Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 141 : Pianish VS Violinis jilid 3 (part 1)



Naufal membawa mobilnya melaju menuju rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, mereka disambut perawat yang telah berjaga di depan. Para perawat datang menolong mengeluarkan gadis tersebut dari dalam mobil dan meletakkannya di atas branker. gadis itu segera dibawa masuk ke ruang UGD.


Sementara Naufal berdiri sambil menatap gadis yang telah dibawa pergi para perawat.


"Terima kasih atas bantuanmu, Nak!" ucap ibu itu sebelum ikut masuk ke ruang UGD.


Naufal tak sempat menjawab pertanyaan ibu tadi. Ia hanya dapat berdoa agar gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil dan kembali ke gedung tempat kompetisi diselenggarakan.


Di tempat lain, Aldrin diturunkan secara paksa di sebuah jalanan sepi dengan cara ditendang. Ia terlempar keluar dan terguling di aspal bersama biolanya. Tiga orang berseragam hitam dengan wajah sangar keluar dari mobil. Mereka memukuli Aldrin tanpa ampun. Aldrin tak dapat melawan. Bahkan mereka tak memberikan kesempatan padanya untuk bergerak. Mereka memukul mukanya, menendang perutnya bahkan menginjak-injak kakinya.


Salah seorang dari mereka mengambil biolanya. Pria itu membanting biola milik Aldrin ke aspal hingga salah satu dari dawainya terlepas. Setelah puas menghantamnya, mereka masuk kembali ke dalam mobil. Meninggalkan Aldrin yang meringis kesakitan sambil memegang perut.


Aldrin masih sadar. Ia mencoba merangkak untuk menepikan tubuhnya ke pinggir jalan. Ia menatap jam di tangannya. Seharusnya acara tersebut telah dimulai. Tangannya bergerak meraih biolanya yang telah rusak. Ia mencoba untuk berdiri dengan sisa-sisa tenaganya yang masih tersimpan. Namun, tubuhnya terlalu lemah dan kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Ia tersungkur kembali di aspal dalam Keadaan tiarap. Wajahnya mencium aspal dan matanya terpejam. Mungkin dia telah menyerah.


**


Sementara di gedung theater itu, tampak kursi-kursi penonton telah terisi full. Penonton bukan berasal dari golongan biasa. Mereka semua adalah golongan kelas atas dari berbagai negara Asia. Bahkan terlihat cukup banyak wajah orang bule yang memenuhi kursi penonton.


Para juri telah menduduki kursi mereka masing-masing. Salah satu dari juri tersebut adalah David Garret yaitu seorang pemain biola pop ternama asal Jerman. Aldrin sangat mengidolakannya dan berharap dapat bertemu dengannya malam ini.


Naufal telah sampai di gedung theater dan langsung duduk di samping Zaki. Ia datang sebagai tamu VIP yang mendampingi Zaki menggantikan Maria yang tak dapat hadir. Naufal menoleh ke kiri dan kanan, ia mencari Aldrin. Namun, matanya tak kunjung menangkap sosok Aldrin.


"Kakak, apa kau melihat Aldrin?"


"Tidak. Aku tidak bertemu dengannya dari tadi."


Naufal kembali menengok ke kiri dan ke kanan. Bahkan ia berdiri agar bisa menjangkau penglihatannya. Acara telah dimulai, dan MC telah membawakan kata-kata sambutan. Orang-orang fokus dengan acara pembukaan penghargaan yang begitu spektakuler. Sementara Naufal masih sibuk mencari-cari Aldrin. Ia mulai menelepon pria itu. Teleponnya tersambung, tapi tak terjawab. Ini sangat aneh, bukan?


Naufal memilih untuk keluar dari tempat itu. Ia kembali mencari Aldrin di setiap sudut ruang gedung ini sambil sesekali meneleponnya. Ia bahkan mencarinya di toilet. Sia-sia. Aldrin tetap tidak ada.


