
Naufal mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu sambil tetap memegang hasil lukisan gadis tersebut. "Kenapa kamu masih terus melukis wajahku? Kamu harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin melukis seseorang!" ketus Naufal setengah kesal. Entah mengapa suasana hatinya menjadi buruk sejak kemarin.
Gadis itu menatap takut ke arahnya. Ia segera menundukkan pandangannya. "Ma-maaf ... maafkan aku Kakak," lirihnya.
Tak lama kemudian, seorang ibu menghampiri mereka. "Keyla, kamu dari mana? Ayo cepat masuk! Sekarang jadwalmu minum obat," ucap ibu itu.
Pandangannya lalu tertuju pada Naufal yang berdiri di sampingnya. "Kamu ... kamu pemuda yang waktu itu membawa Keyla ke Rumah Sakit, kan?"
Pertanyaan ibu itu membuat Naufal mengingat kejadian beberapa hari yang lalu tepat saat ia mengantar Aldrin ke acara kompetisi musik. Ya, saat itu ia menolong gadis yang mendapat serangan jantung mendadak di pinggir jalan. Itu artinya, gadis yang berada di hadapannya saat itu adalah gadis yang ia bawa ke rumah sakit waktu itu. Pantas saja ia tidak asing dengan wajah gadis itu.
Naufal mengembangkan senyumnya setelah cukup lama tertegun. "Jadi ... dia adalah anak Ibu yang aku tolong waktu itu?" tanya Naufal memastikan kembali.
"Iya. Berkat kamu, Keyla cepat ditangani. Dokter bilang, andai saja waktu itu aku lambat membawa Keyla ke sini. Akibatnya akan sangat fatal," papar ibu itu sambil tersenyum memegang tangan Naufal.
Naufal menoleh ke arah gadis yang masih menunduk karena takut. Sontak pria itu merasa bersalah karena telah memarahinya tadi. Sedangkan gadis yang bernama Keyla itu langsung pergi sambil merampas kembali hasil lukisannya dari tangan Naufal.
Naufal memandang kepergian Keyla sembari bertanya pada ibu Keyla yang masih di sampingnya. "Apa dia mengidap penyakit jantung?"
"Iya, dia mengidap penyakit jantung bawaan sejak lahir. Dokter memvonis hidupnya tidak sampai dua puluh tahun jika tidak segera melakukan transplantasi jantung," terang ibu itu.
Mendengar penjelasan ibu itu membuat Naufal makin merasa bersalah. Ibu itu pamit setelah mengungkapkan penyakit yang dialami anaknya. Naufal mengikutinya dari belakang. Ia melihat ibu tersebut masuk ke dalam ruangan. Ruang tersebut tak tertutup rapat, jadi ia bisa mengintip isi dalam ruangan. Terlihat, gadis tadi sedang diperiksa oleh dokter.
Sementara di ruangan lain, dokter sedang menjelaskan keadaan Aldrin pada Ardhilla dan Jefri. Saat ini, Aldrin mengalami brain death atau biasa disebut mati otak. Seluruh obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya hanya untuk memperpanjang masa komanya, tapi tidak bisa dipastikan untuk menyelamatkan hidupnya. Jika dalam waktu seminggu Aldrin tidak kunjung mengalami perubahan, maka segala alat medis yang membantunya untuk tetap hidup, akan dicabut dokter.
"Jika kita terus mencoba membuat ia sadar kembali, bukan keputusan yang tepat karena usaha itu hanya akan merusak organ-organnya," kata dokter dengan raut tak berdaya.
Seketika, tangisan Ardhilla pecah kembali. Ini tidak mungkin! Dokter akan memintanya untuk menyetujui surat pernyataan tersebut, yang artinya ia akan menyetujui untuk mengakhiri hidup Aldrin. Bukankah ini terlalu kejam? Kenapa dia harus menjadi malaikat maut bagi anaknya sendiri?
Belum sempat Ardhilla menjawab penjelasan dokter, kini giliran seorang pria dari pelayanan donor organ yang duduk di samping dokter itu menjelaskan pada Ardhilla dan juga Jefri.
"Ada lima organ pasien yang akan didonasikan kepada pasien lain guna menyelamatkan hidup mereka. Organ-organ tersebut adalah jantung, hati, ginjal, kornea mata dan paru-paru," terang pria itu.
