
Hari ini, menjadi hari bersejarah untuk Aldrin dan juga Amaira. Tepat dua bulan setelah kelulusan mereka, pernikahan pun dilaksanakan. Pagi itu, matahari bersinar dengan sangat hangat, begitu pula dengan dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu.
Seorang ibu tersenyum melihat anak gadisnya sedang duduk di depan cermin dengan makeup soft glamour di wajahnya dan sebuah mahkota indah menghiasi rambutnya.
"Kamu sangat cantik, Amaira," ujar sang ibu penuh haru.
"Benar, Bu. Amaira seperti seorang putri!" seru kakak Amaira yang begitu takjub akan penampilan gadis itu di hari spesialnya.
Amaira tersenyum, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Ya, hari ini dia sangat berbeda. Makeup yang cantik, mahkota yang berkilau, dan gaun pernikahan putih yang indah. Semua begitu sempurna dalam bayangan cermin.
Sementara di rumah calon pengantin pria, seorang ayah tengah menggedor-gedor pintu kamar putranya yang sebentar lagi akan menikah.
Aldrin keluar kamar lengkap dengan jas putih. Ia begitu tampan bak seorang pangeran. Tak lupa pula setangkai mawar di saku jas lelaki itu. Rona bahagia terpancar jelas dari wajahnya.
"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Jefri dengan wajah yang tak biasa.
"Ayah, kenapa gugup seperti ini?" Aldrin balik bertanya saat memerhatikan mimik wajah Jefri yang berbeda dari biasanya.
Raut wajah Jefri begitu tegang. Terlihat titik-titik keringat di dahinya. "Tentu saja karena ini hari pernikahan anakku!"
Aldrin tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi depan yang berbaris rapi. Ia mengambil tangan ayahnya yang begitu dingin. "Ayah, jangan gugup. Yakinlah, acara hari ini akan berjalan mulus."
Jefri mengangguk. "Ayo kita pergi!"
Saat mereka hendak keluar, keduanya terhenti seketika saat melihat Ardhilla datang dengan balutan kebaya putih modern.
"Maaf, aku baru sampai semalam," ucap Ardhilla yang tampak canggung.
"Tidak masalah. Ayo kita berangkat bersama!" seru Jefri sambil menggandeng tangan Aldrin.
Cuaca hari ini begitu cerah, langit biru berhiaskan putihnya awan. Dekorasi pernikahan mereka sangatlah indah. Mereka memilih melangsungkan pernikahan di luar ruangan dengan nuansa warna putih dan hijau yang mendominasi.
Ya, sebentar lagi Aldrin dan Amaira akan berkomitmen untuk menjaga cinta mereka. Kabar pernikahan mereka diekspos media. Selain karena Aldrin adalah anak tunggal dari Artis Ardhilla, juga karena ia akan menikah muda di tengah karirnya sebagai violinis sedang cemerlang. Apalagi ia hanya akan menikahi gadis biasa. Meskipun begitu, Aldrin melarang wartawan datang meliput ke acara sakralnya. Ia ingin pernikahannya hanya dihadiri keluarga dan para sahabat.
Detik-detik pernikahan akan segera dimulai. Aldrin berdiri menunggu kehadiran Amaira. Wajahnya mulai terlihat tegang. Berkali-kali ia menghela napas, berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan. Ia sudah sangat tidak sabar menunggu.
Pengantin wanita pun datang. Amaira berjalan anggun menuju tempat di mana ia dan Aldrin akan mengikat janji suci. Gaun putih panjang melekat indah di tubuhnya dengan buket bunga di tangannya. Jantung Amaira berdetak liar. Ia sangat gugup. Ia berjalan diiringi sebuah alunan biola yang dimainkan Jefri dengan begitu syahdu. Saat ini Jefri memainkan biola secara khusus di pernikahan Aldrin dengan membawakan lagu romantis A Thousand Years.
Sementara itu, Aldrin masih berdiri dengan gagah seolah siap menjemput sang permaisurinya. Matanya tak berhenti menatap pujaan hati yang berjalan ke arahnya.
