Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 41 : Antara Aldrin, Amaira dan Naufal



"Gue lihat mereka akhir-akhir ini sangat dekat," ujar Angel mencoba memprovokasi Naufal.


"Mereka, 'kan, satu tim kelompok sejarah."


"Oh, benar juga, ya! Omong-omong, lo dan Amaira cocok banget loh! Kalau lo suka sama dia, katakan saja langsung. Gue dengar, banyak kakak kelas yang suka sama Amaira. kalau lo terlambat, dia bakal jadi milik orang lain," ucap Angel memanas-manasi Naufal. Setelah berkata, gadis itu langsung berbalik membelakangi Naufal, menciptakan senyum licik seraya berjalan meninggalkan cowok lugu itu.


Naufal terhenyak. Perkataan Angel sukses meracuni dirinya. Menurutnya, apa yang dikatakan Angel ada benarnya. Jika ia tidak segera menyatakan perasaannya, maka akan ada seseorang yang duluan melakukannya. Selama ini Amaira menutup diri dari para siswa laki-laki. Mereka memang dekat, tapi kedekatan mereka tak cukup membuat Naufal memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.


Amaira masuk ke kelas berjalan menghampiri tempat duduknya. Ia tertegun melihat secarik kertas berisi sebuah pesan yang diletakkan di atas mejanya. Ia mengambil kertas kecil itu lalu membaca pesan yang tertulis di sana. Senyum gadis itu refleks terurai ketika membaca isi pesan yang memintanya untuk segera ke perpustakaan.


Tidak lama kemudian, Ketua kelas masuk tergesa-gesa sambil berteriak heboh. "Ada kabar gembira! Ada kabar gembira!"


Seruan dari ketua kelas membuat seisi ruangan itu berkumpul.


Ihsan berdiri di meja guru sambil berkata, "Hari ini, guru-guru akan mengadakan rapat. Itu artinya ...." Ihsan mengedarkan pandangannya ke seluruh teman-temannya, lalu berteriak dengan kencang, "kita tidak belajar seharian penuh!"


Semua Siswa bersorak ria mendengar kabar tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya sampai berjoget di atas meja. Meskipun kenyataannya, mereka yang dirugikan karena tidak belajar seharian.


Melihat kehebohan yang terjadi di kelasnya, membuat Amaira turut mengembangkan. Ia mengambil tasnya kemudian berniat menuju ke perpustakaan. Saat keluar kelas, Naufal langsung menghampirinya.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke perpustakaan, mau melanjutkan tugas kelompok."


"Boleh minta waktumu sebentar? Ada yang ingin aku katakan!"


Amaira mengangguk.


Naufal menarik napas panjang. Tiba-tiba kegugupan menghampirinya. "Tapi, jangan kaget, ya?


Dahi Amaira berkerut. "Memangnya kamu mau bilang apa?"


Naufal menunduk. Ia tampak mengatur napasnya. Menarik pelan, lalu mengembuskan dengan kasar. Itu ia lakukan berkali-kali.


"Anu ... sebenarnya ... sudah lama aku mau katakan ini sama kamu."


"Ya sudah, katakan saja!" ucap Amaira tenang dengan sepasang mata yang tertancap di wajah Naufal.


Tatapan Amaira membuat Naufal makin gugup. "Emmm ...." Naufal berhedem sejenak. "Ta-tapi ... kamu tidak perlu jawab sekarang. Kamu boleh menjawabnya kapan-kapan. Aku bisa menunggu kok."


Sepasang alis Amaira tampak saling bertautan. Ia mengernyit bingung dengan kata-kata ambigu yang meloncat dari mulut Naufal.


"Bagaimana mau dijawab kalau dari kamu enggak bilang. Ayo katakan saja!" desak Amaira sambil menoleh ke samping, tepatnya jalan menuju ke perpustakaan. Ia tampak tak sabaran dengan apa yang hendak Naufal katakan. Apalagi, saat ini Aldrin tengah menunggunya di perpustakaan.


Naufal kembali menarik napas. Dengan bibir yang gemetar menahan gugup, ia memberanikan diri menatap bola mata Amaira. "Aku ... sebenarnya aku—"


"Woi, kenapa kamu lama banget, sih? Aku sudah tunggu dari tadi di perpustakaan!" potong Aldrin yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya lalu menarik tangan Amaira dan membawanya pergi.


Untuk sesaat, Naufal seperti orang bodoh. Ia masih terpaku di tempat. Bahkan ketika Aldrin telah membawa Amaira pergi dari hadapannya. Seluruh kata-kata yang telah ia rangkai sedemikian indah, seakan terbang dibawa angin.


Tersadar, Naufal menoleh ke samping, melihat Aldrin dan Amaira yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.


"Kalian mau ke mana? Tunggu aku!" teriak Naufal sambil mengejar mereka yang lebih dulu pergi.


Saat tiba di perpustakaan yang sepi, Naufal tersentak melihat begitu banyaknya cemilan di atas meja diskusi Aldrin dan Amaira.


"Ini mau belajar kelompok atau piknik? Kenapa lebih banyak makanan di atas meja di banding bukunya," celetuk Naufal menggeleng-gelengkan kepala.