Mata Ardhilla terbuka lebar. Ia sungguh terkejut dengan pernyataan yang keluar dari pria tersebut. "Apa katamu? Jadi ... kalian menyuruhku untuk menandatangani persetujuan penghentian alat medis anakku hanya supaya kalian bisa mengambil organ tubuh anakku?!" teriaknya sambil menepuk meja.
Jefri berusaha menenangkan Ardhilla agar wanita itu bisa menjaga emosinya.
Pria tadi kembali bertutur, "Bukankah anak ibu memiliki kartu donor organ? Itu artinya dia telah siap untuk mendonorkan seluruh organ tubuhnya saat meninggal nanti."
Baik Ardhilla maupun Jefri sama-sama terperanjat. Bagaikan kapal yang menabrak batu karang besar, begitulah hati mereka saat mengetahui Aldrin memiliki kartu donor organ.
Jefri bergeming. Ia tak berkata-kata. Pria itu memilih keluar dari ruangan dokter. Ia menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi. Matanya berair, ia menangis tanpa suara. Jantungnya tak berhenti berdebar kencang memikirkan keadaan Aldrin. Sementara Ardhilla kembali menangis histeris di dalam ruangan tersebut.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil organ anakku. Tidak akan, walaupun hanya seujung kukunya!" teriak Ardhilla penuh emosi dengan deraian airmata yang mengalir deras di wajahnya.
Jefri mendengar suara teriakan Ardhilla. Ia kembali masuk ke ruangan tersebut, menarik paksa Ardhilla untuk keluar agar bisa lebih tenang. Suasana menjadi begitu memilukan tatkala suara Ardhilla terdengar menghilang kerena terus berteriak. Pada akhirnya, ia memilih menangis di pelukan Jefri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari telah datang, Naufal masuk kembali ke ruang rawat Aldrin. Ia melihat Amaira tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang Aldrin. Kepalanya direbahkan di dekat tangan Aldrin.
Naufal memandangnya dengan penuh iba. Ia langsung melepas jas yang dipakainya lalu dipakaikan ke punggung Amaira agar gadis itu tak kedinginan dengan suhu ruangan di kamar itu.
Amaira terbangun. Ia menoleh ke samping dan melihat Naufal berada di depannya tersenyum hangat seperti yang selalu pria itu berikan.
"Maaf, membangunkanmu. Aku bawakan makanan untukmu. Makan dulu, yuk!" ajak Naufal sambil meletakkan makanan di atas meja.
Amaira mengangguk. "Terima kasih."
Ia melihat Naufal bergegas keluar dari kamar. "Kamu mau ke mana?" tanya Amaira.
"Oh ... aku ingin mengunjungi temanku. Kebetulan dia juga di rawat di Rumah Sakit ini," terang Naufal.
Amaira tersenyum. "Semoga temanmu lekas sembuh."
Naufal mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia lalu keluar kamar menuju kamar lain sambil membawa sebuah tas kecil. Ia mengetuk pintu di sebuah kamar, tak lama kemudian seseorang membuka pintu tersebut.
"Boleh aku masuk?" tanya Naufal ramah pada ibu yang ia temui tadi sore.
"Tentu saja boleh!" sambut ibu itu dengan hangat.
"Kakak ...." gadis itu terkejut saat melihat kehadiran Naufal.
"Hai, Keyla. Aku datang membawa hadiah untukmu."
Naufal menyodorkan tas kecil berisi perlengkapan alat melukis. Gadis itu tampak senang dan berterima kasih padanya.
"Jika kamu mau, aku bersedia kapan saja menjadi model lukisanku," ujar Naufal menawarkan dirinya.
Gadis itu melebarkan senyumnya hingga gigi depannya terlihat. Ia tampak bahagia.
"Benarkah itu? Kakak bersedia kulukis kapanpun aku mau?" tanyanya kembali seolah tak percaya.
"Hum," angguk Naufal.
"Kalau begitu aku mau sekarang!" pinta gadis itu yang langsung turun dari ranjang tidurnya. Gadis itu langsung mengajak Naufal menuju atap gedung Rumah Sakit.
