Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 110 : Mengulang Kesalahan yang Sama



Maria merasa lega saat mengetahui laki-laki di belakangnya adalah Aldrin. Napasnya tertahan, bahkan untuk menggerakkan tubuhnya tak bisa sama sekali. Aldrin melepas tangannya yang membungkam mulut Maria. Ia mengintip keluar dan melihat sudah tak ada orang.


"Ayo keluar!"


Aldrin menarik tangan Maria sambil berlari menuju pintu keluar hotel. Namun, tiba-tiba seorang wartawan terlihat tengah berdiri di area depan hotel dan menuju ke arah mereka. Aldrin kembali menarik Maria untuk bersembunyi. Mereka duduk berjongkok di sudut tangga. Tanpa sadar Aldrin terus menggenggam tangan Maria. Gadis itu malah fokus pada genggaman tangan cowok yang berusia lebih muda darinya.


Aldrin menoleh ke arah Maria. Mata mereka saling bertemu membuat Maria menjadi salah tingkah.


"Tunggu sampai wartawan itu benar-benar menghilang, baru kita pergi!" ucap Aldrin yang langsung mendapat anggukan dari Maria.


Di ruang tempat diselenggarakan acara, Amaira masih terdiam di tempat. Ia kembali mengingat saat Aldrin melepaskan genggamannya hanya untuk mengejar Maria. Ia mengetahui Aldrin dan Maria sangat dekat dan sering berbincang-bincang di sekolah mereka. Namun, sejak pesta dansa itu, entah kenapa ia mempunyai firasat jika artis muda itu menyukai Aldrin. Ia tidak bisa menebak hubungan spesial apa yang terjalin antara mereka berdua. Apalagi, sekarang Aldrin malah memilih mengejar Maria dibanding tetap bersamanya. Kekecewaan tergurat di wajahnya dengan jelas.


Pelan-pelan, Amaira melangkah menuju Naufal yang duduk diam.


"Naufal."


Naufal menoleh. Ia tersentak melihat Amaira berdiri di hadapannya.


"Di mana Aldrin?"


"Dia pergi menemui kak Maria."


Naufal mengerutkan keningnya. "Ayo duduk di sini!" Naufal berdiri memberikan kursi yang ia duduki untuk Amaira.


"Tidak usah. Aku mau pulang. Kamu bisa enggak antar aku pulang?" pinta Amaira.


"Eh?" Naufal terkejut. "Baiklah, ayo!" sambung Naufal kembali tanpa berpikir panjang.


Naufal dan Amaira pergi meninggalkan ruangan. Sementara Aldrin dan Maria masih bersembunyi seraya menunggu wartawan itu pergi. Aldrin dan Maria bersirobok kembali dengan jarak pandang yang sangat dekat sampai-sampai bisa merasakan hawa napas masing-masing.


"Kok kalian bisa sampai putus?" tanya Aldrin secara tiba-tiba.


Maria terkejut menerima pertanyaan dari Aldrin. Ia bingung akan menjawab apa. Apakah ia harus menjawab jika ia menyukai lelaki yang saat ini berada di depannya?


Entahlah! Ia pun tidak mengerti akan perasaannya saat ini. Yang pasti setiap melihat Aldrin, jantungnya selalu berdetak tak karuan. Seperti ada rasa ingin terus bersamanya.


"Maria .... " Suara Aldrin membangunkan lamunannya.


Maria tersadar sejenak. "Aku dan dia sudah tidak bisa bersama lagi dan sudah tidak bisa dipaksakan lagi untuk saling mencintai."


Aldrin mendengar jawaban Maria dengan seksama. Tanpa ia sadari, ia membelakangi Naufal dan Amaira yang lewat di hadapan mereka menuju pintu keluar hotel.


"Maria, aku dan Zaki dari kecil enggak pernah akur. Tapi, ada satu hal yang aku ketahui dari dia. Dia benar-benar sangat sayang sama kamu!" ucap Aldrin.


Maria bergeming, tak berusaha membalas ucapan Aldrin. Ia sangat tahu. Ya, sangat mengetahui jika Zaki sangat mencintainya tanpa Aldrin memberitahukan padanya. Ia telah menjalin cinta dengan pria itu selama tiga tahun dan cinta Zaki padanya tak pernah bergeser sedikit pun. Hanya saja, ia merasa sudah tak pantas untuk bersama dengan pria itu. Sebab, rasa cintanya untuk Zaki tidak seperti dulu lagi.


