Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 106 : Lebih Memanas!



Zaki berjalan keluar dari apartemen Maria. Sementara Maria masih terisak pilu di kamarnya menangisi apa yang baru saja terjadi. Bukankah yang membuat Zaki melakukan hal tersebut akibat dirinya juga? Ada pepatah mengatakan, cinta bisa merubah orang menjadi gila, dan terbukti malam ini pria itu berubah menjadi gila meskipun akhirnya kembali menggunakan akal sehatnya. Kini, ia hanya bisa berharap suatu hari nanti Zaki menemukan pengganti yang lebih baik dari dirinya.


Zaki Tiba di kediamannya. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan lunglai memasuki rumahnya. Bersamaan dengan itu, Ardhilla baru saja tiba dan menyapa anak sambungnya itu.


"Kau baru pulang juga?" tanyanya tersenyum.


Zaki tak memedulikan sambutan Ardhilla dan hanya berjalan melewatinya dengan wajah yang datar. Ardhilla mengernyitkan dahi serta memicingkan matanya melihat tingkah laku Zaki yang tak biasa. Ia menghampiri kembali anak sambungnya itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau begitu lemah? Ceritakan pada Ibu?" tanyanya dengan penuh perhatian.


Mata Zaki yang tak berdaya itu menatap ibunya. "Ibu, hubunganku dengan Maria telah berakhir."


Ardhilla terkejut, dengan spontan ia memeluk Zaki berusaha menenangkan anak tirinya. Akan tetapi wajahnya tersenyum karena putusnya mereka adalah berita yang menyenangkan bagi dirinya. Ya, Ardhilla tak menyukai Maria dan tak membiarkan wanita manapun menguasai hati Zaki sang pewaris utama keluarga ini.


"Jangan sedih. Wanita bukan dia seorang, bukankah dia yang seharusnya menyesal sudah melepasmu?" ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak anak tirinya.


***


Keesokan hari, di kantor perusahaan Adam Grup. Adam memerintahkan sekertarisnya untuk memanggil Zaki ke ruangannya. Selang beberapa menit kemudian, sang sekertaris datang kembali.


"Maaf, Presdir. Sepertinya Manejer Zaki belum tiba di kantor," ucap sang sekertaris.


Adam menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Jam begini dia belum masuk kantor?" gumam Adam.


Tuan Adam hari ini datang ke kantor terlalu pagi sehingga melewati sarapan bersama keluarganya. Pria itu lalu memerintahkan sekertarisnya untuk memanggil Aldrin. Tak lama kemudian, sebuah pintu terketuk dan Aldrin masuk ke ruangannya.


"Bagaimana hari pertamamu magang?" tanya Tuan Adam.


"Semuanya lancar meskipun aku belum bisa pahami semuanya," jawab Aldrin yang duduk di depan ayahnya.


Sesaat kemudian, kembali terdengar suara ketukan pintu.


TOK TOK TOK!


Adam mempersilakan seseorang dibalik pintu untuk masuk ke ruangannya. Ternyata orang itu adalah Zaki. Penampilannya saat ini terlihat berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia tampil fresh dan rapi, sekarang ia justru seperti orang yang baru bangun tidur.


"Kenapa kau baru ke kantor jam begini?" tanya Adam dengan mata yang menyorot tajam.


"Maaf, Ayah. Aku ketiduran," jawabnya singkat sambil menundukkan wajah.


Adam cukup memahaminya, ia berpikir begitu banyak tugas yang harus ditanggung anaknya. Pasti dia sangat lelah, 'kan?


"Mana dokumen yang telah kau buat?" Adam bertanya kembali seraya menengadahkan tangan kanannya.


Masih dengan wajah tertunduk, Zaki menjawab, "Maaf Ayah, aku ... belum sempat membuatnya."


"Aku butuh beberapa saja," pukas Adam tak sabar.


"Aku belum membuatnya sama sekali, Yah."


Tuan Adam terkejut, ia melemparkan sebuah Map ke arah anak sulungnya hingga mengenai dahinya. Zaki hanya bergeming bahkan tak menghindar sama sekali. Ia terpaku di tempatnya berdiri saat ini.


"Dokumen sepenting itu belum kau buat sama sekali?! Di mana tanggung jawabmu sebagai seorang manejer, hah?" Pria tua berkacamata itu tampak emosi.


Zaki kembali diam tak bersuara. Sementara Aldrin terkejut dan hanya bisa menyaksikan amarah Ayah tirinya pada Zaki di hadapannya. Pria sombong yang selalu terlibat perang dingin dengannya saat ini tak berkutik di depan Ayahnya.


"Apa yang terjadi dengan dirimu?" tanya Tuan Adam setelah emosinya cukup mereda.


"Aku baru saja putus dengan pacarku."


Jawaban jujur Zaki mengejutkan Aldrin. Apakah itu artinya kakak tirinya dan Maria tak lagi memiliki hubungan apapun? Itu yang ada di pikiran Aldrin saat ini.


"Lalu?"


"Aku tidak bisa berkonsentrasi."


"Itu artinya kau belum profesional dalam bekerja. Jika ingin profesional, kau harus bisa membedakan urusan pribadimu dengan pekerjaanmu. Aku sangat kecewa padamu!" tangkas Tuan Adam yang lalu menyuruhnya untuk segera keluar dari ruangan.


***


Malam hari di Bar Millenium. Sekelompok anak muda tengah asyik bergoyang diiringi suara musik DJ yang menghentak keras . Mereka terlihat senang berhura-hura menikmati gemerlap dunia malam.


