Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 139 : Mengunjungi Mertua



Hari ini, Jefri mengajak Ardhilla bertemu di sebuah kafe mewah. Mereka tidak pernah lagi berduaan sejak Jefri menolak ajakan Ardhilla untuk hidup bersama. Apalagi, saat ini wanita itu telah mempunyai kekasih baru.


Ardhilla mengambil segelas kopi panas lalu meminumnya dengan perlahan. "Apa yang mau kamu sampaikan padaku?" tanya Ardhilla dengan santai.


"Aku berencana tinggal di Amerika dan membawa Aldrin beserta istrinya. Aku ingin mereka kuliah di sana," ucap Jefri.


"Lalu, kenapa kamu mengatakan itu padaku?" tanyanya dingin.


"Kamu adalah ibunya. Sebelum aku meminta persetujuan Aldrin, aku harus meminta persetujuanmu dulu."


"Soal Aldrin, aku serahkan semuanya padamu. Aku memang ibunya, tapi ... dia tidak pernah menganggap aku sebagai ibunya." Saat mengucapkan kalimat itu wajah Ardhilla begitu datar dan pandangannya lurus ke depan.


"Itu semua karena kamu juga tidak pernah menganggapnya sebagai anak," balas Jefri.


Ardhilla tersenyum samar. Masih dengan tatapan lurus ke depan ia berkata kembali, "Bagaimana mungkin aku tidak menganggap dia sebagai anakku? Dia satu-satunya anak yang lahir dari rahimku ."


Saat kalimat itu keluar dari mulutnya, wajah Ardhilla menjadi sendu. Meskipun selama ini ia nampak tak peduli dengan Aldrin, bukan berarti ia tak menyayanginya. Seorang ibu yang bersifat buruk tetaplah mempunyai nurani keibuan. Bahkan seekor singa tak akan memangsa anaknya sendiri. Ia memang mempunyai sifat serakah dengan segala ambisinya. Namun, ia tetaplah seorang ibu. Di mana melalui rahimnya, Aldrin terlahir.


Jefri menghela napas. Ia menatap dalam wajah Ardhilla. "Jika kamu menyadari dia anakmu satu-satunya, perbaikilah hubunganmu dengannya. Dia memang telah menikah, tapi bukan berarti dia sudah tidak butuh kasih sayangmu lagi. Belum terlambat untuk menjadi ibu yang baik."


Ardhilla tertawa sinis mendengar nasihat dari Jefri. "Kenapa kamu tidak menikah? Aku rasa, pasti dia akan menganggap istrimu sebagai ibunya seperti dia menganggap kamu sebagai ayahnya!"


Jefri terdiam sesaat mendengar pertanyaan yang mengandung cibiran tersebut. Ia sangat paham dengan sifat keras kepala Ardhilla. Wanita itu akan selalu menganggap dirinya benar. Tidak peduli seberapa banyak orang yang terluka untuknya, dia akan tetap berjalan di jalan yang ia inginkan.


"Masalah pribadiku, bukan menjadi urusanmu. Sama halnya dengan aku yang tidak pernah mencampuri kamu berhubungan dengan pria manapun," jawab Jefry. Pria itu menjadi sedikit sensitif saat Ardhilla menyinggung masalah pendamping hidupnya.


Sebenarnya, pertanyaan tentang pendamping hidup bukan hanya keluar dari mulut Ardhilla seorang. Namun, pertanyaan ini kerap kali diutarakan Aldrin. Ia bingung, mengapa ayahnya sampai detik ini tak mau menjalin hubungan dengan wanita manapun. Bahkan selama setahun, Aldrin berusaha membujuk ayahnya agar menikah. Paling tidak, dekat dengan seorang wanita. Sayangnya, Jefri seolah mengunci rapat-rapat hatinya untuk wanita manapun dan lebih memilih menyendiri.


Setelah cukup lama mengobrol dengan Jefri di kafe. Ardhilla kembali ke apartemennya. Ia masuk ke lift dan menekan tombol lantai tempat tinggalnya. Pintu lift terbuka, ia segera keluar menuju apartemennya.


Matanya tertegun sesaat melihat Amaira berdiri di depan pintu apartemennya. Ia menghentikan langkahnya sejenak. Sementara Amaira yang sedari tadi menunggunya langsung melempar senyum ke arahnya.


Ardhilla melirik sebuah kotak makanan yang dipegang anak mantunya itu. Ia pun menghampirinya seraya berkata, "Ada perlu apa?"


"Aku hanya ingin mengunjungi Ibu," jawab Amaira pelan.


Ardhilla tersenyum. Ia membuka pintu apartemennya dan mempersilakan anak mantunya masuk ke dalam. Amaira mengekornya dari belakang.


"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Ardhilla sekedar basa-basi.


"Menyenangkan," ucap Amaira sambil tersenyum. Ia meletakkan kotak makanan yang dibawanya di atas meja makan kemudian membuka kotak tersebut. Ardhilla melirik kotak yang ternyata berisi pudding cokelat.


"Ibu, aku bawakan pudding cokelat untukmu. Ini adalah dessert kesukaan Aldrin. Aku pikir, ibu juga akan menyukainya."


Amaira langsung menuju dapur mini dan mengambil piring kecil dan sendok. Ia memotong sebagian puding tersebut untuk disalin ke piring kecil. Ardhilla terdiam seraya memerhatikan gerak-geriknya.


