Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 85 : I'm Cinderella Man



...*Pernahkah kau mendengar kisah cinderella? Seorang gadis yang tinggal bersama ibu tiri dan dua saudara tirinya. Di akhir kisah, ia menikah dengan sang pangeran dan hidup bahagia....


...Aku mempunyai kisah yang mirip dengan Cinderella, di mana Ibuku menikah dan aku punya dua saudara tiri. Ya, aku adalah Cinderella Man. Sayangnya, kisah yang berakhir dengan narasi, "Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya" hanya ada di negeri dongeng. Di dunia nyata kau tak akan menemukan akhir kisah seperti itu*......



Selepas dari rumah Amaira, Aldrin kembali ke rumahnya. Ia bertemu dengan Ardhilla yang tampak bersiap-siap pergi ke pesta dengan gaun glamour yang melekat di badannya. Ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian memilukan itu. Sang Ibu dan anak itu tampak canggung satu sama lain.


"Maaf, kalau kehadiranku telah banyak menyulitkan kamu. Kamu pasti tersiksa di masa-masa itu," ucap Aldrin dengan terbata-bata.


Setelah berkata, ia langsung meninggalkan Ibunya yang masih berdiam diri. Ardhilla seperti mendapat pukulan di dada. Apa dia sedang berhalusinasi? Ucapan yang baru saja didengarnya, benarkah keluar dari mulut Aldrin?


Aldrin meminta maaf padaku?


Dari lantai atas, Aldrin melihat Ibunya yang berdiri kaku di bawah sana.


Di kamar, Naufal tengah belajar dengan sungguh-sungguh karena selama empat hari ke depan mereka akan melaksanakan ujian semester akhir. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Naufal melepaskan kacamatanya dan beranjak menuju pintu kamar. Ia membuka pintunya, dan melihat Aldrin berdiri sambil membawa beberapa buku.


"Aku mau belajar sama kamu."


Naufal mengerjapkan mata, tapi ia dengan senang hati mempersilakan saudaranya masuk kamar untuk belajar bersama.


Keesokan harinya, Naufal dan Aldrin sama-sama menuruni anak tangga lengkap dengan atribut sekolah mereka. Aldrin memilih untuk langsung pergi tanpa sarapan. Sementara di meja makan keluarga, Naufal menyapa Ayah, ibu dan juga kakaknya.


"Mana Aldrin?" tanya Tuan Adam.


"Dia pergi duluan, Yah!" jawab Naufal.


Ardhilla mematung sesaat. Sementara Zaki memperhatikan reaksi ibunya itu.


Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, tidak ada yang berubah. Semua kembali seperti biasa, kecuali Aldrin. Ia tidak lagi makan bersama keluarganya. Dulunya, sekali pun sedang kesal dengan keluarganya, Aldrin tak pernah melewatkan makan bersama. Namun, sejak percekcokan dahsyat ia bersama ibunya, lelaki itu tak lagi menampakkan wajahnya di meja makan. Tentu saja Tuan Adam yang tidak mengetahui kejadian beberapa hari lalu itu sudah merasa curiga dengan perubahannya.


Di sekolah, selesai ujian Amaira ditemui Angel dan kawan-kawannya.


"Oh jadi karena lo, Aldrin mengubah penampilannya!" ucap Angel sinis.


"Aldrin kita jadi enggak sekeren dan se-cool dulu, dia jadi sama aja kayak siswa lainnya!" ucap salah satu di antara mereka.


"Dia juga sudah jarang dugem sama kita, Bryan pun juga bilang seperti itu, lo benar-benar bikin dia jadi kampungan!" Salah satu dari mereka kembali melanjutkan.


Amaira menatap dalam wajah Angel. "Aku tidak pernah menyuruhnya berubah, aku tidak pernah memaksanya untuk mengikuti hal apa pun sesuai kemauanku. Karena aku tahu, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah seseorang kecuali dirinya sendiri, dan kalau saat ini Aldrin banyak mengalami perubahan, itu karena dirinya sendiri yang mau berubah!"


Amaira langsung beranjak pergi meninggalkan Angel dan kawan-kawannya. Ia masuk ke perpustakaan dan melihat Aldrin berdiri di sudut rak buku sambil tersenyum hangat padanya.