"Kamu tahu enggaj, waktu kamu mabuk aku menelepon dia, terus dia bilang sudah enggak ada urusan lagi sama kamu. Jadi, aku antar kamu pulang. Lucunya, pas tiba di apartemen, ternyata dia datang lihat kamu. Dia bahkan langsung pukul aku karena menyangka aku akan melakukan hal yang enggak baik sama kamu," ungkap Aldrin tentang kejadian saat ia dan zaki berkelahi di kamar Maria.


"Zaki pukul kamu?" Maria membulatkan matanya seketika.


"Jangan khawatir. Kita satu sama, aku balik pukul dia juga kok. Tapi kamu cuma sibuk bermimpi di atas tempat tidur," ucap Aldrin sambil terkikik.


Aldrin kembali mengintip keluar. Rupanya wartawan sudah tak ada. Ia berdiri dan membantu Maria untuk bangun dari posisi jongkoknya.


"Cepat pulang, sebelum wartawan melihatmu lagi!" ucap Aldrin.


"Kalau kamu enggaj sibuk, gimana kalau kita ke kafe kopi sekarang?" tawar Maria.


"Sorry, aku enggak suka minum kopi dan ... pacarku lagi nunggu aku di dalam," tolak Aldrin.


Maria melepaskan tangannya dari pergelangan Aldrin. Cowok berusia tujuh belas tahun itu langsung berbalik dan segera berlari menuju ke tempat acara berlangsung. Sementara Maria menatap kepergian Aldrin yang telah mengecil dari pandangannya.


Bagaimana bisa aku lupa, kalau kamu sudah memiliki kekasih ?


Di perjalanan pulang, Amaira hanya terdiam. Ia memegang dompet kecilnya yang berisi ponsel. Sesekali Naufal memandang ke arahnya, memerhatikan mimik wajahnya yang tampak kecewa.


"Kalian lagi marahan, ya?" tanya Naufal sambil terus menyetir.


Amaira menggelengkan kepala. "Tidak."


"Oh, baguslah. Aldrin sangat sibuk sejak magang di kantor ayah. Dia benar-benar bersungguh-sungguh. Itu semua demi kamu!"


"Ia, aku tahu. Bahkan hari ini adalah pertama kali kami bertemu lagi selama liburan," balas Amaira.


Sayangnya, pertemuan pertama mereka selama masa liburan harus berakhir sama dengan kencan pertama mereka waktu itu. Di mana Aldrin meninggalkannya sendiri, dan pada akhirnya hanya ada Naufal sebagai dewa penolongnya.


Ini benar-benar seperti sebuah de javu!


Entah mengapa, Aldrin kembali mengulang hal yang sama. Mengajaknya pergi ke acara berkelas, lalu sesuka hati meninggalkan dirinya seperti orang bodoh. Bahkan di pesta ulang tahun Maria, ia meninggalkan gadis itu untuk berdansa bersama Maria. Hingga akhirnya, hanya ada Naufal yang selalu setia di sisinya. Selalu dan selalu!


"Eh, liburan kamu mau ke mana?"


"Hanya berdiam diri di rumah."


"Kok kita sama," Naufal terkekeh.


"Kamu enggak ke mana-mana juga selama liburan?" tanya Amaira.


Naufal menggelengkan kepala. "Oh ya, gimana kalau besok sore kita ke toko buku? Kudengar sih toko gramedia mengadakan diskon 30% untuk setiap buku yang dibeli."


"Yang benar? Aku mau!" Amaira tersenyum mengangguk.


"Sip! Besok aku jemput, ya!"


Aldrin kembali ke tempat acara, berjalan menuju tempat di mana ia meninggalkan Amaira. Aneh, tak ada Amaira di sana. Ia menengok ke tempat duduk Naufal, dan tidak ada Naufal juga di sana. Ia berjalan kembali, mencari-cari gadis itu. Matanya berkeliling berusaha menangkap sosok yang ia cari, tapi tak jua tertangkap oleh sepasang matanya. Ia kembali berjalan menerobos beberapa kameraman yang sedang menyiarkan acara secara langsung. Namun, tetap tak melihat Amaira dan Naufal.


Aldrin keluar kembali dari ruangan itu, mencoba menepi dari keramaian. Ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi Amaira. Telepon itu tersambung tapi tak diterima. Ia meneleponnya kembali, tapi tak kunjung terjawab.


.


.


.


.


.