
Warning!! adegan di bawah mengandung nanas+cabe+bawang.
Wajah Maria menegang seketika, saat melihat sesosok tubuh bermata iblis yang sedang berada di hadapannya sekarang. Apakah dia adalah Zaki? Tidak! Zaki tidak pernah menatapnya seperti ini. Pria ini memang arogan tapi ia tak pernah menunjukkan wajah yang menakutkan seperti malam ini.
Zaki mulai menyerangnya. Pria itu memaksa bercumbu dengannya. Ia mencium bibir gadis itu dengan kasar. Maria ingin berontak tapi dengan segera tangannya dicekal oleh kedua tangan yang begitu kuat. Gadis itu berusaha melawan tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang Zaki miliki. Ia ingin menjerit berteriak, tapi bibirnya terbungkam oleh cumbuan dasyat Zaki.
Pria itu memindahkan cumbuannya ke leher Maria dan meninggalkan jejak merah di sana. Perlahan, perlawanannya mulai melemah. Yang tersisa hanyalah air mata yang mengalir deras di wajahnya saat Zaki mulai membuka paksa pakaiannya.
Maria sungguh tak mengenali pria yang berada di hadapannya saat ini. Tidak! Ini bukan Zaki yang ia kenal. Zaki adalah pria bermartabat yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Selama mereka menjalani hubungan, tak sekali pun pria itu menginginkan tubuhnya, dan mengajaknya berhubungan intim. Ia benar-benar pria yang menjaga kehormatan gadis itu. Namun, kini sungguh tak dapat dipercaya, sosok yang dulu selalu menjadi orang yang paling ia cintai dan selalu menjaganya, malam ini tiba-tiba berubah menjelma menjadi serigala lapar yang siap menyantapnya.
"Zaki, aku mohon ... hentikan ini!" rintihnya di sela-sela tangisan pilu.
Maria telah lemah melawan pria itu. Hanya menangis dan memohon yang dapat ia lakukan saat ini. Berharap Zaki akan mengasihaninya. Suara tangisan pilu itu menggaung di dalam kamar. Namun, itu tak dapat menggugah hati pria yang telah diselimuti emosi.
Air Mata Maria telah mengering. Ia berhenti menangis. Sepertinya, gadis itu telah pasrah dengan apa yang akan Zaki lakukan. Dada putih nan mulus terekspos begitu nyata di mata pria yang pernah ia cintai.
Zaki menatap wajah tak berdaya orang yang dicintainya. Tidak! Zaki menggelengkan kepalanya. Ia turun dari ranjang melangkah mundur menjauhi Maria yang masih terbaring tak berdaya di atas kasur. Tubuh pria itu tersandar di dinding kamar. Ia terduduk lemas sambil meringkuk. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Seperti ada penyesalan yang baru ia sadari.
Maria berusaha duduk dan mengambil selimut untuk membungkus tubuhnya. Ia melihat Zaki terduduk di lantai dengan mata yang tak bernyawa. Perlahan pria itu berdiri, mengambil jas dan juga dasinya yang berserakan di lantai.
"Kamu mau mengakhirinya, 'kan?" tanya Zaki dengan suara parau.
Maria menatap gamang wajah Zaki yang memucat dengan mata yang memerah.
"Baiklah ... baik! Kita akhiri saja!" ucapnya sambil memalingkan wajah.
Di tengah kepedihan yang ia rasakan, pria itu masih bisa menjaga wibawanya agar gadis itu tak melihatnya mengeluarkan air mata.
"Zaki..."
Mata Zaki menyala. Jejak amarah masih terlihat jelas di matanya. Sementara, hati Maria seperti terkoyak tatkala Zaki mengatakan benci padanya. Ia memang menginginkan hubungannya berakhir, tapi tidak seperti ini! Bukan seperti ini! Sungguh, ia ingin mengakhiri hubungannya secara baik-baik. Ia masih berharap pria itu masih mau bersahabat dengannya setelah mereka berpisah.
Zaki berjalan gontai meninggalkan Maria yang masih duduk di atas ranjang dengan selimut yang membalut tubuhnya. Begitu lambat kaki itu melangkah meninggalkan kamar milik gadis yang telah menyandang status mantan kekasihnya. Betapa ia ingin berteriak saat ini meluapkan segala emosi. Namun, ia masih mencoba bertahan.
Zaki menutup pintu kamar Maria. Pria itu terduduk melantai bersandar di pintu dengan satu lutut di tekuk. Tatapannya begitu kosong, tapi ada genangan air di matanya. Ingatannya melayang saat pertama kali ia dan Maria bertemu.
Waktu itu, Maria adalah adik kelasnya yang duduk di bangku kelas 1. Sementara ia adalah siswa kelas 3 yang populer karena ketampanan dan kecerdasannya, di sekolah yang sama dengan adiknya bersekolah saat ini. Karena sosoknya yang mendekati perfect, semua siswi begitu tergila-gila padanya.
Sayangnya, ia bukanlah tipe cowok yang gampang menjatuhkan hatinya pada seseorang. Sikapnya yang terlihat sombong membuat gadis-gadis berpikir dua kali untuk mendekatinya walaupun mereka tetap mengidolakan pria itu. Hingga seorang gadis periang bernama Maria membuatnya jatuh hati.
Zaki mencari tahu segala apa pun tentang gadis itu. Hobinya, aktifitas, kesukaannya semua ia ketahui secara diam-diam. Ia mengetahui Maria mengikuti casting iklan produk dari perusahaan Ayahnya. Ia membujuk Ayahnya agar menerima gadis itu sebagai bintang iklan produk mereka. Atas rekomendasinya, Maria dikontrak perusahaan mereka sebagai brand ambassador yang mengawali karir keartisannya.
Demi mendekati gadis itu, Zaki berpura-pura menyamar sebagai fans Maria. Setiap hari, ia mengirim bunga dan kartu ucapan yang berisi pesan untuk menyemangati gadis itu. Lambat laun, Maria akhirnya mengetahui jika fans setia itu adalah Zaki, sang anak sulung dari presiden grup produk yang ia bintangi dan juga merupakan kakak kelasnya yang begitu populer.
Akhirnya, ia menerima pernyataan cinta Zaki setelah mereka menjalani pendekatan selama setahun. Tepatnya, saat Zaki akan kuliah ke Universitas Harvard, Amerika. Jarak pun tak menghalangi keduanya untuk saling mencintai.
Sayangnya, semua hanya tinggal kenangan. Cerita manis itu telah menutup bab di malam yang kelabu itu. Kecewa, amarah, serta kepedihan kini menguasai jiwanya. Pada akhirnya, Zaki harus melepaskan gadis yang telah ia jaga selama ini. Perpisahan yang tak pernah terbayangkan olehnya, harus ia hadapi.
.
.
.