
Naufal mengernyitkan mata sambil tetap memegang sebuah kertas yang berisi sketsa wajahnya. Gadis itu meminta kembali kertas yang dipegang Naufal.
"Kenapa kamu melukis wajahku?" tanya Naufal sesaat sambil kembali melihat hasil lukisan tersebut.
"Karena Kakak adalah objek indah yang kudapat selama berada di Rumah Sakit ini," ucap gadis itu.
Tanpa sengaja gadis itu menjatuhkan pencil yang digenggamnya. Ia menundukkan setengah badannya untuk mengambil pensil yang terjatuh tepat di kaki Naufal. Ketika gadis itu menunduk, samar-samar terlihat dadanya yang mengintip dari celah baju yang dipakainya. Tanpa sengaja Naufal melihat belahan dada gadis itu, tampak sebuah bekas operasi besar berada tepat di tengah dadanya.
Naufal menyerahkan kertas tersebut. Gadis itu begitu senang dan mengucapkan terima kasih lalu beranjak pergi. Naufal memicingkan matanya, wajah gadis itu seperti tidak asing untuknya tapi ia lupa di mana mereka bertemu. Lagi pula apa yang terjadi hari ini membuatnya tidak mau memikirkan hal yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, ayah Amaira mengantar anaknya yang telah menikah itu kembali ke rumah yang ia tempati bersama Aldrin. "Kenapa bukan besok saja kamu pulang ke sini? Bukannya suamimu akan pulang besok?" tanya ayah Amaira sesaat sebelum wanita itu keluar dari mobil.
"Aku mau bersih-bersih rumah dulu, Yah. Karena aku ingin ... saat Aldrin pulang, aku bisa menyambutnya langsung di rumah ini tanpa perlu merepotkan dia untuk menjemputku di rumah Ayah," ucap Amaira sambil mengembangkan senyumnya.
Amaira menyalim tangan ayahnya lalu turun dari mobil. Ia mengambil kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu rumahnya. Ia mulai membereskan rumah dengan menyapu, membersihkan debu, dan mengepel lantai. Kemudian, membersihkan kamar dengan mengganti seprei ranjang mereka.
Setelah merapikan kamar, Amaira mulai meniup sejumlah balon untuk menghias kamar mereka. Ia telah mengetahui Kemenangan Aldrin lewat video streaming yang ditontonnya, dan terharu dengan apa yang terjadi antara Zaki dan juga Aldrin di atas panggung. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal agar bisa mendekorasi kamar mereka untuk menyambut kemenangan Aldrin.
Amaira menyeka keringat di wajahnya. Namun, ia masih semangat untuk menghias kamar dengan beberapa dekorasi hiasan balon foil dan banner bertuliskan ucapan selamat. Sejenak, ia menatap ke arah jam dinding.
Waktu telah menunjukkan hampir jam sepuluh malam, tetapi suaminya belum juga menghubunginya. Apa mungkin Aldrin masih sibuk? Pikirnya sesaat. Tak berselang berapa menit, terdengar suara bel berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumam Amaira sambil melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
Amaira lalu membuka pintu rumah dan mendapati Jefri tengah berdiri di depan pintu dengan wajah yang suram.
"Ayah?"
Jefri menunduk dan terdiam sesaat. Sambil menghela napas ia berkata pelan, "Amaira, ayo kita ke Singapura!"
"Ke Singapura?"
Jefri mengangguk pelan. "Aldrin ...."
Jefri memalingkan wajahnya, matanya mulai berkaca dan ia kembali mengambil napas panjang. Sementara Amaira mulai membaca ekspresi Jefri yang tak biasa.
"Ada apa dengan Aldrin, Ayah?" desak Amaira yang begitu penasaran.
"Aldrin mengalami kecelakaan."
Mendengar berita itu, Amaira bagai disambar petir. Matanya membulat seketika. Ia menutup mulutnya yang terbuka. Dadanya mulai terasa berat seiring dengan napasnya yang sulit keluar.
"Segeralah kemasi barang-barangmu! Kita akan berangkat bersama dengan ibu mertuamu," ucap Jefri kembali.
Amaira langsung berlari menuju kamar. Ia terduduk di tepi ranjang. Bibirnya melengkung ke bawah dan air mata mulai mengalir di pelupuk matanya. Mereka baru saja menikah, dan kenapa ia harus mendapat cobaan yang begitu berat.
