dan itu enggak masalah," ucap Maria kembali memotivasinya.


"Aku berbeda dengannya. Aku memutuskan untuk tidak masuk ke dunia hiburan seperti yang dijalani ibuku. Aku ingin jadi musisi, tapi aku telah memikirkan masa depanku. Dan sepertinya, masuk ke perusahaan ayah menjadi pilihanku." Aldrin menatap lembut Maria yang terdiam mendengar ucapannya, lalu melanjutkan kembali ucapannya, "Maria, kamu cewek pertama yang tak henti-hentinya memberiku memotivasi. Kalau aku tidak bertemu dengan Amaira, mungkin aku bakal jatuh hati sama kamu."


Maria menatap dalam mata Aldrin. Mendengar cowok itu mengatakan mungkin saja akan menyukainya, entah mengapa hatinya seperti berharap lebih. Perasaan apa ini? Tidak mungkin jika ia sekarang telah menyukai lelaki itu. Tidak! Ia hanya sekedar senang mendengar ucapan Aldrin. Bukankah memang wanita menyukai kalimat-kalimat sanjungan?


Maria kembali ke lokasi syutingnya. Ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya. Kata-kata Aldrin kembali menggaung di telinganya. Ia menjadi bingung dengan perasaannya sendiri. Sejak acara dansa, sering terbayang wajah Aldrin di benaknya. Bahkan ia sering menatap Aldrin dari kejauhan jika Aldrin melewati lokasi syuting.


Perlahan, Maria sadar jika perasaan ini tidak boleh terus muncul. Ia menyadari jika hubungannya dengan Zaki mulai merenggang sejak kesibukan menguasai keduanya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Zaki. Sayangnya, nomor tersebut tidak aktif.


Sementara itu, Aldrin memasuki perpustakaan dan melihat Amaira sedang duduk di tempat biasa.


"Kamu dari mana saja?" tanya Amaira lembut.


"Aku dipanggil guru bahasa indonesia dan dapat tugas tambahan."


"Tugas apa?"


"Disuruh membuat paragraf deskripsi tentang Ayah."


Aldrin hanya diam tanpa membalas ucapan Amaira. Bagi murid cerdas seperti Amaira, mungkin tugas itu bisa ia selesaikan dalam waktu lima menit. Namun, bagaimana dengan Aldrin? Tugas itu mengharuskan ia membuka lukanya saat ini.



Melihat Aldrin yang hanya terdiam, Amaira kembali berkata, "Kamu bisa mendengar lagu-lagu yang menceritakan tentang ayah untuk jadikan sumber inspirasi menulis. Semangat!"


Selang beberapa menit kemudian, Amaira keluar dari ruang perpustakaan karena mendengar suara panggilan guru dari pengeras suara. Kini, perpustakaan menjadi sepi dan hanya ada Aldrin di sana.


Aldrin mengambil kertas dan bolpoin. Ia mulai merangkai kata demi kata untuk tugasnya. Namun, baru menulis tiga kata, ia kembali mencoretnya dan menggumpalkan kertas itu lalu membuangnya. Ia mengambil kertas baru dan mulai menulis kembali, tetapi lagi-lagi otaknya buntu dan tidak tahu harus berkata apa.


Satu jam berlalu, Amaira kembali ke perpustakaan dan melihat Aldrin tertidur di tempat duduknya dengan kepala direbahkan di atas meja. Di sekitar lantai terlihat gumpalan kertas yang berserakan. Amaira mengumpulkan kertas-kertas itu dan membuka salah satunya. Di dalam kertas itu tertulis sebuah kalimat yang membuat hati Amaira terenyuh.


 


Dalam hidupku, aku mempunyai tiga ayah. Yang pertama Ayah yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Seorang pria sederhana yang selalu mengajarkanku banyak hal. Aku sangat menyayanginya. Karena itu, aku menutup diriku untuk menerima segala kebaikan ayah tiriku. Saat itu aku berpikir, ayahku hanya satu dan tak akan tergantikan selamanya. Namun, Siapa yang tahu? Ternyata hidup begitu sulit ditebak. Ayahku yang sudah kuanggap ayah sendiri itu tak ada hubungan darah apa pun denganku.


Lalu, aku mulai membuka hati untuk ayah tiriku. Dia sungguh pria yang bijaksana dan selalu bersikap adil. Aku tahu selama ini ia berusaha keras untuk memperlakukan aku layaknya anak sendiri. Aku selalu sengaja berbuat hal-hal yang memancing amarahnya, mengecewakannya dan berbuat semauku. Berharap ia akan menyerah dan mengusirku dari rumah. Namun nyatanya, dia selalu merangkulku. Mengesalkan, bukan?


Kesalahan besar yang kubuat di masa itu adalah aku tidak menyadari setiap kebaikan yang dia beri untukku. Aku hanya berpikir, dia bukan ayahku! Ia tak pantas menjadi ayahku. Aku membencinya! Karena dia, keluargaku hancur dan ibuku meninggalkan ayah yang kuanggap ayah kandungku. Aku terus berpikir negatif tentangnya sebelum aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Bagaimana dengan ayah kandungku sendiri? Tolong, jangan tanya! Aku sendiri tidak tahu. Seperti apa wajahnya? Seperti apa pembawaanya? Aku tak pernah melihatnya. Bahkan, tidak pernah diceritakan sedikit pun yang berhubungan dengannya. Tidak seujung kuku pun dapat kutahu tentangnya. Namun, aku meyakini sifatnya tak jauh berbeda dariku.


Meskipun begitu, pahlawanku yang sesungguhnya adalah ayah yang tadinya kuanggap ayah kandungku. Ia membesarkan dan merawatku seorang diri di tengah keterbatasan hidupnya. Ia mengajarkanku untuk menghargai diri sendiri dan tidak takut pada apapun. Ia jugalah yang membuatku mencintai biola. Walaupun dia tak pernah mengungkapkan cintanya padaku, tapi sampai saat ini aku masih merasa cinta itu tetap ada untukku.


Aku mulai merasa, menjadi ayah mungkin adalah hal yang istimewa. Aku tahu, siapapun bisa menjadi ayah. Namun, tidak semua bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Dan aku ingin belajar menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak.


 


Kata demi kata yang tertuang dalam kertas itu telah selesai dibaca Amaira. Tanpa sadar, gadis itu menitikkan air matanya. Ini bukan kisah romansa yang menyedihkan. Ini hanyalah curahan hati seorang anak yang kehilangan arah dan tujuan hidup karena kekurangan kasih sayang orangtuanya, yang pada akhirnya ia hanya menyakiti dirinya sendiri.


Amaira memandang Aldrin yang tengah duduk terlelap dengan kepala tergeletak di atas meja. Ia mendekati kekasihnya itu, meletakkan kembali di atas meja isi karangan yang telah kusut. Tangannya mulai membelai rambut Aldrin dengan penuh kehangatan.