
Keduanya bertatapan penuh arti sambil tetap berpegangan tangan, suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara deru napas yang terasa berat.
Aldrin memegang kuncir rambut Amaira, melepas ikatan yang ada pada rambutnya, sehingga rambut hitam panjang itu terurai indah. Dengan perlahan dan pelan serta penuh kelembutan, Aldrin membaringkan tubuh Amaira ke atas ranjang. Entah sejak kapan bibir itu kembali melahap bibir mungil Amaira seperti orang kelaparan.
Sekujur tubuh Aldrin menegang oleh nafsu. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Amaira. Ciumannya beralih ke telinga hingga membuat tubuh Amaira bergetar sesaat. Ia telah membawa gadis itu melayang dalam pelukan yang penuh gairah. Keduanya semakin terbawa suasana. Nafsu yang mengalir telah menghasilkan keinginan yang lebih.
Aldrin mengangkat kepalanya perlahan, memandang wajah cantik Amaira yang tak berdaya. Bibir mungil itu begitu basah karena ulahnya. Masih tetap memandang wajah Amaira dengan pandangan yang begitu dalam, Aldrin mulai membuka kancing atas kameja milik Amaira.
Kancing pertama terlepas sempurna. Dengan lembut jarinya berpindah pada kancing kedua, berusaha untuk melepasnya kembali. Kancing kedua terlepas begitu saja dan telah memperlihatkan dada putih mulus.
Aldrin tersenyum dengan tetap beradu pandang pada kekasihnya. Tatapan tajam lelaki itu begitu menghipnotis wanita, membuat siapapun tak mampu menolaknya. Jemari Aldrin berpindah kembali di kancing ketiga, dengan sabar ia membuka kancing itu. Matanya pun tertuju pada apa yang akan ia lihat. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Ya, tangan putih mungil itu milik Amaira.
Aldrin mengangkat kepala, menatap wajah Amaira yang penuh rasa takut.
"I will be gentle ...," ucap Aldrin pelan dan lembut.
Aldrin berusaha mengambil tangan Amaira yang sedang menahan kancing bajunya. Namun, tangan itu tak mau pindah dan bersikukuh ada di situ. Ia kembali menatap wajah Amaira yang telah sadar sepenuhnya.
"Don't worry, Baby. I will be gentle." Ia berusaha merayu Amaira di sela-sela napasnya yang memburu. Mencoba membujuk gadis itu untuk memberikan apa yang ia inginkan saat ini.
Amaira menggelengkan kepalanya tanda ia tak mau melakukannya. Di dalam matanya seakan berbicara, ini salah! Kita harus berhenti!
Aldrin dengan sabar berusaha membujuknya, "Give me, please ...." Suara itu begitu terdengar berat dan sangat seksi.
"Aku akan bertanggung jawab!" rayunya kembali. Saat ini, ia telah berada di puncak napsu dan akan sulit untuk meredamnya.
"Aku tidak mau mengecewakan orangtuaku." Amaira akhirnya membuka suaranya.
Keduanya diterpa keheningan sesaat. Amaira berusaha berucap kembali, "Kita salah ... ini tidak boleh! Kita masih sangat muda. Perjalanan kita masih panjang. Kita akan sangat menyakiti hati orangtua kita."
Amaira berbicara dengan cepat lalu berhenti sesaat, menatap dalam bola mata Aldrin. "Aku ... ingin menghadiahkan ini untuk suamiku nanti."
Aldrin terdiam meresapi kalimat yang baru saja Amaira ucapkan. Dengan segera, ia memaksa memindahkan tangan Amaira yang berusaha menutup dadanya. Amaira panik. Apa yang akan dilakukan Aldrin? Apakah dia tak cukup mengerti dengan apa yang dikatakannya barusan?
Aldrin melepaskan gadis itu perlahan. Ia bangkit dan duduk di sisi ranjang. Amaira pun turut bangun dan merapikan seragamnya dan juga rambutnya.
"Huft!"
Aldrin mengambil napas panjang. Ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya. Ia memejamkan matanya membuat tubuhnya lebih rileks. Nafsunya saat ini masih memuncak, tapi rasa cintanya pada gadis itu lebih besar sehingga ia tak tega menyakitinya, merampas kehormatannya, dan juga merusaknya. Tentu saja rasa kecewa begitu terlihat di matanya.
Aldrin menyadari ini tak seperti dirinya. Ia adalah tipe cowok pemaksa yang menginginkan segala sesuatu semaunya. Namun, hari ini ia mengalah, berusaha berkelahi dengan hawa nafsunya hanya karena menghargai prinsip Amaira. Meskipun itu bukan dari kemauannya sendiri, setidaknya hari ini ia telah belajar menghargai perempuan.
Aldrin adalah laki-laki yang telah mengenal ****. Ia melepas perjaka di umurnya yang masih belia yaitu enam belas tahun. Ia sering bergonta-ganti pasangan semaunya, mendapatkan kenikmatan dari siapa saja. Berbeda dengan Amaira, ia adalah gadis murni. Ya, mereka benar-benar pasangan langit dan bumi.
"Ayo kita pulang!" ucap Aldrin tersenyum tipis.
Aldrin tidak mau berlama-lama lagi di sini. Ia tak mau hawa nafsu terus membisiknya sehingga ia akan kalah. Ia sangat mencintai gadis itu dan akan menjaganya.
Aldrin telah sampai di rumahnya. Ia bergegas masuk ke kamarnya, menanggalkan seluruh pakaiannya lalu menuju kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Ia menghidupkan shower dan mulai mengguyurkan tubuhnya dengan air hangat. Sejenak, kembali terlintas di ingatannya ciuman panasnya bersama Amaira. Naluri lelakinya bangkit secara alami dan mau tak mau ia harus menyelesaikannya dengan tangannya sendiri.
Aldrin telah keluar dari kamar mandi dan langsung memakai baju. Setelah itu, ia mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk kecil. Terdengar suara ketukan pintu di kamarnya. Aldrin menuju pintu untuk membukanya. Di depannya saat ini, ibunya sedang berdiri tersenyum bahagia sambil memeluknya.
"Selamat, kamu sudah menjadi bagian pewaris Adam Grup. Hari ini ayahmu sudah membicarakan itu dengan kuasa hukum," ucap Ardhilla dengan senyum melengkung yang lebar di wajahnya.
"Apa kamu senang karena aku sudah menjadi pewaris Adam grup?" tanya Aldrin datar.
"Tentu saja ibu sangat senang, Sayang." jawab Ardhilla masih dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Kalau begitu, kamu seharusnya ngucapin selamat sama diri kamu sendiri, karena aku sama sekali enggak senang! "
BHUK!
Suara pintu yang tertutup begitu terdengar nyaring. Senyum yang tergantung di wajah Ardhilla berangsur-angsur menghilang.