
"Kamu ... putra Steve?" Ardhilla bertanya kembali seolah tak percaya.
"Iya, saya anak tunggal keluarga Arnold," jawab Bryan tersenyum
"Apa kalian berdua berteman?" tanya Ardhilla kembali dengan wajah pucat.
"Iya, Tante. Walaupun Aldrin adik kelasku, kita berteman baik dan selalu main basket tiap sore," jawab Bryan lagi.
Aldrin langsung menarik Bryan untuk pergi. Ia malas karena harus berhadapan dengan ibunya sendiri.
Ardhilla menatap kepergian Bryan dan Aldrin. Ingatannya melayang kembali ke masa lalu. Saat ia mengandung Aldrin, Steve Arnold dan istrinya baru saja dikaruniai seorang anak lelaki. Ia tak menyangka jika hari ini, ia harus melihat dua anak laki-laki yang sedarah itu tampak akrab.
Mengetahui fakta itu, membuat jantungnya berdenyut kencang. Seketika, ia merasa pusing seperti hendak terjatuh. Di saat bersamaan, seseorang menopang tubuhnya dari belakang.
"Ibu kenapa?" tanya Zaki sambil memegang pundak Ardhilla.
"Zaki, kamu ada di sini juga?" tanya Ardhilla dengan kepalanya yang masih terasa pening.
"Iya. Aku datang sama pacarku. Aku dapat undangan ekslusif untuk tampil sebagai pianis."
Zaki lalu mengajak Ardhilla masuk ke tempat acara bersamanya. Ardhilla mencoba untuk tenang, ia menarik napasnya dalam-dalam.
Tenanglah! Aku terlalu berlebihan. Apa yang aku takutkan? Tidak ada yang mengetahui kalau Aldrin adalah anak Steve. Tidak istri Steve, tidak Adam, tidak manajerku, dan tidak pula dengan Jefry! Rahasia besar ini hanya aku sendiri yang mengetahuinya.
Amaira keluar dari toilet dan berjalan ke tempat sebelumnya di mana Aldrin menunggu. Namun, ia tersentak melihat lelaki itu tidak ada. Matanya menilik sekeliling tempat, dan tetap tidak menangkap bayangan Aldrin. Gadis itu mencoba menghubungi pacarnya, tetapi nomornya sibuk. Ia memberanikan diri untuk masuk ke Aula tempat diselenggarakan acara.
Ketika akan masuk, petugas keamanan meminta bukti undangan. Dia tidak memilikinya karena undangan itu dipegang Aldrin dan dia hanya datang untuk menemani pacarnya itu. Sialnya, petugas tidak mengizinkannya masuk tanpa adanya undangan.
Amaira berjalan kembali ke arah pintu masuk hotel. Ia menengok sekeliling berharap sepasang matanya menangkap sosok Aldrin. Tiba-tiba teleponnya berdering, ia menatap layar telepon dan itu dari Aldrin. Dengan cepat, ia menerima panggilan itu.
"Kamu di mana?" tanya Aldrin dari balik saluran telepon.
"Aku ... aku di lobby. Aku mencarimu tapi kamu tidak ada. Aku mau masuk ke aula tapi petugas tidak mengizinkan karena aku tidak membawa undangan."
"Tunggu di sana, ya! Aku akan datang menemuimu."
Aldrin menutup teleponnya. Dia bergegas pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara wanita yang memanggil namanya. Ia memutar badannya dengan cepat. Ternyata gadis yang memanggilnya itu adalah Maria. Saat ini Maria tampil anggun dengan gaun merah cantik dan rambut gelombang yang terurai.
"Kamu ada di sini juga, Al?" tanya Maria setelah sebelumnya memanggilnya.
"Aku datang atas undangan temanku. Dia anak mendiang sutradara Steve," jawab Aldrin dengan gerak mata yang gelisah.
"Aku pikir kamu datang untuk tampil sebagai Violinis."
Aldrin tertawa kecil. "Seandainya kayak gitu, aku bakal sangat senang. Nyatanya enggak ada yang mengakuiku seorang violinis. Toh aku cuma seorang mantan pemusik jalanan."
"Kalau kamu berani tunjukkan bakatmu ke orang-orang, aku yakin akan ada musisi yang merekrutmu."
Acara telah dimulai. Maria duduk semeja bersama Zaki dan juga Ardhilla.
Aldrin hendak keluar dari ruangan itu untuk menjemput Amaira yang masih di luar. Sialnya, petugas keamanan mencegatnya.
"Kami minta maaf, peraturan acara ini tidak mengizinkan orang keluar masuk dari tempat ini selama acara berlangsung," ucap petugas.
"Aku hanya mau keluar sebentar saja!" pinta Aldrin memaksa pada sang petugas.
Petugas menggelengkan kepala tanda tak boleh. Penjagaan di sini sangat ketat karena orang-orang yang hadir dari kalangan sutradara, produser, musisi serta selebritis papan atas. Ia dapat hadir di tempat ini berkat Bryan yang memberikan undangan tersebut. Tadinya ia tak berniat untuk datang, tetapi ia berpikir bukankah para gadis menyukai acara berkelas seperti ini? Akhirnya, ia memutuskan datang dan membawa Amaira ke sini.
Aldrin menggerutu. Ia tahu Amaira sedang menunggunya saat ini. Bryan datang kembali menghampirinya dan mengajaknya duduk bersama. Aldrin gelisah, ia menoleh ke arah jam tangannya. Bagaimana ini? Ia tidak dapat menemui Amaira dan tak mungkin menyuruh gadis itu menunggunya di luar sampai acara selesai.
Aldrin mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang.
"Hallo ...." Naufal menerima panggilan telepon Aldrin.
"Kamu di mana?" tanya Aldrin.
"Aku di rumah. Kenapa?"
"Aku ... aku melihat Amaira."
"Amaira? Di mana?"
"Di lobby hotel Four Season. Kayaknya dia menunggu seseorang, tapi seseorang itu tidak kunjung menjemputnya. Mungkin kamu bisa datang menemuinya sekarang."
"Yang benar? Baiklah, aku akan segera ke sana!"
"Iya cepat, ya. Kasihan tuh!"
"Makasih, ya, sudah kasih tahu!"
Aldrin mengakhiri panggilan teleponnya. Ia menekan panggilan ke nomor ponsel Amaira. Tiba-tiba sebuah foto yang muncul di layar menarik perhatiannya.
Acara dibuka dengan pemutaran dokumenter yang menunjukkan rekam jejak sang sutradara serta Film-Film yang disutradarainya sepanjang hidup.
"Apa dia Ayahmu?" tanya Aldrin ke Bryan sambil menatap layar besar di hadapannya.
"Iya, gue enggak tahu banyak tentang beliau. Saat beliau meninggal, usia gue baru satu tahun."
Aldrin masih menatap layar yang mempertontonkan sosok sang sutradara. Matanya tak berkedip sedikit pun. Anehnya, iris mata yang berwarna hitam itu tampak berkaca-kaca.
Dengan suara lirih, dia berkata, "Entah kenapa, melihat Ayahmu aku jadi sedih."
hallo jika kamu suka dengan cerita ini, bantu saya naikkan perfoma novel ini dengan cara like setiap postingan, beri 5 bintang dan share ke sosial media yang kamu punya.