Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 87 : Mencari Pelarian




Keesokan harinya, Naufal memarkirkan mobil di depan sekolah. Namun, sekolah ini bukan sekolahnya melainkan sekolah tempat Erlin belajar. Tak lama kemudian Erlin masuk ke dalam mobilnya.


"Gue kaget lo tiba-tiba telepon terus ngajakin ketemuan," ucap Er sambil memasang sabuk pengaman.


"Aku ingat kamu pernah bilang aku harus berbagi segala sesuatu yang tersimpan di hati agar aku lebih kuat," ucap Naufal menunduk.


"Ya ... kalau lo mau curhat, curhat aja. Gue bakal dengar kok."


Naufal terdiam beberapa detik. "Mereka akan menikah."


"Siapa?" tanya Er.


Naufal tak menjawab hanya menunduk sambil memegang gagang setirnya.


"Apa maksud lo ... cewek yang waktu itu bareng lo? Yang lo bilang pacaran sama saudara lo?" tanya Er.


Naufal mengangguk. "Ya, mereka akan menikah setelah tamat sekolah. Kurang lebih sepuluh bulan lagi."


"Ya ampun, itu sih masih lama banget. Mereka masih bisa putus dan lo masih bisa merebutnya." Er menyemangatinya.


"Aku lihat kekuatan cinta yang besar di antara mereka. Dan itu membuatku sakit," ujar Naufal tak berekspresi.


Erlin dapat melihat jika saat ini Naufal benar-benar patah hati. Tak ada senyum di wajah lelaki yang murah senyum itu.


"Gue enggak tahu gimana rasanya patah hati, soalnya gue belum pernah rasain. Tapi, berlarut-larut dalam kesedihan itu enggak ada gunanya. Lebih baik lo sekarang bawa mobil lo? dan kita jalan-jalan," ujar Er sambil tersenyum.


Er memutar lagu di mobil dengan volume yang besar. Naufal menatap Er yang bercerita sambil menghentakkan kakinya mengikuti irama beat lagu. Perlahan, cowok berkacamata itu mulai tersenyum sambil mengendarai mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Siska datang terburu-buru menghadap artis itu dan menyerahkan sebuah kotak hadiah yang berwarna hitam elegan.


"Ini hadiah dari Tuan Yussef."


Ardhilla segera membuka kotak ini dan terkejut takjub melihat isi dalam kotak. Tampak isi kotak tersebut berisi set perhiasan zamrud berjenis batu Emerald dari mesir. Warna hijau dari perhiasan itu tampak berkilau.


"Dia memberikan ini untukku?" tanya Ardhilla sambil memegang sebuah kalung yang berliontinkan Zamrud.


"Iya, kata asisten Tuan Yussef, ini hanyalah hadiah kecil dan masih akan ada lagi kejutan besar yang akan ia tunjukkan jika kalian bertemu nanti," ucap siska sambil ikut mencoba cincin bermatakan batu mulia.


"Coba cek kembali kapan aku akan menemuinya?"


"Kira-kira tiga hari lagi. Sepertinya dia sangat mengagumimu!"


Ardhilla tak henti-hentinya menatap perhiasan yang dihadiahkan untuknya, "Aku sudah tidak sabar untuk berjumpa dengannya."



Naufal t membawa Er berkeliling seputaran kota. Sepanjang jalan, ia merasa risih mendengar Er yang terus menyanyi mengikuti lagu di mobil. Ia mengencangkan volume musik dengan sangat keras.


"Hei, kita mau ke mana? Aku sudah bosan membawamu berkeliling sementara kamu cuma nyanyi terus," keluh Naufal kesal.


"Gimana kalau kita nonton film bioskop saja? Ada jadwal film lucu yang diperankan sama stand up comedy," ajak Erlin.


Naufal berpikir sejenak sebelum memutuskan mengikuti ajakan Erlin. Ia mengemudi mobilnya menuju mall. Sampai di sana, mereka langsung ke lantai dua menuju pintu masuk bioskop. Naufal dan Erlin memesan tiket film yang akan dinonton. Setelah itu, mereka duduk di pintu theater sambil menunggu dibuka. Mereka lalu masuk dan duduk di barisan ke tiga. Hari ini, bioskop cukup ramai karena film ini memang pemutarannya sedang ditunggu-tunggu para anak muda.


Satu jam berlalu, Naufal tak terlihat menikmati tontonannya. Bagaimana tidak, sepanjang durasi film Er terus tertawa terbahak-bahak sambil memukul lengan Naufal dengan keras hingga membuatnya kesakitan. Kadang-kadang popcorn yang dimakan gadis itu akan terlempar dari mulutnya jika sedang tertawa, dan itu akan mengenai wajah Naufal karena setiap tertawa Er selalu menghadap ke arahnya. Belum lagi kakinya yang tidak sengaja menginjak kaki Naufal saat terlalu tertawa. Tak ayal, tontonan film komedi menjadi tontonan film horor untuk Naufal. Melihat tingkahnya, cowok itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Film telah selesai dengan ending yang menggemaskan, itu artinya 'penderitaan' Naufal selama di ruangan ini pun telah berakhir.