Ingatannya kembali mengorek masa-masa yang telah ia lewati bersama Amaira. Di awali saat ia berjumpa dengan Amaira di perpustakaan sekolah. Saat itu, secara tak sengaja ia menolong gadis aneh yang hendak dilecehkan seorang guru. Lalu, telepon salah sambung membawa hubungan mereka menjadi semakin dekat. Cinta keduanya semakin bersemi saat cowok tampan itu sering menolongnya dari bully-an angel dan kawan-kawan. Hingga keduanya saling mengungkapkan rasa dan menjalin hubungan. Namun, hubungan mereka terpaksa kandas karena Aldrin harus mengalah pada saudaranya yang juga mencintai Amaira. Dan akhirnya kembali bersatu setelah Naufal berlapang dada.
Senang, sedih, tawa, ceria telah mereka lewati bersama. Hanya ada gadis ini yang selalu menemaninya di masa-masa sulit yang ia hadapi. Gadis yang selalu memberikan cinta dan kepercayaan yang penuh. Gadis yang selalu menjadi pendengar terbaik untuknya. Gadis yang mau menerima segala masa lalunya yang kelam.
Ya, mereka adalah pasangan bumi dan langit. Perbedaan yang begitu besar antara kedua insan itu membuat orang-orang merasa keduanya tidak mungkin bisa bersatu. Sebagaimana bumi yang tak bisa menyentuh langit. Bumi yang terbiasa diinjak, sedang langit di atas sana tak mungkin tergapai. Namun, orang-orang lupa. Meskipun bumi terus berotasi, langit di atas sana selalu ada bersamanya. Langit tak akan pernah meninggalkan bumi. bahkan langit memberikan awannya untuk melindungi bumi dari terik. Juga mengirimkan hujannya sebagai berkah.
Senyum Aldrin mengembang saat Amaira berjalan semakin dekat padanya. Ada sebuah perasaan yang sulit untuk didefinisikan. Rasa gugup, senang, haru dan bahagia berkumpul menjadi satu.
Amaira, sejarah tahu perjalanan cinta kita. Dan hari ini, aku siap untuk mengukir sejarah berikutnya. Bersamamu ...
Kini, pengantin wanita sudah berada tepat di hadapannya. Amaira dan Aldrin saling melemparkan senyum kebahagiaan.
Sepasang calon pengantin telah bersiap untuk mengesahkan hubungan mereka.
Dari baris pertama tempat duduk di sebelah kiri, tampak Tuan Adam, bersama Naufal, Zaki dan juga Maria duduk sejajar sambil mendengarkan janji suci yang diucapkan kedua mempelai.
Sementara di sisi kanan baris pertama tempat duduk, nampak Jefri, Ardhilla dan juga orangtua dan kakak Amaira duduk bersebelahan. Ardhilla menatap lurus ke depan dengan mata tak berkedip. Menyaksikan anak semata wayangnya yang tak pernah akur dengannya sedang melaksanakan serangkaian ritual pernikahan.
Aldrin mulai memasangkan sebuah cincin di jemari manis Amaira. Matanya menatap wajah merona gadis yang telah sah menjadi istrinya. Kini, giliran Amaira yang memasangkan cincin di jari manis Aldrin.
Cincin telah terpasang di jari manis keduanya. Aldrin lalu mengecup bibir Amaira dengan lembut. Semua tamu yang hadir memberi tepuk tangan yang meriah.
Naufal tersenyum hangat sambil menepuk tangan menyaksikan kebahagiaan Amaira dan Aldrin.
Hari ini aku mengetahui satu hal.
Ternyata kebahagiaan itu menular. Hanya dengan melihat kalian bahagia, aku juga ikut bahagia. Terima kasih Aldrin, kamu telah tunjukkan padaku bahwa kamu benar-benar mencintainya. Dengan begitu, aku tidak merasa sia-sia melepasnya.
Setelah acara rangkaian pernikahan selesai, mereka berfoto bersama dengan keluarga. Jefri dan Ardhilla berada di sisi Amaira sedang ayah dan ibu Amaira berada di sisi Aldrin. Setelah itu dilanjutkan foto bersama Tuan Adam, Zaki, Naufal dan juga Maria.
"Selamat atas pernikahanmu. Jadilah suami yang baik." Tuan Adam menepuk pundak Aldrin dengan lembut.
Aldrin mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Ayah."