Langit malam begitu pekat. Hanya ada beberapa bintang di atas sana bersama pantulan cahaya rembulan. Seolah tak peduli dengan dinginnya angin malam, Keyla mempersiapkan peralatan lukisnya dan meminta Naufal untuk duduk. Ia memulai menggaris di atas kertas. Sementara Naufal duduk mematung tanpa ekpresi. Ia sungguh sangat tegang karena ini pertama kalinya ia menjadi model lukisan.
Untuk meredakan rasa tegangnya, Naufal melontarkan pertanyaan pada Keyla. "Apa kamu juga orang Indonesia?"
"Iya Kakak, aku tinggal di Batam. Tapi dalam setahun terakhir ini, aku menetap di Singapura untuk pengobatan."
"Berapa usiamu?"
"16 tahun."
"Oh ... dua tahun lebih muda dariku berarti."
"Kenapa kakak ada di rumah sakit ini?"
Naufal terdiam sesaat. "Menjenguk teman sakit," jawabnya singkat.
"Apa teman kakak sakit parah?"
Naufal tak menjawab, ia memilih menunduk. Keyla kembali berkata, "Kakak, apa kamu pernah mencintai seseorang?"
Naufal tertawa kecil, sontak pikirannya terbayang akan Amaira yang lembut. "Pernah, tapi ... sayangnya dia tidak mencintaiku dan menikah dengan orang lain."
"Kalau begitu ... apa kamu pernah dicintai seseorang?"
Naufal bergeming sesaat. Pandangannya menjadi sendu karena teringat tentang kisahnya dengan gadis Tomboi bernama Er. Ia mengangguk pelan sambil menjawab, "Pernah juga, tapi aku tidak bisa membalas cintanya, dan akhirnya dia pergi dari kehidupanku."
"Seperti apa rasanya jatuh cinta itu?" tanya Keyla sambil tetap menggoreskan pensil di selembar kertas putih.
Pandangan Naufal beralih padanya. "Rasanya begitu bahagia. Tapi ... ada kesedihan juga di dalamnya. Dan kau harus siap untuk dua pilihan, apakah cinta yang hadir akan membawamu dan kebahagiaan ataukah hanya akan membawamu dalam kesedihan. Jantungku kadang akan berpacu sangat kencang ketika menerima kebahagiaan. Dan seperti hendak berhenti berdetak saat mengalami patah hati."
"Kalau begitu aku tidak bisa dan tidak boleh jatuh cinta!"
Mendengar ucapan gadis itu membuat Naufal mengernyitkan matanya. Sementara gadis itu kembali melanjutkan ucapannya, "Kata dokter, aku harus menghindari hal-hal yang membuat jantungku berdebar-debar. Aku tidak boleh merasakan perasaan yang berlebihan, baik itu senang maupun sedih. Karena itu semua akan menyebabkan jantungku berhenti berdegub dan menyebabkan nyawaku melayang."
Naufal berdeham, mengambil napas dan mengeluarkannya. Jujur, ia tersentuh mendengar ucapan gadis itu. Dia telah mengambil pendidikan jurusan kedokteran, dan tak bisa membayangkan ke depannya nanti, ia akan mendengar keluhan-keluhan dari setiap pasien. Itulah mengapa saat mengetahui gadis itu mengidap kelainan jantung bawaan, hatinya merasa bersalah. Sebab, ia ingin menjadi dokter yang tidak hanya membantu para pasien, tapi juga sering berinteraksi dan mendengar keluhan mereka.
Gadis itu meletakkan pensilnya. Lalu berdiri tepat di depan Naufal yang masih duduk. Naufal menatap dalam ke arahnya. Rambut panjangnya beterbangan karena diganggu angin malam. Matanya yang berwarna cokelat begitu terlihat berkilau dan ada seutas senyum samar yang merekah di bibir tipisnya.
"Kakak, kudo'akan kamu segera menemukan seseorang yang mencintaimu, dan kamu juga mencintainya."
Naufal tersenyum tipis mendengar ucapan gadis yang berusia dua tahun lebih muda darinya. Suaranya yang halus dan wajahnya yang lembut mengingatkannya pada Amaira.
.
.
.
.
.
bersambung...
FYI, detik2 terakhir episode ini didominasi oleh kisah pemeran kedua (Naufal). tapi yang menjadi fokus utama tetap Aldrin kok 😉