Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 35 : Suara dari Masa lalu



"Aldrin, bangunlah! Sudah pagi, Nak. Sudah waktunya kita mengamen!"


"Ayah, aku tidak mau keluar rumah lagi!"


"Ada apa denganmu?"


"Mereka bilang aku anak pungut yang diambil Ayah dari tumpukan sampah. Mereka bilang begitu karena aku hanya punya Ayah tapi tidak punya Ibu."


"Siapa yang bilang kau tidak punya ibu? Dengarkan ayah, kau punya ibu. Ibumu sangat cantik. Wajahmu mewarisi wajah ibumu!"


"Jika aku punya ibu, kenapa ibu tidak bersama kita?"


"Itu karena ... ibumu tinggal di pulau yang jauh dari tempat kita, kehidupan ibumu di sana jauh lebih menyedihkan dari kita."


Saat ini, hujan terus mengguyur kota metropolitan itu. Aldrin masih terkulai tak berdaya di jalan raya. Hanya motor kesayangannya yang berdiri gagah di sampingnya. Darahnya tak terlihat lagi karna telah melebur bersama air hujan.


Aldrin masih sadar. Ia masih mendengar suara langkah kaki orang-orang yang berdatangan menghampirinya. Ia mencoba membuka matanya, yang terlihat hanya warna putih tak bergambar. Perlahan terdengar suara-suara yang masuk ke telinganya. Namun, suara-suara itu bukan milik orang-orang yang menghampirinya, melainkan suara-suara yang berasa dari masa lalu.


"Aku ibumu. Wajahmu sangat mirip denganku. Kuharap sifat serta ambisimu mirip denganku. Aku ingin kamu bisa seperti Zaki. Ingat, kamu harus seperti dia! Aku akan sangat senang jika kamu bisa menyainginya."


"Mulai sekarang aku adalah ayahmu. Jadi kamu harus memanggilku ayah. Aku menikahi ibumu saat Naufal masih bayi. Itu atas permintaan anak pertamaku, Zaki. Anak sulungku sangat menyayangi ibumu, ibumu juga sangat sayang padanya. Dan sekarang, aku akan memperlakukan kau, seperti ibumu memperlakukan Zaki."


"Kamu tahu tidak, kenapa Ibu menyuruhmu belajar seharian penuh di ruangan ini? Itu karena hari ini ada beberapa wartawan yang datang meliput di rumah kita. Ibu tidak mau wartawan tahu keberadaanmu. Padahal kamu sudah sebulan di sini, tapi ibu hanya mengakui aku dan Naufal sebagai anaknya."


Suara-suara yang berasal dari masa lalu itu terus terngiang di telinganya. Ia merasakan tubuhnya terangkat. Namun, ia tak mampu bergerak maupun membuka mata. Air mata perlahan mengalir di pipinya bersamaan dengan kenangan masa lalu.


Kupikir, dulunya apa yang ayah katakan itu benar. Tadinya, aku mengira ibu adalah wanita miskin yang sederhana. Tadinya, aku berkhayal sosok ibuku adalah wanita yang memakai daster compang camping, ibu yang berwajah lesu, ibu yang tak mampu membeli sebotol susu untukku. Mungkin, itulah yang menjadi penyebab kenapa aku bersama Ayahku.


Tapi ternyata, ibuku wanita cantik yang terawat. Ia seorang artis yang kemanapun ia pergi ada kamera yang mengikutinya. Ibuku sudah pasti kaya raya. Jangan pun sebotol susu, mungkin pabrik susu pun bisa dibelinya. Tapi, kenapa dia meninggalkan aku dan ayah? Menikah dengan orang lain dan menyayangi anak yang bukan anaknya?



"Ada apa?" tanya Maria pada asistennya yang sedang menyetir mobil.


"Kayaknya ada orang kecelakaan," kata asisten itu sambil menunjuk keramaian.


Maria menengok keramaian di tengah jalan. Ia melihat beberapa warga tengah mengangkat seorang remaja laki-laki yang tak sadarkan diri. Mata Maria terbelalak saat melihat wajah yang tengah pingsan itu. Tentu saja ia mengenal lelaki itu.


