
Keesokan harinya, Naufal duduk diam di kursinya. Ia tampak gugup. Matanya tak lepas memandang pintu masuk kelas, menantikan kedatangan Amaira. Hari ini, ia berniat untuk mencoba mempraktekkan tips-tips mendekati cewek yang ia baca di sebuah artikel online.
Amaira masuk ke kelas dengan menenteng tasnya. Naufal tersenyum gembira melihat sosok yang ia nantikan. Gadis itu duduk di kursinya seraya mengambil sebuah buku di dalam tas. Naufal beranjak dari tempat duduknya lalu memosisikan duduk di depan Amaira.
"Apa kamu suka cokelat?" tanya Naufal sambil membawa box yang berisi sejumlah cokelat dari berbagai merek. Rupanya ucapan Naufal terdengar oleh ketua kelas.
Ihsan langsung menghampiri Naufal sambil berteriak, "Aku mau! Aku mau!"
Ihsan mendekati Naufal yang duduk berhadapan dengan Amaira. Tanpa segan, cowok yang terpilih menjadi ketua kelas itu langsung mengambil cokelat yang ada dalam box seraya berseru pada teman-temannya, "Hei, teman-teman, ayo ke sini! Naufal bagi-bagi cokelat!"
Sontak, mereka yang mendengar teriakan Ihsan langsung menyerbu Naufal dan mengambil cokelat yang dipegangnya. Cowok berkacamata itu menatap box yang telah kosong tak meninggalkan satu cokelat pun. Ia hanya dapat mengerutkan kening dan bibirnya serta mengembuskan napas kasar. Tentu saja ia sangat kesal karena percobaan pertama untuk mendekati Amaira telah gagal total.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel pelajaran pertama telah dimulai. Siswa-siswi duduk di tempat mereka masing-masing bersiap untuk menerima pelajaran. Hari ini guru memberikan ulangan kimia kepada mereka. Guru membagi lembar soal dan jawaban ke masing-masing siswa.
Tiga puluh menit telah berlalu, tampak Naufal telah selesai menjawab. Aldrin memukul pundak Naufal dengan bolpoin, sebagai sebuah kode agar memberinya contekan. Naufal yang sudah paham maksud cowok itu, langsung merobek kertas kecil dan menyalin jawabannya di secarik kertas itu. Ia melempar kertas itu ke belakang, tepatnya di meja Aldrin.
Cowok dengan tindikan di telinganya itu sangat senang dan langsung membuka segumpal kertas yang berisi jawaban hasil ulangan. Tiba-tiba guru mendekat ke arahnya, dengan spontan Aldrin melempar kembali kertas itu ke samping, tepatnya ke meja Amaira.
Amaira terkejut melihat sebuah gumpalan kertas yang tiba-tiba ada di atas mejanya. Ia pun membuka kertas itu, tanpa menyadari jika guru ada di belakangnya dan melihat kertas contekan di tangannya.
"Kertas apa itu?" tanya guru sambil merampas kertas itu dari tangan Amaira.
Guru melihat isi contekan tersebut, lalu menatap tajam Amaira sambil bertanya dengan nada tinggi, "Siapa yang memberikan contekan ini?!"
Amaira hanya diam karena tak tahu apa-apa. Wajahnya memucat. Bagaimana tidak, ia baru menyadari jika kertas yang dilempar padanya adalah sebuah contekan hasil ujian. Lagi-lagi guru kembali melontarkan pertanyaan yang sama, mendesak gadis itu agar menjawab pertanyaannya.
Tiba-tiba Naufal berdiri sambil berkata, "Pak. Kertas itu punyaku. Sebenarnya aku memberikan itu untuk Al—"
Belum sempat Naufal menjelaskan, guru langsung berkata, "Kamu dan Amaira keluar sekarang juga, kalian berdiri di depan pintu kelas!"
Naufal hendak menjelaskan kembali, tetapi Amaira langsung berdiri keluar mengikuti perintah guru. Naufal menghela napas panjang, ia berdiri dan menengok ke arah Aldrin. Sialnya, Aldrin malah menahan tawa sambil menjulurkan lidah seperti orang yang tak merasa bersalah.
Akhirnya, Naufal memutuskan keluar dari kelas. Ia berdiri di samping Amaira yang lebih dulu ada di sana. Diam-diam, Matanya melirik ke arah Amaira. Gadis itu begitu tenang dan tidak banyak bergerak.
Sepuluh menit telah berlalu, mereka tetap berdiri mematung di depan kelas. Naufal kembali melirik ke arah Amaira. Peluh mulai menetes di wajah cantik gadis itu.
"Aku minta maaf. Karena aku, kamu dihukum," ucap Naufal dengan penuh penyesalan.
"Tidak masalah kok. Walaupun ini pengalaman pertamaku di hukum," ucap Amaira dengan pandangan lurus ke depan.
"Ini juga pengalaman pertamaku di hukum selama SMA," ucap Naufal sambil tertawa kecil.
