Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 92 : Berdamai dengan Diri Sendiri



Aldrin kembali ke rumah dengan hati yang gundah gulana. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengar dari mulut ibu Bryan. Lelaki itu separuh menyesal telah membaca sejumlah artikel yang kini mengganggu saraf pusatnya.


Ia mengingat kembali ucapan ibunya yang mengatakan jika ia adalah anak hasil pemerkosaan. Ia juga mengingat ucapan ibunya Bryan yang mengatakan jika ia anak hasil perselingkuhan ibunya dan seorang sutradara yang merupakan ayah dari temannya itu. Semua ucapan-ucapan itu kembali terngiang di telinganya seolah sebuah rekaman kaset yang sedang terputar.


Aldrin mengambil sebatang rokok, menyalakan koreknya dan menyelipkan di antara bibirnya. Ia mulai menghisap rokok tersebut dan mengepulkan asap putih yang pekat. Tak puas dengan merokok, ia kembali membuka lemarinya dan sibuk mencari-cari sesuatu. Ia mengambil sebotol minuman beralkohol tinggi yang masih tersegel, kemudian buru-buru membuka segel botol minuman keras itu. Ponsel yang berdering secara tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Terlihat sebuah pesan masuk di layar ponselnya. Ia meletakkan botol minuman keras di atas ranjangnya dan membuka isi pesan tersebut.


^^^Amaira^^^


^^^**J**angan lupa untuk selalu semangat!^^^


Pesan itu dikirim oleh Amaira. Sejak Aldrin datang ke rumahnya dan berjanji akan berubah, setiap malam gadis itu akan selalu mengirim pesan untuk memberi semangat padanya. Aldrin melihat sebotol minuman beralkohol di hadapannya. Ia segera menyadari bahwa harus teguh dalam keputusannya untuk menjauhkan diri dari minuman beralkohol.


Aldrin menatap cermin, tersenyum memberi penghargaan pada dirinya sendiri. Cowok tampan itu lalu menyimpan kembali minuman kerasnya. Ia duduk bersandar di tiang jendela sambil menatap sebatang rokok yang perlahan terbakar seiring berjalannya waktu. Lelaki itu begitu menikmati udara malam yang begitu dingin.


Di sisi lain, Naufal telah kembali ke rumah dengan wajah yang sedikit lebam. Kepala Pelayan langsung menghampirinya menanyakan soal memar yang terdapat di wajahnya.



"Aku hanya terlibat perkelahian kecil," ucap Naufal menjawab pertanyaan Kepala pelayan.


Para pelayan tampak berkumpul dan begitu khawatir dengannya. Mereka sangat perhatian pada tuan muda mereka yang terkenal sangat ramah kepada siapapun.


"Di mana ayah dan Ibuku?" tanya Naufal.


"Tuan Adam dan Tuan Zaki sedang perjalanan bisnis ke Bali. Mungkin akan pulang beberapa hari lagi. Kalau Nyonya pulang subuh," ucap kepala ART sambil mengompres luka lebam Naufal.


Naufal menghela napas panjang, merasa bersyukur karena ayah dan kakaknya tidak ada di rumah. Jika mereka ada dan melihat wajahnya seperti ini pasti ia akan diserang segudang pertanyaan.


Naufal kembali ke kamarnya dan meletakkan tasnya. Ia merasa sangat lelah hari ini. Sayup-sayup terdengar suara biola dari kamar sebelah. Naufal berjalan ke balkon kamarnya dan melihat Aldrin memainkan biola dengan syahdu. Saat ini Aldrin membawakan lagu Snow Flower dari Mikha yang begitu menyayat hati. Aldrin selalu memainkan biola ketika suasana hatinya sedang dirundung kesedihan.


Ketika Aldrin memiringkan kepala, ekor matanya menangkap Naufal yang berdiri dari sebelah balkon. Ia langsung menghentikan permainan dawainya.


"Kamu sudah pulang? Bagaimana keadaan Bryan?" tanya Aldrin.


"Dia sudah membaik. Kenapa kamu cepat pulang? Dia cari kamu, tuh!" Naufal balik bertanya.


Aldrin terdiam beberapa detik. Ia mendengus lemah sebelum menjawab, "Aku lelah dan kepalaku terasa pusing."


