Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 102 : Hati yang Tak Bisa Berkompromi



Naufal tertegun. Apa gadis itu sedang menyatakan perasaan padanya? Apa dia sedang mengajaknya untuk pacaran? Inilah yang ada dipikiran Naufal saat ini.


Kedua lensa mata itu saling bertemu. Naufal masih tertegun. Masih tak berani untuk mengeluarkan suara. Juga masih tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tak mampu mengolah kata-kata saat ini. Hanya menatap kedua mata Er dengan tatapan begitu dalam yang membuat gadis itu merasa was-was.


"Hari ini gue lakai gaun yang lo kasih waktu itu. Gue tahu gaun ini pasti untuk dia. Tapi gue beranikan diri pakai gaun ini dan berdandan sefeminim mungkin. Berharap lo bakal tertarik sama gue ...." Er menarik napas sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Meskipun baru lihat dia sekali, tapi gue tahu persis dia seperti apa. Dia cewek yang sangat cantik dan feminim. Sangat pantas dicintai oleh cowok kayak lo. Beda jauhlah sama gue."


Er menyengir bodoh. Namun, lagi-lagi Naufal tentang tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Er. Ia beberapa kali bertemu gadis itu, tapi tak terlalu sering berkomunikasi intens dengannya. Saat bertemu Er, ia hanya bercerita tentang kisahnya yang bertepuk sebelah tangan dengan gadis yang mencintai saudaranya. Sekarang, Er sedang mengutarakan perasaan padanya, juga mengajaknya untuk mencoba memulai hubungan.


"Kenapa lo menatap bodoh kaya gitu? Apa gue enggak secantik dia? Ya ... gue sadar gue memang enggak secantik dia."


Suara Er meninggi dan menimbulkan getaran karena gugup. Sebenarnya ia mulai khawatir karena Naufal tak kunjung merespon ucapannya. Sedikit pun tidak! Hanya diam dan terus menatapnya dengan tatapan penuh keterkejutan.


"Er ...." Suara berat akhirnya keluar dari mulut Naufal setelah cukup lama membisu.


"Aku pernah seperti kayak kamu. Mengubah jati diri demi dia. Aku mengikuti penampilan saudaraku. Berharap mungkin dia bakal lihat aku dan jatuh hati sama aku. Tapi, kamu tahu Er? Itu sia-sia! Aku enggak berhasil dapatkan cintanya. Aku enggak berhasil merebut cintanya sekali pun mengikuti penampilan orang yang dia sukai. Malah, aku tidak nyaman dengan diriku sendiri dan hatinya tetap untuk saudaraku."


Kini Er yang kembali tertegun setelah mendengarkan ucapan Naufal. Nada bicara Naufal yang begitu serius, seketika menghapus jejak senyum di wajah Er.


"Apa kau mengerti maksudku, Er?"


Er menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mengerti, tolong perjelas!"


Naufal kembali menghela napas panjang. "Er, maaf ... aku tidak bisa dan tidak mau memulai hubungan dengan siapapun saat ini. Hatiku masih terisi dia. Aku tidak ingin menjadikan dirimu sebagai pelarian. Maaf ... aku harap kau bisa memahami ini semua. Seperti aku yang memahaminya dan tidak memaksanya untuk mencintaiku," ucap Naufal lembut dan penuh kehati-hatian.


Namun, suara lembut yang penuh kejujuran itu menusuk pendengarannya dan hatinya seakan tersayat oleh kata-kata yang keluar dari mulut Naufal. Mata Er berair seketika. Hatinya terpukul saat ini. Tidak! Apakah ia sedang mengalami penolakan dari seorang cowok? Ia adalah gadis tomboi yang populer di sekolahnya. Sangat sulit bagi siswa laki-laki untuk mendekatinya. Namun, saat ini ada seorang cowok yang menolaknya. Bukankah ini memalukan?


Er kembali menyengir bodoh. Bahkan suara tawanya cukup besar. Kepalanya mendongak ke atas. Ia menelan salivanya yang terasa pahit kala Naufal mengeluarkan kata demi kata yang tak dapat ia terima.