Adam menoleh ke arah Jefri mereka saling melempar senyum sambil berpelukan.
Lalu Adam menengok pada Ardhilla yang hanya diam sedari tadi. Wanita itu terlihat tak nyaman di pesta pernikahan anaknya.
"Selamat atas pernikahan Aldrin," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Ardhilla.
Ardhilla menerima uluran tangan mantan suaminya. "Terima kasih. Jangan lupa jaga kesehatanmu."
Maria memeluk Amaira menempelkan pipinya ke pipi Amaira sambil berucap di telinga Amaira, "Selamat, ya! Aku turut bahagia untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Kak Maria," balas Amaira dengan mata berbinar.
Maria dan Aldrin saling bertatap. Maria menahan tawanya. "Kamu tadi tegang banget, tahu!"
Aldrin menggaruk kepalanya sambil ikut tertawa.
"Selamat, ya!"
"Terima kasih, Maria."
Kini, giliran Naufal. Aldrin dan Naufal saling berpelukan.
"Sungguh, aku sangat terharu melihatmu hari ini."
"Thank you so much, kamu banyak membantuku di acara pernikahan ini."
Mata Naufal beralih ke Amaira yang tersenyum dengan masih memegang buket bunga. Ia pun berjalan selangkah ke arah Amaira.
"Jangan sungkan untuk katakan padaku jika Aldrin menyakitimu. Aku akan datang untuk menjewer telinganya."
Mendengar ucapan Naufal, seketika membuat Amaira tertawa kecil.
Sementara Aldrin langsung menyela, "Itu tidak akan terjadi karena kamu akan kuliah di Singapura."
"Jarak Singapura dan Indonesia sangat dekat. Lagian aku akan sering pulang untuk mengawasi kalian berdua," ucap Naufal diselingi tawa.
Acara dilanjutkan dengan resepsi. Alunan musik menggema di lokasi pernikahan. Ada cukup banyak tamu undangan yang hadir terutama dari teman semasa mereka sekolah. Salah satu tamu yang hadir adalah kekasih baru Ardhilla. Wanita itu sibuk untuk melayani kekasihnya. Sementara dari jauh Jefri menatap keduanya.
Maria menghampiri Zaki yang menepi di sudut tempat. Saat Maria mengajaknya ke pernikahan Aldrin, ia langsung menolak. Namun, saat ayahnya memerintahkan ia untuk ikut pergi bersama ke pernikahan Aldrin, ia tak berdaya untuk menolak.
"Mereka terlihat sangat bahagia," ucap Maria sambil melihat sepasang pengantin.
Zaki tampak tak memedulikan perkataan Maria. Ia hanya sibuk dengan smartphone-nya.
"Kamu tahu, enggak. Dulunya aku sempat suka sama Aldrin."
Ucapan Maria seketika membuat Zaki terkejut. Ia langsung menoleh ke arah Maria yang masih melihat sepasang pengantin dari tempat mereka berdiri.
Apa kamu bilang? kamu pernah suka?" tanya Zaki kembali sambil mengerutkan keningnya.
Dengan tetap menatap jauh Aldrin, Maria mengangguk. "Bukannya dia keren?"
Zaki menatap wajah wajah Maria dengan mata yang menyala.
"Keren?"
Zaki mengulang satu kata yang dikeluarkan Maria, yang mana kata itu begitu mengusik pendengarannya.
"Kamu terpesona sama dia saat lagi jalin hubungan ma aku? Apa itu terjadi saat kamu mau mutusin hubungan kita?" selidik Zaki.
Maria menoleh ke arah Zaki. Ia menyadari telah salah mengeluarkan kata-kata yang membuat Zaki terbawa emosi.
"Zaki, itu sudah berlalu, dan sekarang hubungan kita baik-baik saja." ucapnya mencoba menenangkan Zaki yang mulai tersulut api cemburu.
"Minggu depan, aku dan dia akan berkompetisi buat rebutin penghargaan musik bergengsi. Lihat aja, aku bakal ngalahin dia!"
Zaki memutar badannya melangkah pergi meninggalkan Maria. Perempuan itu menatap belakang tubuh pria itu. Ia tak mengerti mengapa Zaki dan Aldrin tak pernah akur.
.
.
.
.
.