"Kamu keliatan lebih muda setelah rambutmu hitam," ucap Amaira sambil tertawa kecil.


"Jadi selama ini kamu menganggap aku tua?" balas Aldrin cemberut.


"Kamu marah? Benar kan kataku, kamu jadi lebih muda dan kekanak-kanakan." Amaira menarik hidungnya dengan lembut.


Aldrin tersenyum seketika, lalu membalas menarik hidung gadisnya itu. Mereka tertawa bersama sambil terus saling membalas.


"Berikan aku hadiah," ucap Aldrin seketika.


Dengan perlahan Aldrin mengangkat satu jarinya ke bibir Amaira, "Aku mau ini."


Amaira melebarkan matanya. "Kamu gila, ya? Ini lingkungan sekolah tahu!"


"Ayolah! Enggak ada yang lihat juga." Aldrin mendesak, melihat sekeliling lalu kembali berkata, "Berikan aku kecupanmu."


Mata Amaira ikut memperhatikan sekeliling. "Tutup matamu!"


Aldrin langsung menutup matanya. Amaira mendekatinya perlahan, kakinya menjinjit agar tingginya setara dengan Aldrin. Ia mendongakkan wajahnya ke atas untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Aldrin. Aroma tubuh Amaira mulai masuk ke hidung Aldrin. Tiba-tiba Amaira mundur beberapa langkah secara perlahan dan lari meninggalkan Aldrin yang masih berdiri sambil menutup matanya. Aldrin membuka kelopak matanya. Ia terhenyak mengetahui Amaira sudah tidak ada di ruangan itu.


"Kampret! Aku dikerjain!" umpat Aldrin sambil tertawa kecil.


Pulang dari sekolah, Aldrin memutuskan ke kantor Tuan Adam. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di perusahaan yang begitu besar dan mewah. Ia melangkahkan kakinya masuk ke perusahaan itu. Salah seorang satpam mencegatnya.


"Ada yang bisa kubantu, Dek?"


"Ya, aku mau menemui Tuan Adam."


Satpam melihat Aldrin dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dalam hatinya berpikir kenapa anak SMA mencari presiden perusahaan.


"Kamu sudah bikin janji dengan Tuan Adam?"


"Belum." Aldrin menggeleng.


"Kalau begitu kamu tidak bisa menemui Tuan Adam, karena sekarang beliau sedang sibuk dan akan pergi ke hotel untuk meeting."


Tak peduli, Aldrin menerobos masuk. Satpam langsung mengejar dan menariknya. Aldrin melawan, ia melepaskan diri secara paksa. Namun, satpam kembali menyeret tubuhnya. Bahkan satpam lainnya ikut membantu menyeretnya agar keluar.


Bersamaan dengan itu, Tuan Adam keluar dari lift bersama Zaki dan juga jajaran staff penting perusahaan. Aldrin melihat ayah sambungnya berjalan tak jauh darinya.


Dengan ragu-ragu ia mencoba memanggilnya, "A—ayah!"


Tuan Adam berhenti sejenak saat mendengar suara yang ia kenali. Pria yang menjadi presiden direktur di perusahaannya itu memutar tubuhnya perlahan dan melihat Aldrin yang berdiri sambil dipegang oleh kedua satpam. Ia masih mengingat kembali jika baru saja Aldrin memanggilnya dengan sebutan Ayah.


"Aldrin, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Tuan Adam heran.


"Aku ... aku ... aku mau bicara, Ayah!"


Saat mengatakan itu, suara Aldrin gemetar karena ini pertama kalinya ia memanggil pria tua itu dengan sebutan Ayah. Satpam langsung melepasnya saat melihat Presdir mereka merespon Aldrin.


Tuan Adam menoleh pada sekertarisnya dan berkata, "Katakan pada mereka, meeting ditunda satu jam kemudian."


Semua rombongan yang ikut dengannya terkejut. Zaki langsung mendekatinya dan berkata, "Ayah, meeting ini sangat penting—"


"Lakukan saja apa yang kuperintah!" potong Tuan Adam.


.


.


.