"Gue paham! Gue mengerti!" ucapnya lirih, tapi matanya menolak melihat ke arah Naufal. Ia memalingkan wajahnya ke jendela samping mobil dan meletakkan satu telapak tangan di mulutnya.


"Er, maaf ...."


Er mengangguk lalu tangannya membuka sabuk pengaman lalu ia membuka pintu mobil. Er keluar dari mobil. Tanpa suara. Tanpa pamit. Tanpa menatap wajah Naufal.


Er, maaf kalau aku tega sama kamu. Maaf jika jawabanku menggoreskan luka di hatimu. Ini semua kulakukan demi kebaikanmu. Aku tidak mau menyeretmu dalam ketidakpastian diriku. Ketahuilah Er, aku pernah berada di posisimu yang sekarang. Menyukai seseorang dan mendapat penolakan. Jangan salahkan dia yang kucintai. Salahkan saja aku yang tak bisa berpindah ke lain hati dan tak bisa melepasnya.


Naufal lagi-lagi termenung. Andai ia dapat memutar kembali waktu. Ia ingin meminta Tuhan untuk mempertemukan dirinya dan Er lebih dulu. Mungkin saja ia akan jatuh cinta pada gadis tomboi itu. Andai hati bisa berkompromi, sungguh ia ingin membalas cinta yang Er berikan untuknya. Namun, semua hanyalah ilusi semata. Kenyataannya, waktu tak dapat diputar dan hati tak dapat ditukar. Ia terperangkap dengan cinta lamanya yang bertepuk sebelah tangan. Dan tak tahu sampai kapan ia akan berhenti berharap pada Amaira.


Naufal akhirnya kembali ke rumahnya. Ia bersandar sejenak sambil mengembuskan napas kasar sebelum keluar dari mobilnya. Ia masuk rumah lalu menuju ke ruang keluarga. Matanya langsung tertuju ke arah taman samping rumahnya. Ia dapat melihat taman tersebut karena ruangan itu dipenuhi kaca transparan. Ada Aldrin dan Amaira di sana. Tampak Aldrin sedang mengajari Amaira bermain biola.


"Pegang biola di tangan kiri. Apit penyangga biola dengan dagu dan bahu kiri. Lalu pegang busur di tangan kanan," ucap Aldrin memberi penjelasan sambil mempraktekkan biola di tangannya. Ia menyerahkan biolanya pada Amaira dan meminta gadis itu untuk mencontohi yang telah ia praktekkan.


"Bagaimana ini aku lupa," suara manja amaira terdengar bingung.


Aldrin tertawa kecil lalu ia memosisikan berdiri di belakang Amaira. Kedua tangannya menuntut tangan Amaira untuk memegang biola dan menggeseknya. Aldrin merapatkan badannya sementara Amaira tetap membelakanginya. Mereka begitu dekat dan lekat seiring bunyi suara biola yang keluar.


"Apa kamu suka?" tanya Aldrin menunduk menyamping agar dapat melihat wajah Amaira di sela-sela permainan biola keduanya.


Amaira mengangguk senang sambil mengangkat kepalanya yang menyamping ke atas. Ia menatap lekat Aldrin yang tersenyum padanya. Wajah mereka terlalu dekat hanya menyisakan jarak beberapa senti. Kedua tubuh itu sangat rapat seperti sedang berpelukan. Sedang tangan Aldrin terus menuntun tangan Amaira untuk memainkan dawai. Permainan biola membuat mereka menjadi dekat. Begitu romantis terlihat dipandangan mata.


Naufal menatap keduanya dari jauh. Tak jauh dari tempatnya berpijak, Maria juga menyaksikan sepasang kekasih itu.


.


.


.



bersambung...


naskah ini diketik dengan iringan lagu dari juicy luicy yang berjudul tanpa tergesa. liriknya sangat pas dan klop menggambarkan situasi antara Er dan Naufal saat ini.


jangan lupa like, vote dan komen biar author makin semangat...