Maria langsung membuka sabuk pengamannya.


"Kamu mau ke mana? Di luar masih hujan!" tegur asisten saat melihat Maria hendak membuka pintu mobil.


"Pak, aku kenal orang ini. Dia sahabatku. Tolong angkat dia ke mobilku!" pinta Maria di antara kerumunan orang banyak.


Warga langsung bergerak cepat membawa masuk Aldrin ke mobil Maria. Mereka membaringkan cowok berwajah tampan itu di kursi tengah mobil. Asisten Maria menengok ke belakang dengan raut bingung karena artisnya rela berhujan-hujanan demi menolong anak muda yang tak dikenalinya.


"Si-Siapa dia?" tanya asisten penasaran.


"Tidak usah banyak tanya! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" perintah Maria dengan wajah panik.


Maria membaringkan kepala Aldrin bersandar di lengannya. Tangannya tak sengaja menyentuh kepala cowok itu. Ia panik tatkala melihat tangannya penuh darah. Darah itu rupanya berasal dari kepala cowok itu. Saking paniknya, ia meminta asistennya untuk lebih cepat mengendarai mobil mereka.


Sambil menggenggam tangan dingin Aldrin, dia berkata, "Aldrin, bertahanlah ... Bertahanlah!"


Di tempat yang berbeda, Naufal sedang duduk di kursi tunggu yang di tersedia di mall. Rupanya, saat di sekolah tadi, cowok berkacamata ini memberanikan diri untuk mengajak Amaira nonton bioskop bersama. Beruntungnya, Amaira menyetujui ajakannya. Tentu saja ini menjadi momen yang paling ia tunggu.


Naufal masih duduk dengan sabar menunggu kedatangan Amaira. Matanya melirik ke sana kemari. Hujan di luar yang cukup deras membuatnya berpikir mungkin saja gadis itu tidak datang. Namun, tidak lama kemudian, ia melihat Amaira dari kejauhan. Gadis itu datang dengan memakai dress putih. Rambut panjang gadis itu dikuncir indah, sehingga membuatnya terlihat berbeda dari hari-hari biasa.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Amaira saat menghampirinya.


"Tidak apa-apa kok. Tadinya kupikir kamu enggak bakal datang karena hujan," balas Naufal menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku orang yang selalu tepati janji kok."


"Baiklah, ayo kita masuk!"


Saat hendak memasuki gedung bioskop, tiba-tiba suara ponsel Naufal berbunyi. Ia bergegas mengambil ponselnya dari saku celana.


"Tunggu sebentar ya, aku terima telepon dulu!" ucap Naufal.


Amaira mengangguk. Ia memutuskan duduk sambil menunggu Naufal yang menepi karena sedang menerima telepon. Tak lama kemudian, Naufal kembali menghampirinya. Namun, ekspresi cowok itu berbeda dari sebelumnya. Ada guratan kecemasan bercampur kepanikan yang tercetak di wajahnya.


"Amaira, aku minta maaf. Kita tidak bisa menonton sekarang. Aku dapat kabar kalau saudaraku masuk rumah sakit. Aku harus melihatnya sekarang," ucap Naufal setengah menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Pergilah dan lihat saudaramu!" Gadis itu tersenyum lembut padanya.


Naufal membalas senyuman Amaira. Tadinya ia sedikit ragu membatalkan nonton bersama gadis itu. Namun, melihat jawaban Amaira yang begitu pengertian, membuatnya lega. Walaupun sebenarnya ia menyesal karena tidak dapat bersama dengan gadis itu sore ini.


"Terima kasih, aku ... aku pergi dulu. Kalau kamu masih mau, aku akan mengajakmu lagi. Tapi tunggu sampai saudaraku sehat kembali," ucap Naufal sambil membalas senyuman gadis itu.


Amaira mengangguk sambil berkata, "Kamu pasti sangat menyayangi saudaramu. Kudoakan semoga dia cepat sembuh."