Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 39 : Sebuah Pengakuan



Aldrin tiba di lapangan basket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka. Setiap pulang sekolah, dia datang ke tempat itu untuk bermain basket bersama Bryan dan kawan-kawan lainnya. Lapangan terlihat sepi hanya ada Bryan di sana yang tengah melakukan shooting ke bola basket.


"Woi, Aldrin!" sapa Bryan begitu melihat Aldrin turun dari motornya.


"Kok sepi banget, ke mana yang lainnya?" tanya Aldrin sambil mengamati sekeliling.


"Mereka lagi main di sekolah," jawab Bryan.


"Main di sekolah? Aku dari sekolah, tidak ada siapa-siapa di sana." Aldrin mengerutkan dahinya.


"Ya ... karena mereka memang nunggu semua orang pulang. Angel minta mereka buat ngerjain murid baru yang dia enggak suka. Katanya sih terserah mau diapain tuh cewek yang penting bikin dia trauma deh," papar Bryan.


Aldrin terperanjat begitu mendengar penjelasan Bryan. Ingatannya langsung mengarah pada Amaira yang masih di sekolah. Jika itu perintah Angel, apa mungkin siswi yang mereka maksud itu Amaira?


Aldrin bergegas menaiki motornya kembali seraya memasang helm di kepalanya.


"Lo mau ke mana?" tanya Bryan yang heran.


Aldrin tak menghiraukan pertanyaan Bryan. Ia langsung memacu motor besarnya, melaju dengan kecepatan tinggi kembali ke sekolah. Dalam pikirannya saat ini hanya ada Amaira.


Tiba di sekolah, Aldrin langsung berlari menuju perpustakaan. Namun, Perpustakaan tersebut telah terkunci. Cowok itu kemudian berlari menyelusuri setiap kelas yang ada di sekolah itu sambil memanggil-manggil Amaira. Sayangnya, seluruh kelas telah kosong dan terkunci, tidak ada siapapun yang dapat ia temui.


Aldrin masih tak menyerah, ia menaiki anak tangga menuju atap sekolah yang sering ia singgahi. Hasilnya nihil, tetap tak ada orang di sana.


Dari atap, ia kembali turun dan berlari menuju lapangan.


"Amairaaa! Amairaaaaaaaaa!"


Aldrin berteriak sekuat tenaga memanggil nama gadis itu berkali-kali. Suaranya menggema. Napasnya terdengar tak beraturan. Keringat bercucuran di wajah dan sekujur tubuhnya.


Tiba-tiba ia teringat, sekolah ini di lengkapi CCTV setiap sudut ruangan. Namun, ada satu tempat yang tak terjangkau CCTV, yaitu toilet siswa paling ujung.


Aldrin langsung berlari menuju toilet tersebut. Dari jauh ia melihat salah satu teman Bryan memegang ponsel seperti sedang merekam. Si pemegang ponsel itu menoleh ke arah Aldrin lalu berkata, "Woi, Aldrin, lo mau gabung juga, ya?"


DUAK!


Satu pukulan melayang dari tangan Aldrin ke wajah orang itu. Orang itu meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang baru saja di tinju.


"Kenapa lo mukul gue?"


Aldrin tak menghiraukan pertanyaannya. Ia langsung menyerobot masuk ke toilet itu dan mendapati Amaira yang sedang menjerit ketakutan dengan posisi setengah terbaring di lantai. Roknya telah tersingkap ke atas memperlihatkan celana short yang ia pakai. Di depannya, ada tiga orang kakak kelas yang siap untuk menerkamnya.


Aldrin menarik badan temannya yang hendak menyentuh Amaira. Ia kembali melayangkan pukulan ke arah mereka hingga terlempar menjauh dari Amaira.


"Aldrin, lo kenapa sih? Mau jadi pahlawan, ya?" tanya satu di antara mereka yang terkejut mendapat pukulan dari Aldrin.


Aldrin menyandarkan tubuh orang itu ke dinding. Dengan mata yang memancarkan api, ia menarik kerah baju orang itu seraya berteriak, "Dia pacarku! Kenapa kalian sentuh dia?!"


Seketika, mereka terkejut mendengar ucapan Aldrin. Wajah mereka memucat dan ketakutan. Saat hendak kembali memukul, tiba-tiba Amaira berdiri dan langsung bergegas lari meninggalkan mereka semua.


Aldrin berusaha mengejar sambil memanggil-manggil namanya. Namun, gadis itu terus berlari sambil menangis. Ia terus menghindari Aldrin, dengan berlari menuju lapangan sekolah. Aldrin mempercepat larinya berusaha mengejar gadis itu. Ia langsung menarik Amaira ke pelukannya. Namun, itu justru membuat Amaira berteriak histeris sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukannya.


"Amaira, tenang! Ini aku!" ucap Aldrin sambil memeluknya.


Amaira masih meronta ketakutan sambil menjerit. Aldrin menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. "Lihat! Ini aku! Jangan takut, Aku di sini! Mereka belum sempat melakukan itu sama kamu."


