Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 98 : Aldrin VS Ardhilla



Kuasa hukum datang ke kediaman Tuan Adam. Ia membawa berkas dan menyerahkannya ke Ardhilla.


"Ini berkas yang Pak Adam harus tanda tangani dan juga beri stempel," ucapnya.


Ardhilla mengambil berkas itu dari tangan kuasa hukum Tuan Adam. Ia segera membuka isi berkas dan membacanya. Wanita itu terkejut saat membaca isi warisan.


"Kenapa nama Aldrin tidak ada dalam daftar warisan? Bukannya Pak Adam telah mengatakan harta itu akan dibagi tiga?"


"Iya, tadinya saya sudah membuat versi yang menyertakan nama Aldrin di dalamnya, tapi beberapa hari lalu Pak Adam meminta saya agar mencoret namanya."


"Aldrin dicoret dari daftar hak waris?" tanya Ardhilla kembali memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya, sepertinya dia melanggar salah satu syarat yang Pak Adam berikan!"


Ardhilla masuk ke kamarnya dengan raut wajah kesal. Ia mengingat kembali persyaratan yang diajukan suaminya jika Aldrin ingin mendapatkan warisan. Suaminya menyaratkan Aldrin harus menikah dengan wanita baik-baik minimal di usia dua puluh lima tahun.


Tiba-tiba Ardhilla membayangkan sesuatu yang ia takuti. Ia tahu anaknya mempunyai pergaulan yang bebas, tetapi ia tidak pernah peduli dengan apa yang anaknya lakukan di luar sana.


Apa mungkin Aldrin menghamili seorang perempuan? Itu yang ada dibenak Ardhilla saat ini. Oh tidak! Wanita itu tidak mau menduga-duga dan ingin memastikan langsung kesalahan apa yang Aldrin lakukan.


Ardhilla melangkah cepat menuju lantai atas, tepatnya ke kamar Aldrin. Ia membuka pintu kamar yang tak terkunci. Ruangan itu kosong. Tak ada Aldrin di sana.


'Kemana anak itu?' Ardhilla bergumam kesal.


Ketika Ardhilla memalingkan badannya, Aldrin datang dan terkejut melihat ibunya berada dalam kamarnya. Rupanya lelaki itu baru saja pulang setelah bertemu Bryan di kafe tadi.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Aldrin datar.


Aldrin tahu ibunya tidak akan ke kamarnya jika bukan keperluan mendesak. Ardhilla mendekatinya, lalu mulai berbicara setengah berbisik.


"Katakan padaku, kamu hamili anak orang, ya?" tanyanya cepat seolah butuh jawaban kilat dari Aldrin.


Aldrin mengerutkan dahinya. Melihat wajah panik ibunya, sepertinya ia mengerti sesuatu.


"Aku enggak menghamili siapapun, tapi aku akan menikahi pacarku setelah lulus sekolah nanti dan aku sudah minta izin sama suamimu," ucap Aldrin santai sambil tersenyum.


"Apa? Kamu akan menikah setelah tamat sekolah nanti? Dasar anak bodoh! Kalau kau menikah cepat, ayahmu tidak akan menyerahkan anak perusahaannya padamu!" ujar Ardhilla dengan suara tertahan karena ia tak mau suaranya terdengar sampai ke kamar kedua anak tirinya.


"Jadi itu yang bikin kamu khawatir?" Aldrin menarik sudut bibirnya ke atas.


"Kau memang anak bodoh!" umpat Ardhilla kesal.


Aldrin terdiam, tangannya mengepal. Sementara Ardhilla segera memalingkan badan hendak keluar dari kamar anaknya.


"Apa hubunganmu dengan mendiang sutradara Steve Arnold?" Pertanyaan keramat keluar dari mulut Aldrin secara tiba-tiba.


Langkah Ardhilla terhenti seketika. Ia terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut anaknya. Wajahnya memucat. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia seakan terpaku dari tempatnya berdiri. Bahkan untuk menggerakkan tubuhnya pun tak mampu.


Aldrin berjalan maju ke arah ibunya yang membelakangi. Sekarang ia berada di hadapan ibunya yang terdiam. Ia menatap wajah ibunya dengan pandangan tajam menunjukkan jika ia benar-benar serius saat ini.


"Hanya rekan kerja. Kenapa kaya tanya seperti itu?"


Ardhilla berusaha tenang menjawab pertanyaan yang tak pernah ia sangka akan dipertanyakan Aldrin. Sayangnya, Aldrin dapat membaca lewat bahasa tubuh jika saat ini ibunya tengah gugup dan ketakutan.


"Aku menemukan artikel yang membahas tentang hubungan gelapmu dengan mendiang sutradara Steve Arnold." Mata tegas dan menyala terlihat jelas di wajah tampannya.


"Itu hanya gosip murahan!" Ardhilla mencoba mengelak. Ia memberanikan diri menatap mata Aldrin yang menyala. "dan itu bukan urusanmu!" lanjut Ardhilla.


Aldrin membuang muka. "Tentu saja menjadi urusanku. Mungkin saja dia ayahku!"


Ucapan Aldrin semakin mengguncang jantung Ardhilla seolah hendak melompat keluar. Ia dapat merasakan sekujur tubuhnya gemetar dan keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya.


"Omong kosong apa yang kamu bilang? Aku tidak pernah berhubungan dengan Steve selain terikat kontrak kerja! Atas dasar apa kamu mengatakan dia ayahmu?!" Suara Ardhilla meninggi. Wajahnya menegang hingga urat lehernya terlihat.


"Hei, kau terlalu berlebihan! Tapi aktingmu cukup bagus. Tidak masalah jika Anda mengelak dan menyimpan rahasia tentang siapa ayah kandungku. Aku sendiri yang akan mencari tahu kebenarannya. Lihat saja nanti!" ucap Aldrin tersenyum sinis dan mengangkat satu keningnya.


Ardhilla menahan emosinya. Tak ada lagi kata-kata yang dapat ia keluarkan. Ia mencoba tetap mengendalikan diri dan memilih keluar dari kamar Aldrin.


Ardhilla melangkah cepat menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya lalu menutupnya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang nyaring.


"Dasar anak kurang ngajar! Dia benar-benar tidak berguna! Bahkan Jefri sudah tidak ingin dia lagi!" umpatnya setengah berteriak.


Sesaat kemudian ia tersadar. Tunggu! Aldrin mulai mengetahui gosip tentang hubungan gelapnya dengan Steve beberapa tahun silam. Apakah anak itu sedang mengancamnya barusan? Saat ini Aldrin sudah curiga. Apa yang harus ia lakukan?


Sontak pikiran Ardhilla menjadi kacau. Ia dirundung gusar di seolah ingin berteriak. Kakinya melangkah bolak-balik ke sana kemari. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Ia sungguh panik hingga tak bisa berpikir.


Sementara di dalam kamarnya, Aldrin tersenyum penuh arti. Tangannya masuk ke dalam saku jaketnya. Ia mengambil sebuah plastik berukuran mini yang berisi beberapa helai rambut. Ia menatap plastik kecil yang berada di tangannya saat ini. Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu, yaitu saat dirinya mengajak Bryan foto bersama.


Ya, ketika ia mendekatkan kepalanya ke kepala Bryan, saat itulah kesempatannya untuk mengambil beberapa helai rambut milik Bryan. Itulah sebab kenapa Bryan protes hasil welfie mereka tidak bagus, karena alasan Aldrin mengajaknya berfoto tidak lain karena ia ingin mengambil sampel rambut Bryan!


Aldrin pun menatap tajam bayangan dirinya di cermin.


.


.


.


.


.


.


Bersambung