
Saat ini, Bryan berdiri di hadapan Amaira. Tak ada yang berubah darinya, selain rambutnya yang telah memanjang dengan model terbelah tengah.
"Lama enggak ketemu. Ngapain kamu di sini?" tanya Amaira heran karena setahunya Bryan sedang kuliah di Paris.
"Nyokap lagi dirawat di Rumah Sakit ini," jawab Bryan sambil menunduk, ia memerhatikan kertas berisi resep yang dipegang Amaira.
"Lo sendiri ... apa yang lo lakukan di sini? Oh,iya, gue dengar lo sudah nikah sama Aldrin. Selamat, ya! Terus, Aldrinnya mana?" tanyanya sambil mengulurkan tangan dengan mata yang ke sana-kemari mencari Aldrin.
Amaira menyambut uluran tangan Bryan sambil berkata, "Aldrin sedang dirawat juga di Rumah Sakit ini."
Mata Bryan terbuka lebar dengan bibir yang ternganga. "Ada apa dengan Aldrin?" tanyanya mendesak bercampur terkejut.
"Dia mengalami kecelakaan saat mengikuti kompetisi musik sepekan lalu." Wajah gadis itu tertunduk sedih.
"Parah, enggak?"
Amaira mengangguk lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Bryan. "Tapi, dia sudah sadar dari komanya pagi tadi."
"Syukurlah!" Bryan bernapas lega sambil menatap langit-langit gedung.
"Oh, iya, ibumu sakit apa?" Kini giliran Amaira yang balik bertanya.
"Kanker hati, sudah sebulan dirawat di sini," jawabnya sambil menatap jam di tangannya lalu kembali berkata, "Gue pergi dulu, ya? Nyokap sudah nunggu tuh di kamar."
"Oke. Kalau kamu ada waktu, jangan lupa datang jenguk Aldrin." Amaira melebarkan senyumnya.
Bryan mengangguk pelan. "Itu pasti!"
Amaira melihat kepergian Bryan sambil mengingat kembali pengakuan Aldrin tentang statusnya sebagai anak hasil selingkuhan Ayah Bryan. Tiba-tiba Amaira memikirkan sesuatu, apakah Bryan mengetahui jika Aldrin adalah saudaranya? Entahlah ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dokter memeriksa keadaan Aldrin dan mengatakan jika ia harus segera melakukan operasi tulang kepala karena ada pembekuan darah di sebelah kiri otak. Operasi akan berlangsung esok lusa. Sementara kondisi Aldrin saat ini belum stabil meskipun ia telah sembuh dari koma. Ia hanya bisa merespon tapi belum bisa menggerakkan anggota tubuh sepenuhnya.
Setelah dokter keluar, Jefri menghampiri Aldrin lalu berkata, "Ibumu belum sempat melihatmu ke sini karena dia sangat kelelahan. Selama kamu koma, dia selalu menangis."
Aldrin terdiam. Ia menatap sayu ke arah Jefri. "Apakah Ayah sangat mencintai ibuku?" Suara lemah Aldrin keluar dari mulutnya.
Kini giliran Jefri yang bergeming. Dengan segera ia memalingkan pandangannya seraya mengganti topik pembicaraan seolah mengabaikan pertanyaan Aldrin. "Kudengar kamu berduet dengan David Garret saat kompetisi waktu itu."
Aldrin tak tertarik dengan apa yang dikatakan Jefri barusan. Ia malah melanjutkan ucapannya tadi. "Kalau Ayah memang masih mencintainya, menikahlah dengan ibu!"
Ucapan Aldrin membuat Jefri terperanjat. Kali ini Jefri tak punya alasan untuk mengabaikan pertanyaan Aldrin, tapi juga tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaannya. Namun, dari raut wajah yang ia guratkan, sudah sangat jelas jika pria berusia 44 tahun itu masih mencintai Ardhilla.
"Asalkan ibu juga mencintai Ayah, aku setuju kalian menikah," ucap Aldrin kembali dengan suara yang begitu lemah tak berdaya.