Naufal melirik ke samping. Ia melihat Amaira sedang berjinjit untuk mengambil sebuah buku biografi dari rak. Dari sampul buku itu, ia dapat membaca judul biografi yang sedang dipegang Amaira, yaitu 'Kuantar ke Gerbang'.


"Kamu suka baca buku biografi, ya?" tanya Naufal.


"Iya. Ini adalah buku biografi favoritku, tentang kisah cinta Ibu Inggit Garnasih dan Soekarno," jawab Amaira sambil memperlihatkan buku yang dipegangnya. Ia lalu memosisikan duduk di depan Aldrin.


"Ibu Inggit itu bukannya istri kedua presiden Soekarno, ya?" tanya Naufal sembari duduk di samping Amaira.


"Iya. Meskipun masih banyak yang tidak mengenal sosoknya, tapi Ibu Inggit berpengaruh besar pada kesuksesan Soekarno. Dia wanita yang tulus dan setia mendampingi Soekarno di masa-masa sulit sebelum kemerdekaan. Sayang, bukan dia yang menjadi Ibu Negara pertama karena dia lebih memilih cerai dari pada di poligami," terang Amaira begitu antusias.


"Aku punya beberapa koleksi buku biografi dari tokoh-tokoh terkenal Indonesia, jika kau mau aku bisa pinjamkan," tawar Naufal yang juga bersemangat.


"Serius?" Mata Amaira berbinar-binar menatap Naufal. Tentu saja karena ia begitu menyukai hal-hal yang berbau sejarah.


"Tentu saja!" Naufal tersenyum melihat reaksi Amaira.


Aldrin menopang dagu sembari mendengar ocehan dua orang yang berada di hadapannya saat ini. Bibirnya mengerut berkumpul menjadi satu, sedangkan matanya terantuk seperti hendak tertidur.


Sungguh menjengkelkan! Tujuannya membawa Amaira ke sini agar mereka bisa berduaan. Lucunya, malah dia yang harus mendengarkan Amaira dan Naufal berbincang tentang sejarah.


"Pembicaraan orang-orang pintar sangat membosankan dan bikin ngantuk," gerutu Aldrin memotong percakapan Naufal dan Amaira.


Naufal menoleh ke Aldrin yang tampak bersungut-sungut. "Yang kita bicarakan masih berkaitan dengan sejarah loh!"


"Bodoh amat!" ketusnya sambil melongos. Masih kesal, Aldrin tampak berpikir sejenak. Tiba-tiba terbesit ide di otaknya agar ia dan Amaira bisa berduaan tanpa gangguan.


"Oh iya, aku haus. Belikan aku air mineral dong!" pinta Aldrin sembari memberikan uang pada Naufal.


"Enak saja main suruh-suruh. Kenapa tidak kamu saja yang pergi beli sendiri?" gerutu Naufal.


"Ayo donk! di kantin ada Bryan dan teman-teman basket. Nanti aku bakal diajak main lagi," kilah Aldrin memberi alasan, "kamu pasti haus juga, 'kan?" tanya Aldrin ke Amaira.


Amaira mengangguk pelan.


Melihat anggukan Amaira, Naufal spontan berdiri. "Oke ... oke tunggu sebentar! Aku akan beli minuman untuk kalian berdua."


Setelah Naufal pergi, suasana perpustakaan pun mendadak sepi. Aldrin melirik Amaira. Ia makin kesal karena gadis itu malah terdiam. Tidak seperti saat bersama Naufal. Kini, keduanya saling memelihara keheningan.


"Kamu marah, ya?" Amaira memecahkan keheningan setelah keduanya hanya saling melirik.


"Tidak. Oh, iya ... menurutku kalian berdua sangat serasi," cetus Aldrin yang memalingkan wajah seraya memajukan bibirnya.


"Jangan marah. Naufal itu teman baikku," ucap Amaira pelan berusaha memberi pengertian pada Aldrin.


Aldrin meringis. "Dia juga sahabatku. Aku lebih mengenalnya. Kalian dekat pun tidak masalah bagiku, sungguh!"


Melihat wajah kesal Aldrin, membuat Amaira berpindah posisi duduk. Kini, ia duduk di samping Aldrin. Namun, cowok berambut emas itu malah melongos seolah tak mau melihatnya. Ini pertama kalinya ia merasa cemburu pada lawan jenis. Lucunya, ia cemburu karena Amaira dan Naufal mempunyai hobi yang sama. Mereka sama-sama suka membaca. Sementara dia, jangan pun membaca, membuka buku saja jarang ia lakukan.


Sedang kesal, tiba-tiba Aldrin menerima cubitan lembut di hidungnya yang membuat ia tersentak. Melihat reaksi pacarnya itu, membuat Amaira menutup mulutnya sembari cekikikan.


"Akhirnya aku bisa menarik hidungmu!"


"Kamu pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya!" Tak mau kalah, Aldrin melakukan hal yang sama. Ia melingkarkan sebelah tangannya di leher Amaira, lalu menarik lembut hidung runcing gadis itu.


Secara bersamaan, Naufal tiba sambil membawa minuman dingin. Ia berdiri di depan pintu perpustakaan tepat di saat Aldrin dan Amaira saling menarik hidung.