
Wanita yang berada dalam pelukannya saat ini dulunya pernah mengisi seluruh ruang hatinya. Ia pernah berjuang tanpa lelah untuk mendapatkan cinta Amaira. Sebelum akhirnya melepaskan dan menyaksikan wanita itu bahagia bersama Aldrin.
Dia telah mengubah cintanya pada Amaira menjadi cinta untuk keluarga. Ya, dengan begitu dia akan menyayangi Amaira sama seperti dia menyayangi Aldrin. Dan sekarang, ia tak ingin cintanya kembali bersemi hanya karena ia melihat airmata wanita ini.
Saat ini, Amaira menjadi lebih tenang di pelukan pria berkacamata itu. Namun, Naufal melepas pelukannya seketika, ia menatap dalam kedua bola mata milik Amaira. Wajah wanita itu terlihat sembab dengan butiran air mata yang masih menetes dengan sendirinya. Tangan Naufal yang hangat menyentuh pundak wanita itu, bibirnya melengkung membentuk senyuman untuk menguatkan Amaira.
"Apa kau percaya kekuatan cinta?" tanya Amaira dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Ya ... aku percaya!" jawab Naufal dengan tatapan keyakinan.
"Kekuatan cinta seperti apa yang kau ketahui?" tanya Amaira dengan wajah tak berdaya.
Masih dengan menatap kedua bola mata indah milik wanita itu, Naufal kembali bersuara, "Yang aku ketahui, cinta adalah obat penyembuh alami."
"Benarkah?"
Naufal mengangguk, senyum samar tercetak di bibirnya, sambil mendongakkan wajahnya ke atas ia menjelaskan, "Ketika seseorang memeluk dirimu selama 10 hingga 20 detik, maka zat oxytocin akan terlepas dan rasa sakit di tubuhmu akan berkurang secara alami. Berpegangan tangan juga dapat meningkatkan endorfin yang mampu meningkatkan sistem imun dalam tubuh."
Amaira bergeming, air mata masih tergantung di sudut matanya. Mungkinkah rasa sakit yang menerpanya tadi seketika hilang, karena pelukan penuh cinta dari Naufal? Ya, di saat Amaira menerima sebuah rasa sakit yang menerjang, segala patah hati yang ia miliki, bahkan di setiap rasa sulit yang ia hadapi, Naufal yang selalu bersedia memberi pundak kokoh untuk dipakainya bersandar. Pria itu bersedia mentransfer seluruh cintanya sebagai penenang. Bukankah terlalu sering? Bahkan ini sudah terlalu banyak!
"Maafkan aku ...." Dengan lembut Amaira melepas tangan Naufal di bahunya.
Naufal mengernyitkan mata. "Maaf untuk apa?"
"Maaf ...." Amaira meneguk ludah sendiri, Dia menundukkan kepalanya dan terlihat mengambil napas yang dalam, lalu kembali membuka suara dengan nada yang rendah, "maaf selalu menyeretmu di setiap rasa sakit yang kualami."
Amaira menyadari dia telah bersalah. Dia hanya selalu membagi rasa sakitnya pada Naufal, tapi tak pernah membagi rasa bahagianya. Ini sungguh tak adil bagi pria itu. Dia sekarang telah menikah, dan mungkin kedekatannya dengan Naufal tak akan seintens dulu.
Naufal tertawa kecil, ia menggelengkan kepalanya. Seolah ia dapat menebak suara hati Amaira saat ini, "Aku senang bisa selalu menjadi penawar kesedihanmu. Setidaknya, aku sedikit berguna untukmu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia membalikkan tubuhnya lalu berbalik membelakangi Amaira yang masih mematung. Naufal berjalan perlahan dengan pandangan lurus ke depan dan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Kemudian, Naufal kembali masuk ke dalam kamar rawat Aldrin. Ia menatap Aldrin yang masih terbaring dalam kondisi koma.
"Bangunlah ... kenapa kau menjadi selemah ini? Bukankah kau sangat bahagia karena telah menikahi Amaira? Bangunlah! Nikmati posisimu sebagai seorang suami."
Naufal menarik napas panjang, menatap tak berdaya ke arah Aldrin. "Bangunlah ... dan hapus air matanya! Sebelum pria lain datang ke kehidupannya untuk menghapus air matanya."
Naufal menjambak rambutnya sendiri. Wajahnya jelas terlihat sendu. Ada rasa takut berkecamuk di dalam dadanya saat ini. Takut jika Aldrin tak kunjung membuka matanya. Seketika ia tak mampu menenangkan dirinya sendiri, hatinya terasa amat berat.
***
Beberapa hari telah berlalu begitu saja, namun Aldrin tetap seperti biasa, tak menunjukkan sedikit pun kemajuan. Dokter kembali menyarankan Ardhilla dan Jefri untuk mengambil opsi yang mereka berikan, yaitu melepas semua peralatan medis yang menopang hidupnya selama beberapa hari ini. Namun, mereka masih bersikukuh untuk tidak mengikuti saran dokter. Mereka masih menunggu keajaiban dari Tuhan. Berharap, Aldrin satu dari beberapa umat yang beruntung mendapat mukjizat dari Yang Kuasa.
