
Maria menepuk kedua tangannya setelah Aldrin tak lagi menggesek biolanya. Aldrin tersentak mendengar suara tepukan tangan. Ia menoleh ke belakang melihat Maria berdiri tak jauh dari tempatnya berpijaj.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku baru saja selesai syuting. Terus enggak sengaja dengar suara alunan biola yang indah. Jujur, aku sangat suka melihatmu bermain biola."
Aldrin menyengir bodoh. "Oh ya? Pacarmu jago main piano. Dia akan cemburu kalau tahu kamu lebih suka dengar alunan musik biola yang dimainkan orang lain."
Maria tertawa. Sekali lagi, Zaki memang seorang Pianis. Namun, pria itu bukan tipe lelaki romantis seperti yang orang-orang duga selama ini. Pria itu tak pernah memainkan piano secara khusus untuk kekasihnya. Dalam menjalani hubungan, Zaki terbilang kaku.
"Omong-omong, kenapa kamu di sini? Bukannya ini jam pelajaran terakhir?" tanya Maria sambil menilik sekeliling sekolah yang begitu sepi karena seluruh siswa berada di kelas mereka masing-masing.
"Hanya ingin saja," jawab Aldrin sambil duduk di kursi taman sekolah lalu meluruskan kakinya ke depan.
Maria turut duduk di sampingnya. "Aku bisa merasakan perasaanmu sedang gundah dari petikan biolamu."
Aldrin menyunggingkan sudut bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Maria hingga membuat gadis itu terhenyak.
"Peramal, ya?" cetus Aldrin saat wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Maria menggelengkan kepalanya. "Aku melihat jelas betapa kosong sorot matamu."
Aldrin kembali tertawa bodoh. "Tadinya aku berharap dia dapat mendengar aku memainkan biola ini, ternyata yang mendengarnya malah kamu. Menyebalkan sekali!"
"Dia siapa?"
"Dia yang kusukai," jawab Aldrin sambil berdiri.
Di gedung sekolah, lagi-lagi Amaira di interogasi kembali oleh Angel dan kawan-kawannya. Amaira tersudut di pojok dinding. Sementara Angel dan kawan-kawan mengelilinginya dengan tatapan seolah hendak menerkamnya. Angel melangkah satu langkah lebih dekat pada gadis itu.
"Katakan, sihir apa yang lo pakai sampai Aldrin terpikat juga sama kamu?!" teriak Angel sambil menjambak rambut Amaira.
"A-apa maksudmu?" tanya Amaira sambil meringis kesakitan.
Masih terus menjambak rambut Amaira, Angel kembali berkata, "Lo pikir gue bodoh! Gue melihat dengan jelas dia terus menatap lo!"
"Aku benar-benar tidak tahu ... kenapa kamu selalu mengusikku?" Amaira berusaha mengontrol suaranya agar Angel tidak tersinggung. Buliran bening di matanya hampir menetes.
"Lo bilang apa? Gue mengusik lo?!" geram Angel dengan mata membeliak tajam, "Lo yang mengusik gue! Sejak kehadiran Lo di sini mereka semua enggak lagi mengidolakan gue! Sekarang Aldrin juga suka sama lo. Seharusnya lo keluar dari sekolah ini!"
Angel menjadi tak terkendali. Darahnya semakin menggelegak. Ia hampir saja menampar wajah Amaira. Untungnya, ia masih dapat mengontrol emosinya.
Melihat wajah tak berdaya Amaira membuat Angel terdiam seketika. Ia memikirkan sesuatu. Matanya melirik Amaira dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seketika bibirnya menciptakan senyum licik.
"Buat dia tidak bisa masuk mata pelajaran terakhir!" pinta Angel pada kawan-kawannya.
Mendengar perintah angel, membuat mata Amaira terbuka lebar. Tak menunggu waktu lama, teman-teman Angel langsung menarik paksa tas gadis itu. Mereka tertawa lepas sembari saling melempar tas selempang milik Amaira. Gadis itu berusaha melompat untuk mengambil tasnya. Sayangnya, saat tas itu hampir diraihnya, mereka malah melemparnya ke bawah, tepatnya di tempat pembuangan sampah.
Rupanya Angel belum juga merasa puas. Ia memerintahkan teman-temannya untuk melepas seragam atas yang dipakai Amaira. Tak ayal, Amaira pun berusaha berlari menghindari mereka. Sialnya, salah seorang dari mereka menarik rambut panjangnya hingga membuat wajahnya tertarik ke belakang.
Amaira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah memelas penuh permohonan. "Jangan ... jangan ... jangan! kumohon!"
Kali ini, air mata Amaira benar-benar menetes di pipinya yang mulus. Namun, air mata itu tak berguna sama sekali. Mereka malah semakin bersemangat mengerjainya. keempat kawannya, mulai bergerak menghampiri gadis itu. Mereka melepas paksa almamater yang terpasang di tubuh Amaira. Tak sampai di situ, mereka juga melucuti kameja putih dan tanktop yang dikenakan hingga hanya menyisakan bra berwarna merah jambu.