Jefri enggan menatap Aldrin. Kali ini dia malah berdeham sambil menunduk seolah melihat sesuatu di lantai. Setelah sekian detik terdiam akhirnya Jefri membuka mulutnya seraya berkata, "Aldrin, masalah itu ... tidak perlu kamu pikirkan. Saat ini, ayah hanya ingin kamu cepat pulih dan kau bisa kembali bersama kami."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jefri terburu-buru keluar dari kamar rawat Aldrin. Ia langsung menyandarkan badan dan kepalanya di pintu sembari mengusap wajahnya kasar. Desahan napasnya terdengar begitu berat.
Amaira berjalan menuju kamar perawatan Aldrin. Di jalan, ia bertemu dengan Naufal yang baru saja tiba dari rumahnya. Mereka lalu berjalan bersama. Amaira kembali teringat beberapa menit yang lalu ia bertemu Bryan. Ia melirik ke arah Naufal yang berjalan bersebelahan dengannya.
"Naufal."
Naufal menoleh ke samping, menatap Amaira yang tampak berpikir dengan raut bimbang.
"Ada apa?"
"Tadi aku ketemy Bryan."
"Oh, ya? Bukannya dia di Paris?"
"Ibunya dirawat di sini." Amaira menghela napas sejenak, lalu bertanya pelan pada Naufal, "Apa kamu tahu kalau Bryan dan Aldrin bersaudara?"
Mata Naufal terbelalak seketika. Wajahnya menampilkan raut terkejut dengan kedua alis yang saling bertaut membentuk guratan-guratan kecil di dahinya.
"Bersaudara?" Naufal mengulang kata yang baru diucapkan Amaira.
Amaira mengangguk cepat. "Aldrin pernah bilang sama aku kalau ayahnya adalah ayah Bryan. Mendiang sutradara Steve Arnold.
"Itu artinya ... mereka saudara se-ayah?" Naufal langsung mengambil kesimpulan. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Kali ini, ia benar-benar tercengang.
Wajahnya tampak berpikir keras. Setahunya, Ardhilla pernah berkata bahwa Aldrin adalah anak hasil pemerkosaan. Namun, sekarang Amaira malah mengungkap kalau Aldrin mengatakan ayah Bryan adalah ayahnya juga. Ia tahu Aldrin tidak mungkin akan mengatakan kalau ia bersaudara dengan Bryan jika tidak disertai dengan bukti.
Di kamar, Aldrin terdiam sepi memandang ke arah jendela. Kepalanya masih terasa amat sakit akibat cedera berat yang ia terima. Di tengah kesunyian kamar tersebut, tiba-tiba terdengar suara pintu berderit.
Aldrin tersenyum, kepalanya langsung berputar untuk menoleh ke arah pintu sambil berkata, "Amaira, kamu sudah pu__"
Aldrin tak melanjutkan kalimatnya. Matanya malah terbelalak saat melihat Bryan berdiri tepat di depan pintu. Dengan perlahan, Bryan mendekati ranjang Aldrin.
"Lama enggak jumpa," ucap Bryan sambil menatap wajah Aldrin yang begitu tak berdaya dengan perban yang melingkar di seluruh kepalanya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu masih kuliah?" tanya Aldrin heran.
"Nyokap sakit keras. Beliau mengidap penyakit kanker hati," jawab Bryan.
Aldrin tersentak. "Parah, enggak?"
"Ya, parah. Sudah stadium 4. Mungkin ... aku akan segera kehilangannya. Bokap meninggal saat aku masih bayi, sekarang nyokap juga bakal enggak lama lagi kata dokter." Kesedihan yang dialami Bryan, terpatri jelas lewat wajah.
Ucapan Bryan sontak mengingatkan Aldrin pada sosok lelaki yang ia temui di alam bawah sadarnya. Mungkinkah itu ayah mereka? Ya, setahunya Sutradara Steve Arnold meninggal di usia muda yakni 35 tahun.
"Lo sendiri gimana?" Pertanyaan Bryan membuyarkan lamunan Aldrin.
"Rasanya seperti baru habis berperang, dan aku masih harus menjalani operasi di bagian kepala." Mata Aldrin menyipit mencoba untuk tersenyum tapi belum mampu melakukannya.
"Kalau begitu istirahat aja, Bray. Entar gue jenguk lagi kalau udah selesai operasi."
Bryan menggenggam lembut tangan Aldrin seraya mengusap lengannya untuk memberi semangat padanya. Ia melepas tangannya lalu berbalik dan mulai meninggalkan ruangan tersebut.
