
"Siapa ini?" tanya Aldrin dingin.
"Bukannya aku yang harus tanya?" Gadis itu balik bertanya dari balik saluran telepon.
"Apa maksudmu?" tanya Aldrin sembari memicingkan matanya.
"Barusan kamu nelepon ke sini, jadi aku mau tanya, kamu siapa?" tanya gadis itu lagi dengan nada suara yang pelan dan lembut.
Aldrin sungguh tak mengerti. Gadis itu tiba-tiba meneleponnya dan mengatakan dia yang menghubungi duluan. Apa gadis itu salah nomor? Ataukah ini hanyalah trik terbaru dari perempuan-perempuan yang ingin mendekatinya?
Ya, tidak menunggu waktu sebulan, Aldrin sudah sangat populer di sekolahnya. Adik kelas maupun kakak kelas begitu tergila-gila padanya. Bahkan, teman sekelasnya dengan iseng membuat lelang nomor ponsel miliknya ke beberapa gadis yang bersedia membayar mahal. Apakah gadis yang meneleponnya saat ini bagian dari gadis-gadis itu? Pikirnya sesaat.
"Aku?" tanya Aldrin sambil memutar bola matanya "Hhmm ... aku ... siswa paling keren di sekolahku," jawab Aldrin sambil tertawa.
Tuttt ... Tutt ... Tutt ...
Panggilan telepon terputus. Aldrin menatap layar ponselnya memastikan panggilan itu benar-benar berakhir. Penasaran, ia menelepon kembali nomor tersebut.
"Halo, kenapa putus? Sinyal di rumahmu kurang bagus, ya?" tanya Aldrin saat panggilan telepon terhubung kembali.
"Aku sengaja menutup teleponmu!" ketus gadis itu.
"Kenapa?"
"Karena kamu enggak serius jawab pertanyaanku!"
"Oke ... oke, kujawab. Silakan bertanya!"
"Kamu siapa? Kenapa menghubungiku? Dari mana dapat nomorku?" tanya gadis itu beruntun.
"Aku?" Aldrin kembali menjeda ucapannya seraya berpikir. "Aku siswa tertampan di sekolahku, dan aku tidak pernah menghubungimu," jawab Aldrin dengan gayanya yang santai sambil duduk di jendela kamarnya.
Tuttt ... Tutt ... Tutt ...
Telepon kembali terputus. Lagi-lagi, Aldrin menatap layar teleponnya. Kali ini diiringi sebuah senyuman di bibirnya.
"Dasar cewek aneh! Kenapa harus berbohong, pakai bilang aku hubungi dia duluan lagi! Bilang saja kalau mau kenalan. Huuu!" celoteh Aldrin di depan ponselnya.
Aldrin melempar ponselnya di atas ranjang. Ia meneguk sekaleng soda yang diambilnya dari dapur tadi sambil menghirup udara malam yang masuk dari jendela kamarnya. Malam itu dia tidak ke mana-mana. Tidak pula ke kelab malam seperti biasanya.
Ternyata, berdiam diri di rumah membuatnya bosan. Tiba-tiba terbesit sesuatu di pikirannya. Ia kembali mengambil ponselnya, lalu menghubungi gadis yang meneleponnya barusan. Panggilan terhubung, tetapi tak kunjung terjawab. Ia kembali menghubungi gadis itu. Sepertinya dia begitu tertarik dengan mainan barunya saat ini. Telepon akhirnya diterima pada panggilan yang ketiga kalinya.
"Kenapa masih meneleponku?" cetus gadis itu. Suaranya tetap lembut meskipun sedang kesal.
Pipi Aldrin mengembung karena menahan tawa. "Ih, galak! 'Kan kamu duluan yang hubungi aku? Kok jual mahal gitu?"
Hening. Aldrin menatap kembali layar ponselnya. Ia pikir panggilan itu telah terputus, nyatanya tidak. Gadis itu hanya memilih membisu.
"Halo ... apa masih ada orang di sana?" tanyanya dengan nada suara menggoda.
"Aku tanya sekali lagi, ya. Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu nomorku?" Kali ini gadis itu menekan nada suaranya.
"Aku si cowok paling keren, dan aku mengetahui nomormu ...." Aldrin menjeda ucapannya, sengaja membuat gadis itu penasaran. "karena kau duluan yang menghubungiku," lanjut Aldrin dengan cepat.
Gadis itu bergeming. Hanya terdengar suara napas yang terhembus.
"Waw, suara napasmu so sexy!" puji Aldrin sambil senyum-senyum.
Diam. Gadis itu memilih untuk tetap membisu. Aldrin kembali menatap layar ponselnya untuk memastikan panggilan itu masih terhubung. Ia menyadari jika gadis yang diteleponnya itu sedang kesal sehingga memilih diam.
"Ehem ...." Aldrin berdeham sejenak. "Kamu marah, ya?" tanyanya sesaat setelah keduanya cukup lama berdiam diri.
"Tidak!"
"Bohong pasti! Marah, kan?"
"Tidak!"
Aldrin menahan tawa. Ia meneguk minuman sodanya sembari menatap langit pekat. "Coba buka jendelamu, dan lihat ke atas langit!"
