Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 97 : Goodbye, Bryan!



Hari ini di IL Academy International High school, sedang berlangsung acara perpisahan kelulusan anak-anak kelas 3. Acara diisi dengan pidato dari kepala sekolah, himne guru yang dinyanyikan oleh anak-anak kelas 3, serta kesan dan pesan dan pemutaran dokumenter rekam jejak siswa kelas 3 selama berada di sekolah ini.


Isak tangis bahagia tercetak di raut wajah anak-anak kelas 3. Beberapa dari mereka terlihat berpelukan dan foto bersama. Aldrin dikerumuni para siswi kelas 3 yang hendak berfoto bersamanya. Ia tampak kelelahan karena banyaknya siswi yang mengantri untuk berfoto dengan cowok populer di sekolah ini.


Aldrin mengalihkan pandangannya, dilihatnya beberapa siswa laki-laki yang juga hendak berfoto dengan Amaira. Sontak Aldrin langsung beranjak menemui Amaira tanpa memedulikan siswi-siswi yang masih ingin berfoto dengannya. Ia menarik tangan gadis itu dengan paksa lalu membawanya menyepi dari keramaian.


"Kenapa kamu mau saja foto bareng sama mereka?" tanyanya kesal dengan mata yang terbuka lebar.


Amaira terdiam sejenak, kedua mata mereka saling bertemu. "Bukannya kamu juga berfoto bersama kakak kelas perempuan? Kamu enggak menolak satu pun yang mau berfoto sama kamu, bahkan kamu merangkul cewek-cewek itu sambil tersenyum ria di depan kamera!"


"Tentu saja itu beda!" Aldrin membela diri.


"Al, kamu selalu egois. Saat pestanya kak Maria kamu sibuk dansa sama dia sampai lupa kalau ada aku di sana, cuma bisa lihat kamu. Tapi lucunya, kamu marah sama Naufal saat lihat dia dan aku berdansa. Dan sekarang, kamu masih tetap sama. Sibuk dengan para cewek dan lupain aku, tapi kamu tiba-tiba enggak terima ketika aku didekati cowok lain."


"A ... a ... Itu ...."


Aldrin terjebak dengan ucapannya sendiri. Yang dikatakan Amaira benar adanya. Sejak berpacaran dengan Amaira, ia tak mengizinkan lelaki lain dekat dengan gadis itu, sementara ia sendiri selalu dekat dengan cewek lain di depan kekasihnya.


Amaira langsung pergi meninggalkannya. Ia terlihat marah karena Aldrin selalu bertingkah semau dirinya tapi tidak memedulikan perasaannya.


Aldrin berusaha mengejarnya, tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Aldrin!"


Aldrin berbalik dan melihat Bryan berdiri.


"Hei, kamu sudah sehat?" Aldrin sedikit terkejut.


"Ya. Gue bahkan sudah bisa loncat-loncat," jawabnya sambil memberi salam tinju yang disambut kembali oleh Aldrin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari, Aldrin mengemudikan motornya menuju suatu tempat. Ia menghentikan motornya dan menuju kafe SKYE yang berada di lantai 56 gedung menara BCA. Di kafe mewah itu kita bisa melihat keindahan malam kota Jakarta dari ketinggian.


Tak jauh darinya, Aldrin melihat Bryan duduk seorang diri sambil menikmati rokok yang berada di tangannya. Ia menghampiri Bryan, memosisikan duduk di sampingnya. Lelaki itu tersenyum sambil melempar sebungkus rokok dan korek api padanya. Aldrin mengambil sebatang rokok lalu mulai menyalakan pemantik api. Mereka duduk bersandar sambil mengepulkan asap dan menikmati keindahan kota malam hari yang penuh dengan lampu-lampu.


"Besok, gue mau pergi ke Paris," ucap Bryan sambil menghembuskan asap rokoknya.


Aldrin melirik Bryan. "Kamu akan kuliah di sana?"