Dengan terburu-buru dan tangan yang gemetar, ia mengambil beberapa helai pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper. Bahkan, ia tidak tahu pakaian apa saja yang telah ia masukkan. Yang ada di pikirannya saat ini, ia harus segera sampai di Singapura untuk mengetahui kondisi Aldrin.
Satu hari yang penuh tragedi telah berlalu, membawa pagi yang begitu cerah karena matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu. Namun cerahnya pagi ini, tak secerah hati orang-orang yang menunggu di Rumah Sakit. Wajah-wajah mereka penuh dengan kesedihan dan harapan agar orang yang mereka tunggui segera pulih dari penyakit yang menggerogotinya.
Di depan ruang ICU, kedua pria tampan ini masih duduk terdiam dalam keheningan. Sepertinya mereka tidak tidur semalaman. Sementara di dalam ruangan tersebut, Aldrin masih koma dengan berbagai macam alat medis telah terpasang di badan Aldrin termasuk carvical collar yang terpasang di bagian lehernya.
Naufal berdeham kecil, ia menatap dari kejauhan tampak tiga sosok yang dikenalinya sedang berlari menuju ke arahnya. Ketiga orang itu adalah Jefri, Ardhilla dan juga Amaira. Ardhilla berlari paling depan, begitu sampai ia langsung menangis terisak hendak menerobos ruang ICU yang tengah di tempati Aldrin. Namun, Zaki dengan sigap menahannya sambil berusaha menenangkan wanita itu.
"Ibu tenanglah! Jangan menangis seperti ini, kita bisa mengganggu pasien lainnya. Masuklah pelan-pelan!" ucap Zaki sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.
Ardhilla menghentikan tangisannya. Ia mengusap kedua matanya yang basah. Lalu menatap ke arah Jefri.
"Ayo kita masuk!"
Ardhilla dan Jefri masuk ke ruangan tersebut. Mata Jefri langsung tertuju pada sebuah tuxedo dan kameja milik Aldrin yang bersimbah darah tapi telah mengering. Di samping tuxedo itu ada sebuah piala penghargaan yang sudah tak utuh bentuknya karena sebagian telah menjadi serpihan.
Ardhilla kembali menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suaranya tak terdengar keluar. Sementara Jefri menatap miris ke arah Aldrin yang tak sadarkan diri dengan berbagai peralatan medis di tubuhnya. Jefri melangkah maju untuk mendekat ke tubuh Aldrin. Ia menggenggam tangan Aldrin sambil menutup matanya dalam-dalam.
"Cepatlah sadar! Bukankah kau ingin mengadakan mini konser bersamaku?" ucap Jefri yang tak kuasa menahan air matanya.
Di luar ruangan, Amaira dan Naufal saling berhadapan tanpa suara. Naufal menggigit bibir bawahnya, ia menatap tak tega ke arah Amaira yang nampak mematung. Untuk sekedar menenangkan gadis itupun tak kuasa ia lakukan. Namun, satu hal yang membuatnya heran, wanita itu tampak tegar. Bahkan tak ada airmata sedikitpun yang terlihat.
Selang beberapa menit kemudian, Jefri dan Ardhilla keluar dari ruangan tersebut. Jefri memerintahkan Naufal untuk menemani Amaira membesuk Aldrin.
Keduanya pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Amaira menghampiri lelaki yang terbaring di ranjang tersebut. Diciumnya dengan lembut kening pria yang telah menjadi suaminya itu. Sambil menggenggam tangan Aldrin, ia berkata, "Selamat atas kemenanganmu, sayang. Kau pasti sangat lelah, istirahatlah dulu sampai lelahmu benar-benar hilang dan ketika kau bangun nanti, kita akan merayakan kemenanganmu bersama-sama."
Ucapan Amaira membuat Naufal benar-benar tak kuasa untuk meneteskan air matanya. Wajahnya terasa mati rasa. Sementara di depannya, Amaira masih bisa tersenyum lembut dan sama sekali tak ada ungkapan sedih yang tergambar di wajah cantiknya.
"Pulanglah! Kau dan kak Zaki pasti sangat lelah semalaman. Aku akan menjaganya di sini." Amaira tersenyum samar.
Naufal mengangguk pelan. Ia membalikkan badannya, tapi sesaat langkahnya kembali terhenti. Kemudian ia kembali membalikkan badannya untuk dapat berhadapan lagi dengan Amaira.
"Kenapa ... kenapa kau bisa setegar ini?" tanya Naufal yang sangat penasaran dengan ekspresi Amaira.