"Ya, udah. Istirahat saja dulu! Karena besok kita masih ujian."


Ketika Naufal akan kembali ke kamarnya, tiba-tiba Aldrin berkata padanya, "Kamu selalu tenang menghadapi masalah. Kadang aku ingin memiliki sikap seperti itu. Kasih tahu dong tips-nya!"


Naufal kembali menoleh ke arah Aldrin yang memandang ke atas langit gelap. "Aku ... hanya selalu berdamai dengan diriku sendiri, mengikhlaskan apa yang terjadi dalam hidupku, serta memaafkan dan melupakan hal-hal menyakitkan yang telah berlalu."


Aldrin termenung mendengar ucapan Naufal. Ia tidak tahu harus berkata apa dan tidak membalas ucapan Naufal, selain menundukkan kepalanya. Ya, mungkin ia harus berdamai dengan dirinya sendiri agar ia bisa menerima setiap masalah yang ia hadapi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, setelah selesai ujian bahasa Indonesia, Aldrin dipanggil ke ruang guru. Ia datang dan langsung menghadap guru pelajaran bahasa indonesia.


"Baik, Bu. Berikan saja!" balas Aldrin penuh semangat.


"Tugas tambahanmu, kamu harus menulis paragraf deskripsi bertema 'Ayah'. Minimal lima paragraf," pinta Bu guru.


Aldrin terhenyak seketika. "Kenapa harus tema Ayah, kenapa temanya enggak tentang pacar saja. Aku dengan senang hati akan mendeskripsikan tentang Amaira. Ia pacarku yang cantik, baik, pengertian—" komplain Aldrin yang langsung dipotong oleh Gurunya.


"Lakukan saja apa yang aku perintah! Aku beri waktu dua hari. Kamu harus menyetor tugas itu paling lambat dua hari ke depan. Ingat, jangan asal-asal lagi karena tugas ini untuk membantu nilaimu di raport!" Guru itu mempersilakan Aldrin kembali setelah memerintahkannya mengerjakan tugas.


Aldrin keluar dari ruang guru. Ia bersandar di tiang ruangan sambil termenung.


'Mendeskripsikan tentang ayah? Ayah mana yang akan ku ceritakan? Apakah ayah kuanggap ayah kandungku, tetapi ternyata bukan? Ayah tiriku yang aku sendiri tak pernah akrab dengannya? Ataukah ayah kandungku yang tak jelas asal usulnya?' gumam Aldrin di dalam hatinya.


Ia berdiam diri dan kembali termenung.


'Aku tidak pernah dan tidak akan tahu bagaimana wajah ayah kandungku. Aku melewatkan masa kecilku tanpanya dan aku ditinggalkan ayah angkatku di umur tujuh tahun.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Ardhilla datang ke sebuah butik milik salah satu desainer ternama Indonesia. Ia langsung disambut dengan hangat oleh desainer itu.


"Halo Mba, sudah lama banget enggak berkunjung ke sini," ucap sang Desainer menyambut kehadirannya.


"Iya, itu karena aku sangat sibuk syuting," balas Ardhilla.


"Ada yang bisa aku bantu? Mba Ardhilla cari gaun apa?" ucap Desainer menawarkan bantuan.


"Aku mau cari gaun malam yang cocok dipakai dinner. Nanti malam aku akan dinner dengan pengusaha asal timur tengah yang mengontrakku dan aku ingin tampil baik di depannya," papar Ardhilla dengan senyum menawan.


Desainer memilihkan salah satu gaun malam yang indah. Gaun itu berwarna hitam begitu sederhana namun terlihat elegan.


"Ini koleksi gaun terbaruku. Sangat baru! Aku senang banget kalau Mba yang duluan mencobanya," ujar sang desainer menunjukkan gaun tersebut pada Ardhilla.


Ardhilla menatap lekat gaun cantik itu sambil tersenyum, sepertinya ia juga menyukai gaun tersebut.


.


.


.


bersambung...


Apakah chapter selanjutnya ardhilla akan bertemu jefri? Apa misi jefri menemui ardhilla? Untuk balas dendam atau untuk kembali merebut cinta lamanya? Nantikan jawabannya di chapter-chapter berikutnya.


jangan lupa like, like itu gratisss.