Selama sepekan Aldrin berada di Rumah Sakit, Naufal selalu menemani Amaira juga sering menjenguk Keyla si gadis pelukis yang berpenyakit jantung. Setiap malam, ia menyempatkan untuk bertemu dengan Keyla di atap gedung Rumah Sakit. Sekedar bercerita atau menemani gadis itu melukis.
Lambat laun, gadis bermata cokelat itu begitu menarik hatinya. Entah mungkin karena wajah dan perawakannya mirip Amaira, atau karena rasa simpatik dengan penyakit yang diderita gadis itu. Namun, bisa saja hatinya yang sempat terkunci telah terbuka dan cinta sudah saatnya berpindah tempat.
Malam ini, ia kembali bertemu dengan Keyla di tempat biasa, yaitu atap gedung Rumah Sakit. Naufal telah sampai di puncak tertinggi gedung itu, dan ia tersenyum saat melihat punggung gadis yang sedang menunggunya. Naufal menghampirinya, dan melihat ada yang berbeda dengan Keyla malam ini. Gadis itu terlihat cantik dengan makeup tipis yang dipoles di wajahnya. Rona wajahnya jelas terlihat bahagia.
"Apa kau sudah lama menungguku?" tanya Naufal begitu mendatanginya.
"Tidak juga, aku baru tiba" jawab gadis itu.
"Ooh ...." Naufal berdehem mencoba menetralkan suaranya.
"Kakak, apa malam ini aku terlihat cantik?" tanya gadis itu sembari mencetak senyum di wajahnya.
Naufal tertegun, ia merasa aneh dengan pertanyaan gadis itu, namun ia segera menjawab, "Tentu saja. Tapi ... kurasa kau tak perlu memakai makeup."
"Aku senang karena kau begitu semangat berjuang untuk hidup dan melawan penyakitmu," ucap Naufal.
Ia memang salut pada Keyla karena sepanjang ia mengenalnya, tak sedikitpun gadis itu tampak mengeluh atau memperlihatkan rasa sakitnya. Dia masih bisa tersenyum bahkan ketika penyakit jantungnya kambuh.
"Kakak ...."
Keyla memanggil Naufal dengan pelan. Kali ini ia menatap dalam wajah pria itu. Seketika suasana hening menggerogoti keduanya.
"Aku ingin merasakan jatuh cinta," ucapnya sambil menunduk dalam.
Naufal tertawa kecil. "Kenapa kau ingin jatuh cinta?"
"Karena aku takut, aku ... tidak akan merasakan mencintai dan dicintai sepanjang hidupku," jawab Keyla lirih.
"Itu tidak mungkin! Setiap orang pasti akan merasakan itu."
"Benarkah?"
Naufal mengangguk, berusaha meyakinkan gadis itu.
"Tapi ... aku punya bekas operasi besar di tengah dadaku. Laki-laki mana yang mau denganku saat aku dewasa nanti?"
"Tentu saja laki-laki yang tulus mencintaimu!"
Keyla mendongakkan wajahnya, ia memberanikan diri menatap pria berkacamata itu.
"Kakak ... apa aku boleh jatuh cinta padamu?"
Naufal terkejut mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Ia bergeming dan hanya menatap tanpa berkedip ke arah Keyla.
Melihat reaksi Naufal, Keyla buru-buru bersuara kembali, "Oh iya, gadis sepertiku terlalu lancang untuk mengatakan hal ini padamu, aku --"
"Bukan begitu." Naufal langsung memotong ucapan Keyla. "Hanya saja ... bukankah dokter melarangmu untuk memiliki perasaan berlebihan? Jatuh cinta akan membuat jantungmu berdebar tiap saat."
"Jangan khawatir! Aku akan segera mendapatkan pendonor jantung," ucap gadis itu dengan senyum bahagia.
"Benarkah?" Naufal melebarkan matanya, ia ikut tersenyum mendengar kabar bahagia.
"Iya. Dokter mengatakan itu padaku tadi pagi, katanya ada seorang pasien yang berasal dari Indonesia sedang kritis saat ini. Ia mempunyai kartu donor organ dan sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Jadi, kita hanya tinggal menunggu orangtuanya menandatangani surat pencabutan seluruh alat medis," papar Keyla dengan bibir yang mengembang.
Naufal terperangah mendengar ucapan yang baru saja Keyla lontarkan. Pendonor jantung yang Keyla maksud sudah pasti ialah Aldrin.
Keyla melanjutkan kembali ucapannya, "Hanya saja ... sepertinya keluarganya tak mau menandatangani itu. Setelah dokter mengatakan hal itu, aku langsung berdoa meminta pada Tuhan, agar Tuhan segera mengambil nyawa orang itu."
Naufal makin terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Keyla. Matanya terbuka lebar, rahangnya mengeras dan lehernya menegang. Wajah lembutnya berubah seketika, tak ada garis senyum di sana.
.
.
.
.
bersambung
sedih banget ceritanya? namanya juga genre sad romance bukan genre komedi romance π. cerita ini emang bukan bersifat hiburan yaa, tapi lebih ke motivator dan renungan untuk kita. kalo cerita yg bersifat menghibur ada byk judul di NT, saya ingin menampilkan novel saya sedikit berbeda agar pembaca bisa memetik pesan moral yg tersirat dlm cerita ini. walaupun diselipin bumbu2 drama Ama merica dan bawang dikit.
tetap stay di penghujung cerita ini jangan lupa like n Komeng π