Naufal kembali ke tempat duduknya. Matanya menatap lurus ke atas panggung. Saat ini salah seorang pemusik klasik yang masuk nominasi penghargaan dikategori berbeda telah tampil dengan menakjubkan.


"Kira-kira kapan bagian kategori kalian tampil?" tanya Naufal pada Zaki.


"Setelah ini," jawab Zaki dengan tenang.


"Apa yang panitia akan lakukan jika para nominator lambat datang?" tanyanya kembali.


"Tentu saja dia akan di keluarkan dari nominasi." jawab Zaki.


Naufal makin gelisah. Masalahnya Aldrin tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ada apa ini? Apakah dia memutuskan pulang ke rumah dan tidak jadi tampil? Tapi, itu mustahil dilakukannya.


Beberapa menit telah berlalu, kini giliran Zaki yang tampil di atas panggung. Naufal menyemangati kakaknya. Zaki naik ke atas panggung. Hari ini, pria itu berpenampilan ala Italian style sehingga membuatnya terlihat begitu berwibawa namun tetap terkesan romantis.



Zaki berjalan pelan ke atas panggung mendekati piano itu. Ia mulai memainkan beberapa not awal musik klasik Lagend by Franz Liszt. Ya, pria itu memang berada di aliran musik klasik dan gemar memainkan musik klasik diberbagai pertunjukkan pianonya.


Kedua tangannya begitu piawai bermain di atas tuts hitam dan tuts putih. Gerakan tangannya sangat lincah. Ia sangat tahu pasti not mana yang harus ia tekan. Tak ada keraguan sama sekali. Seluruh penonton berdecak kagum dibuatnya. Para juri pun terlihat begitu menikmati permainannya. Not-not indah mengalun seolah membawa penonton ke era Eropa klasik. Kepiawaiannya bermain piano membawakan lagu-lagu indah membuat siapapun akan jatuh cinta. Raut wajahnya tampak santai. Matanya selalu menatap ramah ke arah penonton. Senyum tipis terus ia lukiskan di wajah tampannya.




Zaki menyudahi lagu klasik pertamanya. Suara gemuruh tepuk tangan terdengar riuh. Ia mengambil napas sesaat. Ia kembali memainkan lagu. Kali ini ia memainkan lagu terkenal berjudul River flows in you dari pianish ternama asal Korea Selatan, Yiruma. Lagu ini dijadikan sebagai OST film Twilight. Ia ingin membuktikan pada orang-orang bahwa ia tak sekedar mahir dengan musik klasik.


Irama yang dimainkan Zaki sangat menyentuh perasaan. Karena permainan pianonya yang dimainkan olehnya merupakan persembahan dari hati. Alunan musiknya penuh penghayatan dan perasaan selaras dengan ekspresinya yang sesekali memejamkan mata.


Pertunjukkan lagu keduanya telah berakhir. Para penonton kembali bertepuk tangan dengan riuh. Zaki berdiri di tengah panggung dan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia lalu kembali ke tempat duduknya.



Zaki tak begitu mempedulikan ocehan manejernya ia malah kembali duduk di samping Naufal yang gelisah.


Sementara MC kembali menguasai panggung. Ia membacakan pertunjukan berikutnya.


"Kita panggilkan, Aldrin Jefri violinis termuda asal Indonesia," ucap MC dengan memakai bahasa Inggris.


Suara tepuk tangan kembali menggema. Namun, beberapa detik berlalu, orang yang dipanggil tak kunjung menampakkan diri. MC kembali memanggil namanya kembali. Mata pembawa acara itu menilik ke seluruh barisan tempat duduk penonton, berharap dari sekian juta penonton ada satu orang yang berdiri menuju ke atas panggung.


Naufal kembali menelepon Aldrin. Lagi-lagi telepon tersambung itu tak diangkat. Ia mulai putus asa.


"Kemana Aldrin? Apa kalian tidak ke sini bersama?" tanya Zaki sesaat.