Aldrin bergeming. Ia menyandarkan kepala Amaira di dadanya. Gadis pendiam itu kini menangis dalam pelukannya. Cowok berambut blonde itu hanya membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tak juga menyuruhnya berhenti menangis. Hanya diam dan terus diam sambil mendengar isak kesedihan dari gadis yang ia sukai.


Saat ini, Amaira masih terus menangis pilu. Untuk tipe laki-laki yang tak pandai membujuk wanita, apalagi yang bisa ia lakukan selain meminjamkan dadanya. Hanya dada dan sebuah pelukan hangat yang bisa ia berikan.


Aldrin masih memeluk Amaira yang terus mengeluarkan butiran air mata.


"Maafin aku ... maafin aku ...." Aldrin membuka suara setelah sekian lama terdiam.


Sambil terus memeluknya, ia berulang kali mengucapkan kata maaf. Meskipun itu bukan kesalahannya, tetapi permintaan maaf ini untuk sebuah kegagalannya dalam melindungi gadis itu.


"Dengarkan aku! Aku berjanji, mulai sekarang tidak akan ada yang berani mengganggumu," ucap Aldrin sambil mempererat pelukannya.


Aldrin mengusap kepala Amaira dengan lembut hingga membuat tangis gadis itu mereda. Amaira memberanikan diri menatap wajah tampan lelaki yang memeluknya.


Gadis itu membuka bibirnya yang terkatup, mencoba menyusun kata-kata. "Apa ... kamu adalah dia?" tanyanya lirih dengan air mata yang masih terurai.


Pertanyaan itu sontak membuat Aldrin terhenyak. Napasnya menjadi berat. Ia membasahi bibirnya yang kering. Hendak menjawab, tetapi lidahnya seakan tertempel di langit-langit. Pada akhirnya, hanya mampu menatap wajah gadis itu dengan tatapan sendu.


"Apa mungkin kamu memang dia? Suaramu dan suaranya sangat mirip. Bukan hanya itu, bahkan gayamu berbicara, caramu bercanda, dan ketawamu juga sangat mirip dengannya," lanjut Amaira sambil menatap lekat ke arah Aldrin yang masih membisu. Tatapan gadis itu seolah memohon agar Aldrin segera menjawabnya.


Aldrin melepaskan pelukan. Ia memalingkan wajahnya lalu kembali membasahi bibirnya. Ia sangat mengerti apa yang dimaksud Amaira, tapi tak punya kemampuan untuk menjawab.


"Apa kamu adalah orang itu?" Amaira bertanya kembali dengan suara yang nyaris hilang.


Aldrin masih tak menjawab. Ia hanya mampu menahan napas. Mulutnya seperti tergembok. Ia menunduk sambil memejamkan matanya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. Hanya itu jawaban yang bisa ia berikan. Sebuah anggukan yang artinya, Ya.



"Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku lagi?" tanya Amaira dengan mata yang berkaca-kaca.


Aldrin kembali memalingkan wajahnya sambil berdeham. Ia kembali menunduk karena masih tak berani menatap langsung gadis itu.


Dengan susah payah ia berusaha mengeluarkan suaranya. "Karena aku merasa tidak pantas di dekatmu. Kita terlalu berbeda dan tidak berada di jalan yang sama. Kamu masih bisa dapatin yang lebih baik dari aku."


Amaira terdiam mendengar penjelasan Aldrin. Ia mengerti. Sayangnya, cowok di hadapannya itu telah mencuri hatinya sejak lama.


Amaira memberanikan diri mengambil tangan Aldrin, menggenggamnya lembut. Dan itu sukses membuat Aldrin tersentak. Ia menatap tangan mulus Amaira yang memegang tangannya. Mereka kembali bertatap muka.


"Aku sudah menyadari dia adalah kamu sejak pertama kali kamu telepon aku," ucap Amaira pelan.


Aldrin terperangah. Hingga kini, tatapannya masih tertancap di bola mata gadis itu. Perasaan haru dan senang berkumpul menjadi satu. Masih saling memandang, mereka sama-sama mengurai senyum di wajah masing-masing.


Perlahan, Aldrin mendekatkan wajahnya ke wajah Amaira. Ia memiringkan kepalanya ke kanan untuk menempatkan wajahnya beberapa inci dari wajah Amaira. Gadis itu kembali tegang dan takut. Ia berjalan mundur untuk menjauhkan tubuhnya dari Aldrin.


Namun, dengan cekatan Aldrin menarik kepala Amaira itu ke wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Seketika, mata Amaira membulat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Napasnya seolah tertahan. Ia masih tak berani bergerak. Tiba-tiba tubuhnya membeku


Aldrin memejamkan matanya untuk dapat lebih meresapi ciumannya. Di tengah lapangan sekolah yang sunyi, keduanya berciuman di bawah sinar matahari sore yang akan segera tenggelam.