"Gimana menurut Lo film tadi?" tanya Er.


"Filmnya sangat menyedihkan!" kesal Naufal.


"Gimana enggak buruk, kalau sepanjang film kamu terus memukulku dan nginjak kakiku!" balas Naufal dengan tampang kesal.


Wajah Er memerah seketika. Benarkah ia melakukan hal itu? Kenapa ia tak menyadarinya?


"Yang benar? Ah, gue enggak sadar kayaknya. Oh, iya gimana kalau kita ke tempat karaoke sekarang? Yang gue tahu, teman-teman gue melepaskan rasa sedih mereka dengan nyanyi." Er mengajaknya lagi dan kali ini Naufal juga menyetujuinya.


Mereka pun memutuskan pergi ke tempat karaoke dengan memesan ruangan yang tidak besar. Erlin langsung mencari lagu rock dan bernyanyi sambil melompat-lompat, kadang-kandang ia akan bergaya seperti orang yang sedang memetik gitar. Tingkahnya yang sangat absurd dari cewek pada umumnya membuat Naufal tertawa dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


Er meminta Naufal untuk memilih lagu yang mewakili perasaannya saat ini. Naufal memilih lagu berjudul melewatkanmu by Adera. Ia pun mulai bernyanyi di depan Er yang telah duduk karena lelah selepas menyanyikan dua lagu rock.


Melewatkanmu di lembaran hariku


Selalu terhenti di batas senyumanmu


Walau berakhir cinta kita berdua


Hati ini tak ingin dan selalu berdusta


melupakanmu takkan mudah bagiku


Selalu ku coba namun aku tak mampu


Membuang semua kisah yang telah berlalu


Di sudut relung hatiku yang membisu ku merindukanmu


Harusnya ku telah melewatkanmu


Menghapuskanmu dari dalam benakku


Namun ternyata sulit bagiku


Merelakanmu pergi dari hatiku


Selalu ingin dekap tubuhmu


Namun aku tak bisa karena kau telah bahagia...


Naufal tampak menghayati syair demi syair yang ia lantunkan. Suaranya begitu lembut dan terdengar sangat dalam. Er masih menatapnya sambil menopang kepalanya yang bersandar di sofa kecil ruangan itu. Lambat laun, Er mulai terpesona melihat cowok lembut berkacamata yang ada di hadapannya sekarang.


Setelah puas menyanyikan beberapa lagu. Mereka memutuskan untuk bermain game bersama yang ada di mall. Naufal kini telah terlihat lebih senang, sesekali ia bahkan akan tertawa dan mengejek Er yang kalah darinya. Keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka yang terlihat seperti orang pacaran.


Setelah puas jalan-jalan, nonton bioskop dan karaoke bersama serta menyempatkan diri untuk makan di kafe, akhirnya mereka memutuskan pulang. Naufal mengantar Er pulang ke rumah.


"Makasih ya untuk hari serunya. Aku senang banget. Kamu sungguh asyik dan lucu!" ucap Naufal yang tersenyum lebar padanya.


Er menatap wajah bahagia Naufal dan iapun ikut merasa senang. "Gue juga berterima kasih sama Lo karena sudah ngajak gue. Gue harap kita bisa sering seperti ini."


"Itu pasti!" jawab Naufal dengan cepat.


Er melepas sabuk pengamannya. Lalu turun dari mobil Naufal dan langsung masuk ke dalam sebuah lorong kecil. Naufal menatapnya hingga tubuh gadis itu menghilang dari pandangannya. Ia mulai mengemudikan mobilnya, tetapi tiba-tiba beberapa motor menghampirinya dan orang-orang yang menaiki motor itu memaksanya untuk turun.


Naufal turun dari mobilnya. Ia mengenali salah satu dari mereka, yaitu seorang cowok yang pernah berboncengan dengan Er saat ia dan Amaira ke sekolah Er.


Cowok itu menghampirinya lalu berkata, "Oh jadi gara-gara elo Er minta putus dari gue?"


Cowok yang usianya terlihat lebih tua itu mendekati Naufal lalu mengelus-elus pipinya.


"Aku enggak paham maksud kamu. Aku baru kenal Er," ucap Naufal sedikit gugup.


"Jangan bohong! Lo pikir gue enggak lihat kalian tadi!"


Mata pria itu melotot tajam. Ia mulai memberi kode pada teman-temannya. Detik berikutnya, mereka mulai memukul Naufal membabi buta hingga membuatnya jatuh tersungkur di aspal. Mereka menginjak kacamata Naufal yang terlempar hingga retak, lalu meninggalkannya setelah puas memukulinya.