Amaira menyerahkan piring yang telah berisi pudding ke arah Ardhilla. "Cobalah, Bu!"


Ardhilla tersenyum. Ia mengambil piring kecil itu dari tangan Amaira dan mulai menyendok kan sepotong pudding vla cokelat itu ke mulutnya.


"Ini Enak," puji Ardhilla begitu pudding itu dicicipi. Ia menoleh ke arah Amaira lalu bertanya, "Apa kamu yang membuatnya?"


Amaira mengangguk tersenyum. "Itu resep ibuku. Waktu kami masih pacaran, Aldrin sering meminta ibuku untuk membuat pudding ini."


Perkataan Amaira membuat Ardhilla berhenti menelan. Entah mengapa, itu seperti tamparan untuknya. Aldrin bahkan sangat dekat dengan ibu mertuanya. Bukankah ini lucu? Anaknya sangat dekat dengan ayah angkatnya dan sekarang juga dekat dengan ibu mertuanya.


Amaira mengambil sebuah undangan di dalam tasnya lalu menyerahkan undangan itu pada Ardhilla. Dengan setengah bingung, Ardhilla mengambil undangan itu.


"Tiga hari lagi Aldrin akan mengikuti ajang penghargaan orkestra musik se-Asia. Dia masuk nominasi sebagai pemusik muda berbakat. Aldrin ingin ibu datang ke sana menyaksikan penampilannya," tutur Amaira.


"Aldrin ingin aku datang ke sana untuk menontonnya?" Seolah tak percaya dengan penjelasan Amaira, Ardhilla kembali menanyakan pernyataan Amaira.


"Iya. Dan ... Aku ingin ibu mendoakan kemenangannya."


Ardhilla tertegun seketika. Ia langsung memalingkan wajahnya sambil mengangguk. Tentang undangan itu, ia masih berpikir apakah akan datang atau tidak. Karena acara itu bertepatan dengan liburannya bersama kekasih barunya ke Finlandia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah bertemu dengan Ardhilla, Amaira kembali ke rumah yang ia tempati bersama Aldrin. Ia mendapati lelaki yang telah menjadi suaminya itu sedang mengemasi barang-barang untuk dimasukkan ke koper.


"Kamu sudah pulang?" tanya Aldrin seraya meletakkan bajunya ke dalam koper.


"Iya." Amaira membantunya mengemasi barang-barang.


"Udah kamu kasih undangannya?" tanya Aldrin kembali.


"Sudah. Ibu bilang dia akan berusaha hadir buat menonton penampilan kamu," jawab Amaira sambil mengusap pundak Aldrin.


Mendengar jawaban Amaira membuat Aldrin tersenyum. Ia kembali mengemasi barang-barangnya.


Amaira mengerutkan bibirnya. "Kenapa aku enggak boleh ikut!"


Aldrin tersenyum, ia memegang kedua pundak Amaira dan menuntunnya berhadapan dengannya. "Karena aku ingin kamu nunggu aku pulang membawa penghargaan itu untukmu."


Keduanya sama-sama saling menatap. Aldrin mencubit lembut hidung Amaira yang membuatnya tersenyum seketika. Tangannya bergerak menuju pipi istrinya, kemudian membelainya dengan lembut.


"Semangat, ya!" ucap Amaira.


Mendengar sebuah kata motivasi yang keluar dari bibir perempuan itu membuat Aldrin tersenyum bahagia. Ia memegang kedua tangan Amaira, lalu mengecup lembut keningnya. Kecupan itu begitu lama dan penuh perasaan yang dalam.


Aldrin menyudahi kecupannya. Mata mereka saling menatap dalam, seolah lewat mata itu dapat berbicara dan menyampaikan pesan cinta dari hati mereka masing-masing.


Tatapan Amaira masih menancap pada Aldrin, begitu pun sebaliknya. Kini, giliran Amaira yang mengulurkan tangannya, ikut menyentuh pipi Aldrin dengan lembut. Perempuan itu pun berjinjit, kemudian bergerak maju mencium bibir lelaki yang telah menjadi suaminya.


Aldrin tersentak menerima serangan tiba-tiba dari perempuan pemalu itu. Setahunya, Amaira tak pernah berinisiatif lebih dulu seperti saat ini. Dengan masih menahan keterkejutan yang ia rasakan, Aldrin mencoba memejamkan matanya. Menarik istrinya untuk lebih memperdalam ciuman mereka.


Hangat. Aldrin dan Amaira menikmati semuanya. Meninggalkan apa yang sedang mereka kerjakan sebelumnya dan memilih untuk menikmati kebersamaan mereka. Sepasang suami istri itu saling memagut. Usia mereka yang masih sangat muda membuat napsu keduanya cepat berkobar. Saat kedua bibir itu masih terus saling memagut, Aldrin langsung menjatuhkan Amaira di atas ranjang hangat mereka.


"Mau bermain lagi?" goda Aldrin sambil membelai rambut Amaira.


Wajah Amaira merah padam. Ia langsung mengambil selimut yang terletak di sampingnya dan menutup wajahnya dengan selimut itu karena malu.


Malam itu, mereka melebur kembali menjadi satu atas nama cinta.


.


.


.


.


.