
Mata Zaki terbuka lebar mendapati Maria dan Aldrin di atas ranjang. Ia menarik Aldrin dari tempat tidur dengan segera dan melayangkan sebuah pukulan.
BHUK!
Aldrin jatuh tersungkur ke lantai. Ia memegang ujung bibirnya yang baru saja dihantam pukulan.
"Apa yang kau lakukan pada Maria?!" teriak Zaki sambil menarik kerah baju Aldrin, memaksanya untuk berdiri.
"Hei, beraninya kau memukulku tanpa tahu apa yang terjadi!" Aldrin berdiri dengan cepat mendorongnya hingga Zaki terlempar ke dinding.
Zaki tak tinggal diam, ia kembali akan memukul Aldrin, tapi tangannya ditahan oleh Aldrin. Cowok itu menyandarkan Zaki ke dinding dan menahan dadanya dengan siku sehingga Zaki tak bisa bergerak. Kedua pasang saudara yang tak terikat darah itu saling menyerang satu sama lain di dalam kamar gadis itu.
Sementara Maria masih tak sadarkan diri. Ia terlelap di tengah keributan dua lelaki tampan tersebut.
Kini, giliran Zaki menyandarkan tubuh Aldrin ke dinding, mengancing badannya hingga membuatnya tak bisa berkutik. Dua pasang mata yang saling bertukar itu sama-sama memancarkan aura pemangsa.
"Berkali-kali aku peringatkan padamu untuk tidak menyentuhnya!" teriak Zaki dengan penuh emosi.
Aldrin menyunggingkan ujung bibirnya, membuang muka lalu tawanya pecah seketika.
"Bukankah kau sudah putus dengannya?"
Tatapan tajam Zaki berubah seketika. Wajahnya tanpa ekspresi. Sementara Aldrin menatapnya sambil mengangkat kedua alis.
"Kenapa? Jangan bilang kau masih menganggapnya kekasihmu!" Suara Aldrin begitu memprovokasi tapi lelaki itu hanya bergeming.
"Jangan khawatir. Meskipun sekarang dia tidak dimiliki siapa-siapa, aku juga tak tertarik untuk mendekatinya. Karena aku sudah memiliki kekasih dan kami akan menikah," lanjut Aldrin dengan tetap memberi senyum mengejek.
Zaki mendengar secara seksama setiap kalimat ejekan yang ditujukan padanya. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari badan Aldrin. Ia tertunduk, menyadari jika yang dikatakan Aldrin benar adanya. Atas dasar apa ia marah pada Aldrin? Bukankah ia dan Maria sudah tak terikat apapun?
Sementara Aldrin memperbaiki bajunya yang sempat kusut akibat perkelahiannya dengan Zaki barusan. Kakinya melangkah meninggalkan kakak tirinya itu, tetapi sesaat kemudian terhenti lalu badannya berbalik kembali ke arahnya.
"Oh iya, aku lupa. Selamat menjadi jomblo! Cepatlah segera menemukan pacar baru! Dan jangan lupa untuk mengerjakan pekerjaanmu dengan baik agar kau tidak menerima serangan Map melayang lagi seperti tadi siang," ejek Aldrin kembali sebelum meninggalkannya di kamar itu.
Zaki menatap kepergian Aldrin. Lalu pandangannya beralih pada Maria yang masih terlelap. Pria itu melangkah menuju ranjang. Ia memperbaiki posisi tidur Maria dan menyelimuti tubuhnya. Lalu keluar dari kamar gadis itu dan pergi meninggalkannya.
Sepanjang jalan Zaki kembali mengingat saat Maria memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka. Juga, saat Maria menolak untuk disentuh olehnya. Ia menghentikan mobilnya seketika. Menyandarkan punggungnya di kursi mobil dan menutup matanya. Perlahan perasaan benci itu mulai menjalar di hatinya. Ya, benci pada seseorang yang telah menyia-nyiakan cintanya.
Ia mulai berpikir untuk mengubah rasa cintanya ke Maria menjadi rasa benci. Dengan begitu, ia tak akan merasakan sakit hati yang mendalam. Otaknya mulai berputar, memikirkan cara agar Maria menyesal telah memutuskannya dan memohon untuk kembali padanya. Ya, ia ingin membuat mantan kekasihnya itu menyesal. Mata yang sendu itu telah berubah menjadi mata yang penuh dendam.
