
Pagi hari, Amaira mengepel rumah dengan penuh semangat. Ini adalah rutinitasnya di hari libur. Sementara ibunya sedang menonton liputan berita artis yang sedang memanas Minggu ini. Rupanya, berita tentang huru-hara rumah tangga Ardhilla menjadi topik utama di beberapa tayangan infotainment.
Pemirsa, kabar mengejutkan datang dari Artis papan atas, Ardhilla. Diketahui ia telah menggugat cerai suaminya Adam Ardhani yang telah membina rumah tangga bersamanya selama tujuh belas tahun. Hal itu cukup mengejutkan, mengingat selama mengarungi bahtera rumah tangga, Ardhilla dan Adam Ardhani jauh diterpa gosip miring.
Perkataan Narator acara infotainment tersebut sontak membuat Amaira terkejut. Layar televisi saat ini menampilkan wawancara Kuasa Hukum Ardhilla.
"Ya, itu benar. Sedang diurus. Keduanya sepakat berpisah secara baik-baik. Penyebabnya tidak perlu diungkapkan ke publik. Yang pasti Ardhilla meminta doa yang baik," jelas sang Kuasa Hukum Ardhilla.
"Amaira, bukannya dia ibunya pacarmu?" tanya ibu Amaira yang sedang menonton liputan tersebut.
Amaira tak merespon pertanyaan ibunya. Ia malah fokus menonton televisi. Di layar kaca saat ini juga tersorot wajah Aldrin, Naufal dan Zaki selaku anak-anak dari Tuan Adam dan Ardhilla. Media seolah mengilas balik kehidupan artis tersebut.
"Orangtua mereka akan berpisah? Bagaimana nasib Aldrin dan juga Naufal?" gumam Amaira dalam hati. Tampaknya ia turut sedih dengan masalah yang menimpa keluarga pacarnya itu. Apalagi, ia tahu Aldrin dan Naufal adalah dua sahabat yang tak terpisahkan.
Di tempat lain, Jefri pun turut menonton berita yang menayangkan perceraian Adam dan Ardhilla. Matanya tak mengerjap menangkap setiap detail informasi.
Tak lama kemudian, terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Ia membuka pesan tersebut dan membacanya.
"Jika kamu punya waktu, aku akan mengundangmu makan malam di apartemenku malam ini."
Jefri tertegun setelah membaca isi pesan tersebut. Matanya kembali menatap televisi yang menampilkan napak tilas rumah tangga Ardhilla dan Adam yang telah diarungi selama belasan tahun.
Jefri langsung memainkan jari-jarinya di layar ponsel. Ia tampak menulis sebuah balasan pesan ke nomor yang baru saja mengirim pesan untuknya.
"Baik, aku akan datang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabar tentang keretakan rumah tangga Tuan Adam dan Ardhilla rupanya telah diketahui oleh Aldrin dan Naufal. Mereka terguncang, karena ini sangat mendadak. Setahu mereka, Ayah dan ibu mereka tak pernah bertengkar.
Aldrin menyeret langkahnya menuju kolam renang. Naufal tengah duduk berdiam diri di pinggir kolam sambil menatap bayangan dirinya dalam air. Aldrin pun mengambil posisi duduk di samping Naufal.
"Ayah dan ibu kita akan bercerai," ucap Naufal masih tetap menunduk.
Aldrin menatap lurus ke depan seraya menghela napas berat. "Ya, aku sudah tahu."
"Apa pendapatmu?" tanya Naufal dengan mimik sedih yang tak bisa ia sembunyikan.
Aldrin tersenyum masam. "Aku enggak tahu. Aku memang bagian dari keluarga ini, tapi aku enggak pernah terlibat dalam urusan keluarga. Aku anak kandung dari ibuku, tapi kami tidak dekat. Jadi, aku tidak tahu," ujarnya pelan, "tapi ... satu yang kutahu. Kalau mereka resmi cerai, maka aku juga akan keluar dari rumah ini. Entah ikut ibuku atau pun tidak," lanjutnya sambil termenung.