"Oh, ya? Kalau begitu kita harus berterima kasih sama orang yang seharusnya mendapatkan hukuman ini. Berkat dia, kita bisa merasakan pengalaman berharga," balas Amaira sambil tersenyum dari balik maskernya.
Naufal menatap wajah Amaira yang tertutup masker. Meskipun tertutup, ia dapat melihat kecantikan gadis itu lewat matanya. Ya, gadis itu memiliki sepasang mata bulat yang indah.
Naufal menggeser badannya satu langkah ke samping, sehingga lebih membuatnya dekat dengan gadis itu. Ini pertama kalinya ia bisa berada sedekat ini dengan Amaira. Ia tersenyum malu-malu. Perasaannya campur aduk. Mungkin benar kata Amaira, ia harus berterima kasih pada Aldrin. Bukan karena telah membuatnya merasakan hukuman guru. Namun, berkat Aldrin, ia bisa sedekat ini dengan gadis yang ia sukai sepanjang pelajaran berlangsung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini begitu terang. Bulan dan bintang meramaikan cakrawala dengan memancarkan cahaya mereka. Sudah seminggu lebih Amaira melewati malam-malamnya dengan mengobrol bersama cowok misterius. Ia sering berbagi cerita dan bercanda tawa melalui telepon dengan cowok itu. Setiap hari mereka akan saling mengobrol bersama paling sedikit memakan waktu sepuluh menit untuk saling menyapa di telepon. Bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Amaira tidak mengetahui nama asli cowok itu, begitu pula sebaliknya. Bagi mereka nama bukan menjadi masalah yang terpenting bisa saling mengisi kekosongan dan kesepian yang ada di hati mereka.
"Hidungku mancung, rambutku tebal, alisku juga tebal, dan aku mempunyai bibir yang seksi. Kamu sendiri?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa begitu?"
"Sebenarnya aku orang yang pemalu. Aku tidak percaya diri dan selalu menunduk. Untuk melihat wajahku di cermin pun aku jarang."
"Dengarkan aku! Mulai sekarang kamu tidak boleh menunduk. Kamu harus mengangkat wajahmu, memandang ke depan dan saat itu kamu akan lihat aku."
Besok pagi, Amaira menatap wajahnya di depan cermin. Ia mengambil gunting lalu memotong poni panjang yang menutupi matanya selama ini. Ia mengambil tas sekolahnya, lalu membuang masker ke tempat sampah.
Amaira berjalan menuju gerbang sekolah. Ia tampak canggung. Ini pertama kalinya ia tidak memakai masker ke sekolah. Dokter telah mengatakan ia sembuh dari alerginya.
Amaira melewati ruang kelas 3 sambil terus menunduk. Setiap siswa laki-laki meliriknya dengan tatapan terperanjat. Mereka terpesona dan kagum dengan kecantikan naturalnya.
"Eh, eh, itu cewek kelas berapa? Kok gue enggak pernah lihat" tanya salah satu teman Bryan.
Sontak, Bryan dan kawan-kawannya yang tengah bermain basket langsung berhenti karena lantaran melihat cewek cantik lewat di depan kelas mereka.
Amaira terus berjalan menapaki anak tangga. Di sisi lain, Naufal sedang menulis sesuatu di bukunya, tiba-tiba Aldrin datang dari arah belakang.
"Lagi ngapain, sih? Kok serius banget!" Aldrin merebut buku itu dari tangan Naufal.
"Cepat serahkan buku itu!" ucap Naufal panik sambil kembali merampas bukunya dari tangan Aldrin.
"Ah ... aku curiga, kamu pasti laginulis surat cinta. Iya, 'kan?" tanya Aldrin sambil meledek.
"Tidak!" jawab Naufal cepat dan tegas.
"Kalau gitu aku mau lihat!" Aldrin berusaha mengambil kembali buku Naufal.
"Tidak, enggak boleh!"
Naufal pun berlari berusaha menghindar. Namun, Aldrin justru mengejarnya. Mereka kejar-kejaran sepanjang lapangan, menyusuri beberapa ruangan hingga melewati anak tangga. Ketika Naufal terus berlari, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat sosok gadis cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Tak ayal, Naufal pun terperanjat. Matanya melebar, sedang mulutnya ternganga.
Naufal terpesona melihat Amaira yang kini tampil tanpa memakai masker, bahkan poninya terpotong lurus di atas kening. Rambutnya yang panjang dan lurus terurai indah dengan jepitan pita menghias di sudut telinga.
Jantung Naufal berdegub kencang. Matanya masih tak berkedip. Tanpa sadar, Ia menjatuhkan bukunya lalu memegang dadanya.
Aldrin datang menghampirinya. Ia membungkuk seraya mengatur napas yang tersengal-sengal. Matanya mengarah ke buku yang baru saja dijatuhkan Naufal. Ia mengambil buku itu lalu membaca coretan tangan Naufal dengan suara lantang.
"Aku menyukaimu, Amaira."
Amaira menaikkan pandangannya saat mendengar namanya disebut. Aldrin melirik Naufal yang masih belum berkedip, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Secara bersamaan, Aldrin dan Amaira saling bertatapan.