"Apa kau sudah memanggil Aldrin ke sini?" tanya salah satu dari mereka kepada Bryan.


"Aku yakin dia tidak akan datang. Dia sudah tidak pernah ke sini sejak berpacaran dengan Amaira," cela Angel.


"Tenanglah ... dia pasti datang karena aku yang memanggilnya ke sini," balas Bryan begitu yakin.


Sementara di tempat yang sama, Maria terkapar di meja tempat memesan minuman. Ia terus meneguk minuman beralkohol itu hingga benar-benar-benar tak sadarkan diri.


Paparazi akan mengambil fotonya dari jauh, bermaksud ingin mengirimnya ke grup akun gosip di instagram. Namun, seketika ponselnya diraih seseorang yang membuat orang itu terkejut.


"Apa kau tahu mengambil foto seseorang tanpa izin itu melanggar hak privasi?" ucap Aldrin sambil memegang ponsel orang itu.


"Apa urusannya denganmu? Kembalikan ponselku!" ucap orang itu berusaha meraih ponselnya dari tangan Aldrin.


"Dengarkan aku. Aku tidak hanya menginjak ponselmu tapi juga aku juga akan menginjak kepalamu jika kau masih berani mengambil fotonya," ancam Aldrin sambil menyerahkan ponsel milik orang itu.


Aldrin menghampiri Maria yang terkapar. Ia berusaha menyadarkan gadis itu. Sepertinya Maria sangat mabuk hingga tak sadarkan diri. Aldrin mengambil ponsel Maria yang tergeletak di atas meja. Ia menekan kontak mencari nomor Zaki lalu menghubunginya.


Zaki masih berada di kantor mendengar suara dering panggilan telepon. Ia menatap layar ponsel dan melihat nomor yang memanggilnya adalah Maria. Ia mengabaikannya berusaha fokus kembali ke pekerjaannya. Namun, nomor itu terus memanggilnya. Ia pun akhirnya menjawab panggilan telepon.


"Hallo."


"Ini aku."


Zaki terkejut sesaat mendengar suara Aldrin di seberang sana.


"Maria sekarang berada di Bar Millenium. Ia mabuk berat hingga tak sadar. Jemputlah dia dan bawa pulang sebelum netizen melihatnya seperti ini dan menjadi bahan gosip!" papar Aldrin melalui sambungan telepon.


"Dia bukan urusanku lagi!" jawab Zaki ketus.


"Kalau begitu beri tahu alamat rumahnya biar aku mengantarnya pulang!" pinta Aldrin.


Zaki memberi tahu alamat apartemen tempat Maria tinggal. Ia memutuskan sambungan telepon dan kembali bekerja.


Setengah jam lebih berlalu, ia tampak tak fokus dengan pekerjaannya dan terus memikirkan Maria. Ia berdiri, menghentikan segala pekerjaannya dan memutuskan beranjak pergi.


Sementara Aldrin telah membawa pulang Maria ke apartemen gadis itu. Ia menggendong Maria sepanjang jalan, memasuki lift hingga sampai di depan pintu apartemen gadis itu. Ia mengambil kunci apartemen berbentuk kartu di dalam tas yang dibawa Maria. Apartemen terbuka, Aldrin terus menggendongnya menuju kamar.


"Siapa kau ... kenapa kau menggendongku? Turunkan aku!" Maria akhirnya sadar tapi ia masih dalam pengaruh alkohol.


Aldrin menurunkan Maria dari punggungnya. Maria hampir jatuh dan Aldrin segera menangkapnya.


"Kau masih mabuk," ucap Aldrin memegang kedua bahu Maria dari belakang.


Maria menoleh, ia memperjelas penglihatannya, "Apa aku benar-benar sedang melihat Aldrin?"


"Ya, ini aku," jawab Aldrin.


Maria tertawa seketika. Aldrin hanya diam, ia sadar saat ini Maria masih mabuk.


"Kau tahu, aku memutuskan kakakmu karena dirimu," ucap Maria sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Aldrin.


Aldrin mengerutkan keningnya, berusaha memikirkan ucapan Maria tapi sesaat kemudian ia tak terlalu menghiraukannya.


"Aku menyukaimu ... entah sejak kapan aku menyukai dirimu. Mungkin sejak kita berdansa? Atau sejak kita sering berbincang di sekolah, atau ... mungkin saja sejak pertama kali kita bertemu," ucap Maria dengan suara Mabuk sambil tertawa.


"Maria kau terlalu mabuk, istirahatlah!"


Aldrin berusaha melepas tangan Maria yang melingkar di lehernya. Namun, Maria semakin erat memeluknya hingga keduanya sama-sama terjatuh di atas ranjang tidur. Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu kamar yang terbuka.


Aldrin yang masih berada dalam pelukan Maria, melihat Zaki berdiri di depan pintu. Sebaliknya, Zaki terperangah saat lensa matanya menangkap Aldrin dan Maria yang bergelut di atas ranjang.


.


.


.


bersambung...


jika ada yang nanya, mana si ini kok ga nongol-nongol di cerita udah beberapa hari? karena novel ini on going dan pemerannya cukup banyak jadi tidak mungkin menampilkan seluruh karakter di setiap chapter 😊😊


makasih yang masih setia membaca novel ini, baik yang udah bergabung dari awal ataupun yang baru bergabung. baik yg menjadikan novel ini bacaan utama atau bacaan selingan pengisi waktu. saya mencintai kalian semuaπŸ’•πŸ’•


jangan lupa like, vote seiklasnya dan komeng