Bryan mengangguk, "Dan mungkin akan jarang pulang ke Indo. Gue enggak tahu kenapa nyokap tiba-tiba mau kuliahin gue di sana padahal gue sih ingin di sini saja!"


Aldrin terdiam. Ia mengingat kembali ucapan Ibu sahabatnya itu yang mengatakan jika ibunya pernah berselingkuh dengan ayah Bryan dan dia anak hasil perselingkuhan mereka.


Aldrin mengangkat kepalanya ke atas. Ia menatap langit malam yang penuh bintang.


"Apa kamu pernah berpikir untuk memiliki saudara?" tanya Aldrin tiba-tiba.


Bryan meliriknya sambil tersenyum, "Itu impian gue dari kecil! Gue hidup sendirian dalam rumah yang besar dan mereka selalu memberikan apa yang gue mau. Gue selalu berpikir, mungkin akan menyenangkan jika gue punya saudara. Kita akan saling rebutan perhatian orangtua kita, kita akan saling rebutan permainan, atau bahkan berkelahi bersama."


"Kamu mau memiliki saudara cuma biar punya teman buat rebutin sesuatu?"


"Iya. Karena dari dulu gue selalu dapatin apa yang gue mau. Jadi ... gue enggak tahu gimana cara berjuang itu. Pernah enggak lo sama Naufal rebutin sesuatu?"


"Gue selalu nganggap lo sebagai saudara gue!" ucap Bryan menepuk pundaknya.


Ucapan Bryan tiba-tiba mengheningkan dirinya seketika. Pikiran Aldrin kosong. Ia menyengir bodoh. Tatapan matanya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.


Jika benar aku adalah anak hasil perselingkuhan ayahmu, masihkah kamu menganggapku saudara? Masihkah hari ini menjadi sama dengan hari itu kelak? Ataukah kamu malah membenciku?


Pikirannya menjadi kacau seketika. Perasaan kalut menyelimuti hatinya. Ia mematikan rokoknya yang telah memendek.


"Ayo kita foto bareng!"


Ajakan itu tiba-tiba keluar dari mulut Aldrin. Ia mengambil ponsel di saku celananya. Lalu membuka aplikasi kamera di ponsel pintarnya.


"Ayo!"


Mereka lalu berfoto welfie dengan latar keindahan malam kota Jakarta. Mereka tidak peduli jika dianggap alay oleh orang-orang sekitar.


"Ulang ... ulang! Kok hanya lo doang yang keren, mata gue ketutup, tahu!" protes Bryan.


"Aku memang cakep dari lahir dan tetap keren mau pose aja!" elak Aldrin sambil terkekeh.


Mereka kembali mengambil foto dan kali ini wajah Bryan terpotong setengah di layar.


"Tuh, kan! Lo bodoh banget! Sini biar gue yang pegang!" Bryan merampas ponsel Aldrin.


Bryan mengambil ponsel dari tangan Aldrin. Mereka mengambil beberapa gambar dengan pose-pose yang lucu. Setelah puas berfoto, mereka kembali duduk menikmati cappucino yang baru saja tiba dibawa pelayan kafe.


"Bryan, ini malam terakhir kita bersama. Aku hanya dapat mengucapkan selamat tinggal. Sebenarnya aku sangat membenci untuk mengucapkannya, tapi kurasa perlu!"


"Lo seharusnya ngucapin sampai jumpa, karena gue enggak akan pergi selamanya."


Aldrin menunduk dan kembali tertawa bodoh. Semoga saja mereka masih bisa berjumpa setelah ini.




.


.


.


.


.


.


btw, author Yu suka ngakak kalo baca komen kalian yang sebel sama emaknya Aldrin. tenang aja ntar juga Ardhilla bakalan dapat kurma alias karma.... kapan? ikuti aja terus. wkwk... kok jadi spoiler cerita sendiri.


jangan lupa dukung terus author dengan cara like setiap postingan, berikan poin seikhlasnya dan komeng!