Bahkan, ia dapat melihat tangisan Ardhilla yang begitu pilu dan juga guratan kesedihan di wajah Jefri. Namun, berbeda dengan Amaira. Wanita ini begitu tegar dan masih bisa tersenyum.
"Aldrin adalah pribadi yang kuat. Ia tidak mudah menyerah. Begitu banyak masalah yang ia hadapi dan selesaikan seorang diri. Aku sangat yakin, kali ini dia pun bisa melewati masa-masa kritisnya. Dia akan segera sadar dan pulih seperti semula," ucap Amaira dengan penuh keyakinan.
Naufal terenyuh mendengar ucapan Amaira. Bukankah seharusnya wanita ini yang paling terpukul atas kecelakaan yang menimpa suaminya. Mereka adalah pasangan pengantin baru, dan kini wanita itu di hadapkan sebuah bayangan akan menjadi janda di usia muda. Namun, di saat genting seperti ini ia masih bisa bersikap optimis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naufal akhirnya memutuskan keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan lunglai melewati lorong-lorong Rumah Sakit. Ketika keluar dari gedung, ia kembali memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang sama ia duduki kemarin.
Naufal merenungkan kembali ucapan Amaira. Lalu teringat ulang dengan kartu donor organ yang dimiliki Aldrin. Mungkin, saat ini dokter telah menjelaskan kondisi Aldrin kepada Jefri dan juga Ardhilla, dan mungkin mereka telah mengetahui tentang kartu donor organ yang dimiliki Aldrin.
Naufal menghela napas panjang. Ia memiringkan kepalanya. Sejenak, pandangannya terarah pada sosok gadis yang melukis wajahnya kemarin sore. Kali ini, sepertinya gadis itu kembali melakukan hal yang sama.
Naufal tak bisa melawan rasa penasarannya. Ia langsung menghampiri gadis itu dan mengambil kertas yang dipegangnya. Benar saja, gadis itu kembali melukis wajahnya.
.
.
.
.
.
bersambung
Tipe-tipe pembaca mangatoon/noveltoon.
(Yu tulis cuma sebagai selingan biar ga tegang 🙄)
Miskin diksi : komennya irit, kadang cuma terdiri dari 1 kata "up" dan kalo lagi mood jadi dua kata "up Thor!" 😏
Tim sukses SBY : suka ngomong slogan SBY "lanjut Thor.."
korban sinetron : suka gemes kalo ketemu pemeran utama yang bego. Dia bakal numpahin segala unek2nya di kolom komen.
Trus suka request ajab untuk pemeran antagonis 🤣
model preman : suka malak buat crazy up. ada juga yang suka ngancem mau berhenti membaca kalo jalan ceritanya ga sesuai keinginan mereka. 😒
profesional : jeli banget soal typo, eyd, puebi, kalimat rancu, hole plot dan semacamnya.
fanatik : sekali suka sama 1 novel, dia akan menganggap novel lainnya jelek. Kadang2 bakal ngejatuhin novel lain juga.
pingin beralih profesi sutradara : suka bikin alur sendiri, dan kadang2 maksa author buat pakai alur yg ia ciptakan.🤔
su'udzon : suka menduga2 jalan cerita. Kadang2 kalo ada karakter baru wanita yg muncul udah disangka jadi velakor dan kadang2 suka sok tahu dengan cerita ke depannya 😆
tajir : sering ngasih tip banyak ke author.💞
cabe rawit : kalo Komeng suka pedas dan nyelekik.
suporter : sering ngasih semangat ke author. Kadang2 kasih perhatian : "jangan lupa jaga kesehatan, minum yang banyak, jangan lupa makan dan tidurnya Thor"
datar : ga suka tantangan. Dia akan stop membaca apabila jalan cerita tak sesuai keinginannnya dan konfliknya makin rumit.🙄
gagal move-on : cerita dah mau tamat tapi minta buat dipanjangin, trus pas dah tamat diminta buatin season 2 🤨
Idaman tiap author : like setiap chapter, ngasih Komeng review positif, kasih bintang 5, kasih vote dan kasih tip 😍
Pembaca alam ghoib : baca tapi gak pernah ngasih like, ngga pernah Komeng, ngga pernah rate, apalagi vote.
kalian tipe pembaca seperti apa? 😆😆 apapun tipe readersku, saya selalu mencintai kalian 💞💞💞💞
Aotian Yu
jangan lupa like dan Komeng.