Naufal menoleh ke arah Aldrin. "Aku enggak pernah membayangkan keluarga kita akan seperti ini. Kupikir, kita akan selama-lamanya bersama dalam ikatan keluarga."
Aldrin menatap wajah Naufal yang sendu. Sejujurnya, ia turut merasakan hal yang sama. Meskipun dulu ia tak menyukai berada di keluarga ini, tetapi untuk beberapa bulan terakhir, ia telah belajar menerima keberadaan ayah sambungnya. Sayangnya, setelah ia telah dekat dengan Adam, ia harus menerima fakta bahwa ibunya akan bercerai dengan pria itu. Artinya, sebentar lagi akan terputus hubungan antara ia dan Adam, selaku ayah sambungnya. Begitu pula hubungan saudara antara dirinya dan Naufal.
Masih dengan wajah memelas, Naufal menumpahkan keluh kesahnya. "Aku mau memohon sama ayah dan ibu agar mereka tidak bercerai, tapi aku enggak punya keberanian. Aku yakin, mereka pasti telah mikirin semua ini dengan matang. Sekarang, kak Zaki dan kak Maria masih liburan di Itali. Seandainya kak Zaki ada di sini, pasti dia akan bujuk ibu agar tidak bercerai."
Tiba-tiba Aldrin bangkit dari duduknya. Ia langsung meninggalkan Naufal yang masih dirundung kesedihan. Dengan buru-buru, ia menuju tempat parkir untuk mengambil motor dan mengendarainya ke sebuah tempat.
Sepanjang perjalanan, ucapan Naufal terus terngiang di telinganya. Bahkan, kebersamaan mereka selama sepuluh tahun terekam kembali di benaknya. Ya, jika orangtua mereka cerai, sudah pasti mereka pun akan berpisah dan tak lagi terikat sebagai saudara. Membayangkan hal tersebut, membuat Aldrin menambah laju gas motornya agar lebih cepat sampai ke tempat yang ingin didatanginya.
Aldrin menghentikan motornya tepat di kantor agensi artis, tempat ibunya bernaung. Di sana, ia bertemu dengan Siska—seorang waria yang menjadi asisten Ardhilla.
"Hai, ganteng! Tumben ke sini!" goda Siska dengan gaya genitnya.
"Di mana ibuku?" tanya Aldrin cetus.
"Ibumu enggak di sini. Barusan pulang, tuh."
"Di mana sekarang ibuku tinggal?" tanyanya lagi.
"Aaa ...." Siska terdiam. Sepertinya ia diminta untuk merahasiakan tempat tinggal Ardhilla.
"Katakan, di mana Ibuku tinggal?!" bentak Aldrin dengan nada suara meninggi hingga membuat bahu Siska refleks terangkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit mulai menggelap. Di apartemen mewahnya, Ardhilla sedang berdandan di depan meja rias. Ia mengulas senyum seraya menatap bayangan dirinya di cermin. Malam ini, ia menggunakan gaun putih polos yang membentuk tubuh langsingnya. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja, sehingga membuat penampilannya tampak lebih muda, bahkan seperti saat ia masih berumur dua puluh tahun.
Masih berdandan, tak lama kemudian terdengar bel berbunyi. Ardhilla berjalan terburu-buru menuju pintu depan karena tak sabar bertemu dengan tamu spesialnya malam ini.
Sambil tersenyum, Ardhilla membuka pintu apartemennya. Namun, senyum yang menggantung di wajah wanita itu menghilang seketika tatkala tamu yang berdiri di depan rumahnya bukanlah orang yang ia tunggu, melainkan Aldrin!
"Al–aldrin ...," ucap Ardhilla tercengang. Matanya tertuju pada sebuah koper yang Aldrin bawa. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya gugup.
"Bukannya kamu akan bercerai dengan suamimu? Aku anakmu, dan aku harus ikut di manapun kamu tinggal," jawab Aldrin. Ia menyerobot masuk ke dalam apartemen ibunya sambil menarik koper dengan santai.
Ardhilla bergegas menyusul Aldrin, menghadang anaknya agar tak masuk lebih jauh. "Tidurlah malam ini di hotel! Besok aku akan mengurus apartemen baru yang akan kamu tinggali," bujuknya supaya Aldrin agar tak mengacaukan makan malamnya dengan seseorang.