"Tadinya kami pergi bersama, tapi saat di depan gedung aku menolong seorang gadis dan membawanya ke rumah sakit. Aldrin bilang dia akan masuk duluan ke dalam gedung. Tapi, sampai sekarang dia tidak ada. Ini benar-benar aneh!" ucap Naufal sambil kembali menengok ke kiri dan kanan.


MC mulai bosan menunggunya. Ia memberi peringatan, jika ini merupakan panggilan terakhir. Para penonton mulai tak sabar. Juri pun nampak gelisah. Salah seorang juri memberi kode agar nama tersebut dikeluarkan.


Maneger Zaki tertawa sinis. Ia lalu berbisik ke telinga Zaki. "Kau sudah pasti jadi pemenang! Anak itu tak akan muncul. Aku telah memberinya sedikit pelajaran."


Mata Zaki melotot. Ia langsung berdiri dan menarik kerah baju manejernya. "Apa yang kau lakukan padanya?! Bukankah aku menyuruhmu untuk tidak melakukan cara-cara kotor?"


Naufal terkejut. Ia ikut berdiri. Sementara si manejer begitu ketakutan melihat mata Zaki yang memancarkan tombak api. Ia pikir Zaki akan senang dengan apa yang ia lakukan. Nyatanya pria itu seakan hendak menelannya sekarang.


"Aku hanya menyuruh orang mencegat ia datang ke sini!"


"Kenapa kau lakukan itu? Apa kau tidak percaya dengan kemampuanku sehingga kau harus susah payah menyingkir ya?" Zaki merasa manejernya bukan hanya bertindak bodoh tapi juga tak mempercayai kemampuannya.


Manejernya masih berusaha membela diri. "Ini semua kulakukan untukmu. Kau tahu, aku tadi mendengarkan perbincangan para juri. David Garret sangat penasaran dengan anak itu. Penilaiannya bisa mempengaruhi kemenangan anak itu!"


"Aku tidak peduli menang ataupun kalah!" teriak Zaki. Ia hampir melayangkan pukulan ke manejernya tapi Naufal menahannya.


Sementara di atas panggung megah, MC kembali berkata, "Mohon maaf, untuk nominator kita kali ini seperti tidak hadir. Jadi terpaksa kami harus ...."


Belum sempat MC melanjutkan ucapannya tiba-tiba lampu panggung mati. Sehingga panggung menjadi gelap. Sang MC nampak kebingungan. Sementara Zaki, Naufal dan juga maneger kompak melihat ke atas panggung yang gelap.


Tiba-tiba lampu sorot di ujung panggung menyala. Lampu itu menyoroti seorang pemuda yang berdiri dengan memegang biola. Setelan jasnya kusut, rambutnya acak-acakan, wajahnya penuh memar dan luka, bahkan masih terlihat darah di ujung bibir. Biolanya terlihat retak dibeberapa bagian dan hanya ditempeli dengan lakban. Keadaannya sungguh memprihatinkan!


Seluruh isi theater menjadi hening seketika. Melihat sosok menyedihkan yang disorot lampu itu berjalan ke tengah panggung dengan kaki terpincang-pincang.


"Aldrin ...." sebut Naufal dari kursi penonton dengan mata terbelalak.


.


.


.


.


bersambung...


maaf akhir-akhir ini telat update, soalnya episodenya tinggal dikittttt...jadi updatenya sengaja di ulur2 ikutin cara mangatoon update komik yang mau tamat 🤣🤣.


ngga Ding. Aku telat update karena lagi revisi full chapter 1-50. aku menambahkan kembali beberapa kalimat dan dialog dichapter itu agar jalan cerita lebih detail dan terlihat nyata tanpa merubah alur dari awal. berharap ketika novel ini tamat, novel ini benar-benar menjadi novel yang baik dari segi penulisan.


terima kasih tak terbatas bagi para pembaca setiaku yang selalu like, mengumpulkan koin untuk vote cerita ini, bantu promo dan rekomendasikan cerita ini ke orang lain. saya mencintai kalian....


jangan lupa, like, vote dan komeng