"Memangnya kenapa?"
"Lihat saja!"
Gadis itu bergegas turun dari tempat tidurnya lalu membuka jendela kamarnya. Ketika mendongakkan kepalanya, ia berdecak kagum menatap Kilauan cahaya di langit yang bertaburan membentuk sebuah rasi bintang. Kedua sudut bibir gadis itu refleks mengembang membentuk lengkungan senyum.
"Apa pendapatmu?"
"Indah!"
"Kamu kenapa?" tanya Aldrin cemas.
"Aku mengalami alergi. Kayaknya aku sensitif dengan angin malam," jawabnya sambil terus terbatuk-batuk.
"Kalau begitu cepat tutup jendelamu, pakai sesuatu yang bisa menutupi lehermu," pinta Aldrin.
Gadis itu buru-buru menutup jendela kamarnya. Setelah itu, ia membuka lemarinya lalu mengambil syal untuk menutupi lehernya seperti anjuran Aldrin. Aldrin tersenyum tipis tatkala mendengar suara jendela yang tertutup, dan lemari yang terbuka. Setidaknya, dia tahu gadis itu mengikuti ucapannya.
Setelah beberapa detik berlalu, gadis itu tak lagi batuk. Aldrin kembali meneguk sodanya. Itu adalah tegukan terakhir sebelum ia membuang kalengnya.
"Oh, ya, kita belum kenalan. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Aldrin.
"Namaku ...." Gadis itu terdiam sesaat.
Aldrin justru penasaran menunggu jawaban dari gadis itu.
"Namaku, si Jelek," lanjut gadis itu.
Aldrin tertawa seketika. "Haha-haha, Ini seperti film distney yang judulnya Handsome and The Beast ."
"Beauty and the Beast, bukan Handsome, tahu!" Gadis itu meralat ucapan Aldrin.
"Tapi judul itu sekarang berubah, dan kita berdua menjadi pemerannya," ucap Aldrin sambil terkekeh.
Kali ini, gadis itu ikut tertawa. Suara tawanya yang lembut membuat Aldrin tertegun.
"Suara tawamu terdengar manis," puji Aldrin.
Pujian Aldrin, membuat gadis itu menghentikan tawanya seketika.
Rupanya, Aldrin membaca reaksi gadis itu setelah ia melontarkan pujian. "Kamu kenapa? Apa aku menyinggungmu?"
"Tidak. Hanya saja ... aku tidak manis seperti yang kau katakan," jawab gadis itu pelan.
"Aku tahu. Itulah kenapa namamu si Jelek, 'kan? Haha-haha," Aldrin tertawa terbahak-bahak. Ia terdiam ketika matanya tak sengaja melihat ke arah jam dinding. "Omong-omong, sekarang sudah jam sebelas malam. Tidurlah!"
"Apa kamu masih sekolah? Apa kita bersekolah di tempat yang sama?" tanya gadis itu saat Aldrin hendak menutup telepon.
"Mungkin saja. Bahkan mungkin saja kita saling mengenal. Tapi dari pada menjadi temanmu, aku akan memilih menjadi bangkumu."
"Kenapa?"
"Agar aku bisa memangkumu setiap hari," ucap Aldrin melontarkan gombalan receh.
"Dasar mesum!" umpat gadis itu sambil tertawa kecil. Namun, sesaat kemudian, gadis itu menghentikan tawanya sambil berkata pelan, "Sebenarnya ... Aku takut ke sekolah."
"Kenapa?" tanya Aldrin
"Aku ... " Ia tampak ragu-ragu untuj berkata. "ada sesuatu yang membuatku trauma," lirihnya.
"Oh, iya? Kenapa kita bisa sama ya? Aku juga trauma ke sekolah," ucap Aldrin.
"Trauma kenapa?" tanya gadis itu penasaran.
"Aku trauma menghadapi pelajaran. Rasanya seperti ingin berhenti sekolah." Aldrin kembali tertawa.
Gadis itu mendengus.
"Pasti wajahmu sekarang sedang kesal, 'kan?" tebak Aldrin
"Tidak," jawab gadis itu cepat.
"Huuaaaa haha-haha ...." Aldrin semakin tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa ia merasa terhibur malam ini. Ya, membuat orang kesal adalah hobinya. Dan malam ini, gadis itu menjadi korban keusilannya.
"Tidurlah! siapa tahu saat kamu menutup mata, kamu malah bermimpi ketemu aku," ucap Aldrin setelah menyadari mereka telah menghabiskan waktu selama satu jam.
"Baiklah! aku akan tidur," kata gadis itu.
"Eh, eh, tunggu dulu! Jangan ditutup dulu!" Aldrin berkata dengan nada cepat.
"Kenapa?"
"Hmmm ... terima kasih atas waktumu. Apa aku boleh menyimpan nomormu?" Aldrin mulai memelankan suaranya.
Sempat terdiam, gadis itu mengangguk "Hum ..."
Telepon terputus, layar ponsel telah berisi wallpaper wajahnya. Aldrin menyimpan nomor gadis yang baru saja mengobrol di kontak ponselnya. Ia memberi nama 'si Jelek' dalam kontak telepon tersebut.