**
Keesokan harinya.
Zaki mengadakan pertemuan dengan para manajer yang berada di bawah naungannya dan juga para staff bagian pemasaran produk. Ia berjalan menuju ruang pertemuan. Sementara Aldrin mengekornya dari belakang.
"Hari ini kita akan adakan rapat untuk pergantian Brand Ambassador produk kita," ucap Zaki selaku maneger umum perusahaan mereka.
"Tapi Pak, bukannya artis kita sebelumnya masih terikat kontrak selama lima tahun?" tanya salah satu dari mereka yang hadir di ruang rapat.
"Ya. Aku akan segera memutuskan kontrak dengan yang bersangkutan dan menggantinya dengan yang baru,"
"Jika kami boleh tahu apa alasan Anda menggantinya? Bukankah wajah artis kita sangat lekat dengan produk kita?"
"Aku merasa wajahnya sudah tidak sesuai dengan produk baru yang akan kita rilis. Kita butuh inovasi dalam hal apapun termasuk mengganti bintang iklan. Untuk masalah kontrak belum selesai, serahkan semua padaku. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya. Sekarang kalian boleh mengajukan nama-nama artis yang akan kita pakai sebagai pengganti Maria," papar Zaki dengan wajah yang begitu serius.
"Tunggu! kau memutuskan mengganti brand ambassador kita bukan karena hubunganmu dengannya telah berakhirkan?" Suara Aldrin tiba-tiba mengagetkan seisi ruangan.
Zaki terdiam sesaat. Matanya melirik seisi ruangan yang saling berbisik.
"Tentu saja tidak!" jawab Zaki spontan.
"Lalu atas dasar apa kau akan memutuskan kontrak secara sepihak?" tanya Aldrin.
"Sudah kukatakan barusan, aku ingin produk kita diisi wajah baru yang fresh. Wajah Maria sudah tidak sesuai dengan produk baru kita," jelas Zaki kembali.
"Tapi menurutku wajah Maria sudah sangat menyatu dengan produk kita. Melihat Maria, orang-orang akan otomatis mengingat produk perawatan kulit kita. Apalagi Maria sangat digandrungi remaja saat ini. Sebaiknya kau tidak melibatkan perasaanmu keurusan bisnis. Bukankah begitu, Pak Manejer?" sindir Aldrin kembali yang mendapat persetujuan berupa anggukan dari beberapa orang di ruangan itu.
Zaki terdiam kembali, tapi ia tetap tenang mendapatkan serangan dari Aldrin.
"Tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan urusan pribadiku. Lagi pula jika kembali menilik isi perjanjian kontrak, kontrak bisa diputuskan jika artis berbuat hal tidak baik yang bisa merugikan citra baik perusahaan," ucap Zaki seraya menatap setiap orang di ruangan, menjeda apa yang akan ia ucapkan lagi.
"Maria artis yang gemar mabuk-mabukan dan jika masyarakat mengetahuinya itu akan merugikan citra produk dan perusahaan kita sendiri," tandas Zaki.
Setiap artis yang terikat brand ambassador memang harus menjaga perilakunya di depan publik. Tak jarang beberapa perusahaan langsung mencopot kontrak mereka dengan sang artis, jika sang artis terlibat skandal publik. Bahkan ada seorang komedian yang langsung dicopot perusahaan yang memakainya hanya karena ia mem-posting cuitan tentang politik yang membuat pro dan kontra dimasyarakat.
Orang-orang dalam ruangan tersebut tampak mulai setuju dengan apa yang dikatakan Zaki. Sementara Aldrin hanya tertawa kecil sambil berceloteh sendiri bahwa alasan yang Zaki berikan hanyalah dibuat-buat saja.
"Baik, aku anggap ini keputusan final. Kita sudahi sampai sini dulu pertemuan kita. Mengenai artis pengganti Maria, kita bicarakan besok!" ucap Zaki mengakhiri pertemuannya dengan para staff.
Semua staff yang ada di dalam mulai bubar dan keluar dari ruangan itu. Ruangan terlihat menjadi sepi seketika, hanya tinggal Zaki dan Aldrin saja. Keduanya saling melempar tatapan tajam.
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like, vote seiklasnya dan komeng yaa.