"Apakah kamu masih anggap aku saudaramu?"
Ucapan Aldrin secara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia kembali memutar tubuhnya untuk menatap Aldrin.
"Tentu saja," jawab Bryan tanpa keraguan.
Ayo Aldrin! Katakan tentang apa yang ingin lo mau berikan pada gue waktu itu. Gue sangat ingat jelas amplop putih itu bertuliskan hasil tes DNA. Ayo katakan apa yang lo ketahui. Gue hanya butuh lo sendiri yang mengatakannya.
Bryan masih terpaku sambil memandang Aldrin dengan wajah penuh harap. Sebaliknya, Aldrin hanya memandangnya sayu.
"Terima kasih ... aku juga selalu menganggapmu sebagai saudaraku." Suara lirih tak berdaya itu kembali keluar dari mulut Aldrin yang mengering.
Bryan keluar dari kamar Aldrin dengan ekpresi kecewa. Aldrin termenung di kamar. Dalam hatinya berkata lebih baik jika Bryan tidak pernah tahu kalau mereka bersaudara. Sebab, ia tak ingin persahabatan mereka jadi rusak karena hal itu. Ia tak ingin Bryan membencinya karena kesalahan ibunya di masa lampau. Lebih baik seperti ini!
Cukup seperti ini!
Tak lama kemudian, Naufal dan Amaira masuk ke ruangan itu. Aldrin dapat melihat garis senyum yang terbentuk sempurna di bibir Amaira. Menunjukkan jika wanita itu benar-benar bahagia saat ini.
"Pulanglah dan tidur di rumah malam ini," pinta Aldrin pada Amaira.
Garis senyum itu tiba-tiba menghilang dari wajah Amaira. Ia tak berkata apa-apa tapi dari raut wajahnya dapat terlihat jika perempuan itu butuh alasan pasti mengapa Aldrin malah menyuruhnya pulang saat ini juga. Ia sangat bahagia dengan sadarnya Aldrin pagi ini, dan tak ingin melewatkan satu detik pun waktu bersamanya.
"Aku ingin dijaga ayah dan Naufal malam ini. Jadi kamu pulang saja. Istirahatlah dengan lelap dan datang besok lagi!" pinta Aldrin sembari memberi pengertian padanya.
Naufal dan Amaira saling menatap. Alasan Aldrin cukup bisa diterima oleh Amaira. Meskipun sebenarnya ia ingin bersama suaminya sekarang, tapi bukankah ia harus menghargai keinginan suaminya sendiri?
Setelah berkemas barang-barangnya, Amaira balik ke rumah Naufal yang juga ditempati Ardhilla saat ini. Suasana ruangan menjadi hening. Hanya tinggal Aldrin dan Naufal di sana.
Aldrin tampak menahan rasa sakit di bagian kepalanya. Inilah alasan sebenarnya ia menyuruh wanita yang telah ia nikahi itu tidak bermalam di ruangan ini. Agar perempuan itu tak melihatnya dalam keadaan seperti ini. Di mana ia menahan rasa sakit yang menggerogotinya kapan saja. Ia tak ingin membuat wanita itu menjadi panik dan bersedih lagi.
Kita perlu membagi kebahagiaan kita ke orang-orang, tapi kepedihan dan kesedihan cukuplah diri kita yang rasakan. Itulah prinsip hidup yang Aldrin jalani selama ini.
"Apa kamu merasa sakit?" tanya Naufal yang memerhatikan ekpresi Aldrin.
Aldrin menggelengkan kepalanya berusaha menyembunyikan rasa sakit yang ia alami saat ini.
"Selama aku tak sadarkan diri ... apa saja yang telah terjadi?" tanya Aldrin sesaat.
"Ada banyak hal."
Ingatan Naufal mengilas balik secara singkat kejadian-kejadian selama Aldrin di rumah sakit. Termasuk saat ia berjumpa dengan gadis pelukis berpenyakit jantung.
"Bagaimana dengan Amaira?" tanya Aldrin pelan.
"Dia ... sangat tegar. Dia setia di sampingmu dan selalu berdoa untuk kesembuhanmu," jawab Naufal sambil tersenyum hangat.
Aldrin membisu selama beberapa saat. Ia menatap dalam kedua bola mata Naufal.
"Apa kamu masih menyukai Amaira?"
.
.
.
.