Amaira makin terisak. Ia dapat merasakan angin siang itu menerpa kulit badannya yang tak tertutupi. Tangannya menyilang ke dada berusaha menutupi tubuhnya yang hanya dibalut bra. Sungguh betapa malunya dia saat ini. Bagaimana ia bisa pulang dalam keadaan seperti ini?
Angel dan kawan-kawannya langsung meninggalkan gadis itu sendirian. Mereka membawa seragamnya, lalu membuangnya ke tempat pembuangan sampah bersamaan dengan tas yang lebih dulu dilempar di sana.
Jam pelajaran terakhir telah berlangsung. Aldrin memilih untuk tidak masuk kelas. Ia berjalan menyusuri tangga-tangga sekolah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong jaket yang dipakainya. Kakinya terus melangkah menelusuri tangga-tangga sekolah.
Aldrin tiba di puncak atap gedung sekolah. Ini adalah tempat favoritnya karena hanya di sini ia bisa menatap langit. Ya, dia adalah pengagum langit. Ia selalu menyukai keindahan langit.
Aldrin meluruskan kedua tangannya ke atas untuk melakukan peregangan otot. Kepalanya menengadah ke atas untuk menatap cerahnya langit siang ini.
Samar-samar terdengar suara isak tangis seorang gadis. Kepala Aldrin refleks menoleh ke samping. Matanya terbuka lebar saat mendapati seorang gadis tengah meringkuk di sudut dinding.
Dengan Langkah pelan, ia menghampiri gadis tersebut. Ia semakin terkejut tatkala melihat gadis itu tak berpakaian. Dengan sigap, Aldrin membuka jaketnya lalu memasangkan ke tubuh gadis itu.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Aldrin dengan wajah iba.
Gadis itu tak menjawab. Ia malah semakin terisak. Tentu saja malu karena seorang laki-laki melihatnya seperti ini. Aldrin menghela napas. Tangannya menangkupkan wajah gadis yang penuh dengan deraian air mata.
"Kamu ...." Aldrin terlonjak kaget saat mengetahui gadis yang di hadapannya itu adalah Amaira.
Aldrin dapat merasakan kesedihan yang dirundung gadis berambut panjang itu. Kedua ibu jarinya mengusap lembut air mata yang mengalir membasahi pipi Amaira.
Di pintu gerbang, Aldrin menaiki motornya bersiap untuk mengantar Amaira pulang ke rumahnya. Awalnya Amaira menolak tawarannya, tetapi karena mempertimbangkan keadaannya, akhirnya ia pun mau diantar siswa paling populer di sekolahnya.
"Pegang erat pinggangku!" perintah Aldrin pada Amaira.
Amaira ragu melakukannya, tapi saat Aldrin menarik pedal gas, tangannya refleks memeluk lelaki bertampang berandalan itu. Aldrin menunduk ke bawah untuk melihat kedua tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia lalu menenngok spion motornya untuk melihat wajah Amaira yang tersipu malu.
Di tempat yang sama, Maria berjalan menuju tempat parkir sekolah. Saat ia hendak membuka mobilnya, matanya menangkap Aldrin yang melaju kencang sambil membonceng seorang gadis.
"Apa dia bersama pacarnya?" pikir Maria sesaat, "hum ... seharusnya itu bukan menjadi urusanku!" gumamnya kembali.
Motor Aldrin telah membawanya tiba di rumah Amaira. Gadis itu turun dari motor dan hendak bergegas masuk ke rumahnya. Namun, tangan Aldrin dengan cekatan menahan lengannya. Amaira terhenyak, matanya menoleh ke tangan Aldrin yang memegangnya.
"Kamu ...." Saat hendak menanyakan sesuatu, tiba-tiba lidah Aldrin menjadi kelu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil dinas masuk ke halaman rumah Amaira. Gadis itu langsung menepis tangan Aldrin dan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Seorang pria matang turun dari mobil, tampaknya dia adalah ayah Amaira.
Pria berseragam dinas itu memandangi anaknya yang baru saja masuk. Ia sempat melihat anaknya diantar oleh lelaki asing. Ayah Amaira menoleh ke arah Aldrin lalu menghampirinya.
Aldrin yang masih menatap kepergian Amaira tak menyadari kehadiran ayah gadis itu. Mata Aldrin pun beralih saat ayah Amaira berdeham. Kini ia dan ayah Amaira saling berhadapan.
Ayah Amaira menatap Aldrin dari ujung kaki sampai ujung rambut, memerhatikan penampilan lelaki itu dengan wajah datar.
"Apa kamu temannya Amaira?"
"Iya."
"Apa kamu ke sekolah dengan rambut yang seperti itu?"
"Iya."
"Dengan anting-anting di telingamu itu?"
"Iya."
"Dengan celana yang sobek seperti itu?"
"Iya."
Ayah Amaira terdiam. Ia kembali menatap Aldrin dari atas ke bawah. Menggeleng-gelengkan kepala, pria itu membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aldrin yang masih berdiri mematung.