Aldrin tak memedulikan ucapan Ardhilla. Matanya justru tertuju ke sebuah meja makan. Sebuah sajian menu makan malam spesial lengkap dengan lilin dan anggur merah dari merek ternama ditata sedemikian romantis.
"Waw ... makan malam romantis, ya? Ada tamu yang mau datang?" sindir Aldrin sambil menyeringai.
Semakin gugup, Ardhilla mengambil tangan anaknya. "Pulanglah, besok ibu akan menemuimu. Aku ada tamu penting malam ini."
Aldrin menatap penampilan ibunya yang tampak berbeda. "Kamu belum resmi bercerai, tapi kamu sudah dapat pengganti suamimu. Kamu benar-benar punya bakat selingkuh dari muda, ya!" sindirnya seraya berdecak lidah.
Kata-kata yang meloncat dari mulut Aldrin membuat Ardhilla berang. Sontak, ia melayangkan tangannya ke wajah anaknya, tapi Aldrin langsung menahannya.
"Jangan menamparku lagi! Bukannya yang kukatakan ini benar? Dulu kamu pernah berselingkuh dengan sutradara Steve Arnold, 'kan? Dan aku anak mendiang sutradara itu!" ungkap Aldrin dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu bicarakan!" Ardhilla berusaha menyangkal.
"Jangan bohongi aku lagi!" teriak Aldrin hingga membuat Ardhilla tersentak bercampur ketakutan. "Aku sudah tahu semuanya. Aku melakukan tes DNA untuk mencocokkan DNA-ku dan juga DNA Bryan, anak tunggal Steve Arnold. Dan kamu tahu, hasilnya ... positif!"
Perkataan Aldrin sukses membuat Ardhilla membeku. Jantungnya seakan hendak meloncat, berdebar ribuan kali lipat. Lehernya seolah tercekik hingga membuatnya kesulitan bernapas. Lidahnya seakan kelu, untuk menelan ludah pun sulit ia lakukan.
Aldrin masih melempar tatapan tajam ke arah ibunya seraya menarik sudut bibirnya ke atas, membuat sebuah senyuman sinis. Keadaan ini membuat Ardhilla mati kutu. Ia masih tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Keringat dingin mulai keluar melalui pori-porinya seiring wajahnya kian memucat. Wanita itu beringsut ke sofa dengan tubuh yang gemetar. Pada akhirnya, matanya hanya dapat mengawal kepergian Aldrin.
Aldrin yang baru saja keluar dari apartemen ibunya, langsung masuk ke lift menuju lantai dasar. Tadinya, ia datang ke sini untuk membujuk ibunya agar membatalkan gugatan cerai. Namun, melihat makan malam romantis yang tersaji di meja makan apartemen itu, membuatnya berpikir ibunya telah selingkuh. Ia merasa ibunya tak pantas untuk orang sebaik Adam. Pikirnya, perceraian memang jalan yang terbaik untuk Tuan Adam dan ibunya.
Pintu lift terbuka, Aldrin melangkahkan kakinya semakin cepat. Dari pintu masuk, ia berpapasan dengan segerombolan bodyguard berseragam serba hitam berjalan dengan tegap.
Kaki Aldrin berhenti seketika saat matanya tak sengaja menangkap sosok pria bersetelan jas biru tua yang berada di belakang bodyguard-bodyguard itu.
Aldrin membalikkan badannya dengan perlahan untuk dapat melihat lebih jelas sosok yang tertangkap sepasang lensa mata. Seketika, kelopak matanya terbuka lebar, Mulutnya ternganga, dadanya terasa sesak seiring debaran jantung yang berdetak puluhan kali lipat.
Ya, tubuhnya bereaksi hebat ketika melihat sosok pria yang berada tak jauh darinya. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan bibir yang bergetar, Aldrin mencoba membuka suaranya.
"A–ayah!"
Langkah pria berjas biru tua itu terhenti. Matanya membulat seketika saat melihat seorang remaja lelaki yang baru saja memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Aldrin!"
.
.
.
bersambung....