
Selang beberapa menit kemudian, tangan Naufal berusaha meraih kacamatanya yang telah hancur. Ia mencoba bangkit dengan berpegangan pada sudut mobil lalu masuk ke mobil.
Sesampainya di rumah, kepala asisten rumah tangga melihat wajah Naufal yang memar-memar. Ia langsung memerintahkan asisten lain untuk mengobati luka memar yang terdapat di wajah tampan Naufal. Aldrin keluar dari kamarnya dan melihat Naufal dari lantai atas kamarnya. Ia pun turun dan menghampirinya.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya terkejut sambil memegang dagu Naufal untuk menilik lukanya.
"Enggak apa-apa. Aku cuna diserang sekelompok orang," jawab Naufal menahan perih luka yang sedang diobati.
Aldrin terbelalak. "Siapa yang berani menyerangmu? Katakan sama aku!"
"Aku enggak tahu, aku juga enggak kenal mereka!"
"Aneh banget! Kita enggak boleh biarkan ini terjadi. Kalau aku tahu, bakalan aku balas!"
"Kamu enggak perlu berlebihan, aku enggak apa-apa kok."
Naufal langsung masuk ke kamar. Ia melihat ponselnya berdering dan segera menerima panggilan itu.
"Hallo, lo sudah sampai di rumah, ya?" Suara ceria Er terdengar dari seberang sana.
"Iya," jawab Naufal singkat dan dingin.
"Lo masih sedih? Gue pikir lo sudah kembali ceria kayak tadi," sahut Er.
"Er, apa kamu punya pacar?" tanya Naufal tiba-tiba.
"Hah? Kenapa lo tiba-tiba tanya kayak gitu itu? Jangan-jangan ... lo suka ya sama gue?" tebaknya penuh percaya diri.
"Aku cuma mau tahu. Aku takut kalau kita terlalu dekat, pacarmu bakal marah."
"Gue punya pacar, tapi sudah putus!"
"Kenapa?"
"Karena gue lelah. Gue ingin hidup sebagai gadis normal."
Er pun bercerita jika ia dan kakaknya hanyalah pendatang di kota Jakarta. Mereka tinggal di kos-kosan kecil. Sehari-hari kakaknya bekerja sebagai ART. Sedang kadang-kadang ia membantu kakaknya bekerja part time.
Er juga bercerita tentang mantan pacarnya yang ternyata adalah seorang ketua geng motor dan juga pecandu narkoba. Ia sering melakukan kekerasan fisik pada Er dan memaksanya mencuri kalau kehabisan uang untuk membeli narkoba.
Saat ia bertemu Naufal pertama kali, itu adalah saat ia sedang di kejar karena ketahuan mencopet. Er telah memutuskan pacarnya. Namun, pacarnya terus mengancam dan tidak terima jika di putuskan.
Naufal tertegun mendengar curahan Er. Ia salut, ternyata Er adalah wanita yang tangguh di balik senyum cerianya. Ia tak pernah menyangka jika gadis tomboi itu menjalani hidup yang berat.
Hari ini adalah hari ke dua ujian semester berlangsung. Naufal menuju ke sekolah Er setelah pulang dari sekolahnya. Dari dalam mobil, ia melihat Er bersama orang yang memukulnya kemarin—mantan pacar gadis itu.
"Kenapa lo enggak mau ikut sama gue? Apa karena cowok bermobil ferrari itu?" tanya mantan pacar Er.
"Ini enggak ada hubungannya sama dia. Aku memang enggak mau lagi sama kamu,!" ketus Er.
"Apa lo yakin ini enggak ada hubungannya sama cowok lemah itu? Asal lo tahu, ya, gue ngikutin kalian kemarin pas dia antar Lo pulang. Coba tebak, apa yang gue bikin ke dia setelah itu?" Pria itu mengangkat keningnga disertai senyum yang menakutkan bak iblis.
Er terkejut saat mengetahui jika mantan pacarnya menemui Naufal. Sudah pasti ia bisa menebak apa yang dilakukan pria itu pada Naufal.
Naufal masih terus memerhatikan keduanya lewat jendela kaca mobil. Ia terkejut saat melihat Er menaiki motor pria itu dan ikut bersamanya.
Mereka berhenti di sebuah rumah yang merupakan markas besar anak geng motor. Er dan mantannya masuk ke maskas itu. Naufal membuntuti mereka dan mengintipnya dari di dalam. Ada beberapa anak muda yang tampil urak-urakan dengan wajah sangar sedang bermain kartu dan billiard. Er sendiri hanya berdiam diri di sudut ruangan.
Pria itu tengah bermain billiard. Ia memegang stik dan mulai memukul bola. Tiba-tiba Er mengambil tongkat stik yang ada di sampingnya. Ia maju secara perlahan mendekati pria itu dan langsung memukul kepalanya dengan tongkat billiard.
Tindakan Er sukses membuat mantannya itu terkejut. Ia memutar badannya sambil memegang kepala. Beberapa pria yang ada di sana juga terhenyak dengan keberanian Er terhadap bos mereka.
"Apa yang lo lakuin?" Pria itu masih memegang kepalanya. Matanya yang besar semakin membesar disertai sorotan tajam bak hendak menelan orang hidup-hidup.
"Ini balasan karena lo berani menyentuh teman gue!" teriak Er sambil menunjuk.
Tak puas, Er hendak kembali memukulnya tapi tongkat ditahan oleh pria itu. Ia membuang tongkat tersebut dari tangan Er, lalu menampar wajah gadis itu hingga membuatnya tersungkur di lantai.
Mata Naufal terbelalak menyaksikan semua itu. Tak sampai di situ saja, pria sangar itu berjongkok kembali sambil menarik rambut Er. Saat kembali hendak memukulnya, Naufal tiba-tiba masuk dan berteriak.
"Kamu enggak pantas melakukan itu sama cewek!"
Kedatangan Naufal secara tiba-tiba mengejutkan seisi ruangan. Er tersentak melihat kehadiran Naufal. Gadis itu menggelengkan kepala penuh rasa khawatir.
"Naufal, jangan ke sini! Cepat pergi!" ujar Er panik.
"Oh, lo mau jadi pahlawan?" Pria itu tersenyum sangar sambil kembali menjambak rambut Er.
"Lepaskan dia! Pukul saja aku!" teriak Naufal.
Pria itu terdiam sesaat, mata yang menakutkan serta senyum iblis kembali tercetak di wajahnya.
"Habisi dia!" perintah pria itu pada anak buahnya.
Para lelaki yang ada di dalam ruangan mulai mendekati Naufal dan menyerangnya dengan pukulan-pukulan membabi buta hingga membuat Naufal tersungkur di lantai.
Er berteriak histeris. Tangannya menjulur ke depan hendak menolongnya, tetapi pria itu menahannya. Er tidak berdaya, Ia hanya dapat menangis sambil menyaksikan Naufal terus dipukuli oleh anak buah mantan kekasihnya. Mereka, meninju, dan menendang-nendang tubuh pria lembut itu.
Tangan Er kembali menggapai Naufal yang tergeletak tak berdaya di lantai.
Di tengah suasana suram, tiba-tiba terdengar suara kaca jendela yang pecah karena sebuah lemparan batu. Suara itu membuat mereka berhenti sejenak sambil menengok ke arah jendela markas.
Mereka beramai-ramai keluar dari markas. Di hadapan mereka saat ini, tampak sekelompok anak SMA dengan seragam yang tak biasa dari seragam SMA pada umumnya tengah berdiri gagah. Masing-masing dari mereka membawa balok dan kayu di tangan.
Di depan pelajar yang tengah berdiri itu, ada dua cowok tampan nan gagah yang berdiri tegap sambil berkacak pinggang dan bersedekap. Dua anak muda itu adalah Aldrin dan Bryan.
oke, aku mungkin ada kalian yg anggap dialog di novel ini aneh. di mna sebagian pemerannya pake bahasa loe-gue, trus yg lainnya pake aku kamu.
aku bahas dari Aldrin dlu, di sini Aldrin diceritakan sekolah asrama di luar negri sedari kecil ya. jadi wajar kalo pas pulang Indonesia bahasanya jadi kaku dan kaya baku gitu. lucu kan kalo lama di LN, dari kecil tau2 pulang pake bahasa lo-gue kaya yg dah lama di Jakarta gitu
trus Naufal, Naufal ini anak rumahan ya, circle pertemanannya bukan anak2 gaul. dia juga anaknya sopan dan mannernya bagus jadi bahasa pun harus mengikuti. sama kaya Amaira.
untuk Bryan, angel, Er dll... itu mereka anak gaul ibu kota gays, Taulah bahasa mereka ya pasti gaul.
jadi cara ngomong mereka aku bedain dari karakter dan lingkungan mereka gays. dan jangan anggap aneh, karena di keseharian pun ada kek gitu. apalagi sekolah mereka ini berbasis internasional yg mungkin anak2 kedutaan negara lainnya ikut sekolah di sini. gitu. ngerti gak sih.
.