Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 137 : Malam Pertama



Acara resepsi telah berakhir dengan meriah. Aldrin dan Amaira segera menuju hotel. Rangkaian acara hari ini membuat mereka lelah. Tubuh keduanya terasa pegal karena seharian mereka berdiri menyambut para tamu.


Sepasang pengantin baru itu telah tiba di hotel. Mereka langsung masuk ke kamar yang telah disediakan. Saat memasuki kamar tersebut, Amaira tercengang. Ruangan itu dipenuhi dengan aneka lilin aroma terapi. Tempat tidur pengantin dipasang seprei putih dan ditaburi kelopak bunga yang berhamburan di atasnya dan juga di lantai kamar. Membuat suasana kamar ini menjadi begitu romantis.


Amaira masih menatap sekeliling ruangan. Sementara, Aldrin meletakkan koper mereka di samping lemari. Lelaki itu membuka jas pengantinnya dan diikuti dengan melepas kancing kameja satu per satu. Pandangannya terarah pada Amaira yang membelakanginya sambil menutup mata.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Aldrin sambil melepas kamejanya.


Amaira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jantung gadis itu berdegup kencang. Wajahnya merah padam. Tangannya gemetaran.


Aldrin membalikkan badan Amaira, memaksa untuk berhadapan dengannya.


"Lihat aku!"


Amaira menatap wajah Aldrin dengan ragu-ragu. Cowok tampan itu tersenyum seketika.


"Sekarang kita sudah jadi suami istri." Aldrin menatap dalam wajah Amaira.


Keduanya saling bertukar pandang. Dalam pandangan Aldrin saat ini, Amaira begitu sangat cantik dengan sisa-sisa make-up yang masih menempel. Wajah mulus. Bulu mata lentik. Bibir yang sensual.


Dengan perlahan, Aldrin mendekatkan bibirnya ke bibir Amaira. Membuat jarak kedua bibir itu semakin dekat. Aldrin menutup matanya. Dengan setengah terbuka, bibirnya siap untuk melahap bibir Amaira.


"Aku mau mandi."


Suara pelan Amaira sontak membuat Aldrin membuka mata disaat kedua bibir mereka hampir menempel.


"Oke!"


Aldrin terlihat sabar dan tidak buru-buru dengan ritual malam pertama mereka. Ia langsung mengambil posisi duduk di tepi ranjang sambil melihat Amaira yang terburu-buru masuk kamar mandi.


"Mau aku bantuin buka, enggak?" teriak Aldrin.


"Tidak!" jawab Amaira.


Aldrin mendengus malas sambil mendongakkan wajahnya ke atas. Ia menatap langit-langit kamar.


"Enggak perlu buru-buru, 'kan?" Ia berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Beberapa menit berlalu dan Amaira keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama mandinya dan handuk yang melilit di kepalnya.


"Aku mau mandi juga."


Aldrin mengambil handuknya dan dengan santai melangkah ke kamar mandi. Saat melewati Amaira, ia berbisik pelan di telinga gadis itu. "Jangan lupa pakai baju yang ada di atas ranjang."


Mata Aldrin seolah menjadi penunjuk lingerie yang ia letakkan di atas tempat tidur. Kemudian ia masuk ke kamar mandi dengan wajah yang menahan senyum.


Amaira segera mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Lima menit kemudian, Aldrin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit di bagian bawahnya saja. Ia menahan ludah seketika saat melihat Amaira memakai lingerie pink berbahan satin yang sangat terbuka di bagian dada.


Amaira masih tak berani melihatnya dan hanya duduk di tepi ranjang sambil memalingkan wajah menghadap jendela kamar. Aldrin menghampirinya dengan hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Saat ia duduk di samping Amaira, gadis itu malah menggeser tempat duduknya untuk sedikit menjauh dari Aldrin.


Keduanya tiba-tiba terdiam sesaat dengan pandangan mata masing-masing yang lurus ke depan. Jantung mereka berdetak sangat kencang persis seperti hendak memompa air dengan cepat. Keduanya tampak terpaku di tempat mereka masing-masing seolah kesulitan untuk bergerak. Mereka sama-sama saling melirik dengan ekspresi tegang dan kompak saling mengalihkan pandangan. Bola mata mereka bergerak gelisah. Sepertinya sepasang pengantin baru itu terkena sindrom malam pengantin.


Aldrin berusaha tenang dan mulai mengatur napasnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan ke udara. Setelah rileks, ia menoleh ke arah Amaira dan mulai menggeser badannya untuk lebih dekat dengan wanita yang telah menjadi istrinya. Amaira masih menatapnya dengan malu-malu.


"Jangan gugup!" ucap Aldrin lembut sambil membelai rambut Amaira.


Sebenarnya ucapan itu juga untuk dirinya sendiri. Ia menatap lembut wajah Amaira yang merona. Gadis itu terdiam ketika Aldrin untuk kesekian kalinya menatapnya dalam. Dengan cepat Amaira kembali mengalihkan pandangannya. Namun, gerakan tangan Aldrin lebih cepat karena ia langsung meraih tengkuk Amaira hingga bibir mereka saling menempel. Hanya sebentar. Aldrin langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Amaira.


Mata mereka saling menatap dalam. Tangan Aldrin menyentuh dagu Amaira dan secara otomatis Amaira menutup matanya siap untuk menyambut ciuman Aldrin. Aldrin mulai mendekatkan bibirnya yang setengah terbuka dan dengan lembut memagut bibir atas Amaira. Tangan kiri Aldrin menggenggam tangan wanitanya dan membawanya ke dadanya.


Ciuman kali ini terasa berbeda bagi Amaira, begitu lembut dan menggoda. Akhirnya Amaira membalas pagutan Aldrin dan keduanya tenggelam satu sama lain. Aldrin mendorong tengkuk Amaira agar ciuman itu semakin dalam. Ciuman yang lembut kini berubah menjadi panas sehingga napas mereka saling memburu.


Amaira menepuk-nepuk dada pria itu. Ia mencengkram pundak Aldrin dengan kuat. Ciuman Aldrin kini berpindah pada leher jenjang milik Amaira. Gadis itu mengeluarkan desahan yang tertahan saat tangan Aldrin mulai membelai paha mulusnya.


"Aldrin, aku ... aku ... "


Amaira tak bisa melanjutkan ucapannya karena Aldrin kembali memagut bibirnya yang basah. Kali ini ia merebahkan tubuh wanitanya di atas ranjang.


Amaira kembali memanggil namanya. Suara panggilan Amaira begitu seksi di pendengarannya hingga makin mengobarkan napsu birahi. Tangan Aldrin bergerak cepat untuk membuka penutup badan Amaira. Namun, entah mengapa gadis itu seperti menolak. Ia kembali menepuk-nepuk dada Aldrin.


Saat ini, dada Amaira telah terpampang di depan mata Aldrin. Amaira berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Jujur, belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhnya tanpa busana, walau ia masih menggunakan pakaian dalam yang menutupi **** *************.


"Buka!" Perintah itu datang dari pria tampan yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan sayup.


"Aku malu," ucap Amaira pelan.


"Aku suamimu."


Aldrin mengucapkan kata-kata itu dengan suara setengah membujuk. Amaira membuka kedua tangannya secara perlahan sehingga keindahan yang tertutupi itu terlihat oleh mata Aldrin.


Tubuhnya menjadi lemas seketika karena menerima semua yang dilakukan Aldrin pada tubuhnya. Keadaan ini tak pernah ia alami sebelumnya dan Aldrin telah membuat ia merasakan sensasi-sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Al, su–sudah!" ucapnya berusaha mendorong bahu suaminya.


Aldrin menghentikan segala aktivitasnya di tubuh Amaira. Mata mereka saling bertemu seketika. Pria itu memandangnya dengan penuh cinta dan kelembutan.


"Aldrin, aku ...."


"Sssttt!"


Aldrin meletakkan jari telunjuknya di tengah bibir Amaira sehingga gadis itu tak melanjutkan ucapannya.


"Jangan takut, aku bakalan lembut kok. Sedikit sakit, tapi lama-lama enggak," jelas Aldrin dengan suara sedikit serak.


Untuk Aldrin, ini bukanlah hal pertama kalinya. Ia sudah cukup berpengalaman. Namun, bagi Amaira tentu ini sangat menakutkan dan membuatnya gugup. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya saat tangan Aldrin mulai menjamah tiap inci kulit tubuhnya yang lembut.


Tangan itu akhirnya sampai di pakaian penutup terakhir Amaira.


Ketika lelaki itu hendak menarik satu-satunya penutup terakhir, dengan cepat Amaira menghentikan tangan nakal itu.


Aldrin mengernyitkan matanya, tak mengerti dengan penolakan Amaira.


"Aku ... aku menstruasi!" ucap Amaira nyaris berbisik.


Aldrin membelalakkan matanya. "Apa?"


Ia langsung bangkit dan terduduk dengan raut wajah yang tak bisa dilukiskan.


"Kenapa kamu enggak bilang?" ucap Aldrin kesal sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Aku mau bilang dari tadi, tapi kamu malah nyium terus," balas Amaira dengan polos.


Aldrin mendengus. Ia menatap Amaira dengan kesal seraya bertanya, "Kapan itu selesainya?"


Amaira tampak berpikir sejenak. "Mungkin ... sekitar tiga hari lagi."


Aldrin kembali melototkan matanya. Ia mengembuskan napas kasar dan membanting tubuhnya di samping Amaira.


"Kenapa aku bisa sesial ini!"


Aldrin kembali mendengus kesal sambil memukul-mukul kepalanya di ranjang empuk dan menghentak-hentakkan kakinya menyerupai anak kecil yang sedang dilanda tantrum.


.


.


.


.


jejak kaki :


tantrum